Selvy masih kesal dengan kejadian tadi, dirinya tidak terima di tuduh sembarangan.
Adrian beberapa kali menelfon dan mengirimkan pesan padanya tapi Selvy gak peduli, dirinya terlanjur marah dengan adik tiri Adrian yang entah namanya siapa, Selvy gak tau.
Yang Selvy tau dia ABG gila, bahkan little bicth cocok sebagai nama panggilannya menurut Selvy.
Selvy baru saja hendak memejamkan matanya.
Brukk....
Brukk....
"Apa itu??"gumam Selvy langsung bangkit dari tempat tidur dan membuka sedikit celah gordennya mengintip apa yang sedang terjadi di luar.
"Jangan pernah kembali....!!!"
Itu yang terdengar jelas oleh Selvy. Entah suara siapa, Selvy tak tau.
Selvy terus mengintip namun tak bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi dan tak lama terdengar suara deru motor Jean menjauh.
"Ahhh sudahlah. Masa bodo."Selvy kembali merebahkan tubuhnya di ranjang dan memejamkan matanya.
______________
Pagi hari Selvy siap berangkat ke kantor. Saat membuka pintu, ternyata Adrian sudah berdiri di depan pintu. Entah sejak kapan Adrian ada di sana, Selvy gak mau tau.
"Sel maaf."Adrian menyodorkan bucket bunga mawar pink untuk Selvy.
"Loe nyogok gue pake bunga?"Selvy menaikkan sebelah alisnya.
"Gue benar-benar minta maaf atas kesalahan adik gue."
"Sorry maaf loe gue tolak. Loe tau? Gue gak doyan bunga ginian. Loe kata gue setan makan bunga,"ucap Selvy.
Adrian tersenyum kecil. Adrian melupakan satu hal. Harusnya dia memberikan bucket uang untuk Selvy. Pasti Selvy akan langsung memaafkannya.
"Harusnya gue bawa bucket uang benarkan?" Goda Adrian.
"Ahh ternyata loe pintar, jadi pergilah. Jika loe mau kembali meminta maaf, bawa bucket uang kemari."Selvy berjalan melewati Adrian.
"Tentu sel."Adrian tertawa dan berjalan mengikuti Selvy.
Selvy memang cewek matrialistis, Adrian sangat tau itu. Tapi entah mengapa, Adrian sangat menyukai Selvy.
Di tempat lain, Jean buru-buru berangkat ke sekolah.
"Kenapa gue selalu telat."Gerutu Jean sambil berjalan terburu-buru mengejar waktu.
Bagaimana gak telat? Jean sangat sulit buat bangun. Teriakkan alarm yang ia nyalakan tidak berguna sama sekali.
Jean akan bangun untuk mematikkan alarm tersebut kemudian tidur kembali.
"Anak teladan."Sinis Pak Burhan.
"Terima kasih pak,"jawab Jean menyeka keringatnya.
"Lari se-ka-rang....!!!!"triak pak burhan menggelar.
"Dari tadi juga sudah lari-lari pak. Apa bapak gak bisa liat keringat saya sampai banjir gini, lihat nih."Jean memperlihatkan keteknya yang basah.
"Jean Rahman."Kesal pak Burhan melotot sampai bola matanya terlihat hampir keluar.
"Siap pak."Jean langsung ngacir lari mengelilingi lapangan sebelum di telan hidup-hidup oleh pak Burhan.
Selena melihat Jean yang sedang berlari mengelilingi lapangan. Mata Selena terasa memanas. Ia tidak terima di putusin begitu saja oleh Jean.
Selena sangat mencintai Jean dan Selena akan melakukan apa saja demi mendapatkan Jean.
"Je...."Selena menyodorkan handuk kecil untuk Jean yang sedang istirahat di bawah pohon setelah menyelesaikan hukumannya.
"Gue gak butuh handuk loe."Jean mengambil handuk miliknya sendiri dari dalam tasnya.
"Minum."Selena kali ini menyodorkan air mineral untuk Jean.
"Gue gak butuh, ingat GAK BUTUH."Ketus Jean.
"Apa salahnya? Gue hanya mencoba menjadi pacar yang perhatian,"balas Selena mencoba peruntungan mendekati Jean kembali.
"Pergi."usir Jean.
"Udah lebih baik mending loe pergi."Aldo membawa dua botol air mineral dingin di tangan dan memberikannya kepada Jean.
"Jangan ikut campur."Selena menatap Aldo tak suka.
"Loe terlihat murahan dan menjijikkan jika seperti itu,"cibir Aldo.
"Berani sekali loe."Geram Selena hendak menampar Aldo namun dengan sigap, Aldo menangkap tangan Selena.
"Jangan sok suci loe, gue tau semua tentang loe. Kalau loe kesepian call me."Aldo menyentakkan tangan Selena kasar sehingga selena terhuyung ke belakang.
Jean sendiri tak peduli sambil menikmati minuman dingin yang menyegarkan tenggorokannya.
"Gue bakal buat perhitungan dengan tante ganjen itu."Ancam Selena.
"Silahkan saja kalau loe bisa lawan dia,"balasJjean tersenyum miring.
"Kita lihat aja."Selena menghentakkan kakinya kesal dan berlalu pergi.
Sedangkan jean dan Aldo mengedikan bahunya acuh.
___________
Jam menunjukkan pukul setengah delapan malam.
Jean mondar-mandir kebingungan, ia hendak pulang ke rumah namun ia malas bertemu dengan papahnya.
Semalam Jean dan papahnya ribut besar dan berujung pengusiran.
Dan di sinilahJjean sekarang. Jongkok di bawah pohon tanpa tau apa yang harus dilakukannya.
Setelah sekian lama melamun, otak cemerlang Jean mulai bersinar. Jean bangkit dan bergegas menuju rumah si mbak.
Tok..tok...tok...
Jean mengetuk-ngetuk kaca jendela kamar Selvy.
Tok...tok..tok...
Jean mengulanginya beberapa kali.
Selvy yang baru saja selesai mandi, berjalan perlahan mendekati jendela.
Selvy tidak langsung membukanya karena takut. Tapi lagi-lagi terdengar ketukan dari luar akhirnya dengan mengumpulkan keberaniannya Selvy membuka kaca jendelanya.
"Mba."Muncul wajah Jean mendadak yang mengejutkan Selvy.
"Astaga."Selvy terlonjak kaget.
Baru saja Selvy akan bersuara untuk memarahi Jean namun semua amarahnya tertelan begitu saja setelah melihat muka melas Jean yang sedang memegangi perutnya.
"Ada apa?"tanya Selvy
"Gue laper mba,"jawabJjean polos.
"Minta saja sama mama loe."Selvy hendak menutup jendelanya kembali karena udara cukup dingin sebentar lagi sepertinya akan turun hujan.
Namun Jean malah melompat masuk ke dalam kamar Selvy.
"Heh....apa yang loe lakuin..!!"seru Selvy mendorong Jean untuk keluar dari kamarnya.
"Ayolah mba gue benar-benar lapar."Jean masuk begitu saja mencari dapur milik Selvy tanpa permisi.
Sedangkan Selvy akhirnya mengikuti Jean dan melihat apa yang akan di lakukan berondong kampret ini.
Jean tanpa basa-basi seolah rumahnya sendiri dan dengan leluasa menggunakan dapur Selvy untuk memasak nasi goreng.
"Loe mau gak mbak?"tanya Jean tanpa melihat ke arah Selvy yang sudah berkacak pinggang dan siap meledak dari tadi.
"Gue udah buat dua."sambung Jean menyiapkan dua porsi nasi goreng dan membawanya ke meja makan.
Selvy masih diam pada posisinya tak bergerak sama sekali.
"Ayo mba makan."Jean menarik tangan Selvy untuk duduk kemudian Jean ikut duduk dan segera melahap nasi goreng buatannya sendiri. Jean sungguh benar-benar lapar.
Selvy melihat Jean yang sangat lahap membuat Selvy menelan ludahnya sendiri.
"Ini sangat lezat. Ayo coba."Jean menyuapi Selvy.
"Buka mulutnya."Selvy seperti orang bodoh mengikuti perintah Jean.
"Bagaimana?"tanya Jean antusias menunggu penilaian Selvy tentang nasi goreng buatannya.
Selvy mengangguk kecil dan mulai memakan sendiri nasi goreng buatan Jean. Rasanya benar-benar enak, Selvy sampai melupakan dietnya.
Jean tersenyum senang melihat Selvy menyukai nasi goreng buatannya.
Dan Jean mulai berceloteh riang yang membuat Selvy tertawa.
Sungguh makan malam yang sangat menyenangkan bagi Selvy.
Sesuatu yang hangat menjalar pada hati Selvy, kehangatan yang ia rindukan.