Bab 9

1996 Words
Sudah dua hari, Atalia menanti kepulangan Eva dengan kedongkolan hati yang tak dapat di uraikan lagi. Bagaimana tidak, setelah kesakitan yang sang anak alami, Atalia mendapati Eva belum kunjung kembali hingga malam hari berikutnya. "Kenapa hanya pergi melahirkan saja harus berhari-hari? apa dia sengaja mau melarikan diri dari tanggung jawab pekerjaan rumah?" cecar Atalia pada bik Romlah. "Tidak nyonya!" tegas wanita paruh baya itu dengan sedikit keberanian. "Non Eva masih butuh istirahat kata dokternya, karena ada luka jahitan di jalan lahirnya." Lanjut bik Romlah menjelaskan. "Halah! terus dia pikir cuma dia yang pernah merasakan melahirkan bayi? saya juga pernah!" ketus Atalia tak peduli dengan penjelasan bik Romlah. Harigan yang kebetulan melintas di depan sang istri hanya bisa menggeleng samar. Teringat saat sang istri melahirkan, wanita itu merengek hampir satu minggu lamanya karena merasa kesulitan untuk buang air. Dan sekarang mendengar perkataan jumawa sang istri, Harigan sangat ingin tertawa keras. "Pokoknya bibik jemput Eva sekarang juga! pakaian kotor sudah menumpuk dan pekerjaan bibik juga terbengkalai gara-gara dia. Saya tunggu sampai sore ini, kalau masih belum pulang sekalian saja pergi dari rumah ini." Titah Atalia dengan nada tinggi. Wanita itu kemudian melenggang pergi dengan membawa kejengkelan hatinya terhadap sang menantu yang tak pernah ia harapkan. "Dia pikir dia siapa bisa seenak udelnya pergi tanpa memikirkan pekerjaan di rumah ini." Dumel Atalia bersungut-sungut. "Bik, kondisi Eva juga cucu saya bagaimana? kenapa masih belum boleh pulang? apa ada sesuatu yang bibik sembunyikan perihal kesehatan Eva atau anaknya?" bik Romlah menggeleng cepat. "Tidak tuan...anu.. sebenarnya non Eva sudah boleh pulang sejak kemarin. Hanya saja, kebetulan dokter yang menangani persalinan non Eva adalah langganan dagangan nya non Eva. Jadi, beliau meminta non Eva untuk lebih lama agar bisa mengistirahatkan diri di klinik nya." Terang bik Romlah hati-hati. Terbuka terhadap sang tuan lebih baik, karena memang tujuan nya adalah supaya Eva memiliki waktu lebih, untuk beristirahat bersama sang anak yang di beri nama Alva tersebut. Hanya Alva, karena Axel melarang keras menggunakan nama keluarganya di belakang nama Alva. Harigan mengangguk paham. Dirinya tau jika sang istri pasti tak akan peduli pada keadaan menantu mereka. Lebih baik Eva di sana lebih lama tak masalah untuknya. "Biaya rumah sakitnya sudah di bayarkan bik?" tanya Harigan lagi. Dirinya telah menitipkan sejumlah uang untuk membayar biaya persalinan sang menantu pada bik Romlah kemarin pagi. "Sudah tuan , tapi dokter Dara menolaknya. Jadi uangnya masih saya simpan, sebentar saya ambilkan di kamar tuan." "Tidak bik, tidak perlu. Simpan saja untuk kebutuhan Eva dan anaknya," tandas Harigan menolak pengembalian uang yang tidak jadi terpakai tersebut. "Baik tuan, nanti bibik berikan untuk pegangan non Eva." Ujar wanita itu lalu pamit meneruskan pekerjaan di belakang. Kini pekerjaannya dobel namun tak masalah untuknya, dari pada Eva yang harus mengerjakan pekerjaan tersebut padahal gadis itu butuh beristirahat sejenak pasca resmi menjadi seorang ibu. Eva tak mengalami robekan jalan lahir, itu karena pembukaan yang sempurna dan ukuran bayinya yang hanya 2,9 kg. Juga posisi Eva yang mengikuti instruksi dokter serta bidan dengan benar, dalam proses persalinan. "Untung saja tuan masih punya belas kasihan, kasihan sekali non Eva juga den Alva." Gumam wanita itu sedih. ################ Waktu berjalan tak pernah memberikan pilihan untuk sekedar rehat sejenak. Begitupun dengan kehidupan Eva dan putra kecilnya. Di rumah keluarga Nugraha, keduanya bagai tak pernah ada. "Astaga! Eva! Eva..!" teriakan Atalia menandakan ada sesuatu hal yang telah sang anak lakukan di dalam rumah utama. "Ya nyonya, ada apa?" Eva berlari tergopoh-gopoh dengan kedua tangan yang masih berlumuran busa sabun. "Ada apa, ada apa kamu bilang? lihat ini, ulah anak kamu. Bereskan sebelum tamu saya datang. Urus anak saja tidak becus, dasar tidak berguna. Kamu itu bisanya apa sih, selain bikin susah keluarga saya!" kata-kata pedas Atalia sudah terlalu biasa bagi Eva. Jadi tak satupun kalimat wanita itu yang mampu menembus kebalnya hati seorang Eva. Wanita 19 tahun itu telah terlatih untuk menjadikan hatinya sekuat baja, tubuh ringkihnya sekuat batu karang. Walau di tempa berkali-, jiwa wanita itu tetap kokoh tanpa tergoyahkan. Tak ada drama penuh air mata, seperti yang sering kita lihat di sinetron. Wanita seperti Eva benar-benar layak untuk di berikan medali penghargaan, sebagai menantu teraniaya dan istri yang tak pernah di anggap. Namun memiliki keteguhan hati yang kuat. "Maafkan anak saya nyonya," ucap Eva lekas menarik pelan lengan sang anak ke arahnya agat tak terinjak pecahan gelas di lantai. "Bersihkan tanpa sisa, awas saja kalau sampai ada tamu saya yang terluka karena keteledoran kamu. Kamu akan tau akibatnya," kecam Atalia kemudian melenggang pergi. "Maaf buk..." suara kecil Alva mengalihkan perhatian Eva dari pekerjaannya. "Sudah, bukan salah kamu nak. Ke belakang duluan gih, Alva duduk di kamar aja. Buku gambar nya masih ada yang kosong kan?" Alva mengangguk pelan. "Ya sudah, Alva bikin gambaran aja di kamar ya..Ibu mau bersihkan ini dulu setelah itu lanjut cucian baju," ujar Eva lembut. Walau hatinya sangat perih, mendapati, jika Putra semata wayangnya pun, mendapatkan penolakan di rumah mewah itu. Sejak lahir tiga tahun yang lalu, tak sekalipun Axel menyapa putranya. Pria itu hanya akan datang ke kamar sempit milik Eva hanya untuk meng gauli wanita malang itu. Tanpa peduli jika putranya harus terpaksa tidur di atas kain tipis, guna menyingkir sejenak dari aktifitas kedua orang tuanya. Bocah kecil yang sangat penurut dan tak banyak tingkah, namun begitu tak di sukai oleh sang nenek juga ayah kandungnya. "Bukan aku yang jatuhin geyasnya buk..." lirih anak kecil itu menunduk sedih. Namun gelas itu sebenarnya tersenggol oleh lengan sang nenek, hanya karena dirinya kebetulan melintas di sana setelah membereskan tumpukan majalah. Atalia lantas mengkambinghitamkan sang cucu tak berdosa. "Ibuk tau, tau banget malah...anak ibuk tak akan mungkin melakukan kesalahan yang sudah sering ibu nasehatkan agar tak terjadi. Sudah, Alva menggambar saja." Ucap Eva sembari tersenyum lembut. "Berberesnya sudah kelar kan?" Alva mengangguk pelan, dirinya mendapatkan tugas membereskan majalah juga bekas cemilan serta gelas-gelas kotor di ruang tamu. Atalia tak pernah tenang jika melihat keduanya duduk santai, meski sebenarnya hanya untuk mengistirahatkan tubuh lelah mereka. Hingga cucunya pun di perlakukan sedemikian rupa buruknya. "Al batu(bantu) nyuci ya buk..." Eva menggeleng pelan lalu mengangkat sekop yang berisi beling. "Ayo kebelakang saja, Alva duduk sambil menggambar di dekat ibu cucian ya..." Alva mengangguk cepat. Senyum sumringah tercetak di wajah polosnya yang rupawan hanya karena mendengar kalimat sang ibu. Jika anak-anak lain akan merasa bosan berada di sekitar sang ibu, tidak bagi bocah tiga tahun itu. Alva sangat gemar menempeli sang ibu di manapun wanita itu berada. "Kenapa lagi sih ma? wajahnya kok di tekuk gitu... padahal papa sudah transfer loh, uang jajan mama..." kelakar Harigan kala mendapati wajah masam istrinya. "Cucu kesayangan papa itu mecahin gelas jus kesayangan mama. Sebel mama jadinya," adu wanita itu dengan nada ketus manja. Harigan menghela nafas berat, dia tau jika itu tidak lah benar. Dari ruang kerjanya, dapat Harigan lihat bagaimana lengan manja sang istri tak sengaja menyenggolnya. SCTV yang sengaja Harigan sambungkan ke perangkat laptopnya hanya untuk memantau keseharian sang cucu. "Ya sudah, nanti papa ganti. Udah, senyum dulu dong..." Atalia tersenyum malu-malu mau. Wanita itu memberikan kecupan manis di pipi sang suami tercinta yang selalu memanjakannya selama ini. Di tempat lain, sepasang kekasih baru saja selesai memilih cincin pertunangan. "Kita mampir ke butik temannya mama aku ya sayang...aku mau sekalian fitting baju pengantinnya." Ajak Regina pada sang kekasih dengan manja. "Ya...sayang. Kemana saja asal kamu senang, aku ikut aja." Ujar si pria tersenyum manis pada sang kekasih hati. Setiba di butik, Regina mulai mencoba beberapa baju lain selain baju pengantinnya. "Sel, ini bagus tidak?" sambil berputar-putar, Regina memamerkan dress keluaran terbaru yang nampak begitu pas di tubuhnya. Axel mengangguk saja, apapun yang di pakai oleh kekasihnya semua cocok di matanya. Regina nyaris tak ada cela. Wanita itu begitu sempurna meski lebih tua tiga tahun dari usianya. Namun Axel terlanjur menjatuhkan hatinya kala melihat Regina untuk pertama kalinya. Hubungan keduanya mulai berjalan sejak usia Axel 19 tahun, dan kini setahun sudah hubungan tersebut. Keduanya memutuskan untuk bertunangan dan setelahnya menikah. Regina adalah model majalah dewasa, namun Axel sama sekali tak masalah begitu pun keluarganya. Latar belakang keluarga Regina yang berasal dari kalangan keluarga terhormat, membuat Atalia tak mempersoalkan pekerjaan calon menantunya itu. Calon menantu? benar, karena bagi Atalia, Eva hanyalah beban yang di sampirkan di pundak sang anak. Suatu saat akan mereka hempas jika sudah waktunya. "Sudah semua kan? kita makan siang di rumah ya..mama pengen ketemu calon menantu kesayangannya." Ujar Axel memberitahu. Sang ibu sudah menghubunginya sebanyak tiga kali, termasuk melaporkan perihal gelas jus kesayangan sang ibu yang di pecahkan oleh putranya. Putra? Axel bahkan tak pernah menganggap Alva anaknya. Pun dengan Alva, bocah tiga tahun itu tumbuh dengan tingkat pemikiran yang luar biasa. Sejak usia satu tahun, Alva sudah bisa membedakan beberapa warna. Dan mulai berhitung sejak usia satu setengah tahun dengan benar walaupun nadannya masih cadel. Usia dua setengah tahun Alva mulai lancar berbicara, walau ada beberapa yang masih sulit di ucapkan dengan sempurna olehnya. Alva pun tau, jika Axel adalah ayahnya. Namun anak kecil itu tak pernah sekalipun memanggil Axel dengan sebutan ayah. Baginya cukup sang ibu dan mbah Romlah yang dia ketahui sebagai keluarganya. Selebihnya Alva tak pernah meminta apapun. Kembali pada sepasang insan yang sedang berbahagia dengan segala rencana pertunangan mereka. "Gimana ya Sel...kamu kan tau, siang ini aku ada pemotretan. Nanti malam saja bagaimana?" tukas Regina merasa bersalah dan tak enak hati. "Aku janji bakal datang buat makan malam di rumah kamu, sekalian mau kenyangin kamu juga." Rayu Regina yang selalu berhasil membuat Axel tak pernah bisa marah terhadapnya. Axel mengesah pasrah, pria itu kalah oleh godaan maut sang kekasih hati. Itu pula yang membuatnya jatuh cinta semakin dalam pada wanita itu, meski sejak awal Axel hanya di balut oleh rasa penasaran hingga bertekad untuk mendapatkan Regina. Dan setelah mendapatkan wanita itu dalam sebuah hubungan satu malam, Axel langsung terpikat oleh permainan ranjang yang di mainkan oleh Regina. Tak perduli jika dirinya adalah pria ke sekian bagi wanita itu. Karena sepak terjang serta pekerjaan Regina sebagai seorang model majalah dewasa sejak usia 17 tahun. Tentu Axel tak pernah berharap untuk mendapatkan sebuah noda darah saat penyatuan terjadi. "Janji ya..." tuntut Axel memicing penuh hasrat pada sang kekasih. "Janji, mana pernah aku bohong soal itu. Kan aku juga yang dapat enaknya," kikik wanita itu meraba paha kokoh Axel. "Kita sedang di jalan sayang, jangan memancingku." Tegur Axel mengingatkan. Regina tertawa renyah mendengar suara parau kekasihnya. Wanita itu diam-diam menyeringai penuh kebanggaan, karena merasa tak ada pria yang mampu menolak pesonanya. Termasuk remaja 19 tahun itu satu tahun yang lalu. Bermodalkan permainan ranjang yang membuat gejolak jiwa remaja Axel menggebu-gebu, Regina berhasil mendapatkan pria kaya, muda dan penuh gai rah seperti Axel. Regina tak perlu khawatir lagi soal kekurangan uang. Karena Axel adalah pohon uang baginya. Keluarga nya hanya menyisakan nama baik setelah kebangkrutan perusahaan sang ayah, itu lah yang masih dia miliki sebagai alat untuk segera mendapatkan gelar nyonya muda Nugraha. Namun hingga hubungan mereka berjalan satu tahun, dirinya tak kunjung mengandung. Padahal dengan kehadiran seorang anak, Regina bisa lebih mudah menguasai Axel berikut harta keluarganya. Meski sempat terbersit untuk memiliki anak dengan para pria yang juga masih rutin menyirami lahan basahnya, namun Regina masih takut jika sampai ketahuan berbohong. Dia ingin mengandung the real keturunan Nugraha. Agar tak ada lagi perasaan was-was yang menjadi ganjalan di masa yang akan datang. Di kediaman Nugraha, Eva berkutat membuat makan malam untuk tamu sang nyonya. Meski tau siapa yang akan berkunjung dan menikmati masakannya, Eva tak pernah perduli. Cukup baginya memiliki tempat berteduh bersama sang anak, itu sudah cukup untuk sementara waktu. "Alva duduk di sini saja ya, ibuk mau petik sayur di belakang sebentar. Jangan sentuh apapun, oke?" Alva mengangguk patuh. Eva mengusap pucuk kepala sang anak dengan sayang. Memiliki anak sepengertian Alva, cukup membuatnya bahagia. TBC Semoga masih berkenan mengikuti kisah Eva. Tak lama lagi Eva akan meninggalkan tempat di mana dirinya tak pernah di anggap. Dan dari sana, karma Axel, Aidan juga Dion akan di mulai. Dion? kenapa bisa? bukankah Dion baik? simak terus ceritanya ya kak. Luv You para kesayangan akak Rose_Ana
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD