HAPPY READING GUYS:)
"Ini sudah selelsai semua, semuanya sudah lengkap dan tertata dengan sangat rapi" Ujar Sebastian
"Bagus sekali, kalau begitu ayo pergi" Jawab Kiano.
Mereka pergi dari sana dan pergi pulang.
............................................
Keesokan paginya, pertandingan akan dimulai hari ini tepat pada jam 8.00 dan sekarang masih jam 7.00 mereka masih memiliki waktu untuk mengecek semuanya kembali dan itu yang telah dilakukan Kiano dia mengecek semuanya lagi dan lagi. Sedangkan dia dan Aurel masih memiliki tugas lain yaitu menyapa dan mencatat tamu dari sekolah lain yang akan datang jam 7.30.
"Kiano kau sudah mengecek itu semua berkali kali kemarin dan sekarng kau masih mengeceknya lagi, kau tau setengah jam lagi kita harus menyambut dan mencatat seluruh tamu yang akan datang, kita harus bersiap siap sekarang" Ucap Aurel.
"Tapi..." Saat Kiano ingin bicara tiba tiba Jessica memotong pembicaraannya dan berkata...
"Benar kata Aurel, kalian harus segera bersiap siap, aku akan membantumu mengecek semua yang ada disini, kau pergilah sana" Ucap Jessica sambil mendorong Kiano pergi dan Aurel menarik Kiano pergi.
"Kalau begitu pastikan tidak ada satupun yang terlewat" Jawab Kiano.
Kiano dan Aurel pergi untuk bersiap siap, mereka dirian dengan ditata rambut dan bajunya dijadikan lebih rapi, mereka dirias diruang terpisah. Kiano telah selesai dirias, rambut dan pakaiannya menjadi lebih rapi dan Aurelpun keluar, Aurel menjadi sangat canti karena dia sedikit diberi riasan diwajahnya dan rambutnyapun ditata seindah mungkin. Kiano tidak bisa melepaskan tatapannya dari Aurel.
"Bagaimana penampilanku?" Tanya Aurel sambil menatap Kiano.
'Kiano sangat tampan sekali' Kata Aurel dalam hatinya yang terpesona oleh Kiano.
"Kau sangat...cantik" Jawab Kiano tanpa sadar.
"Hah?" Tanya Aurel kaget karena dia tadinya tidak fokus arena terus menatapi Kiano
"Ma-maksudku lumayan" Jawab Kiano menutupi wajahnya lalu memalingkannya.
"Kalau begitu ayo kegerbang ini sudah hampir waktunya" Kata Aurel mengajak Kiano sambil agak tersipu.
"Kau duluan saja dulu aku masih ada sesuatu tertinggal didalam" Jawab Kiano yang masih memalingkan wajahnya.
"Oh kalau begitu cepatlah!!" Kata Aurel sambil berlari darisana.
Kiano berusaha agar wajahnya tidak merah lagi, setelah dia kembali normal tiba tiba ada yang muncul dari belakang merangkulnya.
"Ada apa kawan? kau menyukai anak itu?" Tanya orang yang merangkul Kiano dari belakang.
Ternyata orang itu adalah kakak kelas yang dilawan Kiano dan Sebastian sekitar 20 hari yang lalu. Kiano langsung menepis tangan orang itu dari dirinya.
"Bukan urusanmu" Kata Kiano dengan nada dingin lalu Kiano berjalan pergi darisana.
"Katanya kau berusaha sangat keras agar acara ini berjalan lancarkan, bagaimana kira kira jika aku menghancurkannya ya?" Kata kakak kelas itu ingin memancing emosi Kiano.
Kiano berhenti dan langsung menyambar kerah baju kakak kelas tersebut.
"Apa yang kau inginkan!!" Kata Kiano dengan ekspresi yang sangat marah.
"Aku ingin membunuhmu" Ucap kakak kelas itu dengan serius.
"Cih!! kau tidak akan bisa melakukannya" Ujar Kiano sambil mendorong kakak kelas itu.
"Kalau begitu setelah ini pergilah kelapangan yang jaraknya sekitar 50 meter darisini, terserah kau ingin membawa berapa banyak orang tapi kalau kau tidak datang aku akan mengacaukan acara ini, aku juga telah mengundang semua anak di SMA Hijie, bersiaplah untuk mati" Ancam kakak kelas itu lalu pergi dari sana.
(Informasi : SMA Hijie adalah SMA yang isinya hanya ada anak berandalan yang kerjaannnya hanya bertarung, termasuk salah satu SMA yang berbahaya dikota tersebut)
Kiano hanya berdiam diri disana, dia bingung harus bagaimana, dia sudah berjanji pada Aurel bahwa acara ini akan berjalan dengan lancar dan sempurna, jika dia tidak pergi maka acara ini akan dihancurkan oleh anak SMA Hijie, jika dia pergi diapun tidak bisa mengajak siapapun bahkan Sebastian karena dia mengikuti pertandingan itu.
"Aku harus bagaimana?" Tanya Kiano pada dirinya sendiri.
"Sial!!" Ucap Kiano kesal sambil memukul tembok.
Saat ditengah tengah kebingungan dia melihat ada anak laki laki yang sedang melewatinya. Kiano menghentikan langkah anak itu.
"Hei kau anak kelas 10 kan?" Tanya Kiano.
"Ya, ada apa?" Jawab anak itu lalu bertanya balik.
"Aku sedang ada urusan yang mendesak, bisakah aku minta tolong padamu untuk menggantikanku menyambut tamu yang akan datang?" Tanya Kiano meminta bantuan.
"Ya, aku akan membantumu lagipula aku juga tidak sedang sibuk apapun" Jawab anak itu.
"Bagus, cepat masuklah kedalam, suruh periasnya meriasmu secepat mungkin, terima kasih sudah membantuku" Ucap Kianao terburu buru sambil mendorong anak itu masuk kedalam.
'Dengan begini aku bisa pergi dengan tenang, Aurel tidak akan bekerja sendirian dan acaranyapun bisa berjalan dengan lancar, sedangkan aku akan mengurus para tikus itu' Kata Kiano dalam hatinya lalu bergegas pergi ketempat yang telah disebutkan kakak kelas tadi.
...........................................
Kiano sampai ditempat itu sendirian, dihadapannya sudah berdiri banyak sekali orang yang akan menjadi lawannya, Kiano menjadi agak lega karena melihat mereka tidak membawa senjata apapun sehingga Kiano tidak akan terlalu repot untuk mengatasinya.
"Kau ternyata datang sendirian, apakah kau siap untuk mati?" Tanya kakak kelas itu meledek Kiano.
"Aku datang sendiri tanpa senjata dan kalian datangalah melawanku tapi jangan memakai senjata juga, bagaimana?" Ucap Kiano membuat kesepakatan.
"Baiklah, lagipula dengan jumlah kami yang banyak ini kau tidak akan bisa lepas dari kami" Ucap kakak kelas itu.
Lalu meraka mulai bergerak kearah Kiano dan menyerangnya. Sedangkan itu disisi lain, Aurel yang sedang menunggu Kiano digerbang.
"Dimana Kiano? tamunya mulai berdatangan, akan akan kewalahan jika aku melakukannya sendiri" Ucap Aurel yang masih menunggu Kiano lalu terlihat seorang anak laki laki yang berlari kearah Aurel.
"Apakah itu Kiano?" Ucapnya sambil memastikan.
Ternyata itu bukan Kiano, melainkan anak yang Kiano suruh untuk menggantikannya.
"Kok kau yang kemari? dimana Kiano?" Tanya Aurel pada anak itu.
"Dia bilang padaku kalau dia ada urusan yang mendesak jadi dia pergi dan menyuruhku untuk menggantikan dirinya" Ucap anak itu.
Aurel hanya mengangguk saja dan melanjutkan pekerjaannya, setengah jam kemudian, tamu sudah mulai berhenti berdatangan.
"Ini adalah tamu yang terakhir, setelah itu tidak akan ada tamu lagi" Ucap anak itu.
"Bagus kalau begitu, apakah Kiano tadi memberitahumu dia kemana?" Tanya Aurel.
"Tidak" Jawab anak itu.
"Kalau begitu terima kasih, berikan itu catatan itu padaku, aku akan mengembalikannya pada Bu Ris" Ucap Aurel.
Anak itu mengangguk dan menyerahkan catatan yang ada ditangannya ada Aurel, Aurel menerimanya lalu anak itu pergi dari sana dan Aurel juga pergi dari sana lalu menyerahkan catatannya pada Bu Ris.
..................................
Aurel berada diruang guru untuk menyerahkan catatannya.
"Bagus sekali, semua tamunya sudah datang. Tapi kenapa hanya kau saja, dimana Kiano?" Tanya Bu Ris.
"Kiano sedang ada urusan yang mendesak jadi dia pergi dan menyuruh anak lain menggantikannya" Kata Aurel memberikan penjelasan kepada Aurel.
"Ya sudahlah biarkan saja, kau juga segeralah kesana untuk melihat pertandingan temanmu" Ucap Bu Ris.
"Ya bu, kalau begitu saya permisi dulu" Ucap Aurel lalu pergi darisana.
Aurel berjalan dikoridor dan ada SMS masuk dihpnya, pada saat itu semua anak disekolah diperbolehkan membawa hp jadi Aurel membawanya hpnya. SMS itu dari Kiano dan Kiano menuliskan bahwa dia kemungkinan tidak akan kembali kesekolah karena sedang ada masalah dirumahnya dan dia juga berkata tidak perlu khawatir dan tidak perlu mencarinya.
Dengan adanya pesan itu, Aurel merasa sedikit jauh lebih tenang dan pergi untuk melihat pertandingan Sebastian.
................................................
Setelah pertandingannya selesai tepat jam 10.00 dan pemenangnya juga sudah diputuskan bahwa pemenangnya adalah Sebastian. Semuanya menjadi sangat bahagia, Sebastian lalu menghampiri Aurel dan Jessica yang saat itu duduk dikursi penonton.
"Dimana Kiano?" Tanya Sebastian pada Aurel.
"Dia tadi bilang padaku saat di SMS dia sedang memiliki masalah dirumah jadi dia tidak akan kembali kemari" Jawab Aurel.
Sebastian hanya menganggu lalu mereka bertiga pergi kekoridor untuk menyerahkan piala itu kesekolah. Sebastian dan Kiano tidak pernah membawa piala yang dia menangkan disekolahnya kerumah karena merea hanya malas membawanya saja.
Setelah menyerahkan piala itu mereka berjalan dikoridor untuk keluar. Saat sedang dalam perjalanan mereka, Sebastian ditabrak oleh salah satu murid laki laki yang kelihatannya sangat tergesa gesa.
"Hei kau baik baik saja?" Tanya Sebastian pada anak itu.
"Aku tidak apa apa" Ucap anak itu sambil berdiri.
"A-aku ingin mengatakan sesuatu padamu" Kata anak itu panik dengan napas yang terengah engah.
"Ada apa katakan saja" Ucap Sebastian.
"Tadi saat aku sedang berjalan dijalan untuk membeli sesuatu aku melihat Kiano berkelahi dengan kakak kelas dari kelas 12 sepertinya dan juga ada anak anak dari SMA Hijie, Kiano tampaknya sanagat kelelahan dan dia juga mengeluarkan banyak darah" Ucap anak itu.
Sebastian, Aurel dan Jessica sangat terkejut dengan berita ini. Aurel laangsung menarik kerah laki laki itu.
"KATAKAN, KAU MELIHAT DIA DIMANA!!!" Tanya Aurel panik dan khawatir.
"A-aku me-melihatnya dilapangan yang jaraknya sekitar 50 meter dari sini" Jawab anak itu.
Aurel meneteskan air matanya lalu dia mendorong anak laki laki itu lalu langsung berlari sekuat tenaga yang dia bisa. Sebastian dan Jessica juga mengikutinya dari belakang.
.............................................
Sampailah mereka dilapangan yang disebutkan tadi, mereka melihat banyak sekali anak yang terbaring disana dan juga terlihat Kiano yang terjongkok ditengah tangahnya.
"KIANO!!!" Teriak Aurel dari tepi lapangan.
Kiano yang mendengar terikan Aurel menoleh kearah mereka. Aurel, Sebastian, dan Jessica terkejut melihat darah Kiano yang keluar dari kepala.
Mereka berlari ketengah lapangan untuk menghampiri Kiano. Disana Kiano berusaha sangat keras untuk berdiri tapi dia terjatuh dan benar benar tidak bisa berdiri, Kiano tetap berusaha berdiri dan berjalan kearah teman temannya dengan langkah yang sempoyongan sambil memegangi perutnya.
Aurel saat sudah berada didekat Kiano, dia langsung menangis sejadi jadinya, lalu memeluk Kiano yang penuh dengan luka dan darah. Kiano menyenderkan kepalanya pada bahu Aurel.
"Aku sudah melindungi acaranya, acara itu sudah berjalan sangat lancar. Sekarang kau memaafkanku kan?" Ucap Kiano dengan suara yang berat sambil menahan sakit diseluruh tubuhnya.
"Aku memaafkanmu jangan lakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini lagi" Ucap Aurel sambil menangis terisak isak.
Kiano tersenyum lalu dia akhirnya tumbang dipelukan Aurel. Kiano sudah tidak bisa membendung kesakitannya lagi dan akhirnya pingsan. Aurel tidak bisa menahan tubuh Kiano dan dia terduduk sambil masih menopang tubuh Kiano.
"Kiano? jawab aku. jangan menakutiku" Ujar Aurel ketakutan.