KETAKUTAN SEBENARNYA

1608 Words
HAPPY READING GUYS:)     Aurel menjadi sangat ketakutan begitu juga yang lainnya, dia melepaskan pelukannya dari Kiano dan membaringkannya.     "Kalian berdua memiliki nomor Bu Ris atau tidak!?" Ucap Sebastian sangat ketakutan.     "Kenapa kau malah menyibukkan nomor Bu Ris disaat seperti ini!!" Jawab Jessica.     Sebastian yang sudah sangat ketakutan jika harus kehilangan sahabatnya itu langsung mencengkram kedua bahu Jessica.     "KATAKAN SAJA KAU MEMILIKINYA ATAU TIDAK!!" Teriak Sebastian dan meneteslah air matanya.     "A-aku me-meliki nomornya" Jawab Jessica.     "Kemarikan HPmu" Ucap Sebastian dengan melepaskan Jessica lalu mengulurkan tangannya.     Jessica segera memberikan HPnya pada Sebastian, lalu Sebastian mulai mengotak atik HP Jessica dan menelpon Bu Ris.     "A-aku tadi melihat Bu Ris datang kesekolah menggunakan mobil dengan mobil itu kita bisa mengantar Kiano kerumah sakit" Ucap Sebastian dengan terbata bata karena panik.     Sebastian tidak bisa membendung air matanya lagi dia sangat sedih melihat kondisi Kiano yang tidak berdaya, ini pertama kalinya dia melihat Kiano benar benar terluka sangat parah dan ini juga pertama kalinya bagi Sebastian untuk menangis.     Aurel melihat Kiano yang terluka begitu parah mengeluarkan air mata yang begitu banyak. Ternyata Kiano belum benar benar pingsan, dia membuka matanya dia menyentuh pipi Aurel dan berusaha menghapus air matanya, Aurel yang menyadari menjadi sangat kaget.     "Jangan menangis, itu membuatmu menjadi sangat jelek" Ucap Kiano dengan suara yang sangat lemah dan terbata bata.     "Ki-kiano ber-berhenti bicara, jangan banyak bicara, lu-lukamu..." Ucap Aurel sambil memegangi tangan Kiano.     Sebastian dan Jessica yang menyadari Kiano membuka matanya lagi mulai mendekati Kiano.     "He-hei, bertahanlah kawan, bantuan akan segera datang, bertahanlah" Ucap Sebastian yang masih sangat ketakutan.     "Ka-kau menangis? dan kau juga" Ujar Kiano dengan nada yang lemah kepada Jessica dan Sebastian.     "Siapa bilang aku menangis, mana mungkin aku menangis" Ucap Sebastian yang berbohong sambil menghapus air matanya.     Kiano Menunjukkan wajah kesakitannya dan menggenggam erat perutnya dan kali ini dia benar benar tidak sadarkan diri dan itu membuat teman temannya menjadi panik kembali. Sebastian dan Jessica meneriaki Kiano berharap dia bisa bangun lagi, sedangkan Aurel yang merasa ada sesuatu yang tidak beres langsung menyingkirkan tangan Kiano dari perutnya. Betapa terkejutnya Aurel dengan apa yang dia lihat hingga tak bisa berkata kata.     Sebastian dan Jessica yang tidak tau apa apa langsung menanyai Aurel ada apa lalu mereka melihat kearah perut Kiano dan betapa terkejutnya mereka.     "Dia...tertusuk?" Ucap Jessica yang sepertinya tidak percaya dengan apa yang terjadi pada Kiano.     Kiano ternyata daritadi menahannya dan tidak mengatakannya pada teman temannya sehingga lukanya sudah mengeluarkan darah yang cukup banyak. Kebetulan, saat menyambut tamu tadi pakaian Aurel diganti dengan rok panjang. Aurel merobek roknya dan membalut luka tusukan Kiano dengan itu.    Tepat setelah itu, Bu Ris datang dengan dua mobil bersama dengan para guru yang lain, lalu berlari kearah keempat muridnya.     "Bawa Kiano kedalam mobil, cepat!!" Ucap Bu Ris.     Sebastian dengan para guru laki laki yang lainnya langsung membawa Kiano masuk kedalam mobil lalu pergi kerumah sakit, Sedangkan ada beberapa guru yang ditinggal disana untuk mengurusi anak anak yang tadi berkelahi dengan Kiano dan menelpon polisi. ..............................................     Sesampainya dirumah sakit, para perawat langsung menangani Kiano dan membawanya masuk keruang IGD. Bu Ris ingin menelpon orang tua Kiano tapi dihentikan oleh Sebastian.     "Biar saya saja yang menelpon orang tua Kiano" Ucap Sebastian meminta izin kepada Bu Ris dan Bu Ris mengijinkannya.     Sebastian keluar darisana dan menelpon Lauren yaitu ibu dari Kiano dan telponnyapun diangkat oleh Lauren.     "Tante!!" Ucap Sebastian mengawali pembicaraan.     "Jam yang tepat sekali, aku baru saja selesai syuting, ada apa?" Tanya Lauren pada Sebastian yang kelihatannya dia sangat lelah.     "Tante, Kiano..." Sebastian yang ingin mengatakan kepada Lauren tentang keadaan Kiano tapi perkataannya dipotong oleh Lauren.     "Kiano bertengkar lagi? Kau tidak perlu melaporkan itu padaku, diakan memang sering bertengkar dan kau sendiri juga tau itu" Ucap Lauren dengan nada yang santai.     "Memang benar dia bertengkar tapi ini berbeda dari yang biasanya, dia terluka sangat parah dan sekarang dia berada dirumah sakit" Ucap Sebastian berusaha menjelaskan secepat mungkin agar perkataannya tidak dipotong lagi oleh Lauren.     "APA!!!Kau dirumah sakit mana sekarang!?" Tanya Lauren dengan nada yang sangat panik.     "Rumah sakit Hixiang" Jawab Sebastian.     "Baiklah aku akan pergi kesana sekarang" Ucap Lauren dengan panik lalu menutup teleponnya dan segera pergi kerumah sakit yang disebutkan Sebastian tadi.     Sebastian kembali lagi kedalam.     "Bu Ris dan guru yang lainnya bisa pulang dan beristirahat saja, kami bisa menjaganya disini, lagipula ibu Kiano sebentar lagi juga akan sampai" Ucap Sebastian, Bu Ris dan guru yang lainnyapun berpamitan untuk pergi darisana.     Setelah selesai berpamitan dengan para guru, Sebastian sadar bahwa disana ada Aurel yang masih terus menangis. Dia menghampiri Aurel dan jongkok didepan Aurel sambil berusaha menenangkannya.     "Berhentilah menangis, Kiano sudah ada dirumah sakit, percayalah pada dokter dia pasti akan baik baik saja" Ucap Sebastian berusaha menenangkan Kiano.     "Bagaimana bisa kau menenangkan orang lain tapi kau sendiri juga panik" Ucap Aurel sambil menangis.     Aurel mengerti bahwa sebenarnya Sebastian juga panik tapi dia tidak ingin menunjukkannya pada orang lain lalu Sebastian duduk disamping Aurel.     "Bagaimana bisa aku tidak panik, Kiano adalah satu satunya teman yang kupunya sejak kecil, walaupun pertamanya aku datang padanya karena sesuatu tapi berjalannya waktu aku malah mengikutinya hingga sekarang dan ini pertama kalinya aku melihatnya dengan keadaan yang seperti itu" Ucap Sebastian yang sudah tidak bisa membendung tangisnya.     Tak lama setelah itu Lauren sampai disana dan mencari Sebastian dan akhirnya ketemu dia berjongkok dan bertanya pada Sebastian.     "Dimana Kiano?" Tanya Lauren.     "Dia sedang dirawat didalam" Jawab Sebastian yang tidak berani mengangkat kepalanya.     Lauren lalu berdiri dan melihat lewat jendela, dia melihat Kiano terbaring disana dengan banyak sekali darah. Lauren meneteskan air matanya melihat anak satu satunya menjadi seperti itu, lalu dia melihat kearah ketiga anak yang terduduk sedih lalu suster membuka pintu, ketiga anak itu langsung berdiri dan Lauren langsung menanyai suster tersebut.     "Bagaimana keadaan Kiano?" Tanya Lauren.     "Apakah anda keluarga dari pasien?" Tanya suster itu.     "A-aku adalah ibunya" Jawab Lauren.     "Anak ibu kehilangan banyak darah dan kami membutuhkan darah dengan golongan AB, persediaan untuk golongan darah ini juga telah habis jadi kami membutuhkan orang yang siap untuk mendonorkan darahnya secepat mungkin atau nyawa anak ibu bisa dalam bahaya" Kata suster itu menjelaskan kepada Lauren.     "Golongan darahku adalah AB, aku akan mendonorkan darahku" Ucap Lauren.     "Kalau begitu silahkan lewat sini" Ajak suster itu.     Lauren pergi dengan suster itu. Aurel berjalan kedepan pintu IGD dan melihat Kiano lewat jendela sambil menangis. .........................................................     Lauren telah kembali dan melihat ketiga anak itu masih sangat sedih. Sebastian menyadari bahwa Lauren sudah kembali, dia menundukkan kepalanya.     "Maafkan aku tante, aku gagal menjalankan misi yang tante berikan padaku" Ucap Sebastian.     Lauren pergi menghampiri Sebastian yang sedih sekaligus juga merasa bersalah. Lauren mengusap kepala Sebastian.     "Sudahlah ini semua bukan salahmu dan juga jangan menyebut ini misi lagi, Kiano telah menjadi temanmu dan setidaknya dia tidak kesepiankan, ditambah lagi ada dua anak perempuan itu yang sepertinya dimasa depan nanti akan menjadi jodoh kalian berdua" Ucap Lauren sambil sedikit memberikan lelucon pada Sebastian agar tidak terlalu sedih dan merasa bersalah.     "Ti-tidak mana mungkin mereka berdua hanya teman biasa kami saja" Jawab Sebastian yang langsung mengangkat kepalanya dengan muka yang memerah.     (Informasi : Dulu saat kecil Sebastian diberi tantangan oleh Lauren untuk menjadi teman Kiano walaupun itu harus menjelek jelekkan nama Lauren didepan Kiano dan selalu menjaga Kiano, karena saat itu Sebastian masih kecil dan menyukai tantangan dia menyebutnya sebagai misi)     Dokter keluar dari ruang IGD, Lauren bergegas bertanya pada dokter tentang keadaan Kiano.     "Dia telah melewati masa kritisnya dia pasti akan siuman dalam waktu dekat ini jadi kalian tidak perlu khawatir, kami akan memindahkannya keruangan lain nanti, mohon untuk diurus administrasinya" Ucap dokter itu lalu pergi darisana.     Semua yang ada disana setidaknya menjadi sedikit lega karena Kiano tidak berada dimasa kritis lagi.     "Kiano sudah berhasil melewati masa kritisnya, dia akan baik baik saja, kalian semua pulang saja" Ucap Lauren.     "Apakah nanti kita diperbolehkan datang kembali kemari?" Tanya Aurel dan Jessica.     "Tentu saja kenapa tidak" Jawab Lauren.     "Ya sudah kalian pulanglah, aku akan mengurus administrasinya" Kata Lauren menambahkan.     Aurel, Jessica, dan Sebastian pulang kerumah masing masing. Aurel dan Jessica diantar pulang oleh Sebastian, setelah selesai Sebastian sendiri pulang kerumahnya. .......................................................     Sore harinya mereka bertiga kembali lagi kerumah sakit dan bertemu dengan Lauren yang keadaannya masih seperti dia datang tadi yaitu berantakan.     Aurel, Jessica, dan Sebastian menyuruh Lauren pulang untuk merapikan dirinya dan Lauren menurutinya dia akan pulang dan kembali lagi nanti.     Mereka bertiga pergi keruangan Kiano yang telah selesai dipindahkan tadi. Kiano masih belum sadar, entah kapan dia akan sadar. Aurel mendekatinya dengan muka yang kembali sedih begitu juga dengan Sebastian dan Jessica tapi tentu saja mereka tidak bisa melakukan apapun selain menunggu Kiano siuman.     Aurel duduk dikursi disamping ranjang Kiano lalu menggenggam tangan Kiano.     "Kiano kapan kau akan bangun? kalaupun aku tau akhirnya akan begini lebih baik kubiarkan saja acara itu menjadi hancur, aku tidak peduli" Ucap Aurel sambil menangis.     "Jika kau tidak bisa memenuhi janjimupun aku pasti akan memaafkanmu, karena kita ini temankan" Kata Aurel menambahkan.     "Besok masih ada sekolah, jika kau tida bangun dan tidak cepat sembuh siapa yang akan membantuku untuk mengurus semua keperluan kelas itu" Ucap Aurel lalu dia melepaskan tangan Kiano.     "Ayo bangunlah Kiano!! Besok masih ada kelas dan kau mau meninggalkanku begitu saja!!" Ucap Aurel marah marah pada Kiano sambil mengusap air matanya.     "Bangun!!! kau dengar aku!!"     "Oh ya kudengar dari kecil kau hanya memiliki Sebastian sebagai temanmu dan sekarang kau juga memiliki aku dan Jessica yang telah menjadi teman barumu, jika kau tidak ingin kehilangan temanmu maka bangunlah!!"     "Hei kau dengar aku tidak!!!"     Aurel kembali duduk dan kembali menangis sambil menggenggam tangan Kiano.     "Kumohon jika kau mendengarku, kumohon bangunlah" Ucap Aurel sambil menangis dan menggenggam tangan Kiano. Saat Aurel merasa bahwa usahanya sia sia untuk membuatnya bangun, tapi tiba tiba dia merasakan ada yang menggenggamnya balik dan Aurelpun terkejut saat dia mengetahui bahwa....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD