Belum Usai.

1652 Words

“Aku hanya peduli pada orang yang terluka,” ucap Irish sembari menelan ludah. Angin malam bertiup, dingin dan hampa. Lembut menyapu wajah lelahnya. Menyapu, menerbangkan anak rambutnya yang dibiarkan jatuh menutupi sebagian wajahnya. Seperti percakapan ini. Keduanya sama-sama tengah tenggelam dalam pikirannya masing-masing. “Kau mencintainya?” Pablo yang sedari tadi diam akhirnya membuka mulutnya. Irish tersenyum miring, menarik napas dalam-dalam. Terdengar begitu berat, terlihat begitu menyesakkan. “Kau tahu, cinta itu pakai hati. Mas, kamu enteng banget nanya aku cinta nggak sama dia. Sedangkan ... sedangkan kam–“ “Sedangkan aku mencelakakan dia,” potong Pablo dengan cepat. “Itu kan yang mau kamu bilang? Itu kan?” Hening lagi, Irish tak tahu harus memasang muka bagaimana. Mer

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD