Bab 17

1102 Words

BAB 17: Akar yang Terpendam Keheningan yang jatuh setelah layar ponsel menggelap terasa jauh lebih berat daripada kegelapan itu sendiri. Di dalam kamar yang hanya diterangi lampu nakas temaram, oksigen seolah tersedot habis. Regin, dengan mata yang masih berkilat oleh sisa gairah dan ego masa muda yang membara, tidak memberikan jeda. Ia merayap kembali, mengunci tubuh Ressa di antara kedua lengannya yang kokoh. "Sekarang Mamah sudah tutup teleponnya. Tidak ada lagi gangguan, Ress." Suara Regin rendah, bergetar oleh rasa percaya diri yang meluap. Namun, alih-alih melanjutkan gerakan liarnya yang menuntut, Regin mendadak melambat. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Ressa, menghirup aroma vanila yang menguar dari kulit wanita itu dengan napas yang gemetar. Ia mencumbunya—bukan cumbuan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD