Bab 8

1049 Words
Eva menatap kasur busa yang sudah hampir rata dengan lantai dengan perasaan tak menentu. Tak ada rasa sakit seperti yang pernah di ceritakan oleh bik Romlah, atau seperti yang di gambarkan oleh mbak Nurma, pelanggannya si paling Sultan. "Bik Romlah sudah tidur apa belum ya?" gumam Eva bermonolog. Pasalnya waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Namun wanita paruh baya itu selalu rajin solat di sepertiga malam. Perlahan, Eva berjalan menuju keluar kamar. Gadis itu membawa serta daster ganti untuk membersihkan diri. Tak lupa sebuah pembalut ukuran panjang yang di berikan oleh salah seorang pelanggannya dalam bentuk parcel dua hari yang lalu. Ada beberapa barang lain, terutama kebutuhan bayinya. Eva patut bersyukur karena itu. Meski tak saling mengenal, namun dia bertemu dengan orang-orang baik di luar circle keluarga yang dirinya miliki. Selesai membersihkan diri, Eva berjalan pelan menuju kamar bik Romlah. Tok tok tok Ketukan ke dua kalinya, barulah pintu kamar bik Romlah terbuka. "Maaf bik, nyenyak banget ya tidurnya..." ujar Eva tak enak hati. "Tidak apa-apa, ada apa non?" tanya wanita itu terlihat cemas. Pasalnya Eva tak pernah mengetuk pintu kamarnya malam-malam begini, kecuali tiga minggu yang lalu. Di mana gadis malang itu mendapatkan hukuman dari Axel karena cerita yang ia dengar dari mulut mantan sahabatnya waktu itu. Axel meng gauli Eva dengan brutal, hingga membuat gadis itu mengalami sedikit pendarahan. Namun dengan tanpa hati nurani, Axel meninggalkan Eva di kamarnya begitu saja bagai sampah Beruntung bik Romlah segera menolong gadis malang itu, dengan membawanya ke tempat seorang dokter praktek tak jauh dari kediaman Nugraha. "Bik, aku kok keluar darah ya...tapi tidak sakit sama sekali seperti yang pernah bibik bilang waktu itu." Terang Eva dengan polosnya. Kedua matan bik Romlah langsung segar kala mendengar kalimat polos Eva. "Ya Allah non.. itu tandanya non mau melahirkan. Ya sudah, pakaian bayinya sudah siap? bibik temani ke klinik sekarang." Eva hanya mengangguk saja tanpa berkata apapun. Gadis itu heran kala melihat bik Romlah yang mendadak panik mendengar penuturannya. "Tunggu di sini sebentar, bibik mau manggil tuan muda." Namun Eva dengan cepat mencegahnya. "Jangan bik, tidak perlu. Axel sudah bilang, kalau dia tak ingin di repotkan dengan urusan kami. Cukup bibik saja, kalau tidak merepotkan." Tukas Eva menggeleng pelan. Bik Romlah akhirnya mengangguk pasrah, meski hatinya tak tega melihat gadis semuda Eva berjuang seorang diri. Dokter telah menyarankan Eva agar melakukan persalinan melalui operasi sesar, karena mengingat usia gadis itu yang masih sangat belia. Namun apa daya, kekurangan biaya membuat bik Romlah tak bisa berbuat apa-apa. "Mau kemana bik, tengah malam-malam begini?" tanya Narto satpam rumah keluarga Nugraha tersebut. "Bawa non Eva ke klinik bersalin, mau lahiran dia To. Oya, kalau tuan atau nyonya tanya besok pagi. Bilang saja, bibik urus non Eva mungkin tidak sempat masak buat sarapan." Pesan bik Romlah pada Narto yang masih keponakan jauhnya. "Baik bik. Ngomong-ngomong ada duit tidak? sebentar," pria 30 tahunan itu bergegas masuk ke dalam pos jaga yang juga merupakan markas tempat tinggalnya. Tak lama Narto keluar dengan sebuah amplop putih panjang, lalu di selipkan di kantong tas bayi milik Eva. Tas hasil pemberian seorang pelanggannya. "Tidak usah repot-repot kang, Eva jadi tidak enak." Ujar gadis itu tak enak hati. "Tidak non, ini memang sudah akang siapkan buat non kalau mau lahiran. Anggap saja hadiah kecil buat calon anak non. Sudah berangkat gih, tuh taksinya sudah datang." Narto membantu membukakan pintu mobil untuk sang nona. Terbersit rasa iba di hati pria itu melihat bagaimana perjuangan nona mudanya selama tinggal di rumah itu. Setiba di klinik, Eva rupanya sudah mengalami pembukaan 8. Namun gadis itu sama sekali tak merasakan sakit apapun. Cukup mengherankan. Dokter jaga juga bidan pun merasa aneh. "Rebahan saja bu, berbaring miring ke kiri ya." Titah seorang bidan yang ngilu melihat Eva berjalan mondar mandir sesuai instruksi bik Romlah. Namun bidan khawatir, jika bayi Eva akan lahir dalam posisi sang ibu yang tengah berdiri. Di kediaman Nugraha, Axel terserang sakit perut yang melilit hingga membuat pria itu nyaris pingsan. Atalia yang panik lekas membawa sang anak ke rumah sakit. Setiba di sana, dokter segera menangani Axel yang terus-menerus merintih tanpa henti. "Silahkan duduk bu, pak..." "Bagaimana dengan kondisi anak saya dok? kenapa anak saya bisa tiba-tiba kesakitan seperti ini tanpa sebab yang jelas." Cecar Atalia tak sabar. Harigan menggenggam jemari sang istri agar wanita itu lebih sabar, karena dokter seperti sedang berusaha merangkai kata untuk di sampaikan kepada mereka. "Jadi begini bu.. gejala yang kami lihat, tuan Axel seperti mengalami kontraksi yang sering di alami oleh wanita yang akan melahirkan. Namun mengingat usia tuan Axel yang masih remaja. Itu terdengar mustahil. Namun itulah diagnosa sementara dari pihak rumah sakit. Kami akan memberikan cairan juga suntikan pereda nyeri. Bila dalam satu jam ke depan masih belum ada perubahan, kami akan mengupayakan tindakan medis lain untuk mendiagnosis lebih dalam lagi, tentang penyakit apa yang tengah di derita oleh putra anda nyonya. Untuk saat ini yang bisa kami lakukan hanya mengambil sampel darah dan melakukan observasi." Jelas dokter Danu panjang lebar. Atalia mengepal jemari nya kala mendengar penjelasan sang dokter. Kini ia tau akar dari rasa sakit yang di alami oleh putra kesayangannya. Kebencian Atalia semakin tak bertepi pada Eva bahkan juga anaknya. "Gadis itu benar-benar pembawa malapetaka!" desis Atalia setelah mereka keluar dari ruangan sang dokter. "Ma!" sentak Harigan tanpa sadar. "Apa?! papa bentak aku hanya karena anak gadis sialan itu hah?! Axel pa Axel! gadis itu membuat anak kita kesakitan hingga separah ini, dan papa masih membelanya? apa papa sudah tidak waras?" balas Atalia meninggikan intonasi suaranya. Matanya berkilat penuh kemarahan yang entah pada Eva atau suaminya. "Pokoknya awas saja jika aku bertemu dengannya. Akan ku berikan gadis sialan itu pelajaran," gumam Atalia dalam kemarahan yang masih menguasai hati nuraninya. Harigan hanya bisa menggeleng pelan, melihat reaksi sang istri. Harusnya wanita itu senang cucunya akan lahir, namun Atalia malah menyambut kelahiran cucu pertama mereka dengan kebencian yang berkobar penuh bara yang menyala. "Aku harap kelak mama tak akan pernah menyesali semua perbuatan mama saat ini. Karena penyesalan akan menjadi sumber kehancuran hidup seseorang tanpa bisa lagi di pulihkan seperti sedia kala." Gumam Harigan tanpa terdengar oleh sang istri. Dalam hatinya, pria itu mendoakan sang menantu serta cucunya. Berharap keduanya dapat melalui semua kesulitan bersama meski tanpa dukungan dari siapapun. TBC Lanjutkan nanti siang lagi ya readers Luv You para kesayangan akak Rose _Ana
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD