MAAF
[Aku tidak bisa berhenti mencari wajahmu di antara wajah orang-orang yang melewatiku.]
Vinay berdiri di ujung tangga dengan manik mata yang menyorot penuh kearah Levi. Bibirnya bergetar, dan matanya berkaca-kaca. Vinay tidak percaya dengan apa yang kini ia lihat. Sungguh, rasa sakit di hatinya tidaklah main-main. Sejenak lalu, jantungnya bertalu begitu kuat kala melihat sosok Mandala berdiri disana, dengan pakaian yang seringkali ia kenakan. Ilusi itu begitu memabukkan, sejenak, sebelum berganti menjadi begitu menyakitkan.
Mandala pergi, hilang. Sekali lagi dalam pandangannya kala kenyataan menyapanya dan menampilkan sosok Levi yang kini memakai baju Mandala. Kemeja flannel abu-abu yang seringkali Vinay beri parfum beraroma cendana, lalu ia sesap kuat setelahnya. Berharap aroma Mandala yang khas kembali melingkupinya.
Sedikit saja, sebentar saja. Hanya sekilas ia berharap aroma Mandala kembali padanya. Untuk menguatkan segala memorinya tentang lelaki itu. Namun, seberapa kuat dan seberapa sesak apapun hati dan benaknya memohon. Hal itu tak pernah terwujud, karena segala hal tentang Mandala telah menguar bagai embun yang tersinari. Menguap, membawa segalanya.
“Kenapa kamu pake baju itu?!” teriaknya bersamaan dengan Sarah, ibunya yang berjalan cepat menghampirinya. Ia masih menatap penuh kearah Levi yang balas menatapnya dengan pandangan bingung.
“Vinay naik!” Sarah menarik lengannya untuk kembali menaiki tangga.
“Ma, tapi dia—”
“Naik!” Sarah membentak. Membuat Vinay terdiam dan mengamati wajah ibunya yang selalu lembut itu.
Vinay mengmempaskan tangan ibunya dan menaiki tangga dengan cepat, hampir berlari. Hatinya begitu sakit saat ibunya membentaknya. Ibunya marah, Vinay tahu itu. Tapi yang lebih menyakiti Vinay adalah fakta bahwa harusnya ia yang marah saat ini. Itu baju Mandala. Barang berharga milik Vinay yang selalu ia jaga.
Vinay memasuki kamarnya dan langsung menghempaskan tubuhnya pada ranjang. Menutup wajahnya dengan bantal seperti yang biasa ia lakukan saat menangis. Ini tidak adil.
“Kamu nggak sopan!”
Vinay bisa mendengar suara ibunya yang memasuki kamar dan langsung menodongnya dengan ucapan itu. Apanya yang tidak sopan? Bagian mana yang tidak sopan? Batinnya tidak terima dengan tuduhan ibunya.
“Mama yang ambil baju itu?” Vinay bertanya dengan suara seraknya. Ia masih menelungkupkan wajahnya pada bantal untuk meredam isaknya.
Sarah terdiam, menatap anak gadisnya lama. “Ya,” ucapnya mendadak diliputi sesal. Ia tahu benar baju siapa yang ia ambil dari lemari Vinay. Itu baju Mandala, tapi sisi egoisnya yang menginginkan Vinay untuk segera melupakan lelaki itu membuatnya berpikiran sempit. Baju itu, baju yang seringkali Vinay peluk lama, hanya membuat anak gadisnya semakin terpuruk.
“Mama tau kan kalau itu punya Mandala?!” Vinay menjauhkan bantal, hingga membuat wajah penuh air mata itu terlihat dengan jelas. Ini adalah kali pertama, setelah kematian Mandala tahun lalu ia memperlihatkan wajah menangis di depan ibunya. Tak hanya hati Vinay yang sakit. Namun hati Sarah sebagai seorang ibu juga tak kalah sakit saat melihat kondisi anaknya.
Sarah mengangguk, “Mama tau, dan Mama minta maaf karena sudah lancang. Tapi, bukankah ada baiknya kamu nggak simpan baju itu lagi?” Sarah berujar dengan hati-hati.
Vinay masih terisak, ia menatap ibunya dengan sorot mata yang kelam. Perasaannya berkecamuk, segala emosi seakan berkumpul dan teraduk menjadi satu. Marah, tidak terima, sedih, kecewa, sesal, dan masih banyak lagi. Ia kini benar-benar berusaha menahan dirinya untuk tidak berteriak dan marah kepada ibunya.
“Nggak bisa Ma, itu satu-satunya baju Mandala yang Vinay punya,” cicitnya.
Sarah mendekat, menarik anak gadisnya kedalam pelukannya. Berharap segala kesedihan yang menyelimuti Vinay selama setahun ini dapat berkurang barang sedikit saja. “Vinay, kamu nggak boleh nyiman baju Mandala. Itu hanya akan bikin kamu nggak bisa lupa sama dia,” Sarah berucap lembut.
Vinay tidak menjawab, gadis itu semakin melesakkan kepalanya kearah d**a ibunya. Vinay masih diam, hanya terdengar suara isakan yang seakan memenuhi kamar. Selebihnya terasa hening, tak ada percakapan setelahnya.
Ia tak bisa melupakan Mandala. Tentu saja, karena memang itulah yang ia inginkan. Ia tidak ingin melupakan Mandala. Tidak ingin menyamarkan sosok yang telah memenuhi segala sisi kehidupannya, sebelum ia dipaksa untuk pergi meninggalkannya.
Segala memori tentang Mandala terasa bagaikan secangkit kopi hitam. Begitu manis dalam ingatannya hingga Vinay begitu menikmati segala momennya. Namun saat kopi hitam itu perlahan habis, ia merasakan kepahitan yang semakin lama semakin pekat pada tiap tetesnya. Menyisakan ampas pahit pada cangkir hati yang sayangnya tak bisa ia buang. Karena meskipun pahit, itu semua tentang Mandala.
“Sekarang kamu minta maaf sama Levi, ya? Dia nggak salah, Mama yang salah,” tutur Sarah sambil mengelus lembut rambut hitam Vinay.
Vinay melepaskan pelukannya. Sesungguhnya masih ada sepercik amarah dalam hatinya. Ia sangat ingin menyuruh Levi melepaskan baju Mandala, namun ia tidak bisa. Ibunya pasti akan marah dan kecewa jika sampai ia melakukan hal itu. Kini, yang bisa ia lakukan adalah diam dan mengikuti segala ucapan ibunya. Itu mudah, ia hanya perlu menarik sudut bibirnya dan tersenyum seperti biasanya. Benar, seperti kebiasannya selama ini.
“Mama keluar sebentar ya, habis ini Vinay nyusul. Vinay mau cuci muka dulu,” pinta Vinay yang membuat Sarah berdiri dari duduknya seteleh menepuk bahu Vinay beberapa kali.
Vinay masih terdiam lama setelah ibunya pergi. Napasnya masih agak tersengal dan isak tangis beberapa kali keluar dari sela bibirnya. Ia lalu mengusap wajahnya dengan punggung tangan. Berdiri dan membuka laci meja di samping ranjang. Vinay mengambil buku dengan sampul hitam pekat, menarik sebuah foto yang ada di sana. Memandangnya lama.
“Kenapa semua orang menyuruhku melupakanmu, ketika hidupku ada karena kamu?” Vinay bergumam semabari memandangi foto yang berisikan Mandala dan dirinya pada pendakian terakhir mereka.
“Kenapa semua orang bertindak tidak adil padamu?” Vinay kembali menangis. Ia lalu memejamkan matanya, merasakan tiap denyut sakit yang bersarang di dadanya. “Kapan kamu akan membawaku pergi?”