4

2445 Words
Ugh! b******k! Hari ini aku gak bisa ngantar Dya ke sekolah lagi. Soalnya, mobil Dya udah balik dari bengkel. Kesal banget sih, tapi apa boleh buat, lagian aku sekarang sibuk banget sama ujian mid semester. Sejujurnya aku lebih suka masuk teknik mesin daripada kedokteran. Tapi karena satu dan banyak alasan aku gak jadi masuk teknik mesin. Lagian aku udah berjanji padanya bahwa aku akan masuk kedokteran dan menjadi seorang dokter yang hebat. Aku gak mau mengecewakannya. Mungkin, satu-satunya orang yang paling gak ingin aku lihat airmatanya ya cuma dia... Sama seperti nasib tato di punggungku ini. Aku buat tato seperti ini karena dia memintaku agar membuat tato. Bahkan saat itu dia memintanya sampai menangis, mana tahan aku liat air matanya. Padahal dia cuma nonton film apa gitu yang cowoknya punya tato kayak gini, eh malah aku yang diminta buat tato. Dan aku pun membuat tato seperti yang dia minta, bahkan orang yang mentatoku adalah orang yang sama dengan orang yang mentato aktor itu. Tapi sayang, saat aku kembali untuk memperlihatkan tato ini, semuanya udah terlambat. Coba kalau aku kembali lebih awal. Mungkin semuanya gak akan seperti ini. Yang paling buat aku kesal hari ini adalah, saat ini, teman Dya datang berkunjung ke rumah. Gak masalah kalau temannya itu cewek, tapi masalah besar buatku karena yang datang saat ini cowok! Kalau aku gak salah namanya Radith. Mereka ngobrol asyik sekali di ruang tamu. Sumpah! Pingin banget aku marah, tapi gimana, aku gak punya hak apa-apa buat marah. Oke, sebut aku penguntit, orang gila, pengecut, atau apapun. Bahkan aku ingin sekali mengamuk saat ponselku berdering_catat: ponsel Dya yang kini menjadi milikku. She can't keep a secret For more than an hour She runs on 100 proof attitude power And the more she ignores me The more I adore her What can I do? I'd do anything for her Cause she's bittersweet She knocks me off of my feet And I can't help myself I don't want anyone else She's a mystery She's too much for me But I keep comin' back for more She's just the girl I'm lookin' for “Hallo?” Sapaku dingin, enggan bicara dengan siapapun yang menelepon. Bahkan aku tidak melihat nama siapa yang tertera dilayar sampai sebuah suara merdu menyapaku balik. “Oh Ily. Ada apa, Ly? HA?! Sekarang? Yang bener lu!? Mampus gw! Jam berapa? Oke oke, gw kesana sekarang. Absenin gw dulu yah. Oke bos, gw langsung berangkat sekarang kok. Thank’s ya guys.” Ujarku mengakhiri pembicaraan di telepon. Sumpah, aku sama sekali gak tau kalau hari ini ada mid sama si Jono. Mati aku. Bakalan dapat nilai E nih. Untung tadi Ily nelpon ngasi tau kalau hari ini ada mid. Coba kalau enggak. Gak bisa aku bayangin bakal dapat nilai apa dari si Jono. Ku ambil kemeja putih dari lemari, lalu kuganti jins yang kupakai dengan celana bahan hitam. Aku memang cukup bandel di kampus, tapi aku masih tahu siapa dosen yang bisa dikelabui dan siapa yang tidak. Memakai jeans saat Jono masuk sama saja dengan cari mati. Kuraih ranselku di meja belajar dan secepat mungkin menuruni tangga. Dua anak tangga sekaligus. Saat melewati ruang tamu, Dya memanggilku. “Mau kemana, Yo? Kok buru-buru?” Tanya Dya ramah. Agh... Pasti karena ada tamu dia jadi ramah gitu. Kalau gak, jangan harap deh. “Kampus.” Sahutku tanpa memandangnya dan terus berjalan ke mobilku_yang untungnya udah ada di luar. Aku memasuki mobilku dan mengemudi secepat yang aku bisa, tapi tetap aja aku gak bisa pakai turbo. Masalahnya sekarang tuh jalanan ramai banget dan ini masih siang. Minta dikejar polisi apa berani pake turbo di jalan protokol? Gak lama kemudian aku sampai di kampus. Kulihat Ily sedang duduk sambil membaca novel di bawah pohon rindang di dekat parkiran. Dia sama sekali gak mengenakan baju itam-putih untuk ujian. Hari itu dia terlihat keren dengan celana jeans dan jaket baseball biru putih. Ily dan kata keren memang tidak bisa dipisahkan walaupun dia perempuan. Aku langsung mendatanginya. “Udah selesai mid-nya?” Tanyaku cepat saat kukira Ily sudah bisa mendengar suaraku. “Cepet banget, Om?” Ucap Ily takjub tanpa menjawab pertanyaanku. “Jawab dong, Ly.” Desakku “Oke oke. Gini, sebelumnya maafin gw dulu karena sebenarnya hari ini sama sekali gak ada mid. Oh tunggu dulu, denger dulu penjelasan gw. Gw ngelakuin hal ini karena, gw kesel sama seseorang yang udah hampir 9 tahun kenal gw, tapi sama sekali gak ada ngucapin selamat ulang tahun buat gw hari ini. Entah dia lupa, atau memang benar-benar gak ada perhatian sama gw. Jadi gw kerjain aja dia. Itung-itung mau ngajak dia jalan, itupun kalau dia mau.” Jelas Ily cepat. Seketika itu juga aku tahu kalau orang yang Ily maksud adalah aku. “Lu nyindir gw, ha?” Tanyaku pura-pura marah. Demi Tuhan, aku tidak pernah bisa marah pada Ily. Dia sahabatku, orang yang tahu bagaimana aku luar dalam. Dan memang tidak ada orang yang bisa marah di hadapan wajah manisnya itu. “Gak ah, siapa yang nyindir lu? Lu nya aja yang ge er. Kan udah gw bilang, kalau itu tuh cerita buat temen gw.” Tanpa bisa kucegah tawa langsung meluncur keluar dari mulutku, membuat Pak Erizal, satpam kampus langsung keluar dari tempat persemediannya dan menatapku bingung. “Hahahahaha... Maaf, Pak.” Seruku sambil melambaikan tangan pada Pak Erizal. “Lu emang kurang ajar, Ly... Tapi gak pa-pa lah, toh ini hari ulang tahun lu, jadi gw juga itung-itung ngasi kado buat lu. Dan sebelumnya, gw minta maaf. Lu kan tau sendiri kalau gw gak pernah ingat tanggal ulang tahun orang, ulang tahun gw aja gw sering lupa. Gw kan nyimpan semua tanggal ulang tahun di hp, nah baru-baru ini hp gw kan ilang, terus gw beli baru. Yang baru dipakai Dya, hp Dya buat gw. Lu pikir sendiri deh apa maksud gw ngomong kayak gini. So, kita mau kemana nih?” Tanyaku akhirnya. “Yang jelas kita pergi makan dulu. Sumpah, gw laper banget. Dari tadi malem gw belum ada makan.” “Calon dokter gak bisa ngatur diri sendiri. Mana ada yang mau jadi pasien lu besok. Okelah, kita berangkat sekarang. Tapi ingat, semua biaya hari ini, lu yang bayar. Itung-itung lu nebus dosa gara-gara udah ganggu jam tidur gw.” “Tenang, Om. Masalah biaya bisa diatur kok. Yang masih buat gw bingung, kita perginya naik apa?” Tanya Ily sok polos. Padahal dia tau kalau mobil aku tuh paling anti bawa orang lain. “Ya pake motor lu, dong. Lu kan tau kalo mobil gw anti banget bawa penumpang.” “Apa salahnya sih sekali-kali lu bawa gw naik mobil lu? Itung-itung hukuman buat lu karena udah lupa sama ulang tahun gw.” “Sorry banget. Lu tau sendiri kalau itu gak bisa gw kabulkan.” “Okelah. Berangkat sekarang ni ceritanya?” “Terserah.. Habis lebaran haji juga gak pa-pa.” “Ya udah, berangkat sekarang aja, yang jelas tujuan pertama kita sekarang tempat makan, gw laper banget.” “Terserah lu mau kemana, gw nurut aja, lagian semua biaya yang keluar hari ini kan elu yang nanggung.” “Elu kan emang paling suka yang gratisan.” “Ah udahlah, kapan berangkatnya nih? Ngomong-ngomong motor lu dimana?” “Tuh, dekat fotokopian kampus.” Akhirnya kami pergi ke sebuah cafe di pinggir jalan yang cukup sering ku datangi bersama anak-anak drag race. Berhubung Ily juga cukup dekat dengan anak-anak di basecamp, jadi dia juga cukup sering kesini. Resiko pertama aku datang kesini gak lain gak bukan adalah aku dan Ily akan benar-benar disangka sedang menjalin hubungan yang lebih dari teman, karena kami memang sangat dekat. Apalagi waktu aku baru pertama masuk kuliah, aku bertemu Ily di kelas yang sama, setelah kelas berakhir, entah kesambet jin iprit dari mana tuh anak, dia langsung ‘nembak’ aku di depan ruangan. Of course kami jadi tontonan anak satu kampus. Salah aku juga sih gak langsung nolak Ily saat itu juga, tapi seandainya itu kulakukan, Ily pasti malu banget. Dan gara-gara aku nolak Ily lewat telepon, anak-anak satu kampus gak ada yang tau kalau aku nolak Ily, mereka menyangka aku menerima Ily. Tau kan? Resiko kedua yang harus kuhadapi datang ke cafe ini adalah anak-anak drag race yang kularang datang ke basecamp_menjadikan kafe ini sebagai tempat nongkrong cadangan mereka_langsung menyerbuku untuk menanyakan jadwal pasti pertandingan perebutan posisi pimpinan drag race_yang sejak aku kembali ke Indonesia, aku yang memegang posisi itu. Aku sebenarnya dengan sukarela mau memberikan posisi itu pada orang lain, siapa aja yang mau, soalnya bukannya enak megang tuh posisi, harus hati-hati keluar bawa mobil, kalau enggak, bisa-bisa kena jaring polisi setempat. Tapi di kasih gratisan gak ada yang mau. Jadi, aku heran banget liat orang-orang pada mau tanding mengorbankan apapun untuk mendapatkan posisi itu. Setelah selesai makan siang dengan diserbu berbagai pertanyaan dan pernyataan, kami langsung cabut ke mall terdekat. Disana aku membelikan Ily sebuah kalung platinum dengan liontin jam pasir mini sebagai hadiah ulang tahunnya. Ily terlihat senang sekali menerima pemberianku itu. padahal harganya gak seberapa. Dari mall Ily mengajakku untuk clubbing sebentar, padahal dia gak ahli banget yang namanya minum minuman keras. Berhubung ini hari ulang tahun dia, ya udah, sebagai sahabat, aku cuma bisa menemaninya aja. Gak lama kami berada di club karena Ily mabuk sampai muntah-muntah setelah minum seteguk Liquor yang kandungan alkoholnya hanya 24%. Dan aku gak mungkin mengantar Ily pulang dengan keadaan mabuk, apa kata orang rumahnya? Tapi aku juga gak mungkin membawa Ily pulang kerumah Dya, tapi sementara itu mobil ku masih di parkiran kampus. Akhirnya setelah menimbang baik buruk dan akibatnya, aku menelepon Chandra agar menjemput mobilku di kampus, sementara aku membawa Ily pulang ke rumah Dya. “Hallo Chan? Gw butuh banget pertolongan lu. Mobil gw sekarang di kampus nih, lu jemput mobil gw yah, terus antar kerumah Dya, tapi jangan lewat jalan yang biasa, lewat jalan belakang aja, gw takut ntar ada apa-apa di jalan. Oke, thank’s yah guys.” Untung Ily gak sampai pingsan, jadi dia masih memiliki cukup kesadaran untuk memelukku dengan erat selama aku membawa motornya dengan kecepatan yang gila-gila’an agar bisa cepat sampai di tujuan. Aku sampai di rumah Dya saat jam sudah menunjukkan pukul 9 malam lewat. Dan untungnya gak lama kemudian Chandra datang bersama Agung dan Danu untuk mengantar mobilku. Mereka tahu kalau mobilku gak boleh bawa penumpang selain orang yang aku izinkan saja, jadi mereka ke rumah Dya dengan 2 mobil, termasuk mobilku. “Kenapa si Ily bisa mabuk gitu?” Tanya Chandra penasaran, soalnya diantara kami semua Ily lah yang belum pernah minum minuman yang mengandung alkohol sampai mabuk. Jadi kalau Ily bisa sampai mabuk gini, pasti ada apa-apanya nih. “Cuma minum seteguk Liquor udah tewas. Gak mungkin kan dia gw antar mabuk gini? Apa kata orang rumahnya sama gw? Bisa rusak image gw kan?” Ucapku tanpa berniat meninggikan diri, ”Oh ya, thank’s banget kalian udah ngantar mobil gw.” Sambungku tulus. “Kayaknya kita ngeganggu yang punya rumah, nih, Yo.” Ujar Agung pelan. Aku mengikuti arah mata Agung dan mendapati Dya dan Didi berdiri di depan pintu dengan wajah heran. Tapi dibalik keheranan itu, aku masih bisa menangkap raut wajah Dya yang lain. Senang... Atau.... Marah?? “Ada apa sih??” Tanya Dya akhirnya tanpa bisa menyembunyikan rasa ingin tahunya karena melihat salah seorang diantara kami dipapah karena mabuk. Aku mendahului yang lain untuk menjelaskannya, ”Mereka semua teman kuliah gw. Karena ada suatu hal yang gw rasa lu pasti udah bisa menduganya, Ily malam ini gak bisa pulang kerumahnya, jadi kalau boleh izinkan dia menginap untuk malam ini saja. Hanya satu malam. Apapun akibatnya nanti, gw yang nanggung.” Ucapku tenang. “Cewek itu mabuk kan? Lebih bagus dia dibawa kedalam. Malam ini dia bisa tidur di kamar gw.” Ucap Didi yang dengan cepat dapat memahami keadaan lalu berjalan kearahku. Didi langsung memapah Ily ke masuk rumah. Sementara itu aku berkewajiban untuk menjelaskan semua yang terjadi pada Agung, Chandra, bahkan pada Dya. Setelah aku selesai cerita, Agung dan Chandra memilih untuk langsung pulang karena besok, kami benar-benar ada mid. Sedangkan Danu, dari tadi dia sama sekali gak turun dari mobil karena lagi asyik ‘molor’. Aku jadi curiga, jangan-jangan mereka berdua ‘nyulik’ Danu dari rumahnya, dan dibawa dengan paksa buat nemenin ngantar mobilku. Tapi terserah mereka lah, itu urusan mereka. Aku masuk ke dalam rumah bersama Dya. Saat aku menaiki tangga menuju kamarku, telpon di samping tangga berdering. Aku langsung meraih gagang telpon yang memang gak jauh dari tempatku berada. “Hallo??” “Hallo... Ini Dheo ya?” Tanya sebuah suara di seberang. “Ya, ini siapa??”tanyaku sopan. “Dheo, ini Tante Denise. Bagaimana kabar kalian disana?” “Oh, kami baik-baik aja Tante, Tante dan Om, gimana kabarnya? Pasti enak banget yah disana?” “Kami baik-baik saja. Seperti yang kami bayangkan, segala sesuatu disini sangat menyenangkan. Makanya, liburan sekolah nanti kalian ke sini. Kalau bisa Tante ingin bicara dengan Dya, bisa tolong panggilkan?” “Bisa Tante, tunggu sebentar ya...” Aku langsung memanggil Dya dan Dya bilang kalau dia ingin menerima telepon dari kamar aja. Telepon di sebelah tangga langsung kumatikan lalu aku kembali ke kamar. *** Saat Dheo berumur 9 tahun... “Nia... Lihat mereka berdua. Sangat akrab bukan? Bahkan kalau gak disekolahkan di tempat yang sama, Dya bisa nangis sampai pucat.” Ucap Denise sambil memperhatikan anak perempuan satu-satunya bermain di taman kota dengan seorang anak laki-laki yang beberapa tahun lebih tua. “Iya. Aku harap kalau waktunya tiba nanti. Mereka tetap bisa melanjutkan perjodohan ini. Tapi kalau salah satu diantara mereka menemukan jodoh yang lain, gak seorangpun yang berhak melarang mereka untuk mencari kebahagiaan mereka sendiri.” “Benar. Walaupun seperti yang kita ketahui bersama, melihat keduanya berpisah adalah hal terakhir yang kita inginkan.” Saat itulah anak laki-laki itu berlari mendekati wanita yang dipanggil Nia tadi. “Ma... Mama... Ma....” Panggilnya kuat sambil terus mendekati ibunya. “Kenapa lagi, Dheo?” Tanya Nia lembut. “Dya bilang.... Hosh... hosh... Dya bilang.... itu.... hah.... Katanya, Dheo harus jadi dokter. Bolehkan, Ma?” “Ha ha ha.... Dheo, jadi dokter itu masih lama, yang penting sekarang kamu sekolah dulu yang rajin biar pintar, nanti kalau sudah pintar baru kamu bisa jadi dokter.” “Iya, Ma.” “Iya, Yo. Nanti kalau kamu jadi dokter Tante dan Dya kan bisa berobat gak bayar.” Ujar wanita bule itu. “Gak mau!! Uang Dheo nanti gak ada kalau Tante gak bayar. Dheo kan mau nikah sama Dya.” Mendengar jawaban polos dari Dheo kedua wanita itu langsung tertawa keras. “Ya ampun, Nia. Anakmu luar biasa.” Ucap Denise di sela-sela ketawanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD