BAB 12: Jarak yang Dipaksakan Pernyataan Papa di dalam mobil tadi pagi terus berdengung di telinga Ressa seperti nyanyian kutukan. “Jaga dia seperti adikmu sendiri.” Kata-kata itu terasa jauh lebih berat daripada seluruh laporan audit tahunan yang menumpuk di meja kerjanya. Ressa sengaja pulang terlambat. Ia menghabiskan waktu di sebuah kafe dekat kantor, menatap cangkir kopi yang sudah mendingin sambil memikirkan binar mata ayahnya saat membicarakan Tante Ratna. Ia tidak bisa menghancurkan binar itu. Jika ia melanjutkan kegilaannya dengan Regin, ia bukan hanya mengkhianati kepercayaan Papa, tapi juga berpotensi merusak kesempatan ayahnya untuk bahagia di masa tua. Ressa menarik napas panjang, merapatkan blazer-nya, dan memutuskan untuk pulang dengan satu tekad: Tembok tinggi harus diba

