“Ngatur?” "Apa susahnya nurut demi kebaikan, sih, Lona?" “Sekarang jawab gue dengan jawaban masuk akal. Lo dapat dari mana nomor gue?” “Aku berharap dikasih sama Ayah kamu, Sayang...” “Diam lo, PK! Nggak usah panggil-panggil gue Sayang!” Entahlah sekali ini saja Madilyn ingin bersikap barbar, seperti preman pasar atau apalah sebutan yang pantas bagi orang yang gemar mengucapkan kata-kata bernada kasar seperti yang baru saja ia ucapkan. “Aku belum selesai ngomong. Sayang sekali aku dapat nomor kamu dari panitia penyelenggara lelang penggalangan dana. Begitu lanjutannya,” jelas Saveri sambil terkekeh geli. “Ngebet banget dipanggil Sayang? Kangen ya dipanggil Sayang sama aku, hm?” “Anj, Saveri! Nggak usah lo ham hem ham hem gitu! Bagus lo begitu?” bentak Madilyn. “Xylon, Sayang.

