Bab 3

1231 Words
Pagi menjelang, Eva sudah mulai membaik. Gadis itu tak membantu sang ART pagi ini untuk menyiapkan sarapan pagi. Bik Siti tak mengijinkan Eva untuk membantunya di dapur pagi itu, karena kondisi Eva yang masih lemah. "Jusku mana bik?" seru Bela pada bik Siti yang tengah membereskan dapur. Dengan tergopoh-gopoh wanita itu berjalan menuju ruang makan sembari membawa nampan berisi jus jeruk kesukaan sang nona. "Ini non, maaf.. bibik telat antar." Tukas wanita itu menunduk sopan setelah meletakkan gelas jus milik Bela. "Bukannya jus selalu sudah siap di atas meja sebelum aku tiba? apa si pembuat masalah itu terlambat bangun pagi ini? mana dia, tak bisa di biarkan lengah sedikit saja." Gerutu Bela dengan nada marah. "Anu non...non Eva demam semalaman, jadi bibik suruh istirahat saja di kamar." Terang bik Siti memberikan pembelaan. "Halah! baru demam saja sudah manja, katakan padanya tak membantu bibik masak tak ada makanan untuknya. Dia pikir hidup ini gratis apa, dasar tak tau diri!" Hardik Bela ketus. Sedangkan Bramantyo memilih diam sembari menikmati sarapannya tanpa ikut campur. Baginya sudah cukup sang anak yang mewakili kemarahan pagi itu terhadap putri keduanya, Eva. "Non Eva demam tinggi nona, menggigil hebat saking tingginya." Lagi, bik Siti memberikan sang nona kesayangan kalimat pembelaan. Bela menatap sengit ke arah ART nya, "kenapa bibik selalu membela anak pembawa sial itu sih? yang menggaji bibik tuh siapa sebenarnya? papa atau Eva?" hardik Bela dengan nada tinggi. "Sudah..sudah. Habiskan sarapanmu nak, papa ada meeting pagi ini." Sela Bramantyo menyudahi kedongkolan hati sang anak kesayangan. "Bik, jangan berikan makanan pada anak tak tau diri itu. Jika bibik berani melakukannya, bibik akan tau akibatnya." Tukas Bramantyo mengingatkan. Bik Siti hanya bisa mengangguk pasrah dengan segumpal hati yang nyeri. "Aku sudah selesai pa...ayo berangkat. Ingat ya bik, jangan di kasih makan kalau tidak ikut bekerja di rumah ini. Atau bibik papa pecat," ulang Bela mengingatkan bik Siti dengan kalimat ancaman. Lagi-lagi wanita paruh baya itu hanya mengangguk paham. Sepeninggalan sang majikan, bik Siti merapikan meja makan. Wanita berpikir keras untuk memberikan bekal makan siang untuk sang nona, tanpa terpantau kamera SCTV yang bertebaran dalam rumah mewah tersebut, hingga ke beberapa bagian di area luar rumah. Tanpa sengaja atensi bik Siti tertuju pada plastik sampah yang sudah hampir penuh. Meski terkesan jorok, namun satu-satunya cara adalah memanipulasi keadaan dengan menaruh kotak bekal di dalam plastik tersebut. "Bik, aku pamit ke sekolah dulu ya. Tadi maaf ya, kalau bibik kena Omelan karena aku." Ujar Eva merasa bersalah. Bik Siti menggeleng cepat, " bukan salah non Eva. Ah ya, bibik bisa minta tolong bawa sekalian plastik sampah ini tidak? ini, tolong di buang ya non, di tempat sampah di depan." Ujar wanita itu menyerahkan plastik berwarna hitam tersebut ke tangan Eva. Eva menyambutnya dengan anggukan kepala. "Ada kotak bekal di dalamnya non, sudah bibik bungkus plastik bersih dobel. Jangan lupa di keluarkan sebelum di buang," bisik bik Siti kala Eva membungkuk untuk mencium punggung tangannya. Dengan begitu gestur bibirnya tak akan terlihat di kamera karena posisinya yang menunduk. Eva tersenyum simpul mendengar kalimat sang ART yang begitu perhatian terhadap nya. Dengan anggukan kecil yang nyaris tak terlihat seperti anggukan, Eva kemudian bergegas pergi meninggalkan bik Siti melalui pintu dapur. Yang selama beberapa tahun ini menjadi pintu keluar masuk baginya. Karena Eva tak di perkenankan untuk melewati pintu utama rumah mewah itu. Tiba di sekolah, Eva langsung masuk ke dalam kelasnya. Di sana, Eva di berondong pertanyaan oleh sang sahabat. "Kenapa bisa lupa sih, Va...kan aku sudah bilang jam empat sore sudah harus datang. Di tungguin juga...sampe kering tau tidak aku nungguin kamu di teras rumah." Omel Dara pada sahabatnya dengan nada merajuk manja. "Ya maaf, aku kelupaan. Kamu tau sendirikan kalau aku sudah di rumah, mana bisa keluar-masuk sesuka hati. Bisa-bisa herder di rumah nya Bramantyo itu langsung menerkamku tanpa ampun." Tutur Eva menatap sang sahabat dengan perasaan bersalah. "Ck, kenapa sih mereka suka banget nindas kamu? suka heran sama om Bram, apa salah kamu coba? tante Saira meninggal juga bukan salah kamu, namanya juga kecelakaan siapa yang mau sih! aneh banget jadi orang tua. Sama anak kejam nian kaya kompeni," dumel Dara dongkol. Ayah Dara merupakan sahabat ayahnya Eva, itu kenapa gadis itu berani menyuarakan kekesalan hatinya dengan begitu lugas. Hubungan yang sangat dekat antara keluarganya dan keluarga Eva, membuat mereka lebih terlihat seperti keluarga. "Udah ih, ngomel mulu. Maaf ya, kemarin aku tidak jadi datang. Mana semalam aku demam tinggi, untung saja masih hidup sampai pagi ini." Ujar Eva asal. Plak Lengan kecil Eva menjadi sasaran geplakan sang sahabat. "Kalau ngomong jangan suka asal. Pamali tau tidak!" kesal gadis itu menatap tajam sang sahabat. "Ya..ya ibu Mali," ledek Eva bercanda. Keduanya kemudian tertawa cekikikan karena takut mengganggu teman-temannya yang lain. Di kelas lain, Axel serta Aidan masih belum berucap sapa satu sama lain. Kedua remaja itu rupanya masih menyimpan kekesalan di hati masing-masing. "Ck, kok berasa kaya lagi ikut upacara pemakaman sih. Sepi amat cuyy! serem," kelakar Dion mencoba mencairkan suasana. Namun keduanya tetap dalam mode bisu dan tuli. Dion akhirnya menyerah. Remaja itu lebih memilih menyalin tugas sekolah yang sudah di kerjakan oleh salah satu fans mereka. Ketiganya memiliki sekumpulan fans yang terdiri dari remaja putri. Meski baru duduk di bangku kelas dua SMA, namun fans mereka juga banyak yang berasal dari kelas tiga, tingkat akhir masa putih abu. "Kamu nulis apaan sih? serius amat kaya si paling rajin saja belajarnya." Tukas Axel akhirnya menjadi yang paling pertama membuka suara. "Kamu lupa, kalau kita ada tugas MTK, fisika juga kimia? jam pertama kelasnya beliau guru paling killer di sekolah ini." Ujar Dion mengingatkan sahabatnya. Axel meneguk ludah susah payah. Remaja itu merogoh tasnya untuk mengecek buku tugasnya sendiri. Dan Axel terpaku, tugasnya ternyata sudah di kerjakan semua, termasuk tugas fisika dan kimianya. Siapa lagi jika bukan si cerdas Eva. Sang calon mantan kekasih nya. Axel menunduk sembari mengusap coretan tangan Eva di lembaran buku tugasnya. Ada perasaan sakit yang tak Axel mengerti. "Gimana? sudah kelar belum? kalau belum buruan nyalin ini, dari fans kita seperti biasa." Ujar Dion bangga. "Sudah kelar semua," sahut Axel enteng. Dion membulatkan kedua matanya tak percaya. "Wuihhh...keren keren. Tidak ku sangka seorang Axel serajin ini mengerjakan tugas sekolah. Mana mapelnya yang sulit-sulit semua. Kira-kira jawabanmu benar tidak? berbagilah kawan, kita kan sahabat bagaikan kedondong." Ucap Dion menaik turunkan alisnya seraya tersenyum penuh makna. "Ogah! kerjakan saja sendiri," tolak Axel menolak. Axel langsung memasukkan kembali buku-bukunya ke dalam tas. "Idih pelita amatia sih jadi orang. Paling yang mengerjakan tugas-tugasmu juga Eva 'kan, hayo ngaku?" Axel melirik ke arah Aidan melalui ekor matanya. Dia dapat melihat ekspresi tak senang di wajah sahabatnya itu, kala nama Eva di sebut oleh Dion. "Jelas dong, pacarnya siapa dulu." Sambung Axel bangga. Padahal kalimat tersebut hanya untuk memanasi hati Aidan semata. Benar saja, Aidan langsung pindah duduk di kursi depan di mana Dion duduk bersama seorang ketua kelas culun, yang sering mereka manfaatkan untuk memanipulasi absensi. "Kok duduk di sini Dan? terus si Jono bakal duduk di mana? pindah-pindah! kita masih butuh jasa si Jono selama beliau menjabat sebagai ketua kelas. Hushh hushh!" usir Dion mendorong pelan bahu Aidan kembali ke meja belakang, di mana meja tersebut adalah milik Axel juga Aidan. Axel berpura-pura sibuk dengan ponselnya, tanpa peduli dengan kedua sahabatnya yang saling dorong-dorongan. TBC Jangan lupa dukungan kalian untuk menjadikan novel ini sebagai novel favorit di rak baca kalian ya readers. Luv you para kesayangan akak Rose_Ana
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD