Setelah berganti pakaian, Yasmin langsung keluar setelah mencangklong tas putihnya. Pada tangan kanan, ia genggam surat yang tadi berada di loker miliknya. Padahal loker terkunci, lantas siapa pelaku yang memiliki kunci duplikatnya. Di sepanjang jalan menuju kontrakan, dia mencari pembakaran atau seseorang yang sedang membakar sampah, dia akan membakarnya saja daripada harus disimpan dan membuatnya tambah takut.
Namun, ketika hendak berbelok ke gang kecil menuju jalan setapak yang mengarah pada kontrakan miliknya, Yasmin melihat seorang lelaki paruh baya tergeletak di depan gang. Perempuan itu mematung di tempat. Tangan yang hendak meraih pundak lelaki itu memastikan apakah ia masih hidup, tertahan oleh tangan seseorang dari belakang. “Dia kenapa?” tanya Bian yang entah sejak kapan berada di belakang Yasmin.
Yasmin menggeleng, “Entahlah, gue baru sampai sini,” jawabnya.
“Nggak ada CCTV?” Bian menyapukan pandangannya ke setiap sudut gang, tapi sepertinya dia tak mendapati satu pun. “Sial, kita harus cepat telepon ambulan,” ujar Bian.
Yasmin mengangguk. Dia langsung menghubungi nomor ambulans terdekat, dan setelahnya dia dan Bian menunggu di sana. “Dia salah satu pegawai Ganida,” desis Bian.
Kali ini Yasmin melihat wajah Bian terlihat sangat murung. Lelaki itu duduk berjongkok di depan tubuh pria yang tengkurap itu. “Namanya Maherra. Dia yang mengajak gue buat kerja di Ganida sementara gue masih mengincar perusahaan Hakta. Tapi, kenapa sekarang Maherra menjadi seperti ini? Kenapa harus Maherra yang dijadikan korban selanjutnya. Mau berapa orang lagi?” Terdengar kemarahan dan kekecewaan dari suara Bian.
Lelaki itu ... andai sendirian, mungkin ia menangis. Yasmin turut berdukacita dan dia pun ingin sekali menemukan akar di balik pembunuhan ini. Jika dia tak bergerak cepat semuanya akan menjadi korban, termasuk dirinya dan Bian. Semua orang akan mati.
“Ganida kembali mengambil nyawa, sialan!” Seorang laki-laki berteriak.
Yasmin dan Bian menoleh bersamaan. Mereka mendapati laki-laki yang sedang menyalakan cerutu, duduk di salah satu rumah yang tak jauh dari tempat kejadian. “Tutup tempat laknat itu. Tutup gedung yang telah diisi setan itu. Ganida melenyapkan banyak nyawa. Semua orang akan mati. Semua orang akan mati menjadi tumbal Ganida!” Lelaki itu kembali berteriak.
Yasmin membuang pandangan dari pria itu. Lagi-lagi dia yang hobi berteriak tak karuan.
“Hei, Pak, sejak kapan Anda di situ?” tanya Bian dengan suara lantang.
“Sejak tiga belas tahun lalu, saat Ganida membunuh banyak nyawa! Tempat laknat itu harus dibakar we dilenyapkan. Lagi-lagi dibuka. Orang kaya selalu bersikap seenaknya!” Pria itu menggerutu. Dia membuang cerutu miliknya, lantas mengambil ranting mangga yang berada di depan kakinya. “Dia membunuh anak saya. Lain kali saya akan membunuh pemilik Ganida jika dia tak mau menutup tempat sial ini.” Pria itu menudingkan kayunya ke depan. Tampak sekali ada kemarahan yang tersirat pada wajahnya yang telah berkerut.
Yasmin mengembuskan napas keras. “Menurut lo, Bian, apakah Bu Melati terlibat dalam kekacauan ini?” tanya Yasmin dengan suara yang terdengar ragu. Takut-takut jika ternyata pertanyaannya salah.
“Jika Bu Melati tak pernah membuka Ganida, kekecauan ini tak akan terjadi, kan? Akar permasalahan ini berada pada kendali. Tapi menuduh Bu Melati, tak ada artinya. Seperti kebanyakan orang, Bu Melati hanyalah seseorang yang menggerakkan perusahaan. Dan setiap dari pergerakan selalu ada konsekuensi. Gue berani taruhan jika kasus ini tak akan membuat Bu Melati mundur. Bagaimana pun, dia akan tetap mempertahankan semuanya. Dan dia nggak salah,” jawab Bian.
Yasmin mengangguk-angguk mengerti. Selang beberapa menit ambulans datang. Petugas membawa lelaki itu pada rumah sakit terdekat. Namun, Yasmin terkejut saat mendapati sebuah kertas yang terjatuh dari balik saku pria tadi. Kertas itu ... bertulisan kata yang sama dengan surat yang Yasmin dapatkan di lokernya. ‘Selanjutnya, siapa?’. Tubuh Yasmin bergetar. Dia mundur beberapa langkah. Bagaimana jika setelah ini kematian menimpa dirinya?
“Yasmin, ada apa?” tanya Bian. “Kita harus cepat-cepat kembali ke rumah. Menurut gue di luar pun bahaya karena pembunuhan terhadap pegawai Ganida bukan hanya dilakukan di gedung saja, tapi di luar seperti ini juga.” Bian mengingatkan.
“Gue mendapat surat yang sama dengan Maherra.” Yasmin mengeluarkan kertas miliknya dari saku dan melihatkannya pada Bian.
“Gue juga. Di loker. Seseorang menaruhnya.” Pemuda itu merogoh saku hoodie-nya, lalu memperlihatkan kertas yang sama pada Yasmin. “Hari ini berapa orang yang mendapat teror seperti ini?” tanyanya.
“Itu artinya ...”
“Belum tentu juga. Hati-hati saja. Gue yakin untuk sementara kita masih bisa menghindarinya entah dengan cara apa pun. Asalkan lo percaya sama diri lo sendiri.” Bian menasihati. “Gue harus pulang untuk mengabarkan orang tua Maherra. Sampai jumpa besok, di hari pertama penyelidikan kita.”
Bian langsung pergi, sementara Yasmin masih terdiam di sana. Untuk menginjakkan kaki di kontrakan pun rasanya takut menghadapi banyak kemungkinan yang bisa terjadi. “Lagian kenapa tepat sekali. Saat Bu Melati meminta gue dan Bian untuk menyelidiki kasus ini, gue dan Bian malah mendapatkan surat yang sama. Ini benar-benar mengerikan. Seakan orang itu selalu paham setiap pergerakan kami,” desis Yasmin. Setelah beberapa menit kemudian, dia langsung berdiri dan berjalan pelan menuju kontrakan yang berada tak jauh dari jalan setapak.
Bangunan kecil yang memiliki tiga kamar dan dua kamar mandi itu diisi oleh empat perempuan yang nahasnya tiga dari mereka jarang pulang. Sama-sama bekerja, bedanya Yasmin mengambil tempat kerja terdekat, sementara ketiga teman satu kontrakannya bekerja di tempat lain dan baru akan pulang pukul 23.00 nanti. Setelah tiga menit berjalan kaki, Yasmin sampai di depan bangunan kuning minimalis. Sebelah kanan kontrakan merupakan tanah kosong, sementara sebelah kiri tempat pembakaran batu bata. Dia melepas sepatu, lalu masuk ke kamarnya.
Ketika dia baru saja menaruh tas di meja, sebuah suara benda jatuh terdengar dari luar. Yasmin terdiam, lalu dia membuka pintu kamar memastikan bahwa mungkin suara tadi merupakan ulah temannya yang pulang lebih cepat. Dia berjalan ke depan, tetapi tak ada siapa pun di sana. Jalanan depan pun sepi.
“Hei, ternyata tempatmu di sini?” tanya sebuah suara.
Yasmin menoleh. Dia mendapati seorang perempuan berambut panjang serta berkulit putih tersenyum ke arahnya. “Salam kenal, aku Miwa. Sama sepertimu, aku pun bekerja di Ganida.”
“Ah ya. Salam kenal juga, namaku Yasmin.”
“Untunglah kamu masih hidup. Jangan sekali-kali melanggar peraturan jika kamu masih memiliki harapan panjang. Kita berada pada waktu di mana seseorang akan kembali berjatuhan. Selamat sore, dan sampai jumpa lagi, Yasmin. Senang bisa mengetahui tempatmu.” Dia tersenyum, lantas berjalan ke utara meninggalkan Yasmin yang masih memperhatikan bahu perempuan itu yang perlahan menjauh.
Seseorang akan kembali berjatuhan?