Tak terasa, pernikahan dini antara Axel dan Eva telah berjalan selama tujuh bulan. Meski sudah menginjak usia kehamilan 8 bulan, namun tak ada yang berubah dari tubuh Eva.
Gadis itu semakin kurus dan ringkih. Hanya bagian perutnya yang sedikit menonjol. Namun lebih seperti seseorang yang terkena sebuah penyakit ketimbang wanita yang tengah mengandung.
"Kamu sudah mau berangkat Sel? istri kamu mana sih? ini kamu belum sarapan loh..." omel Atalia terlihat kesal.
"Eva sibuk di belakang ma...kan mama sendiri yang minta Eva buat urus cucian pakaian di belakang." Sela Harigan menurunkan majalah yang tengah ia baca.
"Ck, supaya terlihat sibuk saja agar tidak mau repot urus suaminya. Dasar pamalas!" sungut Atalia tak peduli. Padahal dirinya lah yang meminta Eva mencuci pakaian yang menggunung, karena mereka baru saja pulang berlibur di bali selama satu minggu.
Atalia yang biasa menggunakan jasa laundry, kini tak lagi pernah melakukannya. Karena tugas mencuci pakaian di serahkan pada Eva. Begitu pula dengan membersihkan rumah setiap hari. Dengan dalih ingin mengajarkan Eva cara menjadi istri yang berbakti kepada suami juga mertua.
Eva tak pernah mengeluh, kesehariannya dia gunakan untuk bekerja mulai jam lima subuh hingga pukul 10 malam. Gadis itu pun tidur di kamar belakang berjejer dengan kamar para ART lainnya.
Axel tak pernah peduli, bahkan mungkin remaja itu lupa, jika dirinya telah menikah. Namun remaja itu tak pernah lupa, untuk meminta jatah nikmatnya sebagai seorang suami. Sungguh suami paling breng sek yang pernah ada. Axel hanya menjadikan Eva sebagai sarana pemuas naf su semata.
Eva bahkan tak pernah memeriksakan kandungannya ke dokter atau minimal bidan. Karena Atalia selalu mengatakan jangan manja jika gadis itu mengalami keluhan, seperti flek atau kontraksi ringan akibat kelelahan.
"Non Eva..sini..ini bibik ada simpankan ayam goreng kremes sama tumis kangkung kesukaan non. Ayo makan." Eve menggeleng pelan. Dirinya tak ingin membuat kesalahan yang berujung tak akan di beri makan sama sekali seperti saat beberapa waktu lalu.
Ketika dirinya ketahuan makan makanan sisa makan malam keluarga Nugraha itu, besoknya Eva tak di berikan jatah makan hingga malam hari. Berujung gadis itu pingsan karena rasa lapar juga kelelahan.
"Tidak apa-apa, nyonya sudah berangkat pergi arisan. Tuan muda juga sudah ke sekolah sejak tadi. Ayo sini, duduk sama bibik. Itu cucian tinggal saja, biar bibik yang lanjutin." Bik Romlah menarik pelan lengan kurus Eva menuju sudut ruangan cuci pakaian. Karena takut terpantau kamera SCTV.
"Yakin bik?" tanya Eva ragu-ragu.
"100 persen yakin non..ayuk ah tar keburu nyonya pulang."Bik Romlah menaruh banyak nasi juga lauk serta sayuran di atas piring Eva.
"Makan yang banyak, supaya cucu mbah sehat. Ini sayur sama ayamnya di makan," celoteh wanita itu terus menumpuk ayam yang sudah dia suwir-suwir sedang.
"Makasih ya bik, sudah baik sama Eva." Ujar gadis itu tulus.
"Sudah, tidak usah di pikirkan. Bibik seperti melihat non kaya anak sendiri, suka sedih liat non kerja keras tapi takut nyonya makin marah sama non kalau di bantuin." Balas bik Romlah tersenyum lembut dengan embun yang siap menetes dari pelupuk matanya.
Di tempat lain, Dion baru saja menarik sejumlah uang dari ATM. Uang yang akan dia berikan pada Axel sebagai uang nafkah untuk Eva serta calon bayinya.
Setiba di sekolah Remaja itu bergegas meninggalkan parkiran menuju kelas.
"Dion! tunggu.." seru Aidan dari arah mobil yang terparkir tak jauh dari motor Dion.
"Eh, Dan. Kok masih di sini? yuk ke kelas, tar lagi jam pertama di mulai." Ujar Dion merangkul bahu sahabatnya itu. Saat ini posisi Dion seperti wasit. Karena berada di tengah-tengah permusuhan kedua sahabatnya.
"Eva apa kabar?" Dion menghentikan langkahnya lalu memutar tubuhnya menghadap sang sahabat.
"Baik mungkin. Kurang tau, coba aja tanya langsung sama Axel. Kan suaminya dia, kamu suka kadang-kadang ya..." ujar Dion berusaha untuk bercanda.
Aidan menatap Dion tanpa ekspresi, membuat Dion mengesah lelah.
"Aku kurang tau, itu benar adanya. Tapi menurut Axel, Eva baik-baik saja. Kenapa kamu tidak berkunjung saja ke rumah Axel untuk melihat keadaan Eva secara langsung? kehamilannya sudah 8 bulan lebih, bentar lagi mau lahiran. Bakal punya keponakan kita, tidak nyangka ya... masih muda ini sudah jadi om-om." Seloroh Dion merilekskan suasana.
"Tidak tertarik. Aku cuma mau tau keadaan Eva saja. Karena terakhir yang aku lihat, Eva masuk ke sebuah hotel dengan memeluk seorang pria paruh baya. Ternyata ja la ng tetap ja la ng, tidak hanya murahan sama si breng sek Axel. Tapi juga sama om-om pun di libat habis," tukas Aidan tersenyum sinis.
Dion mengepal tinjunya, remaja itu tak ingin membuat keributan sepagi ini dan berakhir di ruang BK.
"Kamu kalau ngomong jangan keterlaluan dong, Dan. Eva seperti itu juga karena ulah kita. Harusnya kamu juga ikut merasa bersalah. Kenapa sekarang kamu malah memandang rendah gadis yang sudah kita hancurkan segala-galanya tanpa tersisa apapun selain kehancuran." Nafas Dion mulai tak teratur, namun remaja bijak itu tetap berusaha menahan diri agar tak memberikan salam sapa ke mulut pedas sahabatnya itu.
"Dulu aku memang berempati, tapi sekarang...No! aku lihat dengan mata kepalaku sendiri, Eva memeluk seorang pria paruh baya masuk ke lobby hotel dengan membawa perut buncitnya itu. Dan aku punya buktinya," tandas Aidan masih ngotot sembari mengangkat ponselnya ke hadapan wajah Dion.
Tak ingin obrolan pagi mereka berkahir menjadi adu jotos, Dion memilih meninggalkan sang sahabat dengan setumpuk kedongkolan di hatinya.
Tanpa mereka sadari, sejak tadi Axel mendengar semua obrolan keduanya. Axel mengepal tangannya menahan gejolak emosi. Remaja itu tak menyangka, jika Eva akan melakukan hal serendah itu untuk mendapatkan uang.
Ya, Axel tak pernah memberikan uang yang Dion berikan kepadanya untuk Eva. Uang itu ia gunakan untuk bersenang-senang bersama teman barunya. Circle pertemanan yang cukup tak sehat, untuk remaja seusianya.
"Awas saja, akan ku buat kamu benar-benar menyesali perbuatanmu ja la ng!" desis Axel menekan amarahnya. Urat lehernya sampai menonjol keluar saking Berusaha untuk memendam terlebih dahulu kekesalan di dalam benaknya.
Di rumah, Eva membenahi pakaian yang baru saja ia setrika. Bik Romlah yang akan menaruhnya di kamar penghuni rumah masing-masing. Karena Eva tak di ijinkan masuk ke dalam rumah utama tanpa diminta.
"Bik, aku berangkat dulu ya bik. Doain semoga jualan aku laku semua hari ini," ucap Eva mulai menenteng dua keranjang berisi penuh jajanan.
"Ya non, pasti laris manis, kan yang jualan nya cantik ini kok." Tukas bik Romlah bercanda.
"Bekalnya jangan lupa di bawa non, botolnya sudah bibik isi penuh." Eva mengangguk lalu pamit pergi.
Itulah rutinitas Eva sejak dua bulan terakhir ini. Gadis itu berjualan jajanan kesukaan anak-anak di depan gerbang sekolah SD negeri yang berdampingan dengan sebuah SMP negeri. Hanya berjarak sebuah gang kecil saja.
Kegiatan itu dia lakukan jika semua penghuni rumah sudah beraktivitas keluar rumah.
Gadis itu tengah mengumpulkan uang untuk biaya persalinannya nanti. Karena selama menikah, Axel tak pernah memberikan nya seperti pun uang.
Setiba di tempatnya biasa berjualan, Eva mulai menggelar karpet kecil untuk meletakkan keranjang jualan nya.
"Mbak Eva baru datang? telat bangun ini pasti ya..." canda seorang wanita yang sudah menjadi langganan gorengan juga bihun buatan Eva.
"Hehee...ya mbak. Biasa, ibu rumah tangga kalau pagi suka riweh." Balas Eva tak kalah ramah. "Bihun mbak?" tak lupa Eva menawarkan dagangannya.
"Yalah Mbak Eva, aku rela nunggu hampir sejam loh di sini, biar tidak kehabisan bihun maknyus buatan Mbak Eva." Ujar wanita hedon tersebut dengan gaya centilnya.
"Bentar ya mbak," Eva mulai meracik bihun untuk sang pelanggan tetap nya. "Ini mbak, tar uang pas aja ya. Biasa uang mbak suka lebar-lebar kaya daun pisang. Aku belum ada kembalian kalau baru dagang gini," ucap Eva seraya memberikan sepiring plastik sekali pakai kepada sang pelanggan.
"Aman itu mbak Eva, yang penting perut terpuaskan... berapapun nanti, tak masalah." Jawab wanita itu sedikit tak nyambung.
"Mbak Eva baru datang...tuh kan, mama bilang juga apa. Untung belum beli bihun yang di sana tadi, rasanya tuh tidak enak tau." Dumel seorang wanita bertubuh gempal yang baru tiba dengan menggandeng anaknya yang berusia sekitar empat tahunan.
"Aku seperti biasa ya mbak Eva.." tukas wanita itu kemudian mengambil posisi duduk di ujung karpet jualan Eva.
"Porsi kuli kalau dia mah," Seloroh wanita pertama tadi. Rupanya mereka mulai akrab semenjak Eva berdagang di sana. Semua kalangan mulai nampak rukun tanpa memandang status sosial, jika sudah mengerumuni jualan gadis tersebut. Secara tak langsung, Eva telah menjadi pemersatu semua kalangan tanpa ia sadari.
TBC
Terimakasih bagi yang sudah mampir ya
Luv You para kesayangan akak Rose _Ana