Kenakalan Kyuhyun

1266 Words
▪▪▪ Ternyata satu jam itu begitu lama bagi Kyuhyun jika harus menunggu tanpa melakukan apapun di tempat yang akan membuatnya mati bosan. Dan rupanya ia memang tidak berbakat menjadi CEO dan berdiam di tempat seperti itu tanpa adanya hal yang membuatnya tertarik, seperti yang Daehyun katakan. Kyuhyun melemparkan bungkus camilan terakhirnya ke atas meja dan gerakan itu menarik perhatian Daehyun. Kakaknya itu mengernyit jengkel dengan kelakuan Kyuhyun yang seperti anak kecil. Sedari tadi Kyuhyun menolak diajarinya dengan mengatakan; Lain kali saja belajarnya. Bukankah aku mau datang kemari itu sudah merupakan suatu kemajuan? "Buang bungkus-bungkus itu ke tong sampah, Kyu." "Kau meletakkan tong sampah terlalu jauh, aku malas berjalan." Kyuhyun bangkit berdiri. "Aku akan ke toilet sebentar." Dan setelah itu Kyuhyun lalu keluar ruangan. Daehyun mendesah sabar kemudian beranjak untuk membersihkan kotoran bungkus camilan yang dibuat Kyuhyun. Ia tahu Kyuhyun sengaja melakukannya, dan ternyata adiknya itu masih tetap dalam pemberontakannya untuk membuatnya berhenti memaksa. Karena Kyuhyun memang terbiasa membangkang. Tapi kalau boleh jujur, ia pun juga merasakan seperti ayahnya, tidak suka dengan kelakuan Kyuhyun yang selalu menarik perhatian media. Kyuhyun memang iseng dan usil, tapi adiknya itu tidak cukup menyadari bahwa setiap pergerakannya akan menjadi sorotan semua orang. Selalu saja Kyuhyun bertingkah seenaknya. Ketika berjalan menuju toilet, Kyuhyun lagi-lagi merasa kalau menggunakan toilet khusus staff akan lebih menyenangkan daripada toilet khusus kakaknya. Kyuhyun berbelok, dan kepentingannya ke toilet tidak cukup mendesak sehingga ia bisa lebih dulu berlama-lama. Saat berada di lantai bawah, Kyuhyun harus kembali menghadapi tatapan-tatapan memuja dari setiap wanita serta tatapan iri dari para lelaki. Kehadirannya bagaikan kilauan bintang di tengah hamparan pasir dan mudah menarik perhatian orang. Kyuhyun tersenyum geli ketika hendak melewati tiga perempuan yang terbengong dengan wajah terpana kepadanya, seolah lupa segalanya dan baru teringat untuk membungkuk hormat saat Kyuhyun sudah melewatinya. "Tuan Kyuhyun sangat tampan... " Ia bahkan masih bisa mendengar bisikan-bisikan itu dan membuatnya lebih geli lagi. "Aduh!! Hei, lihat-lihat kalau berjalan!! Dasar wanita-wanita gila!" Kyuhyun menoleh mendengar suara ribut itu, terlihat seorang perempuan sedang berlutut sambil mengomel memunguti kertas-kertas yang berserakan di lantai. Kyuhyun mengernyit, lalu tergerak untuk mendekat dan membantunya. "Apa kau baik-baik saja?" Kyuhyun meraih kertas-kertas itu dan memberikannya pada Si perempuan. "Ya, aku baik-baik saja. Terima kasih sudah membant— " ucapan perempuan itu menghilang di ujung kalimat ketika sudah mendongak dan menyadari siapa yang membantunya. Sama seperti perempuan lainnya, perempuan itu pun langsung membeku di wajah Kyuhyun, seolah baru pertama kali melihat seorang pria tampan. Kyuhyun mengernyit jahil, ia menunggu dan membiarkan perempuan itu menikmati wajahnya, beberapa saat, dengan tawa yang sebenarnya ingin menyembur keluar. Dan baru setelah Kyuhyun merasa cukup, ia berdeham untuk membuat Si perempuan kembali pada kesadarannya. "Sudah puas menatap wajahku, Nona?" Perempuan itu mengerjap, berusaha mengembalikan otaknya yang kosong seketika. Teringat untuk memberi hormat, perempuan itu buru-buru melakukannya. "M—maafkan saya, Tuan Kyuhyun. S—saya... " "Tidak masalah. Kau tidak perlu membayar hanya untuk menatapku. Aku tidak pernah tega pada perempuan secantik dirimu." Dan kata-kata Kyuhyun dengan kekuatan cepat langsung membuat perempuan itu jadi bersemu, merona malu. "Lain kali hati-hati kalau sedang berjalan." Kyuhyun melakukan lagi keisengannya dengan mengelus pipi perempuan-perempuan yang menatap mendamba padanya. "Karena sayang sekali jika yang cantik sepertimu terjatuh dan kulit mulusmu tergores... " Kyuhyun melirik kartu identitas perempuan itu, ia tersenyum, " ...Park Young-ri... " Tuan Kyuhyun... jangan siksa aku seperti ini... Kyuhyun lalu berbalik meninggalkan perempuan itu yang kini mematung seperti terkena sihir. Ia bahkan tidak menoleh lagi setelah menancapkan pesona jahatnya. Dan ketika hendak memasuki lift untuk kembali ke ruangan kakaknya, Kyuhyun justru bertemu lagi dengan gadis mungil yang pagi tadi menolaknya, tanpa diduga, seakan Dewi Fortuna selalu baik pada Kyuhyun dengan memberikan hal menarik yang terus berdatangan untuk menghiburnya. Gadis itu sedang berada di dalam lift saat Kyuhyun memencet tombol untuk membuka, seorang diri, dan masih seperti saat pertama gadis itu langsung menunduk setelah sebelumnya menampakkan raut terkejut karena kehadirannya. Kyuhyun mengangkat alis, lalu masuk ke dalam lift dengan senyum terkulum. Gadis itu langsung bergeser. Dan kali ini Kyuhyun bisa mengetahui nama gadis itu dari identitas staff yang sedang dipakainya. Shin Hyun-Ra, nama yang terkesan pemalu, persis seperti orangnya. Kyuhyun menahan tawanya mengamati gadis itu masih betah di tundukannya. Ia berubah bersandar di dinding lift, kedua tangannya masuk ke dalam saku celana dan sorotannya semakin intens pada Hyun-Ra seakan ingin menelanjanginya. Berani-beraninya gadis ini menghindari matanya. Kyuhyun berdeham. "Apa kau sadar bahwa lift selalu menjadi tempat kita untuk bertemu?" Kyuhyun bisa melihat Hyun-Ra meliriknya dari ekor matanya. "Kurasa judul yang tepat mungkin adalah... jodoh berawal dari lift, cinta berawal dari lift, atau mungkin lebih baik... gairah berawal dari lift?" Dan apa yang sedang Tuan Kyuhyun ini bicarakan? Hyun-Ra mencoba memahami dengan kening berkerut gusar. "Sekarang aku tidak perlu bertanya namamu lagi, karena identitasmu sudah memberitahuku, Nona Shin Hyun-Ra... " Buru-buru Hyun-Ra membalik kartu identitas yang menggantung di lehernya, menyembunyikan namanya. Kyuhyun tergelak. Dan Hyun-Ra mulai gelisah. Kenapa lift ini tidak segera berhenti? Berada berdua dengan kembar bungsu itu terasa begitu mencekam dan seolah mengancam keselamatannya. "Angkat wajahmu dan tatap aku." Kyuhyun kembali bergumam dan Hyun-Ra sedikit terkejut, ia mundur ke dinding lift. "Apa kau tidak ingin menikmati wajahku seperti perempuan lainnya?" "T—tidak, Tuan... " "Kenapa?" Aku takut dengan sihirmu! Hyun-Ra merasa tolol memikirkan jawabannya. Namun kemudian ia terkejut ketika lagi lagi—dengan tiba-tiba—Kyuhyun mengangkat dagunya, mendongakkannya. Tidak bisa untuk berpaling, Hyun-Ra akhirnya memejamkan mata, tidak ingin menatap wajah itu. "Kenapa kau menutup matamu?" Hyun-Ra menggeleng. "Apa ada yang aneh di wajahku? Ada sesuatu yang menakutimu? Atau ada yang tidak kau suka?" Hyun-Ra kembali menggeleng, dan itu membuat Kyuhyun merasa geram. Gadis ini ternyata ingin bermain-main dengannya. Bagaimana mungkin ada seorang perempuan yang menolak menatap wajah rupawannya? Itu jelas-jelas melukai egonya. Terbiasa mendapat tatapan memuja, Kyuhyun jadi tidak terima dengan sikap Hyun-Ra. "Buka matamu," desisnya. Gadis itu terus menggeleng. "Buka matamu dan tatap aku, Manis... tatap wajahku." "Tidak, Tuan, tidak... " Wajah Kyuhyun langsung merunduk dan melumat bibir Hyun-Ra. Penolakan gadis itu benar-benar memancing kegeramannya, mendesaknya. Ia menarik pinggang gadis itu dan menekan bibirnya dalam-dalam dengan tekanan memaksa, dan Kyuhyun langsung menggunakan ciuman panasnya untuk memperdaya Hyun-Ra. Seketika mata Hyun-Ra membuka dan melotot syok, hanya untuk melihat wajah Kyuhyun yang begitu dekat dengan mata terpejam, menghisap setiap sudut permukaan bibirnya. Ini salah. Dan Hyun-Ra semakin terpojok ke dinding lift dengan Kyuhyun yang menghimpit tubuhnya. Saat lidah Kyuhyun berusaha menerobos untuk masuk, Hyun-Ra tersadar bahwa ia harus melakukan sesuatu. Di situlah lift lalu berhenti dan suara denting pintu terbuka akhirnya terdengar. Hyun-Ra mendorong Kyuhyun hingga tubuhnya terlepas dan ia langsung berlari keluar. Kurang ajar sekali Tuan Kyuhyun memperlakukannya seperti itu! Hyun-Ra menutup bibirnya sambil berlari dari sana. Kurang ajar sekali dia! Kyuhyun berdiri di depan pintu lift mengamati Hyun-Ra yang terus berlari. Ia mengusap bibirnya dengan gerakan lambat-lambat, matanya berkabut, dan tubuhnya terasa panas. Ada senyum miring yang kemudian terpancar, membuat Kyuhyun terlihat jahat dengan berbagai pikiran yang mulai terencana. Yeah, gadis itulah yang paling menghiburnya dari sekian banyaknya perempuan cantik disini. Gadis mungil itulah. ▪▪▪ "Ke ruanganku sekarang, Sayang, aku ingin mengenalkanmu pada seseorang." Kyuhyun mendengar kakaknya berbicara di telepon ketika ia kembali ke ruangannya. Kyuhyun mengernyit sambil menghempaskan tubuhnya di sofa. "Pacarmu?" tanyanya. Daehyun menutup panggilannya dan mengangguk. "Dia sedang menuju kemari." "Oh baiklah, aku sudah tidak sabar untuk melihatnya." "Dan ancamanku masih terus berlaku, awas saja kalau kau menyukainya." Kyuhyun tersenyum usil. "Aku tidak janji. Lagipula kita bisa mengetes siapa di antara kita yang lebih mempesona." Daehyun mendengus. "Dasar kekanakan," dumelnya, dan itu membuat Kyuhyun jadi tertawa. Terdengar pintu ruangan diketuk dari luar. Daehyun menegakkan tubuh, sementara Kyuhyun mengangkat alis. Dan akhirnya... ini dia! Daehyun berujar, "Masuklah."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD