Part 3 - Melayang Dari Lantai Tiga

1051 Words
“Aaaaaaaaaa ….!” Bug! “Ah!” “Astaga, siapa itu?” Hanya dalam hitungan detik, Ganida yang selalu hening seketika langsung diramaikan oleh teriakan para pengunjung Ganida yang menyaksikan jatuhnya seseorang dari lantai tiga. Yasmin yang sedang membawa dress putih mematung di tempat. Di depannya telah terkapar tubuh wanita yang berlumuran darah. Aliran merah itu keluar dari setiap rongga kepalanya. Rambutnya yang panjang terlihat berantakan, high heels-nya terlempar tiga meter dari tempatnya. Perut wanita itu menabrak besi gantungan baju, hingga pakaian-pakaian yang tergantung luluh lantak berjatuhan di sekitar. “Apa yang sudah terjadi?” “Siapa dia? Bunuh diri?” Orang-orang berkerumun. Yasmin berjongkok di depan jasad wanita itu sembari melihat aliran darahnya yang tak kunjung henti. “Apakah dia masih hidup?” lirih Yasmin. “Mbak Eva!” Desis suara laki-laki yang kini berdiri di samping Yasmin. “Kamu kenal?” tanya Yasmin pada Bian. Bian mengangguk, “Dia salah satu pegawai di sini.” “Ada pegawai bunuh diri!” Seorang anak kecil 13 tahun berteriak, berkeliling mengitari lantai dasar Ganida. Dia meneriakkan kata yang sama berkali-kali, tetapi meski dimarahi dia tampak enggan mendengarnya. “Ada pembunuhan!” Seorang lelaki 45 tahunan berteriak. Kali ini orang-orang menatap pria berjas dan celana hitam itu. Dia menyalakan cerutu, lalu berbalik keluar Butik dan meneriakkan kata yang sama saat sampai di ambang pintu. “Ada pembunuhan. Butik ini tidak aman! Butik ini harus ditutup.” Orang-orang tak boleh mendekat. Pengeras suara mulai menyala. Yasmin sudah lemas luar biasa. Tubuhnya seakan tak bisa bangkit lagi menyaksikan manusia yang terjatuh dari lantai tiga di depannya. Wanita itu … apakah sudah mati? Sekujur tubuh Yasmin terasa bergetar. Dia tak pernah melihat kecelakaan dari dekat sebelumnya, tapi apa motif kecelakaan hari ini? Apakah bunuh diri seperti yang diteriakkan oleh anak kecil ataukah dibunuh seperti yang diteriakkan oleh lelaki yang menyalakan cerutu tadi? “Tes .. tes … selamat siang kepada setiap pengunjung bukit Ganida. Hari ini, tepat pukul 09.45, kami memberitahukan bahwa Ganida akan tutup untuk sementara. Kepada pengunjung diharapkan untuk segera pulang dan meninggalkan tempat. Semua pintu Ganida akan ditutup dalam lima menit ke depan. Atas kejadian hari ini, kami mohon maaf sebesar-besarnya.” Suara yang berada dari pengeras suara itu terdengar di seluruh ruangan. Dari lantai satu hingga lantai lima. Semua orang langsung berhamburan keluar, sementara para pegawai masih tetap berkumpul di lantai dasar. Pihak kepolisian dan ambulance sudah datang, jasad perempuan itu segera dilarikan ke rumah sakit terdekat. Darah masih mengotori lantai, belum ada yang berani menyentuhnya. “Siapa yang dekat dengan Eva?” Tiba-tiba Bu Melati datang sembari membawa tongkat. Wanita bertubuh gemuk itu berdiri tepat di belakang Yasmin mengenakan dress cokelat tua dan kacamata hitam. Bian menyentuh darah yang masih mengotori lantai dengan jari telunjuknya, lantas dia memperhatikan darah yang menempel di jarinya. “Besar kemungkinan ini adalah pembunuhan,” desis Bian. Suara bisik-bisik langsung terdengar. Banyak yang kontra dengan pernyataan Bian barusan, tetapi tak jarang yang mempercayainya juga. “Bian, Yasmin, masuk ke ruang saya. Untuk yang lain bersihkan semua kehancuran di sini. Ketika saya kembali keluar, saya tak mau melihat ada kekacauan sedikit pun. Buang semua barang-barang yang ternodai darah dan jangan ada yang berani pulang sebelum pukul lima. Dan terakhir, jangan pernah ada yang memegang ponselnya. Saya akan perhatikan kalian baik-baik. Jika ada yang melanggar, maka bayarannya adalah keluar dari Ganida!” jelasnya. Bu Melati langsung berbalik diikuti langkah Bian dan Yasmin yang masih kebingungan. Jujur saja, Yasmin merasa bahwa posisinya saat ini tidak berada pada titik aman. Dia tidak tahu apa yang akan Bu Melati lakukan padanya mengingat bahwa wanita tadi terjatuh tepat di depannya. “Kira-kira apa yang akan dikatakan Bu Melati pada kita?” bisik Yasmin pada Bian yang berjalan tenang di sebelahnya. “Siapa yang tahu. Kita dengar saja dulu.” Bian tersenyum. Setelah masuk ke ruangan Bu Melati, Yasmin dan Bian dipinta untuk di salah satu sofa yang berada di sana, sementara Bu Melati duduk di depan mereka sembari menyilangkan tangannya di depan d**a, menatap Yasmin dan Bian bergantian. “Di hari pertamamu bekerja di sini, Yasmin, kecelakaan terjadi tepat di depan mata. Saya tidak tahu apa penyebabnya, apakah Eva bunuh diri atau seseorang telah membunuhnya, tapi yang pasti kalian berdua harus bertanggungjawab atas kecelakaan itu,” tegas Bu Melati. “Bertanggungjawab?” Yasmin mengulang penegasan yang diucapkan Bu Melati. Dia hanya berusaha memastikan bahwa Bu Melati tidak salah berbicara. Tapi bukannya meralat ucapannya, Bu Melati malah mengangguk. “Kalian berdua sama-sama pegawai baru. Jadi, saya memberi tugas khusus pada kalian untuk menguak kebenaran kasus ini. Saya tidak mau jika Ganida mendapat rate buruk akibat dari kecelakaan hari ini. Saya tidak mau Ganida tutup hanya karena satu nyawa yang melayang hari ini. Ganida telah menghidupi banyak orang, dan bagaimana pun caranya saya akan mempertahankan Ganida bahkan jika dengan nyawa saya sendiri.” Yasmin menelan salivanya susah payah. Bu Melati meliriknya dengan tatapan tajam, “Jika kamu menolak, apakah kamu siap menjadi seseorang yang kami curigai?” Yasmin menggeleng cepat, “Baik, Bu. Saya akan menjalankan tugas ini.” “Bagus. Saya memberi waktu pada kalian paling lambat sebulan. Saya tidak mau tahu, kalian harus berhasil menemukan kebenaran ini.” Setelah selesai, Yasmin dan Bian kembali keluar. Perempuan itu mengembuskan napas lega setelah benar-benar telah terbebas dari ruangan bu Melati yang berhasil memberinya intimidasi. Dia menatap sekeliling yang sangat kosong. Ruang sebesar itu hanya diisi oleh pakaian-pakaian saja, seperti butik baru atau sebuah tempat yang sengaja ditinggalkan. Ganida benar-benar terlihat menyedihkan. “Riko mati!” “Riko! Nggak mungkin.” “Ada apa lagi?” Yasmin bertanya-tanya saat mendengar suara teriakan dari lantai bawah. “Ayo ke lantai dasar!” Bian langsung berlari, disusul langkah Yasmin keduanya langsung memasuki lift dan keluar di lantai dasar. Seorang laki-laki berseragam putih terlihat terkapar di dekat ruang ganti. Tangan kirinya masih memegang pisau, sementara bagian dadanya mengeluarkan darah yang mengalir begitu deras. “Riko,” desis Bian. Kali ini Yasmin teeduduk dan benar-benar tak bisa bangkit lagi. Lututnya benar-benar lemas menyaksikan dua kematian sekaligus di depan matanya dalam satu hari beruntun dan semuanya adalah pegawai Ganida. “Apa maksudnya? Kenapa? Kenapa harus ada yang mati lagi!” Tiba-tiba Yasmin berteriak. Para pegawai yang lain terlihat ketakutan. Belum selesai mereka membersihkan darah di depan, tapi korban sudah ada lagi. “Siapa pelakunya?” desisnya putus asa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD