SEBUAH PESAN

1433 Words
HAPPY READING GUYS:)     Bahwa Kiano menggerakkan tangannya dan itu adalah pertanda bahwa dia akan siuman. Sebastian berlari keluar untuk mencari dokter. Jessica masih berdiri disana dengan ekspresi muka yang bertanya tanya dan serasa seperti tidak percaya, apakah Kiano bangun karena panggilan dari Aurel atau itu memang kebetulan. Aurel yang berada didekat Kiano menjadi sangat senang akhirnya Kiano bangun juga. Kiano perlahan lahan membuka matanya dan dia melihat Aurel yang menangis disampingnya.     "Kiano, kau bangun. Sudah kuduga kau pasti tidak akan pernah membiarkan temanmu pergi darimu" Ucap Aurel yang masih menggenggam tangan Kiano dengan ekspresi yang senang.      Dokter masuk keruangan itu dan ingin memeriksa keadaan Kiano.     "Maaf permisi nona, bisakah anda minggir sebentar?" Tanya dokter itu dengan nada yang sangat sopan.     "Oh iya" Jawab Aurel yang perlahan melepaskan tangan Kiano darinya, tapi entah apa yang terjadi pada Kiano dia malah tidak ingin melepaskan tangan Aurel dan terus menggenggamnya.     "Kiano lepaskan tanganku, dokter ingin memeriksamu" Ucap Aurel tapi Kiano tidak melepasnya juga.     "Hei aku tidak akan berada jauh darimu, aku akan berada didekatmu, jadi lepaskan tanganku dulu oke?" Ucap Aurel meyakinkan Kiano dan Kiano melepaskan tangannya perlahan.     Aurel lalu berjalan mundur dan dokter mulai memeriksa Kiano, setelah memeriksa Kiano dokter itu pergi menghampiri Aurel, Sebastian,d dan Jessica.     "Siapa yang keluarganya disini?" Tanya dokter itu.     "Dia tadi pulang kerumah, nanti akan kembali" Jawab Sebastian.     "Bagaimana keadaannya dokter?" Tanya Aurel.     "Dia sudah jauh lebih baik dari sebelumnya, dia benar benar sangat kuat, lukanya sembuh dengan cepat dibanding orang biasa, dalam jangka waktu 3 sampai 5 hari lagi dia sudah boleh pulang. Oh ya kalau dia lapar berikan bubur saja, besok baru boleh makan makanan selain bubur. Sampaikan itu pada keluarganya nanti" Jawab dokter itu.     "Jaga pasanganmu dengan baik, nak" Ucap dokter itu pada Aurel.     "A-anda salah paham, ka-kami..." Ucap Aurel yang berusaha menjelaskan dengan muka yang berubah menjadi merah.     "Aku mengerti" Ujar dokter itu sambil menepuk kepala Aurel lali pergi dari sana.     Aurel, Sebastian, dan Jessica berjalan mendekati Kiano. Kiano berusaha untuk duduk dan Aurel membantunya.     "Ehem sepertinya dengan adanya Aurel disini kita berdua tidak perlu melakukan apapun ya kan" Ucap Jessica kepada Sebastian untuk menyindir Kiano dan Aurel.     "Ih apaan sih, ga jelas" Jawab Aurel tersipu.     "Bagaimana dengan pertandingannya? Siapa pemenangnya?" Tanya Kiano suara yang masih terlihat lemah.     "Coba kau tebak" Ucap Jessica dan Sebastian barengan. Kiano tertawa kecil lalu menjawab...     "Tebak tebakan ini sama sekali tidak sulit, dari ekspresi kalian saja aku sudah bisa menebak siapa pemenangnya" Ucap Kiano yang melihat wajah teman temannya satu persatu. Saat dia melihat wajah Aurel, Aurel tidak menunjukkan wajah senang sama sekali. Aurel terlihat murung.     "Ada apa? kenapa kau murung. Kau tidak suka Sebastian menang? atau kau tidak suka aku sembuh" Tanya Kiano.     "Tidak, mana mungkin aku begitu, hanya saja..." Kata kata Aurel yang tiba tiba berhenti lalu menundukkan kepalanya.     "Hanya saja?" Ujar Kiano yang penasaran apa yang akan dikatakan Aurel selanjutnya.     "Hanya saja kau terluka karena syarat dariku dan aku juga telah membuatmu berjanji untuk membuat acara itu berjalan lancar, andai saja aku tidak melakukan itu semua kau pasti tidak akan pernah berakhir disini, maafkan aku" Jawab Aurel.     "Untuk apa kau meminta maaf? ini semua bukan salahmu. Kalaupun saat itu kau tidak memberikan syarat padaku untuk membuat acara itu berjalan lancar tanpa ada kendala sedikitpun, aku pasti akan tetap melakukannya karena kalian semua ada disana. Jika aku pergi sendiri pasti hanya aku yang terluka tapi jika aku tidak pergi maka kalian pasti juga akan terluka, yang penting semuanya sudah baik baik saja. Kalian tidak terluka dan sebentar lagi aku juga akan sembuh" Jawab Kiano sambil tersenyum.     "Lupakan saja semua itu" Kata Kiano menambahkan, lalu ruangan itu menjadi hening.     "Oh ya kalian sudah makan?" Tanya Kiano memecah keheningan.     Aurel, Sebastian, dan Jessica menggeleng.     "Kalian makanlah" Ucap Kiano.     "Kenapa setelah kau terluka aku merasa bahwa kau jadi sedikit lebih perhatian ya" Ucap Sebastian.     "Kurasa tidak ada yang berubah dariku" Jawab Kiano.     "Ya sudah kalau begitu aku dan Jessica akan makan dulu di cafetaria" Ucap Sebastian menarik Jessica keluar.     "Kau tidak pergi ikut mereka juga. Memangnya kau tidak lapar?" Tanya Kiano.     "Tidak, bagaimana denganmu kau lapar?" Jawab Aurel lalu bertanya balik.     Kiano menggelengkan kepalanya. Beberapa menit kemudia terdengar ada orang yang membuka pintu itu, Kiano langsung menatap kearah pintu begitu juga dengan Aurel.     "Tante kau sudah kembali?" Tanya Aurel.     Lauren masih menutup pintu dan membelakangi mereka, saat dia berbalik dan ingin menjawab pertanyaan Aurel dia melihat bahwa Kiano sudah Siuman. Melihat wajah Lauren, Kiano dan Aurel menjadi kaget. Aurel kaget karena aktor yang sangat digemarinya dan telah menjadi idolanya yaitu Lauren Favian ternyata adalah ibu Kiano.     Sedangkan Kiano kaget melihat Lauren karena selama ini Lauren tidak pernah peduli padanya dan selalu bertindak kejam pada Kiano, tapi yang sebenarnya Lauren sendiri juga tak ingin melakukan itu semua pada Kiano tapi dia memang terpaksa melakukannya.     Saat melihat Kiano telah siuman, Lauren benar benar bahagia dan meneteskan air matanya dan dia lupa aktingnya sebagai ibu yang jahat dimata Kiano. Dia langsung berlari dan memeluk Kiano.     "Akhirnya kau sadar, Ki. Kau tau betapa takutnya aku saat melihatmu terbaring penuh darah" Ucap Lauren dengan air mata yang menetes.     Kiano benar benar terkejut, kenapa tiba tiba sikap ibunya berubah begini. Dia ragu apakah dia ingin memeluknya balik atau tidak dan akhirnya Kiano memutuskan untuk tidak memeluk Lauren tapi Aurel yang menyadari itu langsung menarik tangan Kiano agar memeluk ibunya. Kiano kaget kenapa Aurel melakukan itu tapi Aurel hanya memperlihatkan senyum saja diwajahnya, lalu akhirnya Kiano memutuskan untuk memeluk ibunya.     "A-aku baik baik saja, jangan khawatir" Ucap Kiano.     Lalu Lauren melepaskan pelukannya dan memegang wajah putranya.     "Katakan padaku, bagaimana keadaanmu? apakah masih ada yang sakit?" Tanya Lauren dengan penuh kekhawatiran.     "Kenapa kau...melakukan semua ini padaku?" Tanya Kiano balik pada Lauran.     "Ki, apa yang kau..." Ucap Lauren yang tiba tiba berhenti lalu melepaskan tangannya yang tadi memegang wajah Kiano.     "Lupakan, anggap saja aku tidak pernah melakukan ini padamu" Ucap Lauren lalu berjalan menjauh dari Kiano.     "Tante, kau mau kemana?" Tanya Aurel pada Lauren tapi Lauren pergi meninggalkan mereka tanpa menjawab pertanyaan dari Aurel.     "Kenapa kau melakukan itu tadi?" Tanya Kiano kepada Aurel.     "Apa?" Tanya Aurel balik dengan ekspresi tidak mengerti.     "Kenapa kau menarik tanganku untuk memeluknya?" Jawab Kiano sekaligus memberikan pertanyaan.     "Memangnya kenapa? dia adalah ibumu kan. Apakah kalian berdua sedang memiliki masalah?" Jawab Aurel lalu memberikan pertanyaan lagi.     "Tentu saja, aku sangat membencinya" Jawab Kiano.     "Kau seharusnya tidak boleh membencinya loh" Ujar Aurel.     "Kau tidak akan pernah mengerti" Ujar Kiano.     "Apakah kau ingin mendengar cerita?" Tanya Aurel.     "Cerita apa?" Tanya Kiano penasaran.     "Cerita masa kecilku, kau mau dengar?" Ucap Aurel.     "Hm boleh" Jawab Kiano sambil mengangguk.     "Saat aku berusia 4 tahun dan aku belum bisa membaca dan aku sangat tidak suka belajar, suatu hari ibuku mengajariku membaca dan aku tidak mau dia memarahiku dan aku menangis, lalu mulai saat itu aku membenci ibuku karena dia telah memaksaku untuk melakukan sesuatu yang tidak kusukai" Ujar Aurel.     "Hingga aku berusia 10 tahun ibu masih saja menyuruhku belajar dan aku masih membencinya, lalu saat aku pulang sekolah, dimejaku aku menemukan secarik kertas yang bertuliskan 'Nak ibu sedang pergi kepasar untuk membeli bahan makanan, bahan makanan dirumah telah habis jadi tidak ada makanan dulu, oh ya ibu meninggalkan sebuah pesan lagi dilaci kamar ibu, bacalah itu sambil menunggu ibu pulang' itulah yang tertera disurat itu"     "Lalu aku berlari kekamar ibu karena penasaran isi suratnya, setelah aku menemukannya aku langsung membacanya. Disurat itu ibu mengatakan bahwa dia sudah lama tau bahwa aku membencinya karena dia selalu memaksaku melakukan apa yang tidak kusukai tapi dia berkata juga didalam surat itu bahwa sebenarnya dia sangat menyayangiku, alasan ibuku memaksaku adalah agar aku menjadi anak yang sukses"     "Dia juga bilang dalam surat itu bahwa saat pulang nanti ibu akan memasakkan makanan kesukaanku, aku benar benar sangat bahagia dan ingin meminta maaf padanya karena telah membencinya, setelah menunggu beberapa saat. Aku akhirnya mendengar kabar bahwa ibuku sudah meninggal" Saat mengatakan itu Aurel meneteskan air matanya tapi dia tetap melanjutkan ceritanya.     "Dia meninggal karena ditabrak oleh mobil, aku menangis dan menyesal, kenapa dulu aku membenci ibu dan akupun masih menyesal hingga sekarang. Itulah sebabnya aku melakukan itu semua padamu karena aku tidak ingin kau menyesal seperti diriku. Aku yakin ibumu pasti memiliki alasan kenapa melakukan itu semua itu"     "Jadi kumohon jangan membenci ibumu, aku yakin dia pasti juga memiliki alasan sendiri kenapa dia melakukan itu semua padamu" Ujar Aurel yang menjadi teringat kembali masa lalunya.     Kiano tidak mengatakan apapun dan langsung memeluk Aurel. Aurelpun menjadi kaget.     "Kau pasti sangat menderitakan. Maafkan aku karena sudah membuka luka lamamu" Ujar Kiano.     "Aku akan menuruti perkataanmu, aku tidak akan membenci ibuku. Jangan bersedih lagi" Kata Kiano menambahkan dan Aurel hanya mengangguk.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD