Sementara itu di rumah sakit. “Coba buka mulutmu,” ucap Dokter Tomi. “AAAAAAA ....” Markus membuka mulutnya lebar-lebar. Sedikit memiringkan wajahnya menghadap ke wajah pria di atasnya. Laki-laki yang memegang senter kecil di tangannya. Mengamati beberapa gigi rahang Markus yang patah. “Done,” ucap Dokter Tomi selang beberapa saat kemudian. Markus menutup mulutnya. Jakunnya bergerak naik turun. Menelan ludah, membasahi tenggorokannya. “Untung saja kau sudah terbiasa dengan latihan militer, Kus. Tubuhmu bisa beradaptasi dengan cepat. Minimal untuk rasa sakit yang ikut bersama luka-lukamu.” Laki-laki dengan seragam serba putih itu membiarkan kalimatnya terjeda. Kedua tangannya sibuk memasukkan berbagai alat medisnya kembali ke dalam tas yang ia bawa ke mana-mana. “Memangnya kenap

