"Woi, El! Sini!" Aku dan Alex yang baru melangkah masuk melewati pintu utama langsung menoleh ke sumber keributan. Astaga. Temanku tuh. Tidak perlu melambai seperti orang kesurupan juga, kali? Aku—dan sekian puluh orang yang lalu lalang di lobby rumah sakit ini—bisa melihat Riana dalam radius sepuluh meter. Mencolok banget 'kan dia? 'Lelaki mana yang bisa tertarik pada wanita seperti itu?' Alex mencibir dalam pikiranku. Aku mencubit pinggangnya keras-keras. Jangan main fisik dong? Biar begitu Riana tetap wanita tulen loh! Alex tersenyum seperti tidak merasakan sakit akibat cubitanku, 'Bukan seleraku, Cantik. Tidak perlu khawatir dia akan berhasil menggodaku. Oke?' Iya deh. Seleramu 'kan daun muda seperti aku. 'Sial. Tidak bisa membalas ejekannya. Satu minggu akan terasa sangat lama.'

