Eva menangis tergugu kala mendengar kalimat menyakitkan dari mulut Axel. Remaja laki-laki itu membeberkan fakta tentang hubungan mereka yang sebenarnya.
Tak ada hati yang di libatkan, dirinya gencar mendekati Eva hanya lantaran ingin memenangkan sebuah taruhan dengan teman-temannya. Dan kini dirinya telah berhasil mencapai kemenangan tersebut, maka tak ada lagi alasan untuk mempertahankan hubungan palsu itu.
"Tapi kamu sudah renggut masa depan aku Sel...kenapa jahat sekali sih. Salah apa aku sama kamu? sama teman-teman kamu sampai aku di jadikan bahan taruhan seperti ini..." Eva berucap pelan nyaris seperti sebuah bisikan.
Hatinya begitu sakit, karena laki-laki yang dia harapkan akan menjadi pelindung baginya. Kini dengan lantang mengucapkan kata putus tanpa perasaan. Belum lagi fakta menyakitkan yang baru saja dirinya dengar langsung dari mulut Axel.
"Siapa suruh kamu be go! seharusnya kamu bisa melihat, mana laki-laki yang tulus dan mana yang cuma sekedar modus. Jadi orang otak itu di pakai, jangan cuma buat pajangan doang." Sentak Axel menunjuk kening Eva hingga membuat gadis kelas 1 SMA itu terhempas ke dinding gudang sekolah.
"Ingat ya Va, hubungan kita sudah selesai. Apapun yang akan terjadi ke depannya, itu bukan urusan aku lagi. Paham?" Eva bergeming, menatap Axel dengan penuh kebencian.
"Aku benci kamu Axel Nugraha! forever!" desis Eva menekan rasa sesak di dadanya.
Sebelum Axel lebih dulu meninggalkan nya bagai sepah di sana, Eva lebih dulu mengambil langkah lebar untuk meninggalkan pria breng sek tersebut.
Dalam hatinya, Eva berjanji akan membalas sakit hatinya pada Axel juga teman-temannya.
Sedangkan Axel menatap punggung ringkih Eva dengan tatapan tak terbaca. Di balik tembok lain, seorang remaja terus menatap tajam ke arah Axel tanpa Axel sadari.
Satu setengah bulan berlalu, Eva mengalami banyak hal yang mulai tak nyaman di tubuhnya. Gadis polos itu mengalami mual muntah, pusing sepanjang hari dan sering merasa kelelahan meski hanya melakukan pekerjaan ringan.
Hingga suatu malam, bik Siti mendapati, jika stok pembalut sang nona masih utuh di tempatnya. Wanita paruh baya itu mulai terlihat cemas, memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa saja menimpa nona mudanya.
"Non..itu..si bibik liat stok pembalut non Eva masih utuh. Biasanya akhir bulan begini non biasa minta di beliin pembalut sama bibik." Tanya bik Siti hati-hati.
Eva yang tengah belajar sejenak terdiam. Gadis itu pun heran, kenapa tamu bulanan nya masih belum berkunjung.
Gelengan kecil Eva membuat bik Siti menghela nafas dalam-dalam.
"Sudah telat tiga minggu ya, berarti?" lanjut bik Siti memastikan. Eva hanya mengangguk tanpa mengerti maksud dari ucapan wanita itu.
"Besok pagi kalau non pipis, air pipis nya tampung di gayung ya... sedikit saja." Ujar bik Siti lembut.
Eva mengerut kening heran, "buat apa bik?" tanya gadis itu polos.
"Bukan buat apa-apa, bibik cuma mau cek saja. Kenapa non bisa terlambat datang bulan," sahut bik Siti tersenyum hangat.
Eva mengangguk walau tak memahami apapun.
"Emang bisa ya bik?" tanya Eva masih belum mengerti. Bik Siti mengangguk saja agar sang nona tenang.
"Ya sudah, besok pagi ingatkan lagi ya bik. Takut aku lupa soalnya," ucap Eva tertawa kecil. Bik Siti mengangguk dengan kecemasan hati yang tak menentu.
Dalam hatinya, bik Siti melangitkan doa agar dugaan nya tak terjadi. Namun bila memang benar terjadi, dia hanya berharap agar sang tuan bisa menerima terlebih memaafkan putri terbuang keluarga Permadi itu.
Subuh tiba, bik Siti sudah berkutat di dapur kotor. Menyiapkan sarapan juga melakukan pekerjaan lainnya. Tak lupa wanita itu membangunkan nona nya untuk melakukan apa yang semalam dirinya perintahkan.
"Terus di apakan bik?" tanay Eva dengan sebuah gayung berisi urine miliknya.
"Sudah, non tinggalkan saja di sini. Nanti bibik yang urus," ujar wanita itu meraih gayung tersebut dari tangan Eva. Dengan hati ketar ketir, bik Siti mencelupkan sebuah benda pipih panjang ke dalam gayung tersebut.
Berselang beberapa detik, muncul lah dua garis yang paling di takuti oleh wanita paruh baya itu. Bik Siti menutup mulutnya menahan tangis. Ketakutan mulai melanda hati ripuhnya. Entah bagaimana nasib nona mudanya setelah ini.
Pikiran wanita itu mulai berkecamuk tak karuan.
Di kamar nya Eva bersiap dengan seragam sekolahnya. Setelah memuntahkan air hingga terasa kecut di pangkal lidah nya, Eva akhirnya bisa keluar juga dari dalam kamar mandi. Meski tubuhnya lemas tak bertenaga, Eva memaksakan diri untuk tetap bersekolah.
Ujian kenaikan kelas hanya tinggal 2 bulan lagi, dirinya yang hanya seorang siswi beruntung karena beasiswa. Harus lebih giat belajar dari pada teman-temannya yang memang di biayai oleh orang tua mereka.
Berbeda dengan Eva, sejak sekolah menengah pertama, Eva bersekolah karena bantuan beasiswa prestasi akademik. Dan Eva patut bersyukur, karena memiliki kecerdasan di atas rata-rata.
Bik Siti yang sempat memilih menenangkan hati nya di dalam kamarnya. Akhirnya keluar juga.
"Biikk..!" seru Bela memanggil sang ART dengan seruan nyaring.
"Ya non.." wanita itu berjalan cepat ke arah ruang makan.
"Lama banget sih! kaya siput air," kesal gadis itu mengomel.
"Jus aku mana? bibik lama-kelamaan nyebelin ya, suka pikun belakangan ini akibat belain anak pembawa sial itu mulu sih." Oceh gadis itu marah.
Ekor matanya tanpa sengaja melihat sesuatu yang sedang bik Siti pegang. Dan itu berhasil mencuri perhatian nya.
"Maaf non, sebentar bibik buatka....." tak sempat menyelesaikan kalimatnya, pertanyaan Bela membuat lutut bik Siti serasa lemas tak bertulang.
"Itu apa bik? bibik kok megang tes pack. Punya siapa? tidak mungkin punya bibik kan? hayo ngaku bik, punya siapa tes pack nya?" desak Bela tak sabar. Bramantyo pun turut memperhatikan apa yang membuat putrinya nampak tak sabar.
"Apa itu bik? punya siapa?" suara datar Bramantyo berhasil membuat tangis wanita tua itu luruh dalam kepasrahan.
"Maaf tuan..saya gagal menjaga non Eva dengan baik. Tolong jangan marah padanya.. marahi bibik saja yang tak becus mendidik non Eva." Mohon bik Siti sambil bersimpuh di dekat kaki sang majikan.
Bramantyo menggenggam erat sendok yang ada di tangan nya dengan menahan kemarahan yang luar biasa.
"Evaaa!" teriak Bramantyo memanggil putri keduanya. Eva yang baru saja selesai mengikat tali sepatunya terjengkit kaget mendengar teriakkan sang ayah
Dengan sedikit berlari kecil, Eva keluar dari kamarnya menuju ruang makan.
"Sini kamu!" panggil Bramantyo dengan tatapan penuh angkara murka pada putrinya.
Eva berjalan perlahan memutari meja makan, gadis itu kaget melihat ART kesayangannya duduk bersimpuh di depan sang ayah sambil menangis.
"Bik..." lirih Eva yang masih belum memahami apa yang tengah terjadi. Sedangkan Bela melirik sinis ke arah kakaknya.
Saat tiba di depan sang ayah, tanpa aba-aba Bramantyo melepaskan sebuah tamparan keras ke pipi kiri Eva hingga membuat gadis itu tersungkur.
"Papa..aku salah apa?" tanya Eva menahan rasa panas yang menjalar di wajahnya. Pukulan sang ayah tak pernah sampai membuat nya nyaris tak bisa mendengar apapun. Namun kali ini, tamparan ayahnya membuat telinganya mendengung kencang.
"Kamu tanya kamu salah apa hah?! sekarang saya tanya, anak siapa yang kamu kandung itu? jawab Eva?!" Eva tersentak. Dirinya bahkan tak tau jika dirinya tengah mengandung.
Tangan mungil Eva terulur mengelus perut ratanya tanpa sadar.
"Jawab Eva! apa kamu tuli hah?!" teriak sang ayah sekali lagi.
Entah keberanian dari mana, Eva mengangkat wajahnya untuk menatap sang ayah.
"Anak Axel Nugraha, pa..." jawab Eva tegas.
Bela membelalakkan kedua matanya tak percaya. Pasalnya, diapun menaruh hati pada remaja tersebut. Namun malah sang kakak yang mendapatkan nya. Sungguh Bela tak bisa menerimanya begitu saja.
"Kamu pasti bohong kan? kak Axel tidak mungkin melakukan hal rendah ini padamu. Katakan yang sebenarnya, siapa ayah dari anak harammu ini kak?!" teriak Bela tak bisa terima kenyataan. Jika pria pujaan hatinya, adalah ayah dari janin sang kakak.
Usia Eva dan Bela hanya terpaut satu tahun, Bela yang kini baru duduk di bangku kelas 9 sekolah menengah pertama. Bercita-cita ingin masuk ke sekolah elit di mana Axel menempuh pendidikan. Untuk itu Bela mengikuti banyak les agar bisa menjadi gadis cerdas seperti sang kakak.
Namun kini harapan nya terancam pupus, karena kehamilan sang kakak.
"Katakan dengan jujur Eva, siapa yang melakukannya?" ulang Bramantyo menekan intonasi suara nya.
"Sudah aku bilang pa...aku hanya melakukan nya dengan Axel di gudang sekolah." Bramantyo memejamkan kedua matanya dengan memendam berbagai perasaan berkecamuk.
Sedangkan Bela kembali terduduk dalam kegundahan.
"Bersiaplah, saya akan mengantarkan kamu ke rumah keluarga Nugraha itu." Ucap Bramantyo datar.
Bik Siti membantu sang nona untuk berdiri dan berganti pakaian.
Sedangkan di kediaman Nugraha, Axel di tahan oleh kedua orangtuanya ketika akan berangkat ke sekolah.
"Ada apa sih pa? aku bisa telat kalau begini," sungut Axel kesal.
"Duduk saja dulu, nanti kami juga akan tau." Sahut Harigan santai. Namun tidak dengan sang ibu, wanita yang melahirkan nya itu menampilkan ekspresi wajah yang tak bersahabat pagi itu.
"Ada sih ma? mukanya di tekuk terus dari tadi. Tidak enak tau, di lihatnya." Tukas Axel masih tak menyadari, jika dialah sumber kemuraman di wajah Atalia.
"Bisa diam tidak! suara kamu bikin mama tambah pusing. Berisik!" Hardik Atalia dengan nada jengkel.
Axel semakin keheranan, sang ibu yang biasa berkata lembut kepadanya mendadak ketus pagi ini.
Tak ingin memancing emosi ibunya lebih jauh, Axel memilih duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.
Beberapa menit kemudian, sebuah mobil mewah memasuki pelataran rumah mewah keluarga Nugraha.
"Tuh, tamu papa sudah datang. Sambut gih, ma..." pinta Harigan lembut. Dengan ekspresi tak senang, Atalia berjalan ke pintu utama untuk menyambut tamu mereka.
"Selamat pagi nyonya Atalia, maaf jika kedatangan kami mengganggu aktivitas pagi kalian sekeluarga." Sapa Bramantyo pada sang nyonya rumah.
"Hmmm... silahkan masuk." Sungguh sambutan yang sangat tak ramah dan terkesan sangat terpaksa. Bramantyo menyadari itu. Sebagai seorang pengusaha handal dalam hal negosiator bisnis, Bramantyo cukup memahami banyak karakter orang-orang yang pernah dia temui.
Termasuk ekspresi penuh keterpaksaan seperti yang di perlihatkan dengan jelas oleh Atalia.
"Ah Bram...apa kabar? maaf tak menyambutmu di depan. Biasalah, penyakit orang tua kalau pagi seperti ini. Suka nongkrong tak tau waktu di kamar sempit," Seloroh Harigan yang jauh lebih ramah dari pada istrinya.
"Aku baik Hari, kau terlihat semakin gagah di usiamu ini." Lalu keduanya berpelukan cukup erat.
Rupanya keduanya merupakan sahabat lama, yang juga rekan dalam hal berbisnis.
"Ayo duduk..." ajak Harigan.
Sedangkan Axel, remaja itu menatap Eva tak berkedip. Dirinya cukup terkejut, karena rupanya kedua orang tua mereka kenal cukup baik. Dan lebih terkejut lagi melihat Eva ada di rumahnya sepagi ini.
"Coba katakan dengan jelas apa yang sudah kau sampaikan tadi di telepon. Telinga tuaku sedikit kurang awas mendengarnya," ucap Harigan membuka percakapan.
Bukannya dia tak mendengar jelas, Harigan hanya ingin anak istrinya mendengar secara langsung, apa yang akan Bramantyo sampaikan.
"Sebelumnya aku minta maaf Hari, ini di luar kendaliku. Putriku mengaku telah di hamili oleh putramu, Axel. Itu kenapa aku bertamu sepagi ini ke kediamanmu." Sambung Bramantyo menyampaikan maksudnya kedatangannya ke sana.
Axel tersedak ludahnya sendiri, kala mendengar kalimat Bramantyo. Remaja itu pias, panik juga takut.
"Itu bohong pa...aku tak mungkin melakukan hal seperti itu. Dia berbohong, aku tak tau apa-apa." Sanggah Axel tegas dengan mimik wajah ketakutan.
"Diam dulu Axel! papa tak mengajarkan mu untuk menjadi pria breng sek," tandas Harigan tak kalah tegas.
TBC
Mohon dukungan kalian untuk novel kedua author ya.
Luv You para kesayangan akak Rose_Ana