SEMUANYA MEMBICARAKAN DIRIMU

1432 Words
HAPPY READING GUYS:)     "Oke oke aku akan pulang, ingat jangan terlalu bekerja keras hanya demi mendapat pujian dari wanita itu dan juga jaga kesehatanmu" Ujar Sebastian.     "Iya iya lagipula aku bukan anak kecil lagi yang harus selalu diingatkan sebelum melakukan sesuatu" Ucap Kiano.     Setelah itu Sebastian berpamitan pulang dan dia meninggalkan apartemen Kiano. Kiano lalu memegang kepalanya dan memasang muka yang agak sedih.     "Wanita itu tidak pernah puas dengan semua yang aku lakukan, dia selalu menuntutku untuk bisa dalam segala hal tapi dia tidak pernah memujiku sekalipun, tidak peduli seberapa keras aku berusaha untuk menggapainya dia akan selalu mengatakan sesuatu yang kejam padaku, mulai dari sekarang aku tidak akan pernah memperhatikannya lagi" Ucap Kiano yang curhat pada dirinya sendiri.     Setelah melihat apartemennya yang kotor dia menghilangkan wajah sedihnya dan mulai bersih bersih, Setelah selesai bersih bersih dia kembali kekamarnya dan mandi, karena dia sendiri dan bosan dia hanya punya satu kegiatan yaitu membaca bukunya lagi. ................................     Pagi hari datang menyambut hari yang baru, Kiano bangun dari tidurnya lalu membuka gorden tercium bau segar dipagi hari dengan ditemani oleh kicau kicauan burung. Kiano lalu masuk kekamar mandi setelah selesai mandi dia melakukan semua yang orang lakukan dipagi hari lalu berangkat kesekolah.     Kiano terbiasa berjalan kaki jika pergi sekolah sehingga dia berangkat lebih awal daripada yang lain. Saat sudah sampai disekolah, sekolah masih terlihat sepi dan Kiano memutuskan untuk berkeliling disekolah itu sebelum dia kekelas, saat sedang berkeliling dan melihat persekitarannya dan itu sama saja seperti sekolah yang lainnya cuman lebih besar saja. Semuanya terlihat biasa saja dan tidak ada yang mengejutkan sama sekali, sampai disaat dimana ada salah satu yang mencuri perhatian Kiano.     Kiano melihat ada anak laki laki yang sedang dibully oleh satu anak yang lainnya dan itu terlihat seperti kakak kelas, kakak kelas itu meminta uang dari anak itu, Kiano yang tidak bisa tinggal diam dan hanya menonton saja langsung menghampiri anak yang terbully.     Kiano membentangkan tangannya ditengah tengah antara anak yang terbully dan kakak kelas yang membully.     "Jangan memberikan uangmu padanya" Ucap Kiano.     "Hei kau minggirlah jangan ikut campur dalam urusanku atau kau akan menyesal" Ancam kakak kelas itu pada Kiano.     "Kau sebaiknya pergi saja, dengan menyerahkan uang ini maka kita berdua pasti tidak akan terluka sama sekali" Ucap anak yang terbully sambil menyodorkan uangnya, tapi Kiano menangkap tangan anak itu.     "Kau terlalu meremehkanku" Ujar Kiano.     Lalu Kiano memukul kakak kelas itu untuk menyatakan pertarungan, Kakak kelas itu ingin memukul balik Kiano tapi pukulannya meleset dan akhirnya Kiano memukulnya lagi hingga terjatuh dan kakak kelas itu terjatuh dan tidak bisa bangkit lagi.     "Hanya segitu saja kemampuanmu?" Kata Kiano meremehkan.     Kakak kelas itu bilang ampun dan menyatukan kedua tangannya yang menandakan bahwa dia telah menyerah, tapi Kiano sama sekali tidak mempedulikannya.     "Ini masih sangat pagi dan kebetulan tempat ini juga sepi, bangun atau kupukul kau hingga mati disini" Ucap Kiano memberikan pilihan kepada kakak kelas itu.     "Sudahlah biarkan saja, aku tidak ingin ada pertarungan lagi disini" Ucap anak yang terbully untuk menghentikan Kiano.     Kiano menuruti anak itu dan membiarkan kakak kelas itu lari dari tempat itu.     "Terima kasih karena sudah menolongku" Ucap anak yang terbully tadi.     "Ya tidak masalah lain kali berhati hatilah" Jawab Kiano.     "Boleh aku tau siapa namamu?" Tanya anak itu pada Kiano.     "Namaku Kiano" Jawab Kiano memperkenalkan diri.     "Kau Kiano dari kelas 10 - A kan dan juga orang yang selalu bersamamu itu siapa namanya lupa aku" Kata anak itu dengan semangat.     "Maksudmu Sebastian?" Ujar Kiano memastikan.     "Iya benar Sebastian, aku tidak percaya aku benar benar melihatmu disini" Kata anak itu dengan senang dan penuh semangat.     "Kau bertemu denganku seolah olah bertemu dengan artis saja" Jawab Kiano agak tertawa.     "Kau tidak tau?" Tanya anak itu.     "Memangnya aku harus tau apa?" Tanya Kiano dengan ekspresi yang tidak mengerti apapun.     "Baiklah aku akan mengatakannya padamu, kau tau banyak cewek disekolah ini sedang membicarakanmu, namamu dan temanmu menjadi sangat terkenal dalam sehari, semua cewek tergila gila padamu dan temanmu itu. Saat pertama kali mendengar namamu dikelasku aku berpikir memangnya setampan apa sih cowok itu dan saat aku melihatmu ternyata kau memang benar benar sangat tampan" Ujar anak itu menjelaskan panjang lebar dengan penuh kekaguman.     Kiano merasa sangat aneh, memangnya ada anak laki laki yang memuji sesama jenisnya.     "Yah terima kasih atas pujiannya, tapi kelihatannya ini sudah semakin siang dan juga sekolah menjadi bertambah ramai, aku harus segera pergi kekelas ingat untuk berhati hati jika kau sedang sendirian" Ucap Kiano sambil menepuk pundak anak itu lalu pergi meninggalkannya disana.     Dalam perjalanan menuju kelasnya, sesuai dugaannya banyak cewek yang melihat dan menatapnya, tapi Kiano tidak sepanik saat pertama kali ditatap oleh mereka karena sekarang dia sudah tau mengapa anak perempuan selalu menatapnya saat berjalan dikoridor. Dia berjalan dengan penuh percaya diri saat hampir sampai dikelas dia melihat kerumunan yang sangat padat penuh dengan cewek didepan kelasnya.     Kiano memaksa menerobos kerumunan itu, saat hampir masuk kekelasnya dia ditarik oleh salah satu cewek yang ada disana.     "Wajahmu sanagat tampan, yang ada disana Sebastian kau pasti Kianokan?" Tanya salah satu cewek itu.     "Iya aku Kiano, ada apa?" Jawab Kiano.     Mendengar itu para cewek langsung menatap Kiano, seketika itu Kiano langsung mendapat firasat yang buruk. Kiano langsung melepaskan diri dari wanita itu dan menerobos masuk kekelas jika dia terlambat sedikit saja dia pasti sudah terjebak disana.     "Cewek memang sangat mengerikan" Kata Kiano sambil menghembus  nafas lega.     Sebastian yang sudah ada disana, menahan tawanya ketika melihat Kiano yang berjalan kekursinya dengan memasang muka lega.     "Bagaimana" Tanya Sebastian pada Kiano sambil menahan tawanya.     "Bagaimana apanya?" Tanya Kiano balik yang tidak mengerti apa yang sedang Sebastian tanyakan.     "Kerumunan para cewek disana" Jawab Sebastian.     "Sangat mengerikan, hampir saja aku terjebak disana" Kata Kiano yang masih memasang muka lega.     Sebastian tidak bisa lagi menahan tawanya, alhasil dia tertawa lepas.     "Kenapa kau tertawa? apa yang lucu?" Tanya Kiano tidak mengerti.     Sebastian hanya menggeleng dan menahan tawanya lagi. Tidak lama kemudian, Aurel sudah berada didepan kelasnya, dia melihat kerumunan yang sangat padat disana.     "Bisakah kalian menyingkir dari pintu, murid yang baru datang pasti kesulitan untuk masuk kedalam" Ujar Aurel.     "Memangnya kau siapa menyuruh kami menyingkir dari sini" Jawab salah satu cewek yang ikut bergerombol disana.     "Aku adalah ketua kelas dari kelas ini" Jawab Aurel.     Seketika itu para cewek langsung menggerombol kearah Aurel dan memohon mohon kepada Aurel untuk diijinkan masuk kedalam. (Informasi : Para murid disekolah ini tidak akan bisa memasuki kelas yang bukan kelas mereka karena itu sudah tertulis diperaturan sekolah, kecuali jika wali kelas dari kelas itu atau ketua kelas mengijinkan mereka masuk baru setelah itu mereka bisa masuk.)     "Menyingkir dariku kalian semua, aku tidak akan mengijinkan kalian masuk" Kata Aurel yang sesak karena dikerumuni banyak siswi.     Tapi semua anak yang bergerombol disana tidak mendengarkan Aurel dan tetap saja mengerumuninya. Aurel berteriak minta tolong agar ada yang menolongnya keluar dari gerombolan itu karena menjadi orang yang digeromboli banyak orang rasanya sangatlah sesak dan pengap.     "Kau mendengar itu, itu seperti suara Aurel?" Ujar Sebastian.     "Yah sepertinya dia berada ditengah gerombolan itu" Jawab Kiano.     Mereka berdua awalnya biasa saja, tapi lama kelamaan mereka tidak mendengar suara Aurel lagi.     "Hei dia tidak berteriak lagi, mungkinkah dia mati karena sesak napas?" Tanya Sebastian.     "Aku akan menghentikan mereka" Kata Kiano dan langsung berdiri dari kursinya.     Sebastian ragu dengan Kiano karena tadi dia saja bilang bahwa gerombolan itu menakutkandan sekarang dia malah ingin menghentikannya, tapi Sebastian tidak menghentikan Kiano dan hanya menonton dari sana saja.     Kiano berjalan dengan memasang muka dinginnya. Dia berjalan dengan tegak dan berkata...     "Menyingkir!!" Kata Kiano dengan dingin.     Semua cewek yang ada disana langsung menatapnya dengan tatapan yang ketakutan. Mereka membuka jalan untuk Kiano. Kiano melihat Aurel yang meringkuk disana sambil menutui telinganya.     "Hei sampai kapan kau akan begitu terus?" Tanya Kiano yang tetap menggukan nada dinginnya.     Aurel mengangkat kepalanya dengan memasang muka polos.     "Eh mereka tidak berteriak lagi?" Tanya Aurel dengan polos.     "Masuk!!" Perintah Kiano pada Aurel dengan nada dingin.     "I-iya" Jawab Aurel agak gugup dengan suasana yang tiba tiba hening.     Aurel berjalan masuk menuju kelas dan Kiano berjalan dibelakang Aurel, sampai dipintu kelasnya Kiano melirik kebelakang.     "Bubar sekarang!!" Kata Kiano dengan tegas dan dingin.     Seketika itu semua cewek yang ada disana langsung bubar karena takut dengan Kiano. Kiano berjalan kembali kekursinya.     "Keren" Kata Sebastian.     "Kenapa tadi kau tidak membantuku ha!?" Tanya Kiano protes pada Sebastian.     "Karena lebih asik menonton jadi aku hanya menonton saja" Jawab Sebastian santai.     "Kupukul juga kau" Kata Kiano sambil mengayunkan tangannya keatas dan saat yang bersamaan juga bel sekolah berbunyi. Tangan Kiano terhenti dan tidak jadi memukul Sebastian.     (Informasi : Kiano dan Sebastian adalah teman dari kecil tapi kadang mereka suka menyelesaikan masalah diantara mereka dengan berkelahi dan ketika mereka sudah lama tidak bertemu mereka juga akan berkelahi.)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD