BAB 15: Otoritas Tanpa Batas Klik. Suara pintu kamar yang akhirnya berhasil ditutup Ressa terasa tidak berarti. Ia tahu, kunci itu hanyalah penghalang fisik, sementara secara mental, Regin sudah lama merobek privasinya. Ressa bersandar di balik pintu, memejamkan mata, mencoba menulikan telinga dari detak jantungnya sendiri yang berdegup liar. Di luar, ia mendengar langkah kaki Regin menjauh. Perlahan, sunyi, namun penuh kepastian. Ressa segera masuk ke kamar mandi. Ia menyalakan pancuran air dingin, berharap suhu yang ekstrem bisa membekukan segala pikiran kotor dan ketakutan yang merayapi otaknya. Namun, setiap kali ia memejamkan mata, bayangan tatapan Tante Ratna di bandara tadi kembali muncul. "Jangan sampai melampaui apa yang seharusnya." Ressa mengusap wajahnya kasar. "Gila. Ini

