5

1592 Words
Aku tahu kalau Dheo tuh keren, tapi aku tetap aja gak nyangka kalau dia bisa punya cewek secantik itu. Ampun deh, cakep banget ceweknya Dheo. Bodynya gak kalah sama Kendall Jenner, rambutnya warna dark brown yang panjang dan ikal membuatnya tampak benar-benar mempesona. Kalau menurut pendapatku, gak bakal ada dua makhluk kayak dia di dunia ini. Entah siapa yang dapat anugerah kalau kayak gini. Jujur, Ily maupun Dheo seharusnya bangga dengan pasangan mereka. Secara fisik, mereka udah terbilang nyaris sempurna, dari otak, keduanya sama-sama anak Fakultas Kedokteran dengan IPK tertinggi, hanya Tuhan yang tahu apa kekurangan mereka. Kecuali kekurangan Dheo. Aku tau dengan pasti apa itu. Dan untuk sekedar informasi, kekurangan Dheo itu sama banyaknya dengan kelebihan yang dimilikinya. Pagi ini aku membantu Bik Umi memasak sarapan di dapur. Tapi tiba-tiba ada tangan yang menyentuh pundakku dengan begitu pelan. Aku begitu kaget sampai terlonjak dibuatnya. “Anu... Uhm sorry. Boleh minta air minumnya? Kepala gw pusing banget.” Ucap orang yang ternyata gak lain adalah ceweknya Dheo. Aku berusaha menenangkan detak jantungku gara-gara tegurannya yang begitu tiba-tiba. “Boleh, duduk aja dulu.” Ujarku setelah menguasai diri kembali sambil menunjuk kursi makan. Ya iya lah dia pusing. Orang tadi malam aja pulang lagi mabuk. Gimana gak pusing coba? Mana kata Didi dia sempat muntahin baju Didi lagi. Ada ya anak FK yang kayak gini? Walaupun dia baru bangun tidur, dan tentunya seperti yang telah kulihat saat ini, dia masih tetap cantik walaupun wajahnya sama sekali Aku menyodorkan gelas penuh berisi air putih dingin kepadanya, dan cewek itu langsung meneguk minuman yang aku berikan. Jujur, aku sangat mengagumi kecantikannya. Jarang ada cewek cantik bergaya tomboy seperti cewek Dheo ini. “Agh.... Seger banget. Ow yah, thank’s yah buat semuanya. Lu pasti Dya kan? Gw Ily.” Tanya Ily sejurus kemudian. “Iya. Senang ketemu sama lu.” “Dheo sering banget cerita tentang lu.” “Pasti yang buruk-buruk aja kan?” Tebakku lalu menarik kursi di hadapan Ily. “Menurut lo gimana?” “Gw gak yakin Dheo bisa cerita yang baik-baik tentang gw.” “Ha ha ha.... Kayaknya di mata lu ‘Prince Charming’ itu jelek banget yah?” Tanya Ily geli. “Lu bilang apa barusan? Dheo dapat gelar lagi?” Tanyaku gak percaya dengan apa yang barusan ku dengar. “Iya. Lagian gelar itu yang ngasi senior sewaktu OSPEK. Dheo itu junior kesayangan loh.” Sahut Ily lalu meneguk lagi air minum di depannya. “Anak itu...” “Ow yah, ntar siang lu ada acara gak?” “Kenapa?” Tanyaku bingung. “Gw mau ngajak lu jalan sebagai ucapan terima kasih” “Ah, gak usah lagi. Lagian gw gak berbuat apa-apa.” “Iya sih. Ya udah, gw pulang dulu yah? Tolong bilangin ma Dheo kalau gw berterima kasih karena udah nemenin gw semalaman di hari ulang tahun gw. Dan gw harap lu gak marah gara-gara Dheo nemenin gw sampai pulang malam, bahkan sampai membawa gw ke sini.” “Gw gak yakin dia udah bangun apa belum. Tapi seandainya dia belum bangun, pesan lu pasti gw sampaikan. Dan gw gak masalah kok Dheo nemenin lu. Gw malah bersyukur kalau dia gak pulang.” “Jangan salah, gw telat bangun emang gara-gara mabuk. Tapi kalau Dheo, jangan coba-coba. Sebanyak apapun dia minum minuman beralkohol, dia belum pernah mabuk. Padahal dia pernah menghabiskan Cognac yang kandungan alkoholnya sampai 35%, 7 gelas dalam waktu 30 menit.” “Dia peminum juga?” “Gak juga, cuma kalau dia lagi mau aja. Kalau gak, gak bakalan mau dia diajak.” Jawab Ily yang kini sudah berada di depan garasi dan mendapatkan motornya sudah siap untuk dibawa. ”Ntar siang gw jemput lu di sekolah.” Sambung Ily sebelum mengebut motornya dengan kecepatan yang gila-gila’an. “Yaelah, udah dibilang gak usah juga.” Gumamku pelan, dan pasrah saja kalau nanti siang Ily benar-benar menjemputku. Saat aku mau membantu Bik Umi kembali, Bik Umi bilang gak usah, aku malah disuruh buat siap-siap berangkat sekolah. Emang sih jam sudah menunjukkan hampir jam setengah delapan. Aku langsung berlari ke kamarku, mengambil tas baru kemudian ke kamar Dheo untuk membangunkannya. Kulihat pintu kamarnya lagi-lagi terbuka. Seperti biasa, aku langsung masuk ke kamarnya dan duduk di pinggir tempat tidurnya. Kuamati wajahnya sebentar. Satu matanya tertutup oleh pony-nya yang agak panjang. Dia terlihat cakep banget saat tidur. Wajahnya terlihat menyejukkan. Coba aja kalau dia ngomong wajahnya selembut itu... Saat aku baru hendak membangunkannya, tiba-tiba Dheo membuka matanya dan menarik tanganku dengan kuat hingga tubuhku menghimpit tubuhnya. Aku dapat merasakan hembusan nafasnya di wajahku. “Hallo nona yang sangat ceroboh.” Ucap Dheo nyaris berupa bisikan. “Lu.... Lu udah bangun?” “Apa Ily gak bilang kalau gw tuh gak pernah mabuk?” Tanya Dheo sambil mengeratkan pegangannya di tanganku hingga aku nyaris tidak bisa membedakan debaran jantung siapa yang saat ini kurasakan. “Lu.... Lu kurang ajar!” Geramku sambil berusaha menarik tanganku dari pegangannya, tapi pegangan tangan Dheo terlalu kuat. Dheo tersenyum, ”Untuk referensi masa depan, nona miskin pengalaman, jangan pernah mendekati cowok yang malamnya baru saja meminum sebotol Genever. Bisa aja gw ‘menyerang’ lu. Untungnya gw masih sadar, jadi gw gak bakal nyerang lu. Tapi siapa tau gimana nanti kan?” Ujar Dheo dingin lalu melepaskan tanganku. Dheo bangkit dari tempat tidur dan berjalan memasuki kamar mandi. “b******k!!!” Pekikku sambil melempar bantal ke pintu kamar mandi sebelum berlari keluar. “Ada apa?” Tanya Didi terdengar khawatir saat aku berpapasan dengannya di tangga. Aku berusaha mengatur nafasku sebelum bicara, ”Dheo tuh b******k banget!! Nyebelin!!” Umpatku sambil terus menuruni tangga. “Emang kenapa lagi?” Tanya Didi lembut dan mengikutiku turun. “Pokoknya gw benci banget sama dia!!” “Dya... Dya... Yang jelas lu harus lebih sabar yah... Gak baik lu terus-terusan marah kayak gini.” Bujuk Didi lembut, ”Kita berangkat bareng yah?” “Ya. Gw lagi gak mood nyetir nih...” Aku gak nyangka tempat nongkrong Dheo asyik juga. Sebuah cafe yang suasananya nyaman banget. Siang ini sepulang sekolah aku ditunggu Ily di gerbang sekolahan. Memang pantas dia jadi ceweknya Dheo. Dia mendapatkan perhatian dari seluruh siswa sekolahku. Siang ini dia mengenakan celana jeans belel dengan atasan kaos putih tanpa lengan serta topi pet bulu. Persis model internasional kehilangan catwalk. Mana saat itu dia berdiri di sebelah mobilnya yang notabene cuma satu-satunya di dikota ini. Alfa Romeo 156 GTA. Tidak sedikit siswa sekolahku yang berusaha mendapatkan perhatian dari Ily, namun semuanya sia-sia. Ily seolah sudah terbiasa dengan berbagai godaan. Dia hanya diam sambil memainkan ponselnya menunggu aku menghampirinya. “Lo beneran belum pernah di ajak Dheo kesini?” Tanya Ily gak percaya saat aku bilang kalau ini adalah yang pertama kalinya buatku datang ke Orion Cafe. “Boro-boro diajak kesini, ngobrol aja jarang. Pergi sama dia juga baru sekali lurus. Mana pagi tadi dia tuh nyebelin banget lagi.” Jawabku jujur. “Wah wah... Padahal daripada di basecamp, Dheo lebih banyak menghabiskan waktunya disini. Bisa dibilang selain di basecamp, disinilah istana Dheo.” “Basecamp? Basecamp apa’an?” “Jangan bilang kalau lo gak tau juga tentang basecampnya Dheo?” “Gw bener-bener gak tau. Gw kan gak deket dengan dia.” “Gw gak percaya... Gw bener-bener gak percaya...” Ujar Ily menggeleng-gelengkan kepalanya cepat. Sesaat aku lihat wajah Ily lain dari yang biasanya. Terlihat sorot kemarahan di wajah putihnya. Aku sama sekali gak ingin membuatnya benar-benar marah walaupun jujur, aku gak tahu apa yang membuat dia sampai marah. Seusai makan, Ily menawarkan untuk mengantarku pulang, tapi aku menolaknya karena aku memang janji akan pergi jalan bersama Radith setelah urusanku dengan Ily selesai. Saat aku dan Radith dalam perjalanan menuju mall, aku melihat Dheo di pinggir jalan bersama teman-temannya yang kemarin malam ke rumah. Kulihat sepertinya Dheo memberikan instruksi-instruksi pada mereka. Saat kami benar-benar melintas di depan mereka, aku melihat seseorang dengan sangat jelas. Dia adalah abang-abang yang dulu pernah menyelamatkanku saat aku akan ditabrak oleh mobil. Dan kini abang itu seperti menunggu perintah dari Dheo. Ada hubungan apa mereka sebenarnya? Siapa sebenarnya orang yang menolongku saat itu? Siapa Dheo sebenarnya... *** Saat Dheo berumur 10 tahun...... Seorang anak perempuan kecil sedang menonton sebuah film bersama seorang anak laki-laki yang berumur beberapa tahun di atasnya. “Yo! Liat deh... Tatonya keren yah?” Ujar anak perempuan itu manja. “Iya. Keren...” Sahut yang anak laki-laki. “Kamu mau gak buat tato kayak gitu?” Tanya anak perempuan itu bersemangat. Anak laki-laki itu langsung menolehkan kepalanya menghadap anak perempuan disampingnya, “Memangnya kamu mau aku punya tato kayak gitu?” “Mau banget! Kan keren liatnya.” Sahut anak perempuan itu riang. “Tapi buat tato itu sakit loh, Dya.” “Pokoknya kamu harus buat!” Ujar anak perempuan itu mulai menangis. “Tapi, Dy...” “Pokoknya harus!!” “Gimana kalau nunggu aku besar dulu?” Tawar anak laki-laki itu mulai membelai kepala gadis kecil disampingnya yang mulai menangis dengan kuat. “Gak mau!! Pokoknya kamu harus secepatnya buat tato itu!” Ujar anak perempuan itu sambil berlinangan air mata. Anak laki-laki itu langsung mengusap kepala anak perempuan disebelahnya dengan lembut, “Iya... Ntar aku buat tato kayak gitu. Aku janji. Tapi kamu gak boleh nangis lagi yah?” Seketika itu juga tangis si anak perempuan langsung reda. Senyum merekah di wajah manisnya. “Oke deh...” Setelah mendengar kepastian jawaban dari Dheo, Dya kembali melanjutkan tontonannya. Bahkan sama sekali gak keliatan kalau tadi Dya sempat nangis. Air mata buaya rupanya...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD