1. Pertemuan Pertama
Angin bertiup cukup kencang siang ini. Suara angin yang berdesir membuat langkah kaki seorang gadis tampak sangat serempak dengan napas yang agak terburu-buru.
Suara langkah kaki terdengar tergesa, seorang gadis berjalan dengan cukup cepat. Ia hanya bertelanjang kaki. Sengaja tak memakai sandalnya bahkan sepatu. Dengan cepat ia berjalan untuk menuju ke kamar seorang pria. Sudah satu bulan ini bekerja di sebuah rumah yang penghuninya ada seorang pria yang duduk di atas kursi roda.
Pria itu kakinya sakit, bukan lumpuh hanya saja tak bisa berjalan. Katanya jatuh dari kuda saat melatih kecepatan kudanya dan sang kuda kaget karena jeritan seorang gadis kala itu. Entah kenapa tiba-tiba, gadis yang bersamanya menjerit mengakibatkan kuda yang ditunggangi pria itu langsung panik dan berlari cepat namun sayang penunggang kudanya jatuh dan tak bisa terelakkan lagi membuatnya jatuh tersungkur dan terluka cukup parah di bagian kakinya.
“Tuan, maaf terlalu lama menunggu,” ucapnya lirih. Pria itu tampak menatapnya dengan tajam. Erina agak takut saat mengatakannya. Pria itu akan marah padanya. Ia sudah siap menerima segala bentuk amarah dan juga sikap arogannya selama ini. Erina telah diuji kesabarannya dengan memiliki majikan yang cukup keras kepala bahkan rewel.
“Darimana saja tadi? Aku menunggumu!” ketusnya dengan nada sinis.
Gadis itu bernama Erina, dia bekerja melayani pria itu dan merawatnya dari sakit. Gadis yang bernama lengkap Erina Khanza menjelaskan kenapa ia terlambat sambil menuangkan air teh hangat dalam teko mini yang ia bawa ke dalam gelas. “Maaf, Tuan saya benar-benar sibuk tadi,”
“Sibuk katamu?! Aku kehausan dan kelaparan, tapi seenaknya menjawab dengan enteng kalau kamu sibuk!”
Erina menoleh dan menatapnya. “Tuan, sudah saya katakan selain mengurus Tuan, saya juga mengurus Kakek Tuan yang sedang sakit, dia butuh perhatian,” ucap Erina sedikit menekan.
Pria itu benar-benar posesif, hanya menginginkannya mengurus dirinya saja, padahal ia juga diharuskan mengurus dan menengok keadaan Kakek tua pemilik seluruh harta di sebagian kota ini. “Kakek butuh aku juga, Tuan,” ucapnya sambil menyerahkan minuman.
Tangan pria itu meraihnya dan segera meminumnya, terlihat sekali kalau ia benar-benar kehausan.
Glek ... glek ... glek ...
"Tuan benar-benar haus, ya?"
"Ini gara-gara kamu!" ketusnya lagi.
'Hem, kumat deh!' batin Erina.
Pria itu menatapnya dengan tajam, “Dengar! Aku tak mau kamu kesana kemari mengurusi hal lainnya, ingat kamu ku bayar hanya untuk menemaniku dan juga merawat ku!”
"Iya, Tuan. Maaf, tadi aku ehm ... sibuk,"
Pria yang bernama Adrian Prayoga itu terlihat masam saat Erina memberi alasan yang tidak enak di dengar di telinganya.
"Selalu saja membuatku marah dan selalu menyebalkan," katanya.
Erina menunduk, "Iya, aku tahu,"
"Tahu apa? Tahu kalau kamu itu menyebalkan!"
Erina diam saja, Adrian maju dengan kursi rodanya dan menarik tangannya. "Mau apa?"
Tangannya ditarik dengan paksa dan dengan posisi duduk ia diminta untuk maju. "Pijit kakiku, rasanya pegal ini!"
Erina segera menurutinya dengan memijit kaki pria itu. Rupanya sedari tadi menunggu hanya untuk menyuruhnya seperti ini.
“Nah, bagian itu pijit lumayan keras!” pintanya.
Adrian meneguk minumannya sambil memandangi wajah lugu dan polos Erina. Ia ingat betul bagaimana mereka bertemu pertama kalinya. Gadis yang sedang memijit kakinya itu ia temukan saat tengah berlari ke tengah hutan. Saat itu ia tengah melihat keadaan di pondok yang ada di tengah hutan. Tempatnya yang cukup sepi membuat ia tahu teriakan gadis itu saat sedang bersantai melepas lelahnya.
Flashback On
"Tolong! Tolong aku!"
Adrian waktu itu sedang memijit kakinya karena ia kesakitan saat turun dari mobil tapi ketika naik kursi roda malah terjatuh. Ia baru saja duduk sekitar sepuluh menit dan merasa kelelahan dengan kaki pegal dan sedikit lecet.
"Ada apa? Kenapa kamu lari-lari?" tanya Adrian waktu itu.
"Tu-tuan, tolong aku, sembunyikan aku disini, tolong aku dari kejaran orang-orang itu,"
Adrian melihat memang ada beberapa pria yang mengejar gadis berpenampilan sederhana dan juga kebingungan itu. Mereka tampak beringas dan kesal karena tak menemukan seorang yang sedang mereka incar.
"Tuan!" panggil seseorang.
"Ya, ada apa?"
"Apa Anda tahu ada seorang gadis lewat disini, dia berlari cukup kencang dan rambutnya panjang sebahu, ehm sedikit lumayan masih muda dan ..."
"... tidak! Aku tak melihatnya!" ujar Adrian dengan tegas.
"Bagaimana mungkin tak melihatnya, jelas-jelas dia tadi berlari ke arah sini,"
Adrian menatap ke arah pria yang berkata ngeyel dan tak percaya. "Kamu tak percaya padaku? Cari sendiri kalau ingin tahu dimana dia!"
Pria yang lain sampai minta ia lebih sabar karena bertanya pada orang yang benar-benar tidak tahu.
"Baiklah, maafkan teman kami. Mungkin dia salah lihat, Tuan,"
"Ya, pergilah dari sini. Jika tak percaya kalian boleh cek mobilku,"
Mereka saling berpandangan. "Tidak perlu, Tuan. Baiklah kami permisi dulu,"
Beberapa orang yang mencari tampak kebingungan karena tempat yang menjadi Adrian duduk adalah jalan yang memiliki ujung alias buntu.
Setelah kepergian mereka, ia berseru pada si gadis agar keluar dari tempat persembunyiannya di dalam mobil miliknya.
"Apa mereka sudah keluar, Tuan?" tanyanya.
"Lihat sendiri, kan tadi mereka berjalan dan pergi ke arah mana?"
Adrian menoleh pada gadis yang tampak ketakutan dan sedang berjongkok. Rupanya tak berani berdiri karena takut ketahuan. Dan itu memang benar karena Adrian melihat sesekali seorang pria dari rombongan tadi kerap menoleh ke arah belakang ke arah dimana dia sedang duduk.
"Mereka sudah benar-benar pergi, sekarang kamu duduk dan akan aku tanya kenapa mereka mengejar mu,"
Gadis itu memang akhirnya duduk dan menunduk. Ia tak berani mengangkat wajahnya. "Katakan ada apa? Kamu mencuri sesuatu dari mereka?"
Gadis itu menggeleng, membuat Adrian terpaksa menatapnya dengan penuh selidik, heran bercampur curiga. Jarang-jarang ia bisa sangat perhatian pada seseorang apalagi seseorang yang belum ia kenal. Gadis ini membuatnya penasaran dan ingin tahu yang sedang menimpanya. Biasanya ia akan cuek dan tak mau tahu tentang apapun itu.
Namun, melihat wajah gadis polos nan lugu ini ia menjadi sangat penasaran, kali ini ingin tahu apa yang terjadi. "Kalau begitu, apa yang telah kamu lakukan?"
"Aku ... ehm ... aku ... akan di jodohkan,"
"Dijodohkan? Di jaman modern ini kamu akan dijodohkan?"
Adrian bertanya dan masih ingin tahu jawabannya. Gadis itu rupanya malu dan akhirnya ia menangis. Ia terisak dan tak bisa menjawab pertanyaannya. Hal itu membuat Adrian menjadi kesal dan minta ia pergi dari hadapannya.
"Pergi! Pergi saja sana! Kenapa begitu kamu, tak ku apa-apakan padahal. Baru aku tanya malah menangis, dasar cengeng!" ketus Adrian.
Gadis yang ada dihadapannya mengangkat wajahnya dan menatapnya. Karena jengah, Adrian memalingkan wajahnya dan memandang ke hutan yang sangat rimbun pepohonan nya.
"Pergilah kalau kamu hanya mau menangis dan tak mau memberi tahu apa alasan kamu dikejar mereka. Aku tak mau terlibat lebih jauh," kata Adrian.
"Tuan ... aku ..."