Beberapa hari di bulan Ramadhan berlalu dengan sangat cepat. Rumah Raka dan Nayara kembali dipenuhi dengan rutinitas sederhana yang perlahan terasa hangat. Mereka bangun sahur bersama, menyiapkan makanan berbuka, dan terkadang berjalan sore di sekitar rumah sebelum adzan maghrib berkumandang. Hari itu menjelang siang. Nayara sedang berada di dapur, memotong buah untuk persiapan berbuka nanti. Di atas meja sudah ada pisang, pepaya, dan semangka yang baru saja ia keluarkan dari kulkas. Namun, saat baru memotong beberapa potong buah, Nayara tiba-tiba berhenti. Ia mengerutkan kening karena perutnya terasa sedikit tidak nyaman. ” Hmm... “ Nayara menaruh pisau di meja lalu memegang perutnya pelan. Rasanya seperti ada sensasi panas di d**a, naik sampai ke tenggorokan. “ Kenapa ini... “ Ia menar

