Alaina akhirnya mengangguk. Dia pasrah saja. Lagipula dia butuh teman untuk menghalau sejenak kesedihannya. Besok pagi mungkin dia akan merepotkan Kaila lagi dengan meminjam pakaian kerjanya. Alaina menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi lalu meringis. Wajahnya lebam parah, rambutnya mencuat ke mana-mana dan matanya yang lelah. Dia mesti menutupi lukanya dengan riasan wajah milik Kaila besok saat berangkat kerja. Dibuka semua pakaiannya kemudian dilipatnya rapi dan diletakkan di meja samping wastafel, diperhatikan punggungnya saksama dan dia meringis lagi. Punggungnya sedikit memar. Alaina menggeleng pelan, dia memerhatikan kamar mandi Kaila yang memiliki bilik mandi tersendiri terbuat dari kaca. Kamar mandi Kaila berbeda dengan kamar mandi milik Langit. Kamar mandi Langit lebi

