6

2123 Words
Udah hampir satu bulan aku tinggal di rumah Dya. Dan hampir setiap hari selama satu bulan itulah Radith selalu datang ke rumah dengan berbagai macam alasan. Bahkan aku pernah melihat Dya kencan dengan Radith. Tapi kenapa setiap Radith datang kerumah, selalu bertepatan dengan jadwal Didi off kerja. Aku merasa ada yang disembunyikan Radith dari Dya. Ada yang aneh dengannya selama ini. Karena hal itulah hari ini aku janjian bertemu dengan Radith siang ini di Orion. Dan saat ini aku sedang menunggu kehadirannya. Saat aku sudah menghabiskan isi gelas Capucino ku yang ketiga barulah pintu kafe terbuka dan masuklah orang yang selama ini sudah kutunggu. “Sorry gw telat. Tadi ada kegiatan klub...” Ucap Radith sambil ngos-ngosan. ”Terus apa yang mau lu omongin?” “Gw gak akan mempermasalahkan kalau hanya menyangkut masalah waktu. Yang mau gw bicarakan adalah sebenarnya siapa yang lo sukai? Dya atau Didi?” Tanyaku to the point “Didi... Emang kenapa? Gw gak pernah ya suka sama Dya. Ada masalah?” Tanya Radith tanpa merasa bersalah. Aku langsung menarik kerah bajunya. Pemuda ini sama sekali tidak tahu sedang cari masalah pada siapa. Apa dia pikir jawabannya yang terlalu jujur itu akan membuatku senang dan membiarkannya begitu saja? ”b******k lu, b******n! Gw udah ngira jawaban lu ini. Buat apa lu datang ke rumah Dya terus kalau yang lu suka tuh Didi? Buat apa lu pergi kencan sama Dya kalau yang lu suka tuh Didi, b******k?” “Jelas gw datang ke rumah Dya karena Didi juga tinggal disana. Kalau soal pergi bersama Dya, itu memang salah gw, karena gw cuma ingin tahu masalah Didi. Tapi apa urusannya ini semua sama lu? Lu sama sekali gak ada hubungannya dengan ini semua!” “Lu liat di luar?” Tanyaku tanpa memperdulikan pertanyaannya sambil menunjuk ke arah segerombolan preman yang mengelilingi mobil Radith di parkiran dengan tongkat-tongkat besi di tangan mereka. ”Satu kata dari gw, mereka akan memberi lu tiket perjalanan gratis ke neraka. Tapi itu hanya akan gw lakukan kalau lu gak mau bekerja sama. Jauhi Dya. Gw gak mau dengar lu datang kerumah, sms atau nelpon dia, bahkan menyapanya di sekolahpun dilarang. Lu ngerti? Buat perhatian, gw akan selalu dapat mengetahui apapun yang lu lakukan dimanapun lu berada. Bahkan di dalam kamar lu sendiri. Gw gak suka kalau lu berhubungan lagi dengan Dya. Dan yang paling gak gw suka adalah orang yang gak bisa gw ajak kerja sama. Gw gak mau liat Dya tersakiti...” Tegas Dheo. “Oke oke! Gw akan jauhi Dya, gw janji.” Ucap Radith buru-buru sebelum keluar dari kafe. Dheo menghempaskan kembali tubuhnya ke kursi dan menghembuskan napas panjang. “Seandainya berurusan dengan Dya juga semudah ini...” Gumam Dheo sambil mengambil hp-nya lalu menelepon seseorang, ”Biarkan dia pergi. Tapi sesuai rencana, ikuti kemana pun dia pergi dan jangan berhenti mengikutinya selama 24 jam kalau aku belum memerintahkannya.” Gak ada lagi sikap balas dendam di depan Dya, kalau aku gak mau kehilangan dia. Aku harus mendapatkannya kembali. Apapun caranya, akan kulakukan itu. Sudah seminggu berlalu sejak aku bertemu Radith di kafe. Dan sejak hari itu dia benar-benar menjauhi Dya. Aku senang dibuatnya, apalagi hari ini aku akan menjemput Dya di sekolah. Karena entah untuk yang keberapa kalinya dalam sebulan ini Dya menabrakkan mobilnya ke pagar rumahnya. Saat ini dia duduk di sebelahku, kami sedang dalam perjalanan pulang. “Lu masih berhubungan dengan Radith?” Tanyaku pelan memecah kesunyian. “Ha? Apa urusannya sama lu?” Tanya Dya ketus. “Please Dya... Jawab aja pertanyaan gw.” “Ya... Gw masih berhubungan dengan Radith, puas lu?” “Brengsek.” Umpatku pelan. ”Lu suka sama dia?” “Iya, gw suka.” “Sebaiknya jangan. Jangan sampai lu suka sama dia.” “Lu kenapa sih Yo? Lu kok jadi suka nyampurin urusan gw? Lu punya alasan kenapa gw harus melupakan perasaan gw ke dia? Punya lu?” “Lebih baik lu turuti apa yang gw bilang kalau lu gak mau sakit hati.” “Kenapa gw harus nurutin lu?” Tanya Dya semakin berkeras. Aku mengerem mobilku begitu mendadak, ”Karena dia gak serius sama lu! Dia cuma manfaatin lu! Yang dia suka bukan lu, tapi Didi! Sadar Dya... Radith sama sekali gak pernah berniat baik sama lu!” Tegasku dengan suara sedikit meninggi. Dya melemparkan tatapan tajam padaku. “Jangan bercanda, itu gak lucu. Lebih baik kita cepat pulang.” Ujar Dya cepat tanpa memperdulikan apa yang kubilang. Aku gak punya niat untuk terus berdebat dengan Dya, kupacu mobilku dengan kecepatan gila-gilaan. Sesaat kemudian kami sampai di depan rumah, dan saat aku akan memasukkan mobil ke halaman, kulihat ada mobil lain disana. Mobilnya Radith. Firasatku gak enak saat Dya turun dari mobilku, tanpa mematikan mesin, kususul Dya turun. Dan ternyata firasatku benar. “Jangan lihat!” Seruku cepat sambil menarik Dya kedalam pelukanku. Didalam mobil, Didi dan Radith sedang berciuman. Mereka gak sadar kalau kami ada disana. Aku tahu tindakanku tadi terlambat. Dya sudah melihat semuanya. Aku merasakan kaos yang kukenakan basah di bagian d**a. Dya menangis. Saat itu kudengar sayup-sayup Dya bicara. “Bawa gw pergi sekarang... Kemana aja...” Ujarnya serak. Aku membimbing Dya masuk kedalam mobil. Kukendarai mobilku dengan pelan menuju sebuah taman yang sering kudatangi kalau bad mood. Selama di perjalanan, Dya terus menunduk dan sesenggukan menahan tangisnya. Sesampainya di taman, aku membelikan dia minuman kaleng dan creepes. Kami duduk di bangku kayu di bawah pohon rindang. “Sejak kapan lu tau Radith suka sama Didi?” Tanya Dya setelah berhasil menguasai emosinya. “Ha?” Aku kaget mendengar Dya tiba-tiba bertanya “Sejak kapan lu tahu Radith menyukai Didi?” Ulang Dya sedikit lebih keras. “Seminggu yang lalu.” Jawabku cepat. “Jadi karena itu...” “Apa maksudnya?” “Sejak seminggu yang lalu Radith gak lagi main kerumah ataupun menegur gw di sekolah.” “Maaf...” Ujarku tulus. “Buat apa?” “Gw yang ngelarang Radith datang kerumah. Gw juga yang ngelarang dia mendekati lu di sekolah. Gw gak mau lu terluka dan akhirnya sakit hati seperti ini.” Ujarku sambil mengamati burung-burung merpati di depan kami. “Kenapa, Yo? Kenapa? Kenapa seminggu ini lu baik banget sama gwKenapa lu gak mau gw terluka dan sakit hati?? Padahal selama ini lu cuek banget sama gw. Bahkan lu terkesan gak pernah peduli sama gw.” Pekik Dya histeris, matanya kembali mengeluarkan air mata yang sangat kubenci itu. “Because of you... Gw suka sama lu, gw mencintai lu lebih dari apapun. Gw paling benci liat lu nangis, makanya, apapun akan gw lakukan asal lu gak nangis. Apalagi melihat lu terluka. Buat gw, kebahagiaan lu jauh lebih penting dari apapun di dunia ini. Gw gak peduli lu benci, tapi gw paling gak mau kalau liat air mata lu keluar. Gw akan menghancurkan siapapun yang membuat lu sampai mengeluarkan airmata.” Jawabku jujur. “Bohong!” Tukas Dya cepat, ”Lu cuma mau menghibur gw kan? Lu gak mau disalahkan kalau terjadi apa-apa sama gw. Lu tau belakangan ini gw udah mulai tertarik sama lu. Lu memanfaatkan itu kan? Lu memanfaatkan semua kesempurnaan yang lu punya! Lu memanfaatkan kelebihan lu yang bisa membuat cewek manapun berpaling dari pacarnya ke elu!” Pekik Dya lagi. “Kalau aja itu memang benar... Kalau aja gw emang punya semua yang lu pikirkan... Dan kalau aja semua kelebihan yang lu bilang itu memang bisa menarik perhatian cewek manapun... Gw cuma ingin hanya lo yang menyadari kehadiran gw. Gw gak butuh pengakuan orang lain terhadap diri gw, yang gw butuh pengakuan lu. Kalau aja lu ingat... Gw pernah bersumpah gak akan pernah bohong sama lu. Seburuk apapun yang gw lakukan, gw akan jujur sama lu. Hanya sama lu gw gak mau ada kebohongan.” Ujarku lembut sambil menggenggam tangan Dya, berharap dia bisa melihat ketulusan dalam setiap kata yang kuucapkan. Dya menggeleng kuat, ”Tapi selama ini lu dingin banget sama gw, Yo... Lu bahkan gak pernah perduli terhadap seluruh kecelakaan yang gw alami. Lu sama sekali gak menunjukkan tanda-tanda kalau lo perhatian sama gw. Kenapa, Yo?” Tuntut Dya dan mulai menangis lagi. Dan hatiku kembali terenyuh. Aku langsung merengkuh Dya kedalam pelukanku, ”Kalau aja lu menunjukkan sedikit tanda bahwa lu ingat kejadian 9 tahun yang lalu, mungkin semua akan berbeda... Lu melupakan semua hal tentang gw, hanya tentang gw. Bahkan lu sendiri yang memulai menunjukkan sikap benci sama gw. Gw shock ngeliat lu gak ingat sama gw. Gw terlalu terkejut menyadari gadis yang gw suka malah ngusir gw dari hidupnya. Maafkan sikap gw selama ini yah?” Tiba-tiba Dya mendongakkan kepalanya, ”Kalau lu bilang lu suka sama gw, terus Ily gimana? Gw gak mau dibilang ngerebut milik orang lain. Karena gw bukan cewek yang suka ngerebut pacar orang lain.” “Jangan bilang kalau lu nyangka kami pacaran...” “Lha... Kalian memang kayak orang pacaran kok. Serasi banget...” “Gak bakal gw pacaran sama Ily. Kami cuma bersahabat.” “Tapi dia cakep lho...” Ujar Dya sambil tersenyum penuh arti. “Mungkin aja gw menyukai Ily kalau aja hati gw belum direbut oleh gadis yang dua tahun lebih muda.“ Ujarku sambil tersenyum pada Dya, ”Gw tau lu masih sedih, tapi kalau gw gak bilang ini sekarang, entah kapan gw baru punya keberanian untuk mengatakannya... Lu mau gak jadi pacar gw?” Sambungku dengan serius. “Gw masih belum yakin dengan perasaan gw. Gw baru aja patah hati. cowok yang gw suka selama ini ternyata menyukai sepupu gw. Orang yang selama ini bikin gw kesal ternyata sanggup memberikan penghiburan untuk gw.” Ucap Dya pelan sambil menggelengkan kepalanya. “Gw tau... Tapi gw harap lu mau nerima gw dulu... Kita bisa memastikan perasaan lu selama itu. Kalau perlu selama yang lu mau, karena selama apapun itu, gw pasti akan menunggu lu. Gw udah terlatih kok. Gw janji kalau gw akan melindungi lu dari semua kesedihan dan kesakitan. Gw bakal ngelindungi lu dari semua hal yag membuat lu sedih.” Ujarku lalu tersenyum selembut mungkin untuk meyakinkannya akan apa yang udah kukatakan. “Asal lu mau nerima kenyataan kalau gw cewek yang cemburuan.” Ujar Dya cepat. “Gw tau... Dan gw pernah merasakan akibatnya.” Gumamku pelan tapi ternyata terdengar oleh Dya. “Ha? Kapan? Cerita dong.” Tuntut Dya. Tawa langsung menyembur dari mulutku. Bagaimana tidak kalau hal paling menakutkan seperti itu malah tidak diingatnya. Aku saja sampai bersumpah tidak akan pernah membuat Dya cemburu atau kesal lagi. Dia menakutkan kalau sedang marah. “Ha ha ha... Udahlah, udah sore. Kita pulang yuk? Hari udah mulai dingin.” Ujarku sambil melepas jaket yang kukenakan dan memberikannya pada Dya. “Ayo dong cerita...” Tuntut Dya sepanjang jalan menuju mobil. Aku merengkuh bahu Dya dan menariknya mendekat ke tubuhku, ”Top secret, honey.” Bisikku padanya. “Tunggu dulu! Dulu gw pernah denger lu nelpon orang. Lu minta sama orang itu buat ngejaga seseorang... Siapa dia? Gw atau Ily?” Tanya Dya tiba-tiba. Aku terdiam sejenak, mengingat kapan pembicaraan itu aku lakukan, ”Ah yang itu. Itu gw lagi nelpon Bejo, supaya dia tetap berada di tempatnya selama ini. Terus ngejaga lo buat gw. Dan untungnya dia sangat bertanggung jawab. Dia selalu menjaga lo untuk gw.” Ujarku lalu mengecup dahi Dya. *** Saat kepindahan Dheo ke Singapore.... “Ma... Dheo juga harus ikut pindah?” Tanya Dheo saat kedua orangtuanya sibuk berkemas. “Iya sayang... Mama sama Papa takut kalau meninggalkan kamu sendiri disini. Nanti kalau kamu udah bisa jaga diri sendiri, kamu boleh pindah sendirian ke Indonesia. Kami janji kami gak akan melarang kamu kalau saatnya tiba. Dan kami juga tau, berat buat kamu harus berpisah dengan Dya. Tapi ini hanya sementara...” Ujar Nia lembut pada anak semata wayangnya. “Tapi, Ma... Dheo belum pamit sama Dya. Nanti kalau dia marah gimana?” Tanya Dheo lagi. “Tenang aja. Mama udah bilang kok sama orangtua Dya kalau kita berangkat hari ini. Ya, mungkin Dya gak ikut ngantar karena harus sekolah, tapi setidaknya orangtuanya pasti memberitahu Dya, kan?” Ucap Nia menenangkan anaknya. “Ya, Ma... O ya, Ma... Kalau liburan kita ke Indonesia kan?” “Pasti, sayang. Sekarang kamu masukkan barang-barang kamu ke mobil yah... Bentar lagi kita berangkat.” Ujar Nia lembut. Akhirnya Dheo dan keluarganya berangkat dengan diantar oleh Mama dan Papa Dya sampai bandara. Mereka meyakinkan Dheo kalau Dya gak akan marah ataupun lupa dengan Dheo. Dan saat sudah berada di dalam pesawat, Dheo menatap keluar jendela. Dia merasakan akan terjadi sesuatu saat dia gak ada disamping Dya. Tapi Dheo langsung membuang pikiran itu jauh-jauh. Dia sadar kalau apa yang terbersit di hatinya, biasanya selalu menjadi kenyataan. Dan dia benar-benar gak ingin terjadi apapun pada Dya saat dia gak ada.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD