“Siapa yang tadi bersama Riko?” tanya Bian pada orang-orang yang masih berdiri di sana.
Semua orang menggeleng. Bian berdecak. Dia mendekati jasad Riko dan menatap letak pisau yang dipegang oleh lelaki 35 tahunan itu. Dia tidak memegang pisau dengan tangan kanan. “Ini pembunuhan. Riko kidal, jika ini bunuh diri Riko nggak mungkin menusuk dadanya sendiri dengan tangan kanan. Seseorang telah membunuh Riko dan meninggalkan pisau di tangannya,” jelas Bian.
“Siapa pelakunya?” tanya seseorang.
Bian mengedikan bahunya, “Siapa yang bisa menduganya untuk sekarang. Tapi untuk kasus kedua, tolong jangan sampai diketahui oleh pihak dari luar. Bu Melati akan marah jika Ganida ditutup. Tentunya kalian tahu hal apa yang akan kalian dapatkan jika melanggar peraturan dari Bu Melati.”
“Tapi kita harus memberitahukan keluarganya,” sela Yasmin.
“Ya, aku akan mengurus itu,” jawab Bian cepat.
Yasmin berdiri saat beberapa pegawai lain mengurus jasad Riko. Dia berbalik dan berjalan menuju pintu luar. Pada kursi yang berada di dekat sana, Yasmin duduk. Dia melihat jam di ponselnya, tepat pukul 14.50. Kematian pertama berlangsung pukul 14.30. Kurang lebih selang dua puluh menit sang pelaku memberi jeda untuk merenggut satu nyawa ke nyawa lainnya. Yasmin memegang pelipisnya yang terasa kian pening. Waktu pulang masih cukup lama tapi rasanya hari ini begitu melelahkan. Dia berjalan ke arah pintu keluar lalu melangkah menuju kafetaria yang berada tak jauh dari Ganida.
Ia memesan segelas cokelat dingin dan kue tart, lalu duduk di meja ujung sembari memperhatikan jalanan dengan tatapan kosong. “Ah, kayaknya gue salah jalan,” keluhnya.
Tak lama dari itu seorang pramusaji datang membawa pesanan miliknya. Yasmin menyedot Cappucino yang sedikit mengubah mood-nya menjadi lebih baik. Dia menatap bangunan Ganida di depannya yang saat ini terpaksa tutup. Mobil-mobil yang membawa pewarta mulai berdatangan dan mencoba menerobos Ganida yang telah diberi batas oleh pihak kepolisian Beberapa dari mereka mengetuk-ngetuk kaca. Dari seberang Yasmin hanya mampu mengembuskan napas sembari menonton apa yang akan mereka lakukan. Kali ini dia sangat yakin bahwa Bu Melati tidak akan keluar dari butik sampai sore nanti.
“Siapa yang membunuhnya?” tanya seseorang tiba-tiba.
Yasmin terkejut. Dia melihat pria yang sedang menyalakan cerutu, baru saja duduk di kursi depannya. Pria itu memandang ke arah Ganida, lalu mengambil teropong dan mulai meneropong bangunan di depan sana. “Sangat aneh. Butik itu harus ditutup,” gumamnya.
“Kenapa harus Anda yang menentukan?” tanya Yasmin sinis.
“Sudah berapa kali terjadi kematian di tempat itu. Benar-benar mengerikan. Tidak ada yang mencaritahu apa yang terjadi dan siapa pemiliknya. Orang-orang yang bekerja di sana otomatis menjadi pengecut dan tidak berani memberikan perlawanan. Pada akhirnya para pecundang akan masuk pada kuburannya sendiri,” jelasnya sembari menaruh teropong di atas meja.
“Kecelakaan selalu terjadi di mana pun tempatnya. Ketika bus kecelakaan dan menewaskan banyak korban, pemiliknya tidak harus menutup perusahaannya. Ketika pesawat jatuh dan semua penumpang mati, tidak menjadikan perusahaannya harus berhenti beroperasi. Kecelakaan akan selalu ada di mana pun, jadi terlalu buru-buru jika Anda mengatakan bahwa Ganida harus ditutup,” cetus Yasmin dengan suara yang meninggi.
“Kecelakaan dan kesengajaan itu sangat berbeda,” lirihnya.
“Apa maksud Anda?”
“Butik itu telah memakan banyak nyawa. Setiap 13 tahun sekali selalu ada pembunuhan yang menewaskan banyak pegawainya. Sayang sekali kamu tidak mengetahui pengetahuan dasar itu.” Kulitnya yang keriput mengambil menu. Dia tampak membacanya, “jika kamu enggan menghentikan, hal-hal mengerikan itu akan berlanjut. Tidak mustahil bahwa sore nanti giliran kamu yang terbunuh.”
Yasmin menelan saliva miliknya. Dia langsung menyedot Cappucino-nya hingga tandas. Sesaat, dia mengalihkan pandangannya ke arah bangunan di depan. Kali ini makin banyak wartawan yang berdatangan dan memenuhi luar Ganida. Sial. Bahkan dia tak bisa kembali ke Ganida untuk saat ini karena orang-orang di sana pasti akan memanfaatkannya untuk menggali berita.
“Bagaimana jika saya berteriak ke arah mereka bahwa di sini ada pegawai dari Ganida yang dapat memberikan informasi lebih banyak?” Lelaki itu menatap Yasmin, lalu beralih menatap wartawan yang mulai berdesak-desakan di sekitar butik Ganida.
“Kenapa Anda begitu peduli?” tanya Yasmin dengan tatapan sinis.
“Tentunya demi kebaikan pegawai-pegawai di sana.”
“Tidak ada hubungan dengan saya.”
“Sepertinya kamu masih baru. Nada bicaramu terdengar begitu angkuh,” kritiknya.
“Tergantung siapa lawan bicaranya.” Yasmin menyedot cappucino-nya hingga tandas, lantas dia langsung pergi dan berjalan ke jalan kecil samping gedung butik. Sepertinya dia harus kembali sebelum sore ketika para pegawai pulang. Melalui pintu belakang yang tidak diketahui oleh wartawan-wartawan itu, dia akhirnya berhasil masuk dan kembali ke dalam, kembali menemui ketakutan.
“Kamu abis dari mana?” tanya Bian yang baru saja keluar dari gudang.
“Ngopi bentar. Kamu mau ke mana? Bukannya belum jadwal pulang?” tanya Yasmin ketika menyadari bahwa Bian sudah berganti pakaian dan membawa tas kecilnya.
“Sekarang udah jadwal gue pulang. Di depan masih banyak wartawan?” tanyanya sembari memakai kacamata dan menutupi rambut pirangnya dengan topi jaket.
Yasmin mengangguk, “Bertambah banyak malahan.”
“Ah sialan, apakah cuma Ganida sumber uang mereka?” Bian mengeluh.
“Bagaimana keadaan di dalam?” tanya Yasmin.
“Udah mendingan. Sebagian udah pulang juga. Mungkin tinggal Bu Melati dan beberapa pekerja bagian gudang yang belum balik. Sebaiknya kalau kamu mau pulang sekarang saja. Besok Ganida tetap buka seperti biasa,” ujar Bian. Kali ini dia mengambil kartu dari saku, lalu barcode-nya di-scan sebagai daftar pegawai yang pulang.
“Tapi wartawan di depan?” Yasmin kebingungan. Pasalnya dia sangat yakin bahwa mereka akan kembali besok jika hari ini tak bisa menemui Bu Melati.
“Bu Melati udah menuntaskan semuanya. Nggak perlu dibuat pusing. Besok akan kembali seperti semula.” Bian berkata dengan suara penuh keyakinan. Setelah kembali memasukkan kartu ke dalam saku, dia langsung keluar dan pulang.
“Ah, bukannya terlalu buru-buru jika besok Ganida buka?” Yasmin berjalan ke kamar ganti khusus pegawai perempuan. Di sana ada beberapa pegawai yang sedang mengganti pakaian kerjanya dengan pakaian sehari-hari. Yasmin berjalan ke arah loker miliknya yang berada di ujung, lantas dia membukanya setelah memutuskan untuk pulang sekarang.
Setelah pintu terbuka, kedua matanya terbelalak menatap kertas yang menempel di pintu bagian dalam miliknya. ‘Selanjutnya siapa?’ tulisan itu ditulis menggunakan darah. Dia mundur beberapa langkah saat rasa takut mulai menyergap. Jantungnya berdetak begitu kencang.
“Yasmin, ada apa?” Salah seorang dari pegawai bertanya.
Yasmin menoleh, dia langsung menutup pintu lokernya. “Ah, enggak papa.” Dia tersenyum menutupi ketakutannya. Siapa yang telah menaruh tulisan itu? Siapa yang telah berhasil membuatnya takut seperti ini?