Chapter 15

1222 Words
“Ma! Vinay pulang!” teriak Vinay membuka pintu rumah utama. Di belakangnya, Levi tengah asik celingukan mengamati rumah Vinay yang tergolong gedong. Tanpa disuruh, Levi lalu mengikuti langkah Vinay memasuki rumah setelah melepas kedua sepatunya. “Nggak ada orang, Vin?” tanya Levi pada Vinay yang masih sibuk memanggil-manggil Mamanya. “Biasanya ada kok. Bentar ya, kayaknya ada di belakang. Kamu duduk aja dulu, jangan anggap rumah sendiri!” seru Vinay sebelum melesat ke arah belakang rumah. Meninggalkan Levi yang berdecak sebal. Kalau orang normal pasti bilang anggap saja rumah sendiri. Oh, iya Vinay kan marmut, bukan orang! Levi lalu memutuskan untuk duduk di sofa ruang tamu. Kepalanya masih celingukkan mengamati rumah besar yang terlihat sepi, khas rumah besar di perumahan. Rumah itu terdiri dari dua lantai. Anak tangga berada di ruang tengah dengan posisi menyiku. Rumah itu didominasi warna hijau di bagian luar, tetapi di bagian dalam berwarna berbeda pada tiap sisi temboknya. Levi terlonjak kaget dan langsung berdiri saat seseorang membuka pintu rumah. Dan tersenyum canggung saat melihat seorang wanita paruh baya tengah menatapnya dengan pandangan terkejut. Di belakangnya menyusul seorang wanita yang sepertinya seorang asisten rumah tangga. “Siang Tante, saya temannya Vinay,” ucap Levi sopan sebelum ditanya. Melihat tatapan kaget dari nyonya rumah membuat Levi ketar-ketir takut diteriaki maling. “Temannya Vinay?!” ulang wanita yang sebelumnya Levi panggil Tante. “Iya Tante, tadi Vinay nganu, emm—itu loh,” Levi menggaruk belakang kepalanya. Bingung harus bagaimana mengungkapkan hal yang cukup tabu bagi lelaki sepertinya. “Mama dari mana?” Levi mendesah lega saat Vinay masuk keruang tamu. Ia lalu menghampiri Vinay yang sedang mencium tangan ibunya dan melakukan hal yang sama. “Mama dari Pasar Besar, kamu kok udah pulang?” tanya Ibu Vinay sambil sesekali mengamati Levi yang berdiri sopan di belakang Vinay. “Vinay datang bulang,” ucap Vinay melalui gestur bibir tanpa suara. “Makanya sekarang pulang. Eh, kenalin Ma. Ini temen aku, namanya Levi. Dia suruh wali kelas buat nganterin Vinay tadi,” jelas Vinay memperkenalkan Levi. “Salam kenal Tante,” sapanya. Ibu Vinay mengangguk, namun dari ekspresi wajahnya masih terlihat sedikit kebingungan. “Ah, Bi Ima. Tolong buatkan minum buat temennya Vinay ya,” Ibu Vinay menoleh ke belakang sambil memberikan kresek belanjaan kepada Bi Ima. Asisten rumah tangga itu mengangguk dan langsung menuju kearah dapur. “Nggak usah repot-repot Tante,” Levi berucap dengan sungkan. Sesungguhnya ia hanya basa-basi, berbeda dengan aslinya yang girang bukan main. “Tante Sarah nggak repot kok,” jawabnya ramah sekaligus memperkenalkan diri. Ia lalu menolehkan kepanya kearah Vinay yang masih berdiri di depannya. “Kamu kenapa masih di sini? Nggak mau ganti baju?” tanyanya yang membuat Vinay cemberut karena merasa diusir. “Iyaaa,” jawab Vinay yang berbalik dan berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya di lantai dua. Hening sejenak. Levi terdiam dan Tante Sarah menyuruhnya untuk duduk lagi. Tapi sepertinya wanita paruh baya yang wajahnya mirip dengan Vinay itu masih betah mengamatinya. Astaga, seganteng apasih dirinya sampai-sampai Ibu Vinay saja terpesona, pikir Levi mulai melantur. “Silahkan duduk nak Levi,” ucap Sarah yang kemudian juga duduk di hadapan Levi. “Sudah lama kenal sama Vinay?” tanyanya yang entah mengapa kini terlihat begitu antusias. “Baru tiga mingguan Tante, soalnya saya anak baru,” jelas Levi. “Oh, anak baru.” Sarah menganggukkan kepala. “Kamu deket ya sama Vinay?” tanya Sarah lagi. Levi terdiam sebentar, mendadak ia merasa seperti sedang diinterogasi. “Lumayan Tante, saya sama Vinay duduk semeja.” Sarah nampak terkejut, lalu setelahnya wanita itu mengulum senyum kecil. “Kamu sering-sering ya main ke sini. Ajakin Vinay keluar jalan-jalan, kasihan dia, tiap malam minggu nganggur mulu!” Sarah berucap dengan semangat. Membuat Levi membalas ucapannya dengan tawa. Sepertinya Ibu Vinay suka bercanda, pikirnya. “Saya takut dilabrak pacarnya Tante,” jawab Levi sambil tertawa membalas candaan Sarah. “Pacar?” ulang Sarah yang membuat tawa Levi lenyap. Mampus, jangan-jangan Ibunya Vinay nggak tau kalau anaknya pacaran. Levi membatin dengan was-was. Bisa-bisa ia diamuk oleh Vinay kalau ternyata Ibunya tidak tahu kalau anaknya pacaran. Levi akhirnya hanya tertawa canggung untuk menjawab pertanyaan Sarah. “Vinay bilang kalau dia punya pacar?” tanya Sarah lagi yang membuat Levi menelan ludahnya kering. “Tadi saya cuma bercanda kok, Tante,” Levi mencoba berdalih. Namun sepertinya hal itu gagal saat melihat Sarah memicingkan matanya curiga. “Ini minumnya, Mas,” suara Bi Ima memecah ketegangan yang samar diantara Levi dan Sarah. Sejenak, Levi bisa menarik napas lega karena berhasil lolos dari tatapan tajam ala Ibu Vinay itu. “Makasih,” Levi mengangguk dan langsung menuangkan es jeruk itu ke gelas. Sedetik kemudian ia langsung meminumnya sampai tandas. Di interogasi Ibu Vinay membuatnya jadi begitu gugup. Seperti diinterogasi calon mertua saja, pikirnya. “Setelah ini kamu balik ke sekolah?” tanya Sarah lagi. Levi menampilkan cengirannya, “kalau saya di sini boleh nggak Tan? Soalnya saya mager mau balik ke sekolah,” ucap Levi cengengesan. “Kamu ajak Vinay keluar aja ya!” perintah Sarah yang membuat Levi membelalakkan matanya. Entah hanya perasaannya atau bukan. Ia merasa kalau Ibu Vinay berperilaku seperti mak comblang. “Tapi saya nggak bawa baju ganti Tante. Nanti kalau pakai seragam bisa-bisa saya kena razia satpol PP,” Levi mencoba mengelak. Sejujurnya tadi ia hanya bercanda mengajak Vinay untuk kencan. Tapi ia tidak bercanda jika ingin bermalas-malasan di rumah Vinay, mengingat jika ia belum mengerjakan PR matematika yang akan dibahas nanti. “Oh, itu gampang,” Sarah berdiri dari duduknya, ia lalu berjalan kearah anak tangga dan akhirnya menghilang di lantai dua. Sepeninggal Sarah, Levi terdiam. Cowok itu lalu menarik napas dalam dan menghempaskan punggungnya di sandaran sofa. Tante Sarah adalah orang yang ramah, tetapi perbincangan mendebarkan beberapa saat yang lalu membuat Levi cukup berkeringat dingin. Tentu sebagai teman yang baik ia tidak ingin membuat Vinay, si marmut dalam masalah. “Semoga saja Tante Sarah nggak curiga,” gumam Levi sambil melihat kearah ujung tangga yang terlihat dari ruang tamu. Levi kembali mengedarkan pangannya. Dan manik mata kelamnya kini mengamati sebuah bingkai foto besar di ruang tamu. “Jadi dia anak tunggal,” gumam Levi saat melihat foto berukuran besar itu hanya diisi oleh tiga orang. Satu lelaki yang pasti Ayah Vinay, Ibu Vinay, dan Vinay sendiri. Pantas saja rumah ini kelihatan sepi, batin Levi yang tanpa sadar membandingkan rumahnya yang selalu ramai. Bagaimana tidak ramai, ia punya kakak yang mulutnya kemana-mana, ibu, ayah, ditambah nenek dan kakek yang tak kalah cerewet. Levi lalu menolehkan kepalanya saat mendengar langkah kaki khas seorang turun dari anak tangga. Ia mendesah kecewa saat mendapati Ibu Vinay datang dengan menenteng pakaian di tangan kanannya. Padahal ia berharap Vinay yang turun. “Kamu pakai ini ya, kamar mandinya ada di samping anak tangga.” Sarah memberikan baju lelaki yang ada di tangannya dengan senyum yang terkembang dalam belah bibirnya. “Tunggu apa lagi?!” tanyanya pada Levi yang tadi hanya terdiam. “Eh, iya Tante. Permisi ya Tante,” seru Levi yang buru-buru menuju kearah kamar mandi. Emak-emak memang bukan tandingannya. Sarah merenung, ekor matanya mengikuti langkah kaki Levi yang berjalan tergesa menuju kamar mandi. Ia lalu menarik napas dalam dan mengeluarkannya perlahan. Dalam hati, ada sepercik harapan kepada Levi, lelaki yang pertama setelah Mandala yang diajak oleh Vinay ke rumahnya. Sarah tidaklah selalu bisa menutup mata. Ia sudah lelah berpura-pura tidak tahu dengan keadaan anak tunggalnya. Sarah tahu betul jika Vinay seringkali menangis kala malam datang, dan meninggalkan mata sembab di pagi menjelang. Hatinya sakit, sungguh sakit saat melihat anaknya yang kian berubah. Mungkin, orang lain akan menganggap perubahan Vinay adalah hal yang begitu baik. Gadis yang dulunya pendiam kini begitu aktif dalam kegiatan sekolah. Namun, Sarah tahu betul alasan mengapa Vinay berubah. Tak lain adalah karena Vinay merasa hidupnya bukan hanya miliknya. Kebebasan itu ditekan oleh rasa bersalah. Sarah tersadar dari pemikirannya saat Levi sudah berdiri di depannya dengan senyum canggung. Kemeja flannel bermotif abu kotak dan jeans hitam itu terasa pas di tubuhnya. “Kenapa kamu pake baju itu?!” teriak Vinay yang kini berdiri di ujung tangga.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD