Tak terasa, waktu berlalu begitu cepat. Lima tahun sudah Eva melepaskan diri dari ikatan pernikahan nya. Dan kini wanita muda itu masih setia menyandang gelar janda, tanpa terpikir sedikitpun untuk melepaskan status tersebut.
"Pagi buk, Alva bawa yang ini ke sekolah ya buk. Teman-teman pada suka, kemarin baru di titip sebentar udah langsung habis di borong semua. Guru-guru juga semua suka masakan ibuk, terutama yang baru ibuk buat ini." Cerita Alva menunjuk martabat mini buatan sang ibu. Bocah delapan tahun itu begitu bersemangat untuk membawa dagangan sang ibu ke sekolahnya.
Beruntung tak ada larangan bagi siswa yang ingin membawa jualan ke sekolah. Asal tak mengganggu ketertiban dalam lingkungan sekolah, tak masalah. Alva menitipkan dagangannya di kantin sekolah, agar tak mengundang kericuhan saat dagangannya di kerumunan oleh teman-temannya.
"Boleh, tapi segini saja ya...ibuk hanya buat lebihannya sedikit saja. Di kantin sekolah tempat ibuk dagang juga ibuk banjir orderan." Ujar Eva merasa bersalah. Padahal putranya terlihat begitu bersemangat untuk membawa dagangannya hari ini, namun apa daya, tenaganya tak sanggup mengerjakan semuanya sekaligus seorang diri.
Beruntung Eva di perbolehkan berjualan di salah satu lapak kosong di kantin sekolah. Awalnya ia hanya berdagang di depan sekolahan seperti yang dulu pernah ia tekuni.
"Yah buk, tapi tak apa deh. Segini sudah cukup kok." Sahut Alva tersenyum simpul pada sang ibu. Senyum yang selalu menjadi sumber kekuatan bagi Eva di kala lelah mulai menyapa raganya.
"Ya sudah, siap-siap gih. Cek peralatan sekolahnya jangan sampai ada yang tertinggal. Bekalnya jangan lupa di taruh langsung dalam tas," ingat Eva pada putranya.
"Sudah siap semua buk, let's go!" seru Alva dengan nada riang. Di kedua tangan kecilnya, Alva menenteng dua boks ukuran sedang yang berisi jajanan anak-anak buatan sang ibu. Satu boks lagi berisi beberapa bungkus nasi kuning andalan ibunya yang selalu laris manis.
Sedangkan Eva membawa satu boks besar di pelukannya, dan satu lagi di punggungnya. Eva membawanya menggunakan kain jarik untuk menopang boks besar tersebut.
Sungguh perjuangan seorang wanita yang luar biasa. Eva tak pernah sekalipun mengeluh akan kesulitan hidup yang ia alami. Meski kadang kerinduan pada keluarga nya masih kerap menyapa. Namun lagi-lagi Eva menepisnya. Hanya ada dirinya juga sang anak, tak ada yang lain lagi.
"Akhirnya mbak Eva sampai juga, saya pikir hari ini libur dagangnya." Ujar seorang guru yang langsung datang menyongsong boks dagangan Eva.
"Maaf bu Diah, tadi Alva juga bawa dagangan ke sekolahnya. Jadi saya bantu antar dulu sampai ke kantin. Agar berat soalnya," sahut Eva dengan senyum nya yang selalu membuat jiwa para guru pria termehek-mehek.
"Kenapa Alva tidak di sekolahkan di sini saja sih mbak? kan ada program beasiswa nya juga, Alva bisa masuk lewat jalur beasiswa prestasi. Wong anaknya pinter gitu kok. Bagaimana bu Anjar?" Eva tersenyum mendengar penuturan guru tersebut.
Bukannya dirinya tak ingin, namun mengingat biaya sekolah di sana tak akan mampu dia gapai. Eva lebih memilih untuk memasukkan sang anak ke sekolah negeri saja. Selain gratis biaya SPP, putranya juga mendapatkan beasiswa yang bisa di tabung untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi.
"Di sana Alva sudah nyaman bu, temannya ada banyak yang sayang sama Alva. Kalau pindah pasti anaknya bakal sedih, adaptasi lagi dari awal Alva pasti kesulitan. Anaknya tidak banyak ngomong, irit banget kaya emaknya Waktu make sabun cuci yang tinggal seuprit." Jawab Eva berkelakar.
Sudah sering putranya di tawarkan masuk ke sekolah swasta tersebut. Namun Eva selalu menolaknya. Wanita itu sampai kehabisan jawaban setiap kali kalimat yang sama di lontarkan kepadanya. Sama seperti saat ini, Eva sudah kehabisan stok jawaban.
Meninggalkan Eva yang sudah menikmati kehidupannya bersama sang anak. Di kota lain, sepasang suami istri terlihat tengah bersitegang untuk memenangkan opini masing-masing.
"Kapan Regina, kapan?" kalimat tanya penuh tekanan keluar dari mulut seorang pria tampan pada sang istri.
"Aku bilang sabar, ya sabar. Kenapa sih kamu sekarang sudah kaya mama? doyan banget nekan aku kaya gini. Aku tuh kerja Sel kerja! mana bisa aku batalin kontrak kerja aku begitu saja. Itu tidak profesional namanya. Kalau kontraknya kelar aku juga bakal jadi istri seperti yang kamu inginkan kok. Kamu mau aku di rumah aja, oke aku mau. Tapi tidak sekarang Sel. Aku belum siap jadi pengangguran dan hanya menyandang gelar seorang istri tanpa menghasilkan apapun. Aku bukan perempuan manja yang dikit-dikit minta ke suami." Axel tersenyum miring mendapati kalimat panjang sang istri.
"Terus notifikasi m-banking di ponsel aku itu apa, Regina? jadi yang bayar kartu kredit kamu selama ini itu siapa? manager kamu? atau agensi kamu? aku Regina! aku, suami kamu!" Teriak Axel yang sudah berada di ujung kedongkolan hatinya dengan segala sikap sang istri selama ini.
"Ya... itu kan tanggung jawab kamu memang. Kenapa kamu marah? aku ini istri kamu Sel, wajar saja kalau kamu memberikan aku nafkah berapapun itu. Toh juga tidak bikin kamu bangkrut ini," sahut Regina enteng.
Rahang Axel mengetat kala mendengar kalimat tak tau diri dari mulut istrinya. Selama tiga tahun ini, pernikahan mereka sehambar ikan air tawar. Tak ada lagi kata-kata manis setiap kali mereka membuka mulut untuk saling berbicara.
Atalia mulai menuntut kehadiran cucu kala pernikahan Axel telah melewati tahun kedua. Wanita itu mendesak Regina untuk berhenti menjadi seorang model agar bisa mengandung penerus Nugraha. Namun hingga tahun ke lima. Perut rata Regina semakin rata tanpa tanda-tanda kehidupan.
Axel yang kerap membela sang istri, mulai jengah dengan tingkah Regina yang mulai bertindak sesuka hati.
Wanita itu kerap bepergian keluar negeri untuk waktu yang tak sebentar, dengan alasan pekerjaan. Axel berusaha memaklumi, namun semakin di biarkan Regina semakin tak terkendali lagi.
Wanita itu bisa menghabiskan miliaran rupiah hanya dalam waktu satu hari. Keuangan perusahaan pun mulai goyah. Kini Harigan mengambil alih kepemimpinan perusahaan agar tak semakin kacau.
Axel mundur ke posisi seorang direktur, posisi CEO di ambil kembali oleh sang ayah. Meski Harigan harus keteteran karena dirinya pun memangku jabatan sebagai chairman di perusahaan tersebut.
"Jika kamu masih kukuh melanjutkan kontrak kerjamu, siapkan dirimu untuk menghadapi sidang perceraian kita." Pungkas Axel akhirnya. Satu-satunya pilihan yang bisa dia lakukan saat ini adalah menekan mental istrinya. Berharap Regina masih mau berubah, dan mereka akan memperbaiki segalanya bersama dari awal.
"Kamu tidak bisa mengancamku seperti ini Sel! aku tidak ingin bercerai! jika kamu masih tetap melakukannya, akan aku beberkan pada media, jika kamu sudah memiliki seorang anak dengan wanita lain." Axel terpaku. Tak menyangka rahasia yang selama ini keluarganya simpan rapat, telah berhasil di ketahui oleh Regina.
Regina tersenyum sinis menatap netra cengo sang suami.
"Kamu pasti tak menyangka bukan? aku bakal mengetahui semua rahasia busuk yang keluargamu tutup rapat selama ini. Aku mengetahuinya bahkan dari sebelum aku mendekatimu kala itu. Kamu pikir aku wanita bodoh? kamu salah Sel! lihat perbedaan usia kita, aku jelas jauh lebih matang dalam berpikir dari pada bocah sepertimu." Tandas Regina menyeringai licik.
"Kamu? kamu sengaja mendekatiku, meski kamu tau aku sudah menikah dan memiliki seorang anak?" gluk. Regina Sadar telah membongkar kedok nya sendiri tanpa ia sadari.
Wanita itu terlihat salah tingkah, namun bukan Regina namanya, jika kalah dalam perdebatan sengit tersebut.
"Kenapa? kaget? jika kamu berniat menutupi rahasia mu dariku, kenapa aku tak boleh menaklukkan mu dengan caraku sendiri. Kita sama-sama licik Sel, jangan munafik. Kamu dengan segala rahasiamu, dan aku dengan segala ambisiku. Impas bukan? Ingat Sel, meski berbeda guru namun ilmu yang kita anut, sama. Sama-sama penuh kelicikan." Tukas Regina menunjukkan telunjuk lentiknya ke wajah tampan suaminya.
Namun bagi Regina, tak ada yang lebih membuatnya tergila-gila selain uang. Tak peduli setampan apa seorang Axel Nugraha, uang baginya adalah segalanya.
Axel terkekeh miris dengan hati yang terluka parah. Kini ia merasakan bagaimana rasanya menjadi sang mantan istri. Tak di inginkan, dan harga dirinya di injak-injak bagai sampah.
"Aku sudah mendapatkan karmaku Va, apa kau senang sekarang? Aku harap kau senang. Tahun-tahun terburuk dalam hidupku di mulai semenjak kepergianmu juga putra kita. Detik di mana aku mendapati kamu telah pergi, detik itu juga, aku mulai mencicil karmaku padamu." Gumam Axel lirih.
Di sebuah gedung perusahaan yang bergerak di bidang otomotif, seorang pria berdiri menatap awan terik di balik dinding kaca ruangannya.
"Kamu di mana sebenarnya, Va? Kenapa begitu sulit untuk menemukanmu..." gumam Dion putus asa.
flashback
beberapa bulan setelah kepergian Eva, Dion tak sengaja bertabrakan dengan mobil seorang pria yang beberapa bulan yang lalu, pernah ia lihat bergandengan tangan dengan Eva memasuki lobby sebuah apartemen mewah.
Dari sanalah, kesalahpahaman itu bermula. Statemen Aidan kembali menguatkan praduganya terhadap wanita tak bersalah itu.
"Apa matamu buta tuan? bagaimana bisa anda menabrak mobilku yang sedang terparkir di tempatnya dengan tanpa rasa bersalah." Cecar pria tersebut menahan emosi. Mobilnya di parkir di tempat khusus dan sama sekali tak menghalangi jalan siapapun. Namun Dion dengan sengaja menyerempet sisi kanan mobilnya hingga lecet parah.
Dion tersenyum sinis.
"Anda sanggup membayar wanita ja la ng, masa memperbaiki mobil ini saja tidak bisa. Apa wanita itu sudah membuat anda bangkrut tuan?" Mahendra, pria itu mengerut kening heran mendengar kalimat menuduh dari mulut Dion.
"Apa anda mabuk tuan? aku tak akan menuntut apapun jika benar anda sedang dalam kendali alkohol. Pergilah, anda aku maafkan kali ini." Ujar Mahendra berniat kembali masuk ke dalam mobilnya. Dirinya sudah begitu terlambat untuk menjemput sang kekasih di rumah sakit.
"Dasar pria muda jaman sekarang, ada-ada saja." Gumam Mahendra menggeleng pelan.
"Aku memang masih muda, tapi aku tak pernah memakai jasa seorang ja la ng! terlebih ja la ng tersebut sudah memiliki seorang suami!" seru Dion yang rupanya masih belum puas melampiaskan kekesalannya pada Mahendra.
Mahendra pun mulai tersulut emosi. Tanpa ujung Pangkal, dirinya di tuduh yang bukan-bukan.
"Dengar anak muda, aku lebih tua darimu
Tak bisakah kamu berbicara dengan sopan? dimana letak kesalahanku sehingga membuatmu seperti sedang memendam kemarahan besar padaku. Katakan sekarang sebelum aku membalas kalimat nyelekitmu dengan kesakitan yang akan kamu sesali." Tukas Mahendra berusaha untuk tetap menjaga kestabilan emosinya.
Dion tersenyum miring penuh ejekan.
"Wanita muda bernama Eva Permadi, yang anda sewa beberapa waktu lalu untuk memuaskan has rat anda. Apa anda masih ingat tuan? wanita itu telah menikah dengan sahabatku, dan dengan teganya bermain kotor bersama pria lain. Anda masih mau mengelaknya?" senyum sinis Dion membuat Mahendra mengernyit.
"Jika dia hanya istri dari sahabatmu, kenapa kamu bisa sampai semarah ini? apa ini tentang kisah cinta segitiga yang salah satunya terpaksa memendam? astaga! anak muda jaman sekarang memang sulit berkompromi dengan akal sehatnya sendiri. Kamu pikir aku menyewa istri sahabatmu itu untuk memenuhi kebutuhan kelakianku? oh Jesus Christ! betapa dangkalnya otakmu. Eva merupakan adik angkat calon istriku, dan bila kamu menuduh wanita malang itu yang bukan-bukan. Itu artinya kamu pernah melihat Eva merangkulku masuk ke lobby apartemenku, benar bukan?" Dion bergeming. Namun tetap menyimak.
"Ya ampun, aku ingin tertawa keras sekarang. sungguh. Waktu itu aku terserang diare parah, sebenarnya ini cukup memalukan untuk di ceritakan. Tapi ya sudahlah, semua sudah lewat. Kebetulan Eva baru pulang berdagang, dan melewati mobilku yang terparkir tak jauh dari gedung apartemenku. Aku lemas tak bertenaga, memaksakan diri pulang dari kantor dalam keadaan yang sudah hampir tak berdaya. Namun kekasihku sibuk dengan beberapa pasiennya, lalu Eva lah yang menjadi penolongku kala itu. Wanita muda itu bahkan rela meninggalkan dagangannya di tepi jalan untuk mengantarkanku masuk ke gedung apartemen." Mahendra menjeda kalimatnya. Pria itu kembali menerawang ke masa di mana Eva berjuang keras menopang tubuh tegapnya yang jauh lebih besar untuk tubuh ringkih Eva.
"Kau tau, aku yang sudah kelelahan akibat dehidrasi, harus merasakan sakit beberapa kali. Karena tubuh mungil Eva, tak kuat menopang beban tubuhku saat itu. Kami dua kali tersungkur ke lantai, dan akhirnya bukan hanya diareku yang harus di obati. Tapi juga lututku yang lecet akibat mencium ubin lorong apartemen." Mahendra terkekeh kecil mengingat momen lucu tersebut.
Di mana Eva meminta maaf padanya hingga membuatnya terpaksa berpura-pura tertidur. Agar Eva tak lagi memperlihatkan wajah penuh rasa bersalah terhadapnya.
Mendengar serentetan cerita Mahendra, membuat lutut Dion tiba-tiba lemas. Mahendra lekas menopang tubuh pria muda di hadapannya yang nyaris limbung setelah mendengarkan dongeng singkat darinya.
"Kamu tidak apa-apa anak muda? apa perlu aku mengantarmu ke rumah sakit?" namun Dion menggeleng pelan. Dion memilih pergi tanpa sempat mengucapkan sepatah kata pun pada Mahendra.
Mahendra hanya bisa menggeleng melihat bagaimana Dion terlihat sedang memendam rasa bersalah yang amat sangat, melalui sorot matanya yang nampak berkaca-kaca kala mendengar semua pengakuannya.
flashback end
Hingga kini, Dion benar-benar memutuskan hubungan persahabatannya dengan kedua sahabatnya. Dan permusuhan itu bermula, dari sebuah permainan batu gunting kertas, yang telah berhasil memporak-porandakan kehidupan seorang gadis tak berdosa.
"Maafkan kebodohanku Va, aku bahkan mengataimu pe la cur di depan putramu juga banyak orang. Aku mohon, kembalilah." Dion tergugu mengingat kebodohannya di masa lalu. Tanpa mencari tau kebenarannya, Dion yang kebetulan melintas dan melihat Eva tengah berbelanja mainan di sebuah toko tepi jalan. Dengan tanpa perasaan mempermalukan wanita itu tepat di hadapan banyak pengunjung toko, juga sang anak yang tak mengerti apa-apa.
Kata-kata pedasnya berhasil meruntuhkan pertahanan hati seorang Eva. Wanita itu menangis sembari memeluk putranya. Tanpa tau apa kesalahannya, Eva harus menanggung rasa malu di hadapan banyak orang.
Sungguh sesal selalu menjadi penyakit hati yang tak dapat di obati dengan mudah. Dion terkekeh miris, kala mengingat dirinya pernah mengatakan kalimat itu pada Axel beberapa tahun yang lalu. Kini kalimat itu bagai penyakit, yang menggerogoti jiwa Dion sedikit demi sedikit.
Rasa sakit karena Axel tega menipunya habis-habisan. Tiga tahun lebih dirinya menafkahi Eva juga anaknya, namun demi tanpa perasaan, Axel menilap semua uang tersebut tanpa sisa. Eva yang malang harus memenuhi kebutuhan hidupnya dan sang anak, dengan cara berjualan setelah menyelesaikan tugas seorang babu di rumah mewah suaminya sendiri.
Semua cerita itu ia ketahui dari bik Romlah, wanita paruh baya itu bahkan sampai terisak keras kala menceritakan sederet penderitaan Eva kala tinggal di kediaman Nugraha.
TBC
Selamat mempersiapkan diri untuk menyambut hari kemenangan pembacaku yang baik. Semangat terus hingga waktu ramadhan tiba.
Luv You para kesayangan akak Rose _Ana