KEKASIHNYA
[Untuk apa Tuhan mempertemukan kita, jika akhirnya Ia harus merebutmu paksa.]
Levi masih diam, ia kini sibuk mengamati Vinay yang masih asik menceritakan tentang Mandala Zeonard. Cowok yang membuat Levi begitu penasaran akan sosoknya. Katanya dia ganteng, baik, ramah, sabar, penyayang, pokoknya yang baik-baiklah! Itu sih kata Vinay. Tapi bagi Levi, Mandala hanyalah lelaki egois yang pergi ekspedisi meninggalkan pacarnya yang galau bukan main.
Memang benar sih kalau cowok itu paling benci dikekang. Apalagi kalau menyangkut hobi. Tapi setidaknya, Mandala harus bersikap gentle dengan rutin mengabari Vinay tiap ia turun gunung. Memangnya itu cowok tidak takut ceweknya selingkuh apa? Belum tahu aja kalau di kelas sudah banyak yang ngantri. Vinay tuh emang imut kayak marmut. Wajahnya juga ada manis-manisnya gitu. Kalau lihat bawaannya pengen jilat. Levi mengerjapkan matanya cepat, tersadar dengan pemikirannya.
“Kok nggak kedengeran bunyi bel ya Lev? Kamu denger nggak?” tanya Vinay menatap Levi bingung. Ia lalu kembali melihat kearah jam dinging yang ada di kantin. 07.12, harusnya sudah bel sejak dua belas menit yang lalu.
“Gimana aku bisa denger kalau kamu ngoceh tentang Mandala mulu. Aku aja sampai hapal, Mandala yang baik, punya kucing namanya Mamal. Jago main gitar, suka lagu Payung Teduh, apa lagi tadi?” cibir Levi yang membuat Vinay cemberut.
“Kan kamu yang tadi pengen tau soal Mandala. Dih, cowok kok labil! Yang labil itu harusnya cewek!” Vinay menjawab dengan tidak terima.
“Diiih, rasis! Dosa lu!” Levi membalas ucapan Vinay dengan nada menuduh.
“Rasis—” ucapan Vinay terhenti saa ia merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya. Vinay memejamkan matanya erat. Sial, jangan bilang kalau ini waktunya! Batin Vinay was-was. Vinay lalu menutup wajahnya frustasi saat merasakan sesuatu keluar dari tubuhnya. Kali ini ia yakin kalau dirinya benar-benar sedang datang bulan. Sialan! Perempuan dan penyakit bulananya! Gerutu Vinay yang kesal bukan main.
“Kamu kenapa Vin?” tanya Levi dengan penasaran.
Vinay menggelengkan kepalanya kikuk. Kini ia benar-benar tidak berani bergerak dari duduknya. Tamu bulanan Vinay memang tidak terlalu merepotkan. Ia hanya merasakan pegal-pegal saat akan datang, dan hanya kadang disertai melilit. Rasa melilit itu juga tidak selalu menyertai tiap bulannya. Seperti sekarang, Vinay bersyukur datang bulan kali ini tidak disertai perut melilit yang saat bergerak sedikit saja sakitnya minta digampar.
“Kamu kok aneh gitu? Kenapa?” Levi berdiri dari duduknya dan beralih duduk di samping Vinay. “Kita harus masuk kelas nih,” ajak Levi mencoba membuat Vinay yang sedari tadi diam bersuar.
“Kamu balik aja duluan,” ujarnya masih dengan wajah gugup bukan main.
Levi mengamati cewek itu dengan pandangan menelisik. “Kamu kenapa sih? Kalau ke kantin barengan berarti baliknya barengan dong!” Levi kini berdiri dan hendak menarik lengan Vinay.
“Kamu duluan aja, sumpah deh!” Vinay merengek. Ia benar-benar kekeh tidak ingin bergerak dari duduknya, dan hal itu membuat Levi begitu penarasan.
“Levi! VInay!” Levi lalu menolehkan kepalanya cepat kearah pintu masuk saat seseorang memanggil namanya dan Vinay.
“Mampus! Vin, gimana nih!” bisiknya cepat saat melihat Tantenya, yang juga wali kelasnya berjalan dengan langkah lebar kearah mereka berdua.
Vinay mengumpat pelan, lalu berucap, “kamu diem aja, aku yang jawab!”
“Kalian ngapain disini! Bel udah bunyi dari tadi malah asik pacaran!” Bu Sri datang dan langsung menjewer telinga Levi yang kini berteriak kesakitan.
“Aduh duh Tan, ampun Tan,” mohon Levi.
“Tan! Tan! Emang saya setan?! Panggil Bu!” ucap Bu Sri makin mengeraskan jewerannya.
“Bu Sri,” panggil Vinay yang membuat wanita paruh baya itu melepaskan jewerannya dan menatap penuh kearah Levi. “Kita disini nggak pacaran kok Bu, saya lagi sakit,” cicit Vinay yang membuat Levi juga menatapnya penuh.
“Kamu sakit apa?” tanya Bu Sri khawatir. Guru yang memang terkenal ramah itu menggeser tubuh Levi agar bisa duduk di samping Vinay.
Vinay mendekatkan wajahnya kearah Bu Sri dan berbisik. “Jadi gini Bu, tadi pagi saya sakit perut, lalu minta anterin Levi beli makan sama teh hangat. Dan sekarang—ternyata saya datang bulan Bu, jadi saya nggak bisa balik ke kelas.”
“Gimana kalau aku yang nganterin Vinay pulang Tan, eh, Bu maksudnya,” ralat Levi dengan cepat saat sengaja mencuri dengar ucapan Vinay. Vinay merengut kesal dengan pipi yang memerah. Padahal ia sengaja berbisik agar Levi tidak tahu, tetapi memang dasar telinga itu marmut tajamnya minta ditendang.
“Vinay mau pulang? Kalau iya nanti biar Ibu Sri yang ijinin kamu,” ujar Bu Sri dengan penuh pengertian. Tentu saja ia paham betul dengan masalah wanita seperti ini. Kadang datang bulan hari pertama hingga empat hari setelahnya disertai dengan perut yang terasa diaduk-aduk. Dan itu sungguh sakit sampai membuat para wanita enggan beraktifitas.
Vinay melirik kearah Levi yang memberi tanda agar ia menganggukkan kepalanya. Vinay lalu merenung, berpikir bahwa rok abu-abunya pasti sudah tembus dengan bercak noda mengerikan. Membayangkannya saja sudah membuat Vinay bergidik ngeri. “Iya deh Bu,” ujarnya dengan senyum malu.
“Lev, kamu bawa barang-barang Vinay kesini!” titah Bu Sri yang langsung disanggupi Levi dengan penuh semangat. Levi berjalan setengah berlari memasuki kelas yang harusnya sedang diajar oleh tantenya. Ia berjalan lurus mengabaikan pertanyaan Naya dan Inka tentang kemana perginya Vinay dan mengapa ia membawa tas Vinay, tasnya, juga jaket Vinay yang sebelumnya disimpan di laci meja.
“Dik, pulang nanti tolong bawain motorku ya!” ucap Levi sambil melemparkan kunci motornya kepada Dika yang menatapnya kebingungan.
“Mau kemana, hoi!” panggil Dika saat ditinggal melesat oleh Levi.
“Byeeee!” pamit Levi pada teman-temannya dengan begitu menyebalkan. Ia lalu kembali ke kantin dua ransel di tangan kanan dan kirinya.
“Ngapain kamu bawa tas juga?” tanya Bu Sri dengan alis terangkat.
Levi terdiam, menatap tas yang ada di tangannya lalu beralih menatap kearah tantenya bergantian. “Kan mau nganterin Vinay,” jawabnya.
“Habis nganterin kemana?” tanya guru cantik itu lagi.
“Pu…lang,” kini Levi menjawab disertai dengan cengirannya.
“Memangnya kamu juga datang bulan?! Habis nganterin balik sini!” amuk Bu Sri yang membuat Levi menarik napas kecewa lalu mengangguk tidak rela. Levi lalu memberikan jaket denim besar kepada Vinay.
“Yaudah, ayo Ibu anterin ke Pak Satpam,” Bu Sri memandang Vinay yang sudah berdiri dengan jaket yang melingkar di pingganya. Ia lalu berjalan lebih dulu diikuti oleh Vinay dan Levi yang berjalan tanpa suara.
“Pak ini anak-anak mau keluar, ada yang sakit,” ucap Bu Sri kepada Pak Satpam yang langsung membukakan pagar tanpa banyak bertanya. “Hati-hati ya!” ucapnya saat Vinay dan Levi berjalan keluar gerbang setelah bersalaman dengan gurunya.
“Ngapain kamu bawa tas segala?” tanya Vinay yang baru sadar kalau cowok di sebelahnya berjalan dengan menenteng dua tas, miliknya dan milik Levi sendiri. “Kan harusnya aku aja yang bawa tas, nanti dikira telat loh pas balik ke sekolah,” ucapnya mengingatkan.
Levi menoleh, menampilkan cengiran liciknya, “Vin, anak sekolah kalau udah keluar gerbang sekolah itu pamali balik lagi,” jawab Levi yang membuat Vinay membuka mulutnya.
“Kamu—mau bolos?!” tanya Vinay yang membuat Levi membekap mulutnya.
“Suaranya marmut! Walau udah di parkiran tetep aja bahaya. Tau nggak? Jaman sekarang tembok dan motor punya telinga!”
“Dih! Alay gila!” cibir Vinay.
Levi mengambil helm di motornya lalu celingukan mencari motor Vinay. “Motor kamu mana?” tannya saat tidak menemukan motor scopy merah milik cewek itu.
“Tuh!” tunjuk Vinay pada motor yang berada paling ujung. Vinay lalu mengekori Levi yang berjalan lebih dulu sembari merogoh tasnya untuk mencari kunci. Dan memberikan kunci bergandul cicak kayu kepada Levi saat cowok itu mengulurkan tangannya. “Kamu nggak boleh bolos Lev, nggak baik tau!” Vinay berujar dengan bisik-bisik.
“Kan tadi aku udah izin. Sorry aja, aku tuh anak baik-baik yang selalu izin kalau mau bolos. Lompat pagar buat bolos itu udah nggak jaman. Buang-buang tenaga! Yang ada celana sobek karena kecantol, ” Levi berucap dengan nada soknya.
“Serah lu dah!” cibir Vinay pusing sendiri. Bodoh amat, mau tuh cowok bolos kek, nyungsep kek! Nggak peduli! Tambah Vinay dalam hati.
“Vin?” panggil Levi sambil mengeluarkan motor Vinay dari tempat parkir. Vinay hanya bergumam untuk menjawab panggilan cowok itu. “Perut kamu nggak sakit? Kayak yang biasanya cewek rasain gitu?” tanya Levi tanpa menoleh.
Vinay diam merasakan perutnya yang tak terlalu sakit. Sedikit mulas, tapi bisa tetap beraktifitas. Ia menggelengkan kepalanya, “enggak,” gumamnya tak ingin Levi khawatir. Meskipun sepertinya tidak mungkin si curut itu khawatir, tambahnya dalam hati.
Levi menoleh dan menepuk bagian belakang motor agar Vinay naik. Ia lalu tersenyum lebar, “kalau gitu abis ganti baju, kita kencan yuk!” cengirnya yang dibalas tatapan aneh oleh Vinay.
“Aku udah punya pacar curut!” jawab Vinay cepat tanpa berpikir. Seolah hal itu merupakan sebuah kebiasaan yang wajar. Ia lalu terdiam saat Levi malah menampilkan cengiran khasnya. Bukan, bukan karena senyuman itu ia terdiam. Melainkan karena lagi-lagi, ingatannya harus bersirobok dengan sosok fana yang masih jelas dalam ingatannya.
“Kalau gitu kita selingkuh aja,” tawar Levi dengan nada canda.
Vinay tak langsung menjawab. Ingatannya meraung memanggil nama kekasihnya. Mandala Zeonard. Ia masih ingat bagaimana senyum jahil kekasihnya saat berucap. Matanya coklatnya tersenyum penuh rasa percaya diri.
“Kalau aku jadi item buluk kamu boleh kok cari selingkuhan.”
“Beneran boleh?” tanyanya kala itu.
“Kamu boleh selingkuh, asal kamu beneran cinta sama dia. Kalau cuma main-main atau setengah hati mending jangan, nanti ujungnya bikin orang sakit hati.”
“Kalau aku selingkuh emang kamu nggak sakit hati?”
“Emang kamu mau selingkuh?”
“Nggak mungkin aku selingkuh kalau syaratnya kayak gitu, karena aku nggak bakal bisa jatuh cinta sama orang lain selain kamu.”
“Vin?” Levi mengibaskan telapak tangannya di depan wajah Vinay yang menunduk. “Kenapa? Sakit perut?” tanyanya khawatir saat melihat Vinay tiba-tiba diam dan tidak menanggapi ucapannya.
Vinay tersadar, lalu menggelengkan kepalanya cepat. “Aku nggak bisa selingkuh,” gumamnya.
Levi mengerutkan keningnya, “serius amat sih! Aku kan cuma bercanda!” Levi tersenyum dan memandang Vinay yang masih menatapnya cemas. “Kenapa?” Levi bertanya sembari mengangkat tangan kanannya, meletakkannya di pucuk kepala Vinay dan mengusapnya perlahan.
“Emangnya aku kenapa?”
“Kamu kelihatan—cemas? Kecewa karena aku cuma bercanda, ya?” ucap Levi yang langsung tertawa keras saat Vinay menyingkirkan telapak tangannya dengan kasar. Okey, si marmut sudah kembali,pikirnya.
“Najis!” bentak Vinay. Ia lalu menaiki belakang motornya dan menepuk bahu Levi dengan keras. “Berangkat Bang!” ucapnya khas seorang penumpang kepada tukang ojek.
“Bang, Bang, kamu kira aku tukang ojek?!” sembur Levi sambil menyalakan motor.
“Ah, aku lupa nambahin sat di belakangnya,” jawab Vinay yang sibuk memasang pengait helm.
Levi menolehkan kepalanya, menatap cewek marmut yang kurang ajar bukan main itu. “Serah Eneng deh mau panggil Abang apaan,” pasrah Levi yang kembali menatap lurus ke depan.
“Oke Bang… sat,” ucap Vinay hampir berbisik di akhir kalimatnya.
“Sabar mah, nggak mau cari gara-gara sama cewek pms,” gerutu Levi.
Vinay kembali menepuk bahu Levi dengan keras. “Yaudah berangkat! Lama deh!”
“Kamu kira aku cenayan?! Mana kutahu kemana arah rumah kamu!” sahut Levi penuh kekesalan.
“Kekanan! Rumahku deket Balai Kota!” jawab Vinay tak santai.
“Santai, nggak usah teriak!”