HAPPY READING GUYS:)
Kiano dan Sebastian tetap berusaha berjalan dengan santai tanpa memperhatikan persekitaran mereka.
.........................
Setelah sesampainya dikantin mereka membeli roti lalu pergi keatap sekolah, karena disana adalah satu satunya tempat paling sepi yang ada disana.
"Akhirnya sampai juga kita disini" Ujar Sebastian sambil menghela napas lega.
"Iya, rasanya seperti ingin pindah saja dari sekolah ini" Jawab Kiano sambil menghela napas lega juga.
Lalu mereka makan roti bersama sambil memandangi langit biru nan indah itu, diatap sekolah benar benar sangat sepi hanya ada mereka berdua saja, rasanya sangat tenang sekali, sampai saat dimana tiba tiba Aurel datang.
"Kalian berdua ngapain disini?" Tanya Aurel yang tiba tiba muncul.
"Kau!!" Kata Kiano dan Sebastian serentak, mereka kaget lalu berdiri.
"Untuk apa kau kemari?" Tanya Kiano dengan nada yang agak kesal karena Aurel menghancurkan ketenangannya.
"Aku kemari karena kalian tadi tidak ada dikelas, padahal tadi kelas sedang ribut ribut memilih sekertaris dan bendahara" Ujar Aurel.
"Lalu apa hubungannya dengan kami, tidak ada kamipun pemilihan itu akan tetap berlanjut kan" Jawab Kiano kesal.
"Iya memang walau tidak ada kalian pemilihannya tetap bisa dilanjutkan dan sekarang malah sudah selesai, tapi wakilnya kan belum ditentukan" Kata Aurel.
"Bukankah wakilnya dipilih sesuai keinginanmu?" Ucap Sebastian.
"Iya memang, jadi aku tadi sudah mendiskusikannya dengan yang lain bahwa yang menjadi wakilnya adalah kau" Jawab Aurel sambil menunjuk Kiano.
"Hah!!Apa!!" Jawab Kiano kaget dengan mata terbuka lebar.
"Tidak tidak tidak aku tidak mau!!" Tolak Kiano dengan keras bahkan tangan dan kepalanyapun menggeleng semua.
"Hei itu bagus. Kenapa kau menolaknya?" Kata Sebastian.
"Aku nanti akan jadi sibuk, jika aku terus sibuk kau nanti bisa bisa kesepian karena tidak ada aku" Ujar Kiano membuat alasan.
"Kapan aku pernah kesepian jika kau meninggalkanku" Jawab Sebastian
"Kalian ini sahabatkah?" Tanya Aurel tiba tiba.
"Tentu saja kita ini best friend sejak kecil, aku yang selalu ngajak dia main, jadi kalau ga ada aku dia bakal kesepian" Kata Kiano memberikan alasan kepada Aurel.
"Eh sejak kapan kau yang selalu ngajak aku main, dulu itu ya kau itu dingin banget kaya es batu sampe sampe ga punya temen terus aku yang nyamperin kau, terus aku juga yang ngajak kau main" Kata Sebastian.
"Bantulah aku sekali ini aja, aku ga mau jadi wakil kelas" Bisik Kiano pada Sebastian. "Maaf kawan aku ga bisa" Jawab Sebastian sambil agak menjauh dari Kiano. "Hei teman macam apa kau ini!?" Kata Kiano sambil marah. Sebastian menjauh dari sana dan membiarkan Aurel berbicara berdua dengan Kiano. "Please yah, jadilah wakil ketua ya Kiano?" Aurel memohon kepada Kiano sambil menyatukan kedua tangannya Aurel terus memaksa Kiano dan itu membuat Kiano marah.
"SUDAH KUBILANG AKU TIDAK MAU, JANGAN MEMAKSAKU LAGI!! " Ucap Kiano dengan nada tinggi yang membuat Aurel menjadi takut padanya dan membuat siswa siswa lain menjadi berkerumun dibawah karena mendengar teriakan Kiano. "Oh ka-kalau be-begitu aku tidak akan mengganggumu lagi" Kata Aurel dengan suara yang gemetar seperti hampir menangis dan segera pergi meninggalkan tempat itu. Sebastian langsung datang dan mengecek kondisi disana.
"Apa yang terjadi? kau baik baik sajakan? kenapa kau berteriak?" Tanya Sebastian yang sepertinya khawatir dengan sahabatnya itu. Keadaan dibawah juga sangat ramai dan itu membuat Kiano bingung dan frustasi. Kiano memegang kepalanya dan berjongkok. "Jangan paksa aku, jangan paksa aku" Kiano terus saja mengatakan itu.
'Sial, kupikir dengan Aurel mengajaknya menjadi wakil ketua itu akan membuat Kiano lupa dengan trauma masa lalunya tapi kelihatannya dia malah memperburuk keadaannya dan juga keadaan dibawah sangat berisik itu bisa memperburuk keadaan Kiano, aku harus menyelesaikan masalah yang dibawah dulu' Ucap Sebastian dalam hati. "Aku akan menyelesaikan masalah yang ada dibawah, tunggu aku disini" Ujar Sebastian.
Sebastian turun kebawah bersamaan dengan para guru yang juga ikut turun kebawah menyelesaikan masalah bersama. Setelah keadaan membaik para guru bertanya tentang apa yang terjadi sebenarnya. Sebastian menjelaskan alasan kenapa para murid berkumpul disana tapi Sebastian tidak menjelaskan apa yang terjadi pada Kiano yang sedang ada di atas atap. Setelah itu Sebastian berlari kembali ke atap untuk memastikan keadaan Kiano, tapi keadaannya masih sama saat sebastian meninggalkan Kiano disana. Sebastian berjongkok dan mencoba menenangkan Kiano. "Semuanya sudah kembali tenang, tidak akan ada yang memaksamu lagi, tenanglah" Ucap Sebastian berusaha menenangkan Kiano.
'Kiano, dia adalah orang yang paling sempurna yang pernah kutemui, wajahnya yang tampan, tubuh yang bagus, otak yang pintar, bisa dalam segala hal, tapi memang benar pepatah itu tidak ada yang sempurna didunia ini, meskipun Kiano terlihat sangat sempurna tapi pada kenyataannya dia tetap manusia biasa dan manusia pasti memiliki kekurangan dalam hidupnya' Ucap Sebastian dalam hatinya. Setelah beberapa saat berlalu Kiano perlahan lahan menjadi tenang kembali dan bisa berpikir dengan jernih kembali lalu dia teringat dengan Aurel yang tadi dia bentak. "Aurel tadi kemana?" Tanya Kiano pada Sebastian.
"Aku tidak tau kan tadi dia bersamamu disini" Jawab Sebastian. "Kelihatannya dia pergi tadi, ya sudahlah biarkan dia pergi" Ujar Kiano.
"Kita kembali kekelas, sebentar lagi bel pasti akan berbunyi" Kata Kiano menambahkan.
Kiano pergi dari sana diikuti Sebastian dibelakangnya.
.......................
Sesampainya dikelas mereka berdua melihat Aurel dengan mata yang lumayan merah. 10 menit kemudian Bu Ris masuk ke ruang kelas.
"Selamat siang anak anak, bagaimana? apakah pengurus kelas semuanya sudah ditentukan?" Tanya Bu Ris.
"Hanya wakilnya yang belum ditentukan bu" Jawab salah satu murid yang ada disana.
"Aurel kamu belum memilih siapa yang jadi wakil ketua?" Tanya Bu Ris pada Aurel.
"Saya sudah memilih orangnya tapi dia..." Aurel belum sempat menyelesaikan perkataannya dan langsung dipotong oleh Kiano.
"Saya yang akan menjadi wakil ketuanya" Kata Kiano sambil mengangkat tangannya.
"Tapi tadi bukannya kau bilang kalau kau tidak..." Lagi lagi Aurel belum menyelesaikan perkataannya dan langsung dipotong oleh Kiano.
"Aku berubah pikiran" Jawab Kiano dengan cepat.
"Kalau begitu berarti semuanya sudah ditentukan ya, saya akan memulai pelajarannya" Kata Bu Ris.
Bu Ris menyuruh semua muridnya untuk membaca dan mempelajari buku matematika yang telah diberikan tadi pagi, karena ini masih hari pertama mereka disekolah jadi pelajarannya hanya diisi oleh wali kelas masing masing agar hubungan antara murid dan wali kelas menjadi lebih akrab. Bu Ris memberikan selembar kertas yang full berisi soal matematika dan satu kertas lagi untuk menuliskan jawaban mereka, Bu Ris menyuruh mereka untuk mengerjakannya. 15 menit telah berlalu, Kiano dan Sebastian sudah menyelesaikan semua soal tersebut. Semua murid yang ada dikelas terkejut.
"Kenapa melihatku seperti itu!!" Kiano membentak para murid yang terus melihat padanya sambil berjalan kedepan kelas untuk menyerahkan lembar jawabannya bersama Sebastian.
"Sudah sudah jangan seperti itu, kemarikan jawaban kalian saya akan memeriksanya" Kata Bu Ris.
Kiano dan Sebastian menyerahkan jawaban mereka dan kembali ketempat duduk mereka. Setelah Bu Ris memeriksanya dengan seksama ternyata jawaban mereka berdua benar semua.
"Jawaban kalian benar semua, kalian mempelajarinya dengan sangat cepat, bagus sekali" Kata Bu Ris memuji kedua siswanya tersebut.
Seketika itu semua murid yang ada dikelas itu terkejut tak terkecuali Aurel, bagaimana bisa mereka menyelesaikan soal yang begitu banyak hanya dalam 15 menit.
.......................
Bel berbunyi yang menandakan bahwa waktunya untuk pulang. Kiano dan Sebastian keluar paling awal dan pergi meninggalkan kelas. Saat sesampainya digerbang sekolah Aurel meneriaki mereka berdua. Aurel menghampiri Kiano dan Sebastian, saat itu Aurel tidak sendiri, dia ditemani oleh temannya.
"Ada apa?" Tanya Kiano.
"Ma-maaf saat di-diatap tadi aku memaksamu" Kata Aurel yang kelihatannya masih takut dengan Kiano.
"Kenapa cara bicaramu seperti itu!?" Tanya Kiano yang agak meninggikan suaranya.
"Sepertinya dia takut padamu karena kau meneriakinya diatap tadi" Jawab teman Aurel.
"Siapa kau?" Tanya Sebastian pada anak itu.
"Oh ya aku lupa memperkenalkan diri, namaku Jessica Charlotte, aku tadi juga mencalonkan diri untuk menjadi ketua kelas tapi kalah" Ucap Jessica.
"Oh jadi apa yang kalian inginkan dari kami?" Tanya Kiano.
"Kalian tadi menyelesaikan semua soal dari Bu Ris dengan cepat jadi kami berdua ingin belajar bersama kalian" Ujar Jessica.
"Tidak, aku tidak ingin belajar bersama kalian, ayo sebastian kita pergi" Jawab Kiano dengan nada yang dingin.
"Pleaselah, kumohon" Jessica memohon seperti yang dilakukan oleh Aurel saat diatap tadi.
Sebastian yang menyadari hal itu langsung membentangkan tangannya diantara Kiano dan Jessica.
"Tolong jangan memaksanya!!" Ucap Sebastian.
"Memangnya kau ini siapanya Kiano, kau pengawalnya?" Ucap Jessica.
Kiano yang mendengar itu semua menjadi mulai mengerutkan dahinya dan marah dia tidak terima jika sahabatnya disebut sebagai pengawalnya.
"Kalau kau ingin belajar bersama, jam 3 pergilah keapartemenku. Tapi jangan pernah kau menyebut sahabatku sebagai pengawalku lagi!!" Ucap Kiano dengan tegas.
"Ayo Sebastian kita pulang" kata Kiano menambahkan.