Tak seperti yang Bramantyo harapkan, pria itu berpikir beban nya telah terlepas. Namun siapa sangka, remaja tanggung itu malah menolak putrinya mentah-mentah.
Jelas sebagai seorang ayah, dirinya tak terima. Harga dirinya serasa menggelinding ke dasar jurang terdalam akibat penolakan Axel.
Terlebih ibu dari remaja itu pun tak menampakkan penerimaan terhadap Eva putrinya. Sangat mengherankan, padahal dahulu sekali, selagi sang istri masih hidup, Atalia begitu menyayangi Eva kecil. Namun semua berubah, kala istrinya mengalami kecelakaan maut beberapa tahun silam.
Tak ada lagi kunjungan silaturahmi antar para sahabat itu. Tak ada lagi sapaan hangat meski hanya sekedar basa basi. Seolah menghilang seiringan kepergian Sahira sang istri tercinta.
"Bisa kau bujuk putramu Har? aku tak mungkin membiarkan kehamilan putriku begitu saja tanpa seseorang yang bertanggung jawab atasnya. Reputasiku akan hancur, meski pernikahan mereka juga akan menjadi semar dalam hidupku. Paling tidak aku lega karena Eva sudah ada yang menjaganya." Mohon Bramantyo putus asa.
Harigan menatap iba pada sang sahabat. Dirinya pun tak bisa berbuat banyak. Meski Axel mengakui perbuatannya, namun putranya itu menolak untuk mempertanggungkan kehamilan Eva. Putri dari sahabatnya itu.
"Aku akan mencobanya Bram. Jangan berharap banyak, tapi jika Axel tetap tak ingin menikahi Eva. Bagaimana dengan syarat lain? kita akan memindahkan Eva ke suatu tempat yang cukup jauh dari ibu kota. Di sana Eva akan melahirkan serta membesarkan anaknya. Aku akan menanggung segalanya tanpa terkecuali. Eva bahkan boleh melanjutkan sekolahnya jika sudah melahirkan nanti. Aku akan mendukung sepenuhnya. Bagaimanapun yang Eva kandung adalah cucu pertamaku, jelas aku peduli." Tutur Harigan panjang lebar.
Bramantyo bergeming. Oria itu seperti memikirkan banyak kemungkinan yang akan terjadi, namun tak tau harus berbuat apa.
"Terserah padamu Har, kau tau aku tak pernah berharap apapun dari anak itu semenjak ibunya dia bunuh entah bagaimana caranya. Aku masih memendam duka lara atas kepergian istriku hingga sekarang." Tukas Bramantyo dengan rahang mengetat.
Harigan menghela nafas berat. Dia tau perkara itu, namun tak menyangka jika Bramantyo menyimpan dendam pada seorang bocah yang tak tau apa-apa. Dan bocah itu adalah putri kandungnya sendiri.
Sekarang Harigan mengerti, bahwasanya selain mencemaskan reputasinya, Bramantyo juga ingin melepaskan tanggung jawabnya sebagai seorang ayah lebih cepat dari waktu yang seharusnya.
Tatapan tak terbaca Harigan, menggambarkan sebuah kekecewaan yang mendalam. Namun pria itu memilih untuk memendamnya hingga waktunya tiba dan menjawab semuanya.
"Lakukan apa yang bisa kau upayakan agar Axel bertanggung jawab atas Eva dan calon anaknya. Aku tunggu hingga malam ini, kabar darimu. Kalau begitu aku pamit, pastikan bujuk istrimu juga." Tandas Bramantyo penuh penekanan.
Harigan hanya mengangguk samar tanpa janji yang terucap. Entah apa yang sedang pria 40 tahunan itu pikirkan.
Eva tak berani bersuara, gadis itu duduk di jok belakang dalam diam bahkan tanpa berani bergerak sedikitpun.
Penghinaan Axel serta kata-kata pedas Atalia masih berseliweran di ingatannya. Bagaimana kedua orang itu sangat nyata menampakkan ketidaksukaan terhadap dirinya.
"Kamu lihat? apa kamu lihat tadi Bagaimana kamu telah berhasil memoles arang di wajahku? puas kamu hah! apa belum cukup kamu membuat istriku pergi dengan cara yang tragis? kini kamu pun ingin mengirimku kepada malaikat maut dengan cara murahan seperti ini! katakan Eva! apa yang kamu inginkan dariku?" teriak Bramantyo geram.
Pria itu melampiaskan semua kekesalan serta rasa malu atas penolakan Axel, serta sikap Atalia yang dingin tak bersahabat.
Bramantyo menghentikan mobil di sebuah jalan sepi, hanya ada beberapa rumah dengan jarak yang tak terlalu dekat di sana.
"Turun kamu! saya jijik menggunakan mobil yang sama dengan ja lang murahan seperti kamu! Turun!" bentakan Bramantyo membuat tubuh Eva bergetar hebat.
Dengan kaki gemetar menahan takut, Eva akhirnya memilih turun dari mobil sang ayah.
"A_aku ti_,dak punya uang...." lirih gadis itu sebelum menutup pintu mobil. Namun bukannya iba, Bramantyo menoleh kebelakang hanya untuk menutup pintu mobilnya dengan kasar.
Setelahnya, pria itu pergi begitu saja seperti baru saja meninggalkan Eva bagai sampah di penampungan akhir.
Air mata gadis itu luruh sederas air hujan yang tiba-tiba mengguyur bumi dengan tanpa aba-aba.
Di tengah derasnya hujan, suara guntur yang bersahutan, Eva menyusuri jalan menuju ke sebuah pos jaga yang tak berada jauh dari sana.
Setelah meneduhkan diri, Eva memeluk kedua lutut kecilnya sembari menangis keras. Tangisan yang terdengar begitu memilukan bagi siapa saja yang mendengarnya.
"Kenapa papa jahat sekali Tuhan! apa salah Eva sebenarnya? kenapa kematian mama menjadi kesalahanku? kenapa?!" teriak Eva histeria. Semesta seakan memahami penderitaan gadis malang itu, hingga menyamarkan suara teriakan nya dengan suara petir di langit kelabu.
Di kediaman mewah Bramantyo, bik Siti terus menunggu di depan pintu dapur dengan hati penuh kecemasan. Berharap sang nona kembali dalam keadaan baik-baik saja. Namun hingga hujan mulai reda. Eva tak kunjung kembali.
Hati bik Siti kian resah, apalagi melihat mobil Bramantyo memasuki pelataran rumah dan pria itu turun seorang diri tanpa Eva bersamanya.
"Ya Allah, tolong jaga non Eva... kasihanilah gadis malang itu..." Doa bik Siti dalam gumaman kecilnya.
"Bik? ngapain berdiri di sini seperti patung? bikinin aku makan siang gih. Cepatan! lelet amat kaya keong," dumel Bela kesal.
Bik Siti mengusap da da nya menahan kesabaran. Wanita itu bergegas membuatkan makan siang untuk majikannya sebelum masalah lain kembali muncul.
Namun hatinya tetap berkelana, memikirkan nasib Eva yang entah berapa di mana.
Di rumah nya, Axel terlihat begitu kacau. Remaja itu tak menyangka, jika hasil perbuatannya bisa membuahkan kehidupan baru. Sungguh remaja itu di buat frustasi akan kenyataan ini.
Tok tok tok
Axel melirik daun pintu depan tatapan malas.
"Masuk!" serunya dari dalam kamar.
Klek
Harigan melongokkan kepalanya setelah pintu terbuka.
"Kalau papa mau bahas soal tadi, aku lagi malas pa. Kalau papa mau bujuk aku, percuma saja. Aku tetap pada keputusanku. Aku tidak mau menikah di usiaku yang masih ingin bermain-main." Tandas Axel menyuarakan isi hatinya yang sedang kalut.
Harigan menatap putranya seraya tersenyum simpul.
"Papa tidak di suruh masuk dulu, nih?" canda Harigan berusaha tetap menjaga suasana hangat di antara mereka.
"Masuklah. Papa tinggal melangkah aja kenapa musti nanya," ketus Axel yang masih belum beranjak dari sofa.
Dengan langkah tegas penuh wibawa, Harigan memasuki kamar putranya. Tatapan matanya memindai isi kamar Axel dengan tatapan menilai. Itu tak luput dari perhatian Axel yang sedikit heran.
"Kamar kamu rapi juga ya...ini hasil karya tangan mama, si mbok atau kamu sendiri?" Harigan kembali membuka suaranya untuk memancing obrolan di antara mereka.
"Aku sendiri. Mama sama mbok cuma bantu bersih-bersih aja." Sahut Axel terselip sebuah kebanggaan dalam kalimat nya.
Harigan melebarkan senyuman mendengar jawaban lugas meski terkesan malu-malu dari putra keduanya itu.
"Tak papa sangka, kalau anak papa ternyata sudah tumbuh besar. Padahal seperti baru kemarin kamu papa gendong, papa timang-timang, papa suami bahkan papa cebokin hingga kamu kelas 1 SD." Cerita Harigan mengekeh kecil.
Ekspresi Axel nampak pias karena kalimat terakhir sang ayah.
"Ck, papa...aku sudah besar, jangan bahas bagian itu bisa?" rajuk Axel dengan wajah memerah.
Harigan tak tahan tak melepaskan tawanya. Suasana seperti ini jarang sekali mereka alami, karena Axel lebih suka nongkrong bersama teman-temannya dari pada menghabiskan waktu liburnya di rumah.
"Maaf, papa hanya teringat akan masa kecilmu yang selalu membuat suasana rumah ini bagai taman kanak-kanak." Tukas Harigan setelah meredakan tawanya.
"Kamu tau nak, kami baru bisa mendapatkanmu lagi setelah kakakmu berusia 7 tahun. Sungguh usaha yang tak mudah bagi mamamu. Itu kenapa mama lebih nampak begitu menyayangi ketimbang kakakmu yang memang telah hidup mandiri." Harigan terdiam sejenak. Pria itu seperti sedang mencari kalimat yang tepat, untuk dia sampaikan kepada sang anak, agar di pahami oleh Axel tanpa merasa di tekan.
TBC
Terimakasih bagi yang sudah mampir, jangan lupa tap icon LOVE ya....
Luv You para kesayangan akak Rose_Ana