Axel terdiam mematung memandangi pintu gerbang rumahnya dari balkon kamarnya. Pikirannya masih menerawang pada kisah yang baru saja dia dengar dari sang ayah. Bagaimana sulitnya sang ibu saat mengandung dirinya. Beberapa kali keluar masuk rumah sakit, demi mempertahankan dirinya tetap bisa lahir dengan selamat serta sehat tak kurang satu apapun.
Kalimat yang syarat akan maksud tersebut Axel pahami benar kemana arahnya. Sang ayah sengaja menggiring topik pembahasan mereka, sedikit menyentil sisi permasalahan yang kini tengah dirinya hadapi. Agar hatinya sedikit terbuka.
Drrrtt drrrtt drrrtt
Sebuah pesan masuk, mengalihkan perhatian Axel.
"Bang ke! ke rumah sakit xx sekarang juga!" pesan dengan kalimat nyelekit membuat Axel mengeram kesal. Namun remaja itu tetap menuruti perintah yang dia terima melalui pesan tersebut.
"Mau kemana kamu jam segini Axel? jangan tambah masalah jadi semakin rumit. Lama-kelamaan mama bisa mati berdiri karena ulahmu itu." Omel Atalia yang masih menyimpan kekesalan perkara tadi pagi.
"Dion di rumah sakit ma, aku mau jenguk." Jawab Axel singkat. Atalia terdiam, Dion adalah sahabat dekat putranya sejak taman kanak-kanak selain Aidan.
"Jangan pulang larut malam," ucap Atalia akhirnya. Axel mengangguk paham lalu bergegas keluar.
###########
"Akhirnya datang juga," Dion nampak senang melihat sahabatnya itu. Itu membuat Axel semakin keheranan.
"Siapa yang sakit? Aidan? kan kamu tau, kita masih belum baikan." Ketus Axel kesal.
"Ck, lihat saja dulu. Masuk sana!" desak Dion tak sabaran. Remaja itu mendorong tubuh Axel melewati pintu ruang rawat inap, hingga hampir saja membuat tubuh Axel limbung.
Di dalam sana, seorang gadis tengah berbaring tak berdaya. Wajahnya pucat pasi seperti mayat. Axel menatap heran, bagaimana bisa Eva di rawat di rumah sakit tanpa keluarganya. Dan kenapa bisa Dion yang mengabarinya perihal ini.
Dengan langkah pelan, Axel mendekati ranjang di mana Eva tengah berbaring tak berdaya. Remaja itu menatap datar ke arah Eva tanpa sepatah kata. Entah apa yang tengah Axel pikirkan saat ini.
Sedangkan di parkiran rumah sakit, Aidan terpaksa mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam saat melihat motor taruhan nya terparkir cantik di sana.
"Gimana?"
"Apanya yang gimana?" tanya Axel jengah. Pikirannya sedang kalut, kata-kata sang ayah kembali menubruk ingatannya.
"Eva, siapa lagi! kau menghamilinya, bertanggungjawab lah. Nikahi dan beri Eva dan anaknya status walau kau tak ingin." Tegas Dion menatap tajam pada sahabatnya. Rupanya Dion sudah mengetahui perihal kehamilan Eva.
"Ini semua bukan murni kesalahanku sendiri breng sek! jika bukan ide konyol darimu, aku tak akan terlibat dengan ja la ng kecil itu." Seru Axel tak ingin di salahkan sendirian.
Bugh!
"Ya! aku memang salah Sel! aku salah...itu kenapa aku ingin kamu bertanggungjawab atas kehamilan Eva. Aku juga akan menanggung segala biaya yang Eva butuhkan selama kehamilan hingga persalinannya nanti. Aku tak akan lari dari kesalahanku Sel, aku harap kamu pun begitu. Ayo kita perbaiki bersama kebreng_sekan kita ini, aku tak sanggup melihat Eva di perlakukan bagai sampah oleh ayahnya seperti tadi." Ujar Dion memelankan kalimatnya dengan nada lirih.
Rupanya saat Eva di turunkan di tengah jalan, Dion berada di tempat tak jauh dari sana. Remaja itu tengah berkunjung ke rumah salah seorang kerabat dan kebetulan melintas di jalan yang sama.
Dion sengaja tak langsung menghampiri, karena dirinya masih memendam rasa bersalah atas ide konyol yang tercetus begitu saja di kepalanya saat itu kala melihat Eva melintas di depan kelas mereka.
Namun tak lama setelah Eva sampai di pos dan terlihat berteriak menyuarakan isi hatinya, Eva ambruk tak berdaya. Barulah Dion mengemudikan mobilnya mendekat.
Dan ketika tiba di IGD, dion terkejut saat dokter mengatakan jika Eva tengah mengandung. Rasa bersalah itu kian menggerogoti hatinya. Kini dia tau alasan ayah gadis itu meninggalkan nya di tengah jalan tanpa perasaan. Hanya sangat mengherankan, seorang ayah yang seharusnya menjadi sandaran. Namun malah memperlakukan putrinya bagai membuang kotoran.
Dan kini, dengan tegas Dion akan mengambil alih tanggung jawab segala biayanya kebutuhan Eva juga anaknya kelak. Dia hanya meminta Axel untuk memberikan status, selebihnya dia yang akan menanggung segalanya.
Axel masih terdiam. Remaja itu kalut. Teringat perkataan pedas sang ibu tadi pagi, membuatnya tak yakin untuk menikahi Eva.
"Mama tak akan menganggap gadis itu sebagai bagian dari keluarga, pun dengan anaknya pa. Mau taruh di mana muka mama kalau sampai semua orang mengetahui aib keluarga kita? pokoknya kalau sampai Axel menikahi gadis itu, mama yang akan pergi dari rumah ini. Titik!"
Sekelebat bayangan perkataan sang ibu terus menghantui pikiran Axel. Remaja itu kian gamang untuk membuat keputusan, di tambah usianya yang masih muda. Axel takut kehilangan segalanya, kemewahan juga gelar sebagai anak kesayangan.
"Aku akan menikahinya, tapi hanya sekedar status. Segala biaya kehidupan dia dan anaknya bukan tanggung jawabku. Apa itu cukup untuk memuaskan rasa bersalahmu breng sek?" desis Axel menekan rasa geram di hatinya.
Dion terpaku mendengar kalimat Axel, namun akhirnya remaja itu mengangguk setuju. Tak ada pilihan lain, tak mungkin dirinya yang menikahi Eva, sudah pasti diapun akan kehilangan semuanya.
Sama-sama egois memang, tapi paling tidak dirinya akan andil bertanggung jawab atas ide konyolnya.
Beberapa hari kemudian, di kediaman mewah keluarga Permadi, sebuah acara pernikahan sederhana pun di laksanakan. Hanya ada pemberkatan sederhana yang di hadiri oleh keluarga inti Axel yang terdiri dari ayah serta ibunya saja. Sedangkan dari pihak Eva. Hanya ada sang ayah, Adiknya juga bik Siti.
Dion juga ada di sana, sebagai saksi sebuah ikrar suci penuh keterpaksaan tersebut. Dion tersenyum masam, mengingat kebodohannya yang telah sukses mengantarkan seorang gadis tak berdosa, menuju altar tanpa di cintai.
"Maafkan aku Va, aku berjanji akan selalu memenuhi kebutuhanmu serta anakmu hingga kapanpun itu." Lirih Remaja itu terus menatap netra sendu dari gadis yang telah tanpa sengaja di hancurkan segala-galanya.
Selesai dengan segala prosesi pernikahan sederhana itu, tak ada kata sambutan penuh kebahagiaan dari kedua keluarga. Bahkan jika bik Siti tak berinisiatif untuk membuat hidangan, mungkin setelah terucap janji pernikahan itu mereka semua akan langsung pulang ke rumah masing-masing.
Wanita itu melakukannya agar Eva tak merasa semakin sedih. Meski bik Siti Sadar, jika hati majikan kecilnya pasti sedang terkoyak sangat dalam sekarang.
Tak ada obrolan hangat yang menghiasi acara tersebut. Harigan yang humble dan ramah, mendadak lebih banyak diam tak seperti biasanya.
Terlebih sikap Atalia yang menunjukkan keterpaksaan yang terlihat begitu nyata.
"Selamat ya Va, Sel...aku harap hubungan kalian membaik seiring berjalannya waktu. Aku pamit pulang, makanannya enak-enak. Ini, aku sampai bungkus bawa pulang," kelakar Dion mencoba mencairkan suasana sembari menunjuk sekantung plastik di tangannya.
Benar memang sangat nikmat. Namun bukan itu alasan Dion meminta bik Siti membungkus beberapa makanan untuknya. Itu karena makanan yang di masak oleh wanita itu, tak di sentuh sama sekali oleh kedua keluarga yang seharusnya berbahagia di momen seperti ini.
Dion tak ingin menambah luka di hati Eva, itu sebabnya dia menebalkan wajahnya dengan menenteng sekantung sedang berisi beberapa jenis makanan di dalamnya.
"Ingat bro, perlakukan Eva dengan baik. Paling tidak sampai anakmu lahir ke dunia. Janjiku bisa kamu pegang, aku tak akan lari dari bagian tanggung jawabku." Selesai membisikkan kalimat gaib di telinga Axel, Dion menyelipkan sebuah amplop coklat yang lumayan tebal di saku jas Axel.
"Berikan ini pada Eva sebagai nafkah pertamamu. Tak perlu mengatakan dari mana uang ini berasal, kau hanya perlu bersikap baik meski tak suka. Aku pamit," Dion menepuk bahu Axel kemudian berlalu pergi.
Dalam setiap langkahnya, Dion melafalkan kalimat doa agar hubungan keduanya bisa berjalan baik seiring kebersamaan mereka ke depannya nanti.
TBC
Agak sellow update ya kak, semoga tetap sehat kalian semua. Hari kemenangan akan segera tiba. Tuhan memberkati. Amin
Luv You para kesayangan akak Rose _Ana