Dua insan yang tak pernah benar-benar merasa menjadi pasangan suami istri, kini tengah duduk di gazebo belakang rumah dalam diam tanpa sepatah kata. Axel terlihat bingung, ragu dan entahlah.
Pria itu beberapa kali menghela berat, sedangkan Eva masih setia dalam kebisuannya. Sejak mereka menikah, Eva memang tak pernah berbicara pada Axel jika pria itu tak memulai percakapan terlebih dahulu.
"Kamu..." Axel nampak salah tingkah, saat keduanya mengucapkan kata yang sama secara bersamaan. Eva? wanita itu terlihat lebih tenang tanpa memperlihatkan ekspresi apapun.
"Kamu duluan," tukas Axel akhirnya.
"Kamu saja, sepertinya apa yang ingin kamu sampaikan jauh lebih penting. Aku akan bisa menunggu," sahut Eva cepat. Axel mengangkat wajahnya yang sejak tadi menunduk.
"Aku harap apa yang akan aku sampaikan bisa kau cerna dengan baik." Lagi, helaan nafas panjang Axel membuat Eva mulai menangkap maksud tertentu, kenapa Axel lebih memilih untuk berbicara di luar kamar tengah malam begini.
"Katakan saja, aku sudah terlalu kenyang akan segala kejutan dalam hidupku. Mungkin satu dua kejutan lagi tak akan mungkin menggoyahkan hatiku yang sudah bebal." Axel terhenyak mendengar penuturan lugas Eva. Benar, wanita muda itu sudah terlalu kenyang untuk menerima setiap perlakuan buruk dalam hidupnya, jika di tambah satu kesakitan lagi, tak akan begitu berpengaruh dalam kehidupan seorang Eva yang tangguh.
Axel pun mengakuinya. Tak ada satupun wanita yang mampu hidup dalam kehidupan seperti yang di jalani oleh Eva sehari-hari.
"Aku...aku akan bertunangan dengan kekasihku. Kami akan menikah satu bulan setelahnya. Dan, sebelum pertunangan kami di laksanakan..." Axel sekali lagi menatap netra tanpa ekspresi di hadapannya dengan tatapan menelisik.
"Aku ingin, kita bercerai terlebih dahulu." Dugh. Akhirnya kalimat keramat itu tercetus jua. Harusnya itu bukanlah apa-apa, mengingat jika Eva pun menantikan momen ini sejak lama.
Namun tetap saja sang hati merasakan sakit. Padahal Eva sudah mewanti-wanti agar hatinya sekuat karang, kala situasi semacam ini ia hadapi. Namun entah mengapa, segumpal daging yang di sebut kalbu, tetap merasakan perih yang serasa mengoyak jiwa.
"Pergilah, kejar apa yang kamu sebut kebahagiaan. Kami tak akan menghalangi jalanmu." Tanpa ekspresi apapun, wanita muda itu melepas kepergian suaminya untuk wanita lain, dengan hati setegar karang.
Axel terpekur, tak menyangka mendengar kalimat jawaban menohok yang justru menciptakan semacam kegundahan dalam hatinya. Eva yang kini tengah duduk di hadapannya, menatapnya dengan senyum yang begitu manis. Senyum yang beberapa tahun lalu, selalu menghiasi bibir mungil wanita itu sebelum dirinya menghancurkan segalanya.
Kini Axel melihatnya kembali, pria itu bagai melihat Kilauan berlian yang selama ini tertutup lumpur hitam. Sangat sempurna tanpa cela. Garis lesung pipi yang nampak begitu mempesona, membuat Axel nyaris terpana oleh pesona seorang Eva Permadi, yang selama ini dirinya anggap hanyalah sebongkah batu jalanan.
"Jika sudah tak ada ingin kamu sampaikan lagi, aku akan kembali ke dalam. Alva sedikit demam, aku tak bisa meninggalkannya lebih lama." Tukas Eva mulai beranjak dari duduknya.
Meski kedua kakinya terasa lemas, Eva tetap berusaha untuk terlihat kuat. Karena membungkam serigala cukup dengan memberinya daging segar. Begitupun Axel, cukup memberikan apa yang pria itu inginkan, maka perjuangan Eva untuk bertahan sebagai seorang istri terzolimi. Kini telah usai. Saatnya untuk menjemput apa yang di sebut bahagia.
Saat langkah pertama Eva mulai menapaki lantai dingin karena wanita itu tak menggunakan alas kaki, suara berat Axel lagi-lagi menumbuk jantungnya.
"Anggap saja kita tak pernah saling mengenal di masa depan, jika tanpa sengaja kita bertemu. Karena kehadiranmu juga dia, hanya akan menjadi semar dalam hidupku kelak." Kalimat pamungkas yang mampu mengoyak hati seorang remaja 19 tahun itu, hingga terluka parah. Membekas tanpa bisa di pulihkan kembali.
Eva tersenyum kecut dalam kepedihan hatinya yang kini telah hancur sempurna. Axel bahkan tak sudi sekedar menyebut nama putranya sendiri. Tanpa menoleh Eva mengangguk paham.
"Tenang saja, kamu bisa memegang kata-kataku. Kami tak akan menjadi sandungan bagimu. Baik di masa kini maupun di masa yang akan datang. Terimakasih atas tahun-tahun yang kau korbankan untuk menampung dan memberikan kami status. Kini sudah saatnya semua kembali seperti semula." Setelah melontarkan kalimat yang mencubit sanubari Axel, Eva melanjutkan langkahnya dengan hati yang lebih ringan.
Kini tak ada alasan lagi baginya untuk bertahan, sudah saatnya menyusuri jalan masing-masing tanpa terikat oleh beban pernikahan yang telah membelenggunya selama beberapa tahun terkahir ini.
Setibanya di dalam kamar, Eva menatap wajah teduh putranya dengan hati perih.
"Nikmati tidur nyenyak terkahirmu di rumah ayah nak, karena besok kita sudah bukan lagi bagian dari rumah ini meski hanya sebagai sampah tak terlihat seperti yang selama ini kita alami. Kita bebas, kita telah di bebaskan dari siksaan psikologis yang menggerogoti akal juga hati kita selama berada di sini. Ibuk akan menjadi sumber semangat dalam hidupmu. Hanya ibuk, tanpa siapapun lagi." Diam-diam di balik pintu usang kamar sempit eva, Axel mendengar semuanya.
Dan sang hati kenapa begitu sakit nya mendengar kalimat tersebut. Padahal inilah yang Axel inginkan selama ini. Terlepas dari beban tanggung jawab yang di paksa di sampirkan di atas pundaknya sejak usia masih remaja.
Langkah berat Axel membawanya kembali ke dalam kamar mewahnya di lantai atas. Di dalam sata tak ada satupun yang kurang, berbeda dengan kamar Eva juga anaknya. Axel terkekeh miris. Di saat seharusnya dirinya merasa benar-benar telah bebas, sang hati malah merasakan debaran tidak rela akan sebuah perpisahan.
"Kenapa jadi begini sih? bukankah ini yang selama ini aku inginkan? dasar bo doh!" gumam pria itu menggerutu kesal.
Axel membaringkan tubuhnya, dan berharap esok akan menjadi hari baru yang lebih baik. Tak ada lagi kecemasan yang mengganjal di hatinya, perihal statusnya saat ini. Semua beban itu akan terangkat sempurna dari pundaknya saat matahari terbit esok hari.
Di dalam kamarnya, Eva memasukkan beberapa potong pakaian yang hanya beberapa lembar saja. Terkecuali milik Alva, putranya itu cukup beruntung, karena memiliki dokter Dara yang menyayanginya. Setiap bulannya, selalu saja ada sepasang baju baru untuk sang anak terkasih.
Tok tok tok
Eva menatap daun pintu dengan dahi mengerut. Lalu di liriknya benda persegi yang menggantung di dinding kamarnya, waktu menunjukkan pukul 2 dini hari.
Tok tok tok
"Non
Eva, ini bibik..." suara serak dari luar pintu membuat Eva bergegas bangun dari duduknya.
Klek
"Bibik? ada apa bik?" tanya Eva heran.
"Bibik tak sengaja mendengar percakapan non Eva sama tuan muda Axel. Bibik sedih non, bibik tak ingin berpisah dengan non sama den Alva." Ucap wanita itu terisak pilu.
Eva segera merengkuh tubuh gempal bik Romlah yang sudah seperti seorang ibu baginya.
"Kami akan baik-baik saja bik, ayo masuk masa berdiri di sini. Sudah kaya anak perawan di apelin pacar saja," Seloroh Eva mencairkan suasana. Dirinya pun sedih berpisah dengan wanita yang sudah begitu baik itu, namun takdir harus tetap ia jalani.
Kedua wanita beda generasi itu duduk di lantai dingin dengan kegundahan hati masing-masing.
"Maafkan bibik, selama non di sini, bibik tak pernah bisa membela non Eva dari kemarahan nyonya." Tukas wanita itu lagi.
"Tak apa bik, sudah takdir ku seperti ini. Sekarang aku sudah bebas dari kerangkeng yang selama ini membelenggu kebebasan batin ku. Aku dan Alva akan memulai kehidupan baru kami di suatu tempat yang di mana tak ada satu haripun, akan kami lalui dengan penuh tekanan. Terimakasih sudah menyayangiku juga Alva selama ini, kami menyayangi bibik selayaknya orang tua yang kami miliki di dunia ini. Tolong kirimkan pesan pada bik Siti, katakan jika kami telah bebas dari sangkar emas ini. Dan tolong katakan, jangan mengkhawatirkan aku juga Alva. Kami akan baik-baik saja di luar sana, jika aku sudah mampu membeli ponsel. Aku akan menghubungi bibik. Aku janji," sederet kalimat penenang hati sekaligus untaian kata-kata perpisahan tak langsung itu. Serasa menusuk kalbu wanita paruh baya itu.
Eva sudah seperti putrinya, dan kini dia akan kehilangan dua orang sekaligus dari hidupnya. Alva kecil yang sudah ia anggap sebagai cucu kandung baginya, kini akan meninggalkan ia dalam kenangan yang akan ia simpan di memori tuanya hingga tutup usia.
Di tempat lain, seorang pria terlihat tengah fokus memperhatikan beberapa berkas penting yang telah menyita waktu istirahatnya hingga waktu merunduk menuju pagi.
Tatapan matanya beralih pada sebuah pigura kecil berisi foto seorang wanita muda yang selama ini telah menutup pintu hatinya untuk wanita lain.
"Andai kau tak seperti wanita ja la ng, mungkin aku akan memperjuangkanmu untuk keluar dari neraka itu. Sayangnya, kau sama saja seperti wanita rendah lain. Apa uang yang aku berikan tak cukup untukmu? berapa harga yang kau tawarkan untuk menikmati tubuhmu itu hah?!" Pria itu adalah Dion.
Sebuah kesalahpahaman telah menciptakan benih kebencian tak berdasar, pada wanita yang sebenarnya telah menandai hatinya sejak masih duduk di bangku SMA. Namun kegengsian masa remaja, telah merampok nuraninya dan tanpa sadar, ia menghancurkannya hingga tak bersisa.
flashback
"Tuh cewek kalem bener kaya es balok, aku ajak kenalan kaya ngomong sama tembok. Tak berbalas sepatah kata pun cuy!" komentar Dion dengan sorot mata yang masih terarah pada satu objek, yaitu Eva.
Hari pertama MOS, Eva remaja telah berhasil mencuri hampir semua remaja laki-laki di sekolah elit tersebut. Tak terkecuali Dion dan teman-temannya.
Ketiga remaja kelas 10 itu sesekali mencuri pandang pada gadis tersebut dengan tatapan penuh damba. Namun masing-masing merasa gengsi untuk menjadi yang pertama, yang mengungkapkan isi hati yang sebenarnya. Hingga akhirnya Dion jengah, mencetuskan sebuah ide yang akhirnya berakhir tak sesuai harapan.
Dion yakin Axel tak akan menang, karena dirinya sangat tau, jika Axel memiliki tingkat gengsi yang tak tertandingi. Pun Aidan, ke-dua memiliki sifat yang nyaris sama. Sama-sama keras kepala dan penuh gengsi yang tinggi.
Namun Dion harus menelan pil pahit kekalahannya. Axel rupanya berhasil menjerat gadis polos itu dengan sikap lembut penuh rekayasa. Dan dirinya terpaksa mundur perlahan menahan kekecewaan akibat kebodohan nya sendiri.
flashback end
Pagi menyapa di kediaman mewah Nugraha, Axel bangun lebih awal dari biasanya. Entah mengapa hatinya mendadak merasakan kekosongan yang tak dapat ia jelaskan.
Langkah kakinya membawanya nuju ke sebuah kamar yang nampak tak layak huni di sudut paling pojok kediaman mewahnya.
"Nyari siapa tuan muda?" sapa bik Romlah yang baru saja selesai mengambil sayuran dari kebun belakang. Kebun yang selama ini Eva rawat dengan sepenuh hati bersama putranya.
"Emmm...tidak bik..aku hanya mau nyari bibik, mau nanya sarapan kok belum ada di meja makan. Padahal sudah hampir pukul 7." Jawab Axel sedikit gagap. Pria itu menggaruk pelipisnya yang tak gatal untuk mengalihkan rasa gugup di hatinya.
"Maaf tuan muda, bibik telat buat sarapan. Biasa non Eva yang masak kalau pagi begini sebelum nyuci baju. Tapi... non Eva sudah pergi tadi subuh. Jadi bibik sedikit kerepotan," sahut bik Romlah menunduk sedih.
Masih terbayang perpisahan mereka subuh tadi, di mana ia juga Narto melepas kepergian Eva serta putranya dengan isak tangis. Narto yang sudah menganggap Eva seperti seorang anak perempuan baginya, pun turut merasakan kesedihan mendalam.
Axel terpaku, entah mengapa kabar itu membuat separuh jiwanya mendadak hampa.
"Bibik permisi masak dulu tuan muda," Axel masih mematung. Tak menjawab meski ia mendengarnya dengan sangat jelas.
Perlahan kaki tegap Axel berjalan menuju pintu kamar Eva yang saat itu sedikit terbuka. Dorongan pelan membuat pintu usang itu terbuka lebar. Di dalam sana hanya ada kasur busa tipis yang selama ini menjadi alas tidur Eva juga Alva. Kasur yang seharusnya hanya muat untuk satu orang tersebut, Eva cukupkan agar mampu menampung tubuhnya juga sang anak. Meski lebih sering Eva yang mengalah tidur di lantai dingin beralaskan kain tipis.
Hati Axel tercubit kala melihat pemandangan di dalam kamar itu. Luasnya hanya sekitar 3x3 meter, ada satu buah lemari dua pintu yang pintunya pun hanya terbuat dari kain bekas. Tatapan Axel kembali fokus pada kasur busa yang sering membuat lututnya ngilu, kala dirinya sedang meminta haknya sebagai seorang suami.
Tanpa Axel sadari, lelehan bening mengalir tanpa permisi dari kedua pelupuk matanya. Dengan segera Axel mengusapnya dengan kasar.
"Semoga kalian menemukan kebahagiaan yang tak pernah kalian dapatkan selama ini. Maafkan aku Va, maaf telah menggores hatimu hingga tak lagi bisa di sembuhkan." Gumam Axel kemudian menutup pintu kamar yang lebih layak di sebut gudang tersebut, dengan hati berkecamuk pedih.
TBC
Kita akan menyapa karma untuk ketiga makhluk durjana, Axel dan kawan-kawan.
Semoga masih setia stay di sini, babnya sengaja di kasih panjang, mengantisipasi dari kemunculan gembok yang tiba-tiba. Satu bab panjang ini, sebenarnya untuk dua bab. Semoga bacaan nya bisa menghibur.
Luv You para kesayangan akak Rose _Ana