Masih berlanjut tentang kejadian mereka bertemu dan bagaimana keduanya kini sering bersama untuk saling membutuhkan. Adrian membutuhkan Erina untuk merawat sakitnya dan Erina jelas butuh pekerjaan dan juga uang.
Erina kala itu memang berlari ketakutan karena dikejar beberapa orang. Katanya, mereka suruhan Ayahnya yang menginginkan dia menikah dengan seorang kakek tua. Ia dijodohkan untuk bisa tinggal dengan Ayah tiri dan ibu kandungnya waktu itu. Terjerat hutang yang cukup banyak membuat keluarganya berniat menikahkan atau lebih tepat menjualnya pada kakek tua yang memintanya menjadi istrinya. Erina sempat menolak dan menangis hingga Ayah tirinya mengatakan jika ia tak mau akan tetap dipaksa.
Hingga saat bertemu dengannya, Erina tampak ketakutan dan akhirnya Adrian menawarinya pekerjaan.
"Daripada kamu pulang tak tahu mau kemana, lebih baik bekerja saja denganku,"
"Pekerjaan apa, Tuan?"
"Merawat ku, mengurus segala keperluan yang aku butuhkan selama berada di atas kursi roda ini,"
Erina awalnya hanya diam saja, karena ia belum yakin akan bisa bekerja di rumah orang kaya apalagi jika merawat orang yang tengah sakit.
"Kamu mau tidak?" tanyanya.
"A-aku ... "
Pria itu ketus mengatakan pada Erina, "Sudah bagus aku kasih kamu pekerjaan, kalau tidak mau lebih baik kamu pergi dan jangan kembali lagi kesini!"
"Tu-tuan ... Apa kamu yakin aku bisa bekerja di rumahmu?"
"Makanya dicoba, hitung-hitung agar kamu tidak kebingungan, ayo naik ke mobil dan ikut aku ke rumah!"
Disitulah, Erina akhirnya ikut sampai sekarang bekerja merawat dirinya. Kadang Adrian memang harus sabar menghadapi kepolosan Erina yang selalu takut jika menghadapi apapun.
Flashback Off
**
“Sore nanti aku mau jalan-jalan keluar," ucap Adrian.
"Kemana, Tuan?"
"Kemanapun asal bisa jalan-jalan dan lihat sesuatu di luar rumah," jawab Adrian santai.
Erina menunduk, "Pakai kursi roda?"
"Iya, jadi temani aku!” pintanya dengan suara datar.
Erina mengangguk, ia terus memijit kakinya yang berbulu. Adrian akhirnya tertidur dan Erina bisa sedikit lebih tenang karena tak ada omelan lagi dari pria itu. Suaranya terdengar lega saat mendesah sambil beristigfar. Pria yang di rawat ini benar-benar pria yang sangat bawel tapi selalu memberi perhatian padanya.
Tiba juga pukul empat sore, sudah waktunya ia membangunkan pria yang masih tertidur dengan lelap itu. “Tuan ... Bangun Tuan!"
"Hem ..."
Hanya deheman saja yang dikeluarkan dari mulutnya. Adrian masih memejamkan matanya dan belum benar-benar bangun.
"Bangun, Tuan, katanya mau jalan-jalan, bangunlah!” ucap Erina lagi dengan lembut. Ia memandang wajah Adrian yang terlihat manis kalau sedang tidur. Pria itu selalu marah dan selalu arogan, ia sampai tak betah berada di sampingnya.
“Tuan ... Tuan Adrian!” panggilnya lagi. Dilihatnya tak ada gerakan berarti yang menandakan kalau ia akan bangun. “Ummm, hoam ...” akhirnya ia bangun juga dan Adrian langsung memasang wajah sendu agar tak kena omel lagi.
“Sudah sore ini?” tanyanya. “Sudah jam empat lebih malah, Tuan katanya ingin pergi keluar,”
"Ya, bagus kamu membangunkan aku di jam ini," ujar Adrian.
"Iya, aku kan selalu ingat apa kata-katamu,"
Adrian minta pada Erina untuk dibantu naik ke atas kursi roda. "Tuan mandi dulu, biar lebih fresh!"
“Aku mandinya nanti saja, ayo temani aku sekarang!” Erina dengan cekatan langsung membantunya.
Pria itu cukup berat dan tak bisa tenang saat ia mencoba untuk membantunya. “Bisa tenang sedikit tidak, Tuan?”
Entah mengapa selesai ia mengatakan itu, Adrian tampak cemberut, “Kamu pikir aku anak kecil yang tak bisa tenang, begitu?”
Erina mencoba tak terpancing, ia tetap membantunya dan berusaha untuk mengangkat tubuh Adrian. “Ehm, Tuan. Ini lumayan berat, tubuhmu ini ehm sedikit ...”
Adrian menatapnya, bola mata Erina yang bulat hitam tampak jernih jika terus dipandanginya.
"Kamu mengatakan aku berat, gemuk begitu?"
"Bu-bukan itu maksudnya,"
Adrian langsung berubah masam dan menatap tajam, Erina menjadi serba salah. Ia salah ucap pastinya.
“Bagaimana kalau aku diatas tubuhmu, pasti akan lebih berat lagi, kan?” Adrian mencoba berkata sedikit nakal padanya karena kesal telah mengatakan tubuhnya berat. Erina merasa jengah dan hampir menyerah karenanya. Matanya mulai berkaca-kaca tapi Adrian masih dengan tegas terus mengatainya. Lalu, tubuh Adrian maju dan mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Erina.
“Tu-tuan ... jangan ...!”
Adrian berusaha menciumnya, membuat Erina mundur hingga kemudian menabrak dinding kamar.
“Kamu pasti takut, kan?” Erina sangat takut dan gemetaran, ia tak mengira menjadi bahan candaan pria ini. “Tuan benar-benar sangat keterlaluan!” ketus Erina.
“Itu karena kamu terlalu cerewet dan tak mau diam saat membantuku!” Adrian dengan cepat menggerakkan kursi rodanya ke depan cermin besar miliknya. Ia memantaskan dirinya dan melamun sebentar.
Ia melirik ke arah Erina yang diam dan tak berani melawan bicara padanya. Sejenak ia termenung dan merasa iba. Tak sepantasnya ia melakukannya hal yang kasar tapi gadis itu membuatnya emosi.
Ia menatap dirinya pada cermin besar dan berkata lirih tentang kejadian masa lalunya. Masa dimana ia menjadi orang yang paling ceroboh saat itu hingga membuatnya harus duduk di atas kursi roda.
“Seandainya waktu itu aku dengarkan ucapan mu ...” gumamnya lirih.
Erina melirik Adrian yang tengah bercermin , pria itu menggumamkan sesuatu seperti sebuah penyesalan dan ia mendengarnya. Sambil berpikir ia mengerutkan keningnya. Mungkin ada kaitannya dengan kakinya yang sakit itu. Ia mulai tahu cerita musibah yang menimpa Adrian dari pelayan lain. Mereka bercerita kalau Tuannya ini mengalami kecelakaan di sebuah hutan dekat dengan rumahnya ini. Bukan kecelakaan mobil atau kendaraan tapi jatuh dari kuda saat ia menungganginya. Ia mengetahuinya saat ada beberapa pelayan menceritakan bagaimana Adrian, Tuannya ini mengalami kecelakaan yang cukup tragis hingga akhirnya harus duduk dan kemana-mana menggunakan kursi roda.
"Tuan, jadi kan kita jalan-jalan?"
"Aku langsung berubah tidak mood," katanya.
"Jadi, ini salahku?" tanya Erina.
Adrian memandang keluar dan menghela napas. "Kamu selalu membuatku bad mood," imbuhnya.
Erina duduk dengan lesu sambil merenung, "Kalau aku salah terus di matamu, terus apa masih terpakai tenagaku ini?" tanyanya.
Semilir angin yang berhembus kencang membuat Adrian tak menjawab pertanyaannya. Ia fokus akan bayangan masa lalunya tentang musibah yang membuatnya cacat seperti sekarang ini. Keluhan demi keluhan ia lontarkan dan gadis ini selalu menjadi korban tapi hanya ini yang bisa ia luapkan demi menjaga sedikit otak kewarasan karena jarang keluar dari rumah.
Karena tak kunjung pergi akhirnya Erina merapikan tempat tidur Adrian yang tampak kacau karena tadi mereka duduk di atasnya. "Aku terlalu keras ya padamu?" tanya Adrian tiba-tiba.
Erina menoleh, tak bisa ia berkata jujur kalau memang pria ini begitu keras padanya. "Tuan, yang penting disini aku bekerja dengan baik. Kalau keras, memang Tuan ehm ..."
Adrian menatapnya, keduanya bertatapan dan Adrian melihat bola mata itu seakan berkata kalau dirinya memang memiliki sifat yang seperti dikatakannya barusan.