RENCANA PERTANDINGAN

1536 Words
HAPPY READING GUYS:)     "Kenapa kau tiba tiba bertanya ini lagi?" Tanya Kiano masih dengan ekspresi yang sama.     "A-aku hanya ingin tau" Jawab Aurel.     Kiano bingung harus bagaimana, apakah dia harus memberitahu Aurel tentang traumanya itu atau tidak, dia menatap Sebastian dan berusaha mencari jawaban darinya. Sebastian yang menyadari itu menggelengkan kepalanya perlahan dan Kiano mengangguk mengerti.     "Aku tidak pernah takut apapun" Ujar Kiano dengan santai.     "Apa!? tapi kau bilang padaku saat didapur kau sedang takut sesuatu" Ucap Aurel dengan nada yang sedikit marah.     "Itu karena kau takut padaku, jika kau takut padaku bagaimana kita bisa berkerja sama nantinya. Jadi aku berbohong" Ucap Kiano sambil tertawa.     "Dasar kau!! kau berbohong padaku!?" Ujar Aurel marah.     "Tentu saja, aku tidak mengira bahwa kau akan sepercaya itu" Ucap Kiano sambil tertawa lagi.     Aurel yang merasa kesal karena terus memikirkan itu semalaman tapi ternyata itu cuman bohongan langsung memukul Kiano.     "Ada apa? kau marah padaku?" Tanya Kiano yang masih tertawa.     "Ga tau!!" Jawab Aurel dengan marah sambil memalingkan wajahnya.     "Baiklah baiklah aku minta maaf, kau memaafkanku kan? kalau tidak bagaimana kita bisa melanjutkan diskusinya jika kau tidak memaafkanku" Ujar Kiano sambil menahan tawanya.     "Aku tidak akan memaafkanmu!!!" Ujar Aurel lalu dia langsung pergi darisana.     "Hei kau mau kemana?" Tanya Kiano.     "Terserah diriku mau kemana, itu sama sekali bukan urusanmu!!" Ucap Aurel sambil berlari meniggalkan atap. Kiano menyusulnya dan begitu juga yang lainnya, saat berjalan kembali kekelas ternyata bel sudah berbunyi, untungnya mereka masih sempat menggunakan waktu 10 menit sebelum pelajaran untuk kembali kekelas. ..................................................     Tepat setelah Kiano, Jessica dan Sebastian sampai disana dan duduk, guru yang mengajar mereka dihari itupun masuk kekelas mereka dan mulai mengajar. ..................................................     Jam istirahat pun datang semua anak berhamburan keluar untuk pergi kekantin. Kiano mendatangi meja Aurel dan duduk didepannya dengan menghadap belakang.     "Maafkan aku oke, kalau kau tidak mau memaafkanku bahkan tidak mau bicara padaku, bagaimana kita bisa berdiskusi nantinya" Ujar Kiano berusaha membujuk Aurel.     "Kita teman kan? bukankah teman harus saling memaafkan?" Kata Kiano menambahkan.     "Karena kita teman aku akan memaafkan dirimu, tapi tentu saja ada syaratnya" Ujar Aurel.     "Apa? sebutkan saja aku akan berusaha memenuhinya" Ucap Kiano.     Sebastian dan Jessica sudah sangat penasaran kira kira apa syarat Aurel untuk memaafkan Kiano.     "Syaratnya adalah kau harus membuat pertandingan beladiri itu sukses tanpa ada kendala sedikitpun, bagaimana? kau bisa memenuhi syaratku ini tidak?" Ucap Aurel memberikan syaratnya.     "Kalau begitu aku pasti akan menjadi sangat sibuk bukan, tapi tidak apa apa aku akan melakukannya" Ujar Kiano menyanggupi syarat dari Aurel.     "Kau janji bisa melakukannya?" Kata Aurel sambil mengulurkan tangannya untuk membuat janji.     "Aku berjanji" Jawab Kiano sambil memegang tangan Aurel yang menyatakan bahwa dia telah berjanji.     "Kalau begitu ayo kita kekantin dan bahas masalah itu disana, kita buat rencananya dan saat waktunya hampir tiba kita siapkan barang barang yang diperlukan agar Kiano bisa menepati syaratnya kan?" Kata Jessica.     "Betul sekali, ayo kita kekantin perutku sudah sangat lapar sekali" Ujar Sebastian.     Mereka berempat pergi kekantin, seperti biasa saat sedang perjalanan menuju kantin para cewek yang sedang berjalan dikoridor yang sama dengan mereka pasti langsung melihat kearah mereka.     "Apakah saat kalian berjalan mereka juga melihat kalian seperti ini?" Tanya Jessica pada Kiano dan Sebastian. Kiano dan Sebastian hanya menjawab mereka dengan mengangguk saja.     "Tidak masalahkan berjalan dengan kami dalam keadaan yang seperti ini atau kalian mau duluan saja?" Tanya Sebastian.     "Yah jika dipikir pikir lebih baik seperti itu" Jawab Aurel.     Aurel menarik Jessica dan segera berlari duluan menuju kekantin.     "Tentang apa yang terjadi tadi, aku hanya berpikir, bagaimana jika kau mengalami traumamu lagi didepan Aurel ataupun Jessica saat kau tidak bersamaku?" Tanya Sebastian pada Kiano.     "Aku akan berusaha agar itu tidak terjadi, dan juga aku ingin mengucapkan terima kasih padamu sudah menjagaku selama ini" Ujar Kiano.     "TIdak masalah, kitakan teman" Jawab Sebastian sambil merangkul Kiano.     Kiano hanya tersenyum kecil dan mereka melanjutkan perjalanan mereka kekantin. ....................................................     Sesampainya dikantin mereka berdua memesan makanan setelah itu mencari Aurel dan Jessica. Sampai akhirnya mereka menemukannya dan duduk lalu makan bersama, diselingi itu mereka juga memberikan tentang pertandingan.     Karena tempat itu kantin pastinya sangat ramai dan juga pasti banyak murid cewek juga disana. Semua murid cewek menatap kearah Kiano dan Sebastian dan itu membuat Aurel dan Jessica sedikit tidak nyaman.     "Bisakah kau menyuruh mereka untuk tidak menatap kita?" Pinta Jessica pada Sebastian.     "Tentu saja" Jawab Sebastian menyanggupi permintaan Jessica lalu Sebastian berdiri.     "Kami sedang membicarakan sesuatu yang penting bisakah kalian jangan menatap kami seperti itu?" Pinta Sebastian pada semua murid cewek yang ada disana dengan tersenyum dan menggunkan nada yang lembut.     "Aku sering melihat kalian berempat bersama, apakah kalian berpacaran?" Tanya salah satu murid cewek yang ada disana.     "Tidak, kami berempat ini sahabat masa kecil yang dulu sempat terpisah, jadi sekarang kami ingin bersama" Jawab Sebastian.     "Pertama tamanya sahabat terus jadi pacar deh" Canda salah satu cewek yang ada disana.     "Kalau begitu doakan saja" Ujar Sebastian sambil tersenyum.     "Kalau begitu kami akan melanjutkan pembicaraan, tolong jangan menatap kami oke?" Kata Sebastian menambahkan.     "Okey" Jawab seluruh murid perempuan yang ada dikantin.     Setelah itu, Sebastian kembali duduk.     "Jika yang kau katakan tadi menimbulkan masalah, kau yang akan bertanggung jawab" Kata Kiano sambil menatap Sebastian dengan tatapan yang dingin, begitu juga yang lainnya.     "Te-tenang saja, jika ini menimbulkan masalah nanti, aku pasti akan bertanggung jawab" Ujar Sebastian dengan nada yang sedikit panik.     "Oh ya, aku belum memiliki nomor telepon kalian berdua, bolehkah aku meminta nomor telepon kalian?" Tanya Aurel.     Setelah itu merekapun membicarakan tentang pertandingan yang diadakan tiga minggu lagi tersebut hingga mereka selesai makan. Setelah selesai makan mereka kembali kekelas dan menunggu bel berbunyi, lalu melanjutkan pelajaran kembali. ..............................................     Pelajaran telah selesai dan kini waktunya untuk pulang. Guru telah keluar dari ruangan dan seperti biasa lagi, Kiano dan Sebastian keluar dari kelas paling awal tepat setelah guru meninggalkan kelas mereka juga langsung meninggalkan kelas.     Kiano dan Sebastian pulang dengan jalan kaki, sampai diapartemennya dia melakukan aktivitas seperti biasanya. ..............................................     19 hari berlalu seperti biasa, Kiano menjalani kehidupan sekolahnya selama 19 hari seperti biasa dengan selalu membicarakan tentang pertandingan itu, saat hari minggu mereka berempat juga keluar bersama untuk refresing. Mereka sudah bertukar nomor telepon jadi itu sangat memudahkan mereka untuk berkomonukisa antar sesama, dan kini kurang 1 hari sebelum pertandingan itu.     Disekolah Kiano, Sebastian, Jessica, dan Aurel sibuk mempersiapkan segalanya dibantu teman teman yang lainnya. Mereka menyiapkan pertandingannya diruang yang tertutup dan luas, tentu saja mereka sudah mendapatkan izin untuk memakai ruangan itu.     Hari itu anak kelas 10 diberikan jam kosong untuk melakukan semua persiapan itu dan kelas yang lainnya selain kelas 10 tetap melanjutkan pelajaran dikelas masing masing. Sebastian tidak ikut menata itu semua, karena dia yang akan mewakili sekolahnya jadi dia harus berlatih.     Kiano, Aurel, dan Jessica sibuk mempersiapkan semua yang diperlukan begitu juga yang lainnya. Kiano memastikan semuanya dengan teliti agar tidak ada yang terlewat sama sekali dan agar tidak ada masalah sama sekali dan dia bisa menepati syarat yang diberikan Aurel agar Aurel memafkan Kiano sepenuhnya.     Hingga akhirnya mereka semua beristirahat sejenak untuk menghilangkan lelah mereka.     "Kau berkeringat sangat banyak" Ujar Aurel.     "Tentu saja, aku harus mencatati semua yang dibutuhkan, pergi membelinya, dan membantu menata semua tempat duduk ini. Tentu saja aku berkeringat sangat banyak" Ujar Kiano lalu dia mengambil sebotol minuman lalu meminumnya.     "Kau telah berjuang sangat keras ini handuk, lap keringatmu menggunakan ini" Ujar Aurel sambil memberikan sebuah handuk pada Kiano dan Kiano menerimanya.     "Terima kasih, nona" Ujar Kiano sambil sedikit bercanda.     Semakin hari mereka berdua menjadi semakin dekat, entah itu hanya karena tugas atau karena yang lainnya. Tidak lama setelah itu Bu Ris datang untuk melihat bagaimana persiapan yang telah dilakukan semua murid dikelas 10.     "Wow dekorasi yang sangat bagus" Ujar Bu Ris.     Bu Ris mendekat kearah Kiano dan Aurel.     "Siapa yang memiliki ide untuk mendekorasi ruangan menjadi seperti ini?" Tanya Bu Ris.     Kiano dan Aurel yang mendengar suara Bu Ris membalikkan badan mereka.     "Kiano kau berkeringat sangat banyak" Ujar Bu Ris terkejut.     "Ah iya bu" Jawab Kiano dengan nada yang sopan sambil tersenyum.     "Kau pasti berusaha sangat keras" Ucap Bu Ris.     "Bukan hanya saya bu, tapi yang lain juga sangat berkerja keras" Jawab Kiano.     "Siapa yang memiliki ide untuk dekorasi ini?" Tanya Bu Ris.     "Saya, Aurel, Jessica, dan Sebastian" Jawab Kiano.     "Dekorasi yang sangat indah, bagus sekali. Lanjutkanlah pekerjaan kalian" Ucap Bu Ris.     "Tentu saja bu. Terima kasih pujiannya" Ucap Kiano dan Aurel bersamaan.     "Kalian berdua kompak sekali, sangat serasi jika menjadi pesangan. Ya sudah saya akan kembali keruang guru" Ujar Bu Ris.     Bu Ris berjalan pergi meninggalkan Kiano dan Aurel yang terkejut dengan perkataan Bu Ris tadi. Wajah mereka berdua menjadi memerah.     "A-aku akan pergi kesana" Ujar Aurel dan Aurelpun meninggalkan Kiano disana.     'Apa yang dikatakan Bu Ris tadi? aku? dan Aurel? menjadi pasangan? bagaimana itu mungkin terjadi kami hanyalah seorang teman, tapi jika dilihat lihat Aurel juga imut sekali, tunggu apa yangkupikirkan sih, daripada memikirkan itu lebih baik aku segera menyelesaikan ini agar besok semua bisa berjalan dengan baik dan Aurel bisa segera memaafkanku' Kata Kiano dalam hati.     Kiano langsung pergi untuk membantu yang lainnya.     Setelah semua selesai disiapkan para siswa dan siswi kelas 10 langsung diijinkan untuk pulang. Semua murid langsung pulang termasuk Jessica dan Aurel tapi kecuali Kiano dan Sebastian. Kiano mash mengecek sekali lagi apa ada yang kurang atau tidak dan tentunya dia tidak sendiri disana juga ada Sebastian yang membantunya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD