Sebuah tekad

1020 Words
"Kita harus kemana lagi mah, Ria dah capek banget." ujar Ria "Kalian istirahat saja tan, kak, om. Jangan sakiti diri kalian sendiri demi mencari ibu orang yang asing." ujar Lily yang mulai menghampiri mereka bertiga "Kamu ngomong apa sih. Kamu tuh nggak orang asing bagi kami asal kamu tahu. Kamu sudah aku anggap sebagai keluarga kami sendiri." ujar Sindi dengan memegang pundak Lily "Maafin Lily ya semua. Karena Lily kalian jadi harus capek dan lelah. Karena Lily kalian harus membuang waktu kalian demi mencari ibu Lily. Lily merasa bersalah banget sama kalian. Kalian banget banget sudah membantu Lily dengan banyak." isak Lily Hendri pun mulai menghampiri Lily. "Kamu tak perlu minta maaf, sudah hak kita untuk membantu kamu. Kamu tahu kan, kita sudah anggap kamu sebagai anak kami sendiri." Hendri pun memeluk tubuh Lily yang mungil itu, Hendri pun meneteskan air matanya. Dirinya tak bisa membayangkan bagaimana kejamnya Rio yang telah tega membunuh anak kecil mungil yang memiliki sifat baik seperti Lily tersebut. "Kamu begitu baik nak, hati kamu begitu bersih." ujar Hendri dengan memegang kedua pipi Lily Lily pun tersenyum dengan lebar, dirinya kembali memeluk Hendri. "Terimakasih ya om." "Nggak, kamu nggak boleh panggil aku om, mulai sekarang kamu harus panggil aku ayah. bukan om." ujar Hendri dengan mencolek hidung Lily tersebut "Dan kamu harus panggil aku mamah, bukan tante lagi." ujar Sindi dengan tersenyum ke arah Ria Mereka bertiga pun saling berpelukan, Dan Ria pun akhirnya ikut-ikutan. "Sekarang kita adalah keluarga yang nyata. Tak ada lagi yang mampu memisahkan kita berempat." ujar Ria "Apa ini kok Melisa ketinggalan," ujar Melisa yang mulai dekat "Dan ini adalah kakak aku. Melisa." ujar Ria dengan membentangan kedua tangannya. Hingga akhirnya, mereka berlima saling berpelukan dengan erat. Mereka saling canda dan tawa. "Sekarang gimana? lanjut kah untuk mencari santi?" tanya Sindi Mereka semua pun berteriak dengan bebarengan jika harus melanjutkan pencarian tersebut. Karena merasa bersemangat. Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka untuk mencari Santi. "Ibu kenapa sih, susah banget di temukan. Kenapa sih ibu?" tanya Lily "Kamu yang sabar yah, pasti ibu kamu itu akan ketemu kok. Kita kan sedang berusaha ini. Nggak ada yang nggak mungkin selagi kita berusaha." ujar Hendri Lily pun mengangguk pelan sembari tersenyum. "Terima kasih yah buat kalian semua. Aku merasa beruntung banget bisa mengenal dan dekat dengan kalian." "Sudahlah, kita juga senang kok bisa membantu kalian. Senang banget." ujar Ria "Kalian nggak akan bertemu dengan Santi. Karena dia sudah lenyap di tangan saya." ujar. salah satu cowok di belakang mereka "Siapa kamu?" tanya Hendri. "Nggak penting siapa saya. Yang penting kalian harus lupakan semua yang kalian harapkan. Karena itu semua nggak ada gunanya." ujar cowok tersebut "Maksud kamu apa hah?" tanya Hendri "Santi sudah meninggal dunia. Dia sudah meninggal dunia. Apa kamu masih nggak ngerti dengan kata meninggal dunia? dia sudah mati." teriak cowok tersebut "Nggak. Nggak mungkin tante Santi sudah mati. Nggak mungkin." ujar Ria yang tak percaya "Apa perlu aku dudukin lagi kuburnya. Agar kalian bisa percaya dengan omongan saya?" ujar cowok tersebut "Jika memang kamu yang membunuhnya, apa tujuan kamu dalam membunuh orang tersebut?" tanya Hendri "Tujuan gua? tujuan gua karena ingin balas dendam. Orang yang sedang kalian cari tersebut telah mengkhianati saya." ujar cowok tersebut "Nggak, nggak mungkin ibu telah mati. Dan ibu bukanlah tipe orang yang berkhianat." jerit Lily dengan menangis "Kamu nggak usah bohong deh sama kita." ujar Sindi Lily pun berlari meninggalkan mereka semua. Ria yang khawatir dengan keadaan Lily pun segera menghampiri Lily tersebut. "Kak, tuh orang bohong kan. Nggak mungkin kan kalau ibu Lily itu meninggal dunia. Itu semua nggak benar kan kak?x" tanya Lily dengan teriak. dia menangis dengan terisak-isak. "Nggak Li, itu semua nggak benar. Kan tuh orang juga nggak tahu Santi yang mana yang sedang kita cari. Dia hanya menakut-nakuti saja. jadi kamu nggak perlu sedih dan menangis kayak gini." ujar Ria "Tapi kak, kenapa tuh orang ngomong kayak gitu? apakah dia sudah gila?" tanya Lily "Saya tak tahu apa tujuan tuh orang ngomong seperti itu. Sekarang aku hanya ingin kamu kembali tersenyum kembali." ujar Ria Lily masih saja cemberut. Dirinya terus memikirkan ucapan dari orang tersebut. Kondisi ibunya kini yang terpenting bagi Lily. Ria pun kembali ke ayah dan ibunya. Dirinya mencoba memberi waktu Lily untuk sendirian. "Bagaimana pah?" tanya Ria yang hanya mengetahui ayah dan ibunya tersebut. Dimana orang yang tadi sudah tidak berada lagi di sana "nggak tahu lah ayah, tuh orang gila kali. Dia bilang beberapa kali Santi sudah meninggal. Padahal dirinya sendiri tak tahu wajah Santi yang kita sedang cari." ujar Hendri "Lily nangis pah, mah. Dirinya terus kepikiran dengan ucapan orang tersebut. Dirinya sendiri tak bisa berbuat apa-apa. Ia merasa hancur dengan ucapan yang barusan orang itu katakan." ujar Ria Ria pun mengajak kedua orangnya tersebut urnuk menemui Lily di taman. "Nak, kamu nggak perlu sedih seperti itu. Bisa jadi apa yang diucapkan oleh orang tersebut hanyalah bohong semata-mata karena ingin menakut-nakuti kamu saja." ujar Sindi "Terus bagaimana jika itu benar?" tanya Lily "Ayah yakin kalau dia cuma mengarang cerita. ibu kamu pasti baik-baik saja. Percayalah sama ayah. ibu kamu masih hidup. dan dia baik-baik saja." ujar Hendri "Tapi Lily merasa takut. Lily takut jika ibu Lily meninggal sebelum aku menemukan dirinya." isak Lily "Stop mikirin yang tidak-tidak Lily. Ibu kamu pasti baik-baik saja. percaya lah. dengan itu semua. Ibu kamu nggak mungkin di bunuh oleh orang lain. Apalagi kamu tadi nggak percaya kan kalau ibu kamu berkhianat. Ibu kamu saja sama Rio nggak berkhianat walau sudah menyakiti dirinya beberapa kali. Masa dia bekhianat tanpa alasan kayak gitu. Kan itu bukanlah sifat dari ibu kamu kan. Jadi kenapa kamu harus percaya dengan ucapan orang tersebut kalau diri. kamu sendiri nggak percaya dengan sifat yang dikatakan oleh orang itu." ujar Ria "Kakak benar, namun Lily merasa takut saja jika apa yang diucapkan oleh banyak orang itu benar adanya. Lily nggak bisa membayangkan bagaimana nasib Lily kalau nggak bisa bertemu dengan ibu sampai kapan pun itu." isak Lily "Tenangkan pikiran kamu oke. Kita semua sedang berusaha. kamu harus pikirkan sisi positif dari itu semua. jangan sampai kamu berfikir tentang ibu kamu yang tidak-tidak terlebih dahulu." ujar Hendri dengan menepuk bahu Lily
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD