HAPPY READING GUYS:)
Kemudian Lauren melepaskan pelukannya dari Kiano.
"Aku akan menjagamu disini, hanya untuk malam ini, beristirahatlah dengan tenang" Ucap Lauren.
"Ibu bisakah kau mengelus kepalaku?" Tanya Kiano.
Lauren merasa ragu apakah dia harus mengiyakannya atau tidak tapi akhirnya dia menyetujuinya juga, lalu Lauren mengangguk. Kiano memejamkan matanya dan Lauren mengelus kepalanya.
'Aku merasa jika Kiano masih terlihat seperti anak kecil jika didepanku tapi itu berbeda lagi jika dia berada didepan teman temannya. Entah kenapa aku merasa sedih melihatnya seperti ini, apakah Kiano benar benar sangat kekurangan kasih sayang dariku?' Ucap Lauren didalam hatinya.
"Ibu, bisakah ibu kembali lagi besok setelah pulang kerja?" Tanya Kiano.
"Maaf aku tidak bisa, ini adalah yang terakhir kalinya aku mengunjungimu. Aku akan mengirim pelayan yang dulu mewarawatmu" Ucap Lauren menolak permintaan.
"Ibu aku selalu merasa walaupun aku dilahirkan olehmu tapi aku ini seperti bukan anakmu tapi anak pelayan itu dan yang lebih mirip anakmu itu adalah Sebastian" Ucap Kiano yang masih memejamkan matanya dengan tersenyum menahan kesedihan yang ada didalam hatinya.
"Aku benar benar sangat iri dengan Sebastian, bagaimana bisa dia mendapatkan kasih sayang dari dua ibu sekaligus sedangkan aku tidak mendapatkannya sama sekali, menyedihkan sekali" Ucap Kiano lagi.
Saat mendengar itu sebenarnya hati Lauren rasanya sakit seperti disayat sayat oleh pisau, tapi dalam keadaan seperti ini Lauren benar benar tidak berdaya. Dia sebenarnya ingin sekali mencurahkan seluruh kasih sayangnya pada Kiano tapi dia tidak bisa melakukannya karena suatu alasan.
"Ibu walaupun kau tidak ingin datang demi diriku tapi setidaknya datanglah demi penggemar beratmu" Ujar Kiano membujuk Lauren agar mau datang.
"Penggemar!!? Siapa?" Ucap Lauren dengan kaget dan berdiri.
Kiano membuka matanya dan melihat ekspresi terkejut Lauren disertai dengan sedikit ketakutan terlihat diwajahnya.
"Ada apa ibu? Kau tidak ingin menemui penggemarmu?" Tanya Kiano.
"Siapa dia?" Ucap Lauren dengan tegang.
"Ibu tidak perlu setegang itukan. Dia adalah teman sekelasku, namanya Aurel, anak yang duduk disampingku tadi" Jelas Kiano pada Lauren.
Lauren menghembuskan nafas lega lalu duduk kembali.
"Baiklah ibu akan datang besok jam 3 sore" Ujar Lauren mengiyakan permintaan Kiano.
"Kenapa ibu sangat panik tadi saat mendengar kata penggemar berat. Apakah pernah terjadi sesuatu antara penggemar ibu dan ibu?" Tanya Kiano yang penasaran.
"Urusanku dengan para penggemarku kau tidak perlu ikut campur" Ujar Lauren.
"Kalau kau menemui penggemar laki laki yang sangat menggilai diriku, jauhi saja mereka. Jangan pernah berbicara apapun dengan mereka dan juga jangan pernah katakan jika kau adalah anakku" Kata Lauren menambahkan.
"Kenapa aku harus menjauhi mereka, apakah itu ada hubungannya dengan sikap ibu padaku?" Tanya Kiano yang menatap Lauren dengan penuh curiga.
Lauren yang tidak bisa mengatakan apa apa lagi tentang itu langsung mengubah topik pembicaraan.
"Jika kau bertanya lagi maka aku akan pergi meninggalkanmu sendiri disini" Ujar Lauren mengancam Kiano.
"Tidak jangan pergi ibu, aku tidak akan bertanya lagi" Ujar Kiano sambil menggenggam tangan Lauren.
'Kalau ibu pergi darisini, kapan lagi aku bisa mendapat waktu berdua saja dengan ibu' Ujar Kiano dalam hatinya.
Lauren kembali duduk dan mengelus kepala Kiano lagi hingga dia benar benar merasa bahwa Kiano telah tertidur.
"Ki, maafkan ibu, ibu tidak bisa memberitau apapun padamu. Ibu benar benar tidak ingin kehilangan dirimu seperti ibu kehilangan ayahmu, ibu benar benar sangat takut. Ibu telah kehilangan ayahmu dan sekarang jika ibu kehilanganmu maka apa yang harus ibu lakukan" Ucap Lauren meneteskan air matanya, lalu Lauren mencium kening Kiano dan pergi darisana.
Beberapa saat setelah Lauren pergi Kiano membuka matanya, ternyata dia belum benar benar tertidur, dia memikirkan semua yang dikatakan ibunya barusan sambil menatap langit langit rumah sakit.
"Jika yang dikatakan ibu adalah sebuah kebenaran maka berarti ibu sangat sangat mencintai ayah bukan, aku juga pernah melihat ada surat nikah dirumahku yang dulu sebelum aku dibawa kekota ini, berarti aku ini bukanlah anak haram dan juga bukan anak dari hasil kesalahan ibu" Ujar Kiano.
"Ibu juga bilang dia tidak bisa memberitahuku karena tidak ingin kehilangan diriku, itu sudah cukup membuktikan bahwa dia sedang melindungiku dari seseorangkan, dan juga perkataannya yang tadi, dia tidak ingin kehilangan diriku seperti kehilangan ayah itu berarti ayah dibunuh dan ibu sedang melindungiku dari pembunuh itu" Ujar Kiano lagi.
"Jadi pertanyaannya sekarang siapa pembunuh itu? jika pembunuh itu ada disekitarku maka pasti ibu akan memperingatkanku untuk menjauh darinya" Ucap Kiano lalu dia berpikir dengan sangat keras.
Beberapa saat kemudian dia tiba tiba mengingat sesuatu dimasa lalunya.
"Oh ya aku ingat, dulu sebelum kami berdua pindah kekota ini ibu selalu memperingatkanku untuk menjauh dari para penggemar laki laki yang menggilainya dan sampai sekarang dia masih memperingatkanku akan hal itu, apakah pembunuh ayah adalah salah satu dari penggemar ibu?" Ucap Kiano bertanya tanya.
"Aku akan mendiskusikan in besok bersama dengan Sebastian" Ucap Kiano lalu kembali tidur.
........................................................
Keesokan harinya, Lauren tentu saja tidak berada disana melainkan yang berada disana adalah pelayannya dulu. Pagi hari itu polisi datang menghampiri Kiano untuk menanyai tentang kejadian yang terjadi kemarin pagi, Kiano menjawab semuanya dengan jujur dan santai, dia menjawab semuanya tanpa ada yang ditutup tutupi. Setelah selesai menyakan semua yang ingin diketahui polisi, polisi akhirnya pergi dari sana.
...........................................................
Jam telah menunjukkan jam 2 siang, seharusnya Aurel, Sebastian, dan Jessica sudah pulang. Tepat jam 2.30 mereka bertiga datang dan melihat disana ada seorang pelayan.
"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Aurel.
"Sudah lebih baik daripada sebelumnya" Jawab Kiano.
"Kau bisa pulang dan beristirahat lalu datang lagi nanti" Ujar Kiano pada pelayannya.
"Baik tuan muda" Jawab pelayannya lalu keluar meninggalkan ruangan itu.
"Siapa dia tadi?" Tanya Aurel.
"Dia adalah pelayannya" Jawab Sebastian.
"Ibu bilang dia akan datang jam 3 sore nanti, kau bisa bertemu dengannya nanti" Ujar Kiano.
"Kalian berdua bisakah kalian keluar, aku ingin membicarakan hal yang sangat sangat penting dengan Kiano" Ujar Sebastian meminta Aurel dan Jessica untuk keluar.
"Ya ampun padahal kita baru saja sampai malah langsung disuruh pergi" Jawab Jessica.
"Kalau itu memang penting bicarakan saja, kami berdua akan keluar" Ujar Aurel sambil menarik Jessica.
Setelah mereka berdua keluar, Sebastian ingin memulai pembicaraannya tapi Kiano menghentikannya dan menyuruhnya Sebatian untuk diam sejenak sambil melirik kearah pintu. Sebastian mengangguk mengerti dan berjalan mendekat kearah pintu lalu langsung membuka pintu itu. Aurel dan Jessica yang ternyata menguping didepan pintu langsung terjatuh.
"Kalian ini ya, bisakah kalian menghargai privasi kami" Ujar Sebastian sambil tersenyum mengerikan.
"Ya ya kami pergi" Ujar Jessica dan Aurel bersamaan, lalu meraka pergi dari sana. Setelah itu Sebastian menutup pintunya dan kembali menghampiri Kiano untuk membicarakan masalah rencana mereka kemarin.
"Jadi bagaiamana rencananya? berhasil?" Tanya Sebastian.
"Rencana itu hampir saja gagal kemarin tapi aku mendapat informasi sebelum ibu pergi meninggalkanku kemarin. Untung aku belum benar benar tertidur" Jawab Kiano.
"Jadi apa informasinya?" Tanya Sebastian lagi.
"Ibu pernah bilang kalau aku adalah anak haram hasil kesalahannya dari dirinya, tapi disaat terakhir dia bilang bahwa dia sangat takut kehilangan diriku seperti dia kehilangan ayah berarti sebelumnya dia juga takut kehilangan ayah itu menandakan bahwa ibu benar benar sangat mencintai ayah"
"Dulu dirumah lamaku sebelum aku pindah kekota ini aku pernah melihat ada surat nikah dan itu adalah miliki ayah dan ibu itu artinya aku bukanlah anak haram ataupun kesalahan"
"Lalu aku juga menduga bahwa ayahku itu telah tiada karena dibunuh oleh penggemar laki laki yang menggilai ibu dan sekarang ibu sedang melindungiku dari pembunuh yang sama yang telah membunuh ayah" Ujar Kiano.
'Dia sudah tau semuanya dalam sekali pergerakan, kemampuannya memang tidak bisa diragukan lagi' Ujar Sebastian dalam hati yang kagum dengan Kiano.
"Bagaimana bisa kau berasumsi begitu?" Tanya Sebastian.
"Karena sebelum pergi ibu bilang bahwa dia tidak ingin kehilangan diriku itu sudah membuktikan bahwa dia sedang melindungiku dan dia juga bilang bahwa dia tidak ingin kehilangan diriku seperti dia kehilangan ayah itu sudah dapat menyimpulkan bahwa ibu kehilangan ayah karena ayah dibunuh dan ibu tidak ingin kehilangan diriku juga dengan cara dibunuh maka dari itu dia melindungiku dengan cara menjauh dariku"
"Semua itu dia lakukan agar pembunuh itu mengira bahwa kami tidak memiliki hubungan apapun dan tidak mengincarku sama sekali dan sekarang aku tau kenapa ibu bertindak begitu kejam padaku" Ujar Kiano yang merasa bersalah karena telah membenci ibunya dulu tanpa mengetahui beban apa yang sedang ibunya tanggung selama ini.
"Aku memiliki pertanyaan lain lagi, bagaimana bisa kau menyimpulkan bahwa penggemar ibumu sendirilah yang membunuh ayahmu?" Tanya Sebastian lagi.
"Itu karena ibu selalu memperingatkanku mulai dari aku kecil untuk menghindari penggemar laki laki yang menggilai dirinya jadi aku menyimpulkan bahwa penggemarnyalah yang telah membunuh ayahku" Jawab Kiano.
"Pertanyaanku yang terakhir lagi, bagaimana bisa kita mencari pelaku yang membunuh ayahmu sedang penggemar ibumu itu tidak sedikit jumlahnya" Tanya Sebastian kepada Kiano.
(Informasi : Sebenarnya Sebastian sudah mengetahui semua itu karena Lauren menceritakan itu padanya dulu saat dia masih duduk dibangku SMP tapi hanya satu yang Sebastian tidak ketahui karena Lauren tidak memberitahunya tentang yang ini. Siapa yang membunuh ayah Kiano, bagaimana ciri ciri wajahnya, dan yang terakhir kenapa Lauren tidak melaporkannya kepolisi padahal orang itu telah membunuh suaminya.)