BAB 18: Barter Kebahagiaan Di bawah terangnya lampu ruang tamu yang sengaja ia nyalakan, Ressa justru merasa semakin tidak aman. Regin tidak lagi menyudutkannya ke dinding, ia berdiri di depan Ressa dengan jarak yang sangat dekat, membiarkan auranya yang mendominasi menyelimuti Ressa hingga wanita itu merasa sesak. Tanpa peringatan, Regin menangkup wajah Ressa dengan kedua tangannya. Ia mencium Ressa—bukan ciuman yang memohon, melainkan ciuman yang menuntut pengakuan. Ressa sempat membelalak, mencoba mendorong d**a Regin, namun lidah Regin dengan lihai melumpuhkan pertahanan bibirnya. Ressa akhirnya mendesah pasrah, membiarkan Regin menjelajahi mulutnya dengan rakus, mengecap setiap sudut manis yang selama ini selalu ia tutup rapat. Ciuman itu begitu dalam, hingga lutut Ressa terasa lem

