3. Pria di Depan Gerbang

1218 Words
Seorang gadis tiba-tiba masuk dan berseru cukup keras, membuat Erina kaget, begitu juga dengan Adrian. “Adrian, Kakek kritis, cepat kita pergi ke rumah besar dan ajak pelayanmu ini untuk menuntunmu kesana!” Adrian menoleh pada seorang wanita yang datang secara tiba-tiba, ia memanggil dengan keras tapi wanita itu langsung pergi begitu saja. "Kak ... Tunggu, Kak!" Erina menghampirinya, "Dia sudah pergi, Tuan," Adrian telah berkata di luar kamar dan menoleh ke belakang dimana Erina masih berdiri terpaku di depan pintu kamarnya. “Erina, siapkan jaketku!” serunya sambil menggerakkan kursi rodanya, ia sudah dengan cepat berada di luar rumah dan sampai di depan mobilnya kini. “Kemana Kak Rima, dia seharusnya kan ikut mobilku, Yesi! Dimana Kak Rima?” Seorang wanita datang tergopoh dan memberitahu kalau Yesi dan Rima telah pergi. “Cepat sekali mereka pergi, baru tadi ke kamar memberitahu kalau Kakek kritis,” gumamnya lirih. Erina telah berada di belakangnya dan membantunya naik ke atas mobil. Wanita itu hanya memakai dress tipis dan tampak terlihat menyembul bagian dadanya saat menunduk ke arahnya. Glek ...! Adrian menahan salivanya, bagaimanapun dia seorang pria yang telah berusia dewasa dan telah mengetahui lawan jenis nya dengan baik. “Apa tidak ada pakaian yang lain yang dan lebih layak yang seharusnya kamu pakai?” Erina menjadi kaget karena ia tak tahu kalau penampilannya terlihat buruk di mata pria itu. “Maaf, Tuan, apa perlu aku ganti pakaian dulu, ini ...” Adrian berdecak dan langsung minta sang supir menyalakan mesin mobilnya. Erina merasa bersalah lagi. 'Huft, gini amat jadi orang. Ketus dan menyebalkan,' batinnya. “Pak, jalan!” perintahnya pada sang supir. Ucapannya tak diindahkan pria itu. Dia pun tertegun sambil melihat pakaian yang dikenakannya. Erina merasa sudah cukup pantas jika memakai pakaian yang dikenakannya, tapi ternyata bagi pria yang bersamanya tak pantas dilihat bahkan mungkin membuatnya malu. “Tuan ... nanti aku tak ikut masuk,” ujarnya takut-takut. Lebih baik ia memutuskan seperti itu agar Tuannya tidak malu. Adrian tampak meliriknya dan meminta sang supir untuk mempercepat lagi laju mobilnya. Sementara itu ponselnya terus berdering saat mereka berada di perjalanan. Adrian tampak sibuk dengan panggilan dari keluarganya yang ada di rumah sakit. Erina hanya diam saja sampai akhirnya tiba di sebuah rumah sakit. “Kau mau disini saja tanpa membantuku turun!” sergahnya sambil melempar sebuah boneka hiasan di mobilnya. Adrian benar-benar marah karena melihat Erina hanya diam tak mau turun bahkan hanya menunduk lesu. "Kenapa diam saja!" bentak Adrian. "Iya, sebentar," Erina dengan cepat berdiri dan membantunya keluar dari mobil. “Adrian, untung kamu cepat datang, Kakek memanggilmu!” seru Yesi. Dia adalah adik sepupu Adrian yang masih kuliah dan selalu menatap sinis pada Erina. Yesi selalu membandingkan dirinya dengan Erina yang seumuran dengannya. Yesi sudah kuliah sejak ia keluar dari SMA tahun ini, sementara Erina hanya lulusan SMA saja katanya, itupun mungkin ijazahnya tak diambil, begitu yang menjadi ejekan Yesi atas Erina yang dilihatnya begitu rendah. Adrian seringkali tak menanggapinya. Ia selalu maklum dengan sifat Yesi yang meskipun selalu tak suka pada Erina tapi Yesi tak mengganggunya. Yesi hanya tak suka saat ada Erina saja. Adrian dengan cepat menuju ke ruangan kakeknya dan melihat pemandangan yang cukup menyedihkan. Kakeknya tengah dipasang beberapa infus dan kabel penunjang kehidupannya saat ini. “Kek, ini Adrian ...” ucapnya seraya menggenggam tangan pria tua itu. Kakek tua yang merupakan penguasa sebuah perusahaan yang cukup besar di kota ini kini hanya terbaring lemah tak berdaya dan memang mencarinya. Adrian merupakan satu-satunya cucu yang paling disayangi oleh Ibrahim. “Kek ... ini Adrian ...” ucapnya lagi. Semua mata memandang dan berharap kakek tua Ibrahim mendengar apa yang diucapkan sang cucu. Kedua orang tua Adrian juga baru saja datang dan berdiri di belakang Adrian. Merekalah yang selalu membantu sang Kakek untuk membesarkan perusahaan dan merawat sang Kakek. Tangan Kakek nya tampak bergerak dan matanya mulai membuka perlahan. Adrian menggenggam erat tangan kakeknya, ia dekat dengan kakeknya selama ini. Tapi, semenjak berada di atas kursi rodanya, Adrian menyembunyikan dirinya di dalam kamar dan tak mau keluar sekalipun untuk bertemu dan mengobrol sebentar dengan sang Kakek. “Adrian ... cucuku ... kesini kamu, dekat kakek sini!” suaranya lemah dan tak bisa terdengar jelas. Adrian mendengarnya sayup-sayup dan dengan cepat langsung mendekat untuk kemudian menyentuh tangannya. Kursi roda yang ia pakai lumayan nyaman meskipun jaraknya sulit untuk bisa mendekat lebih erat lagi ke samping tubuh sang Kakek. “Suruh semuanya pergi!” kata kakek nya. "Kek ..." "Aku hanya ingin bicara berdua dengannya," Adrian melirik pada kedua orang tuanya dan juga kerabatnya yang lain. Satu persatu mereka menuruti keinginan kakek tua yang hanya ingin bicara dengan Adrian saja. “Adrian ... sini dekat kakek, ada yang harus kamu ketahui tentang sesuatu ...” ucap sang Kakek dengan napas tersengal. Adrian mendengarkan dengan serius, suara kakeknya sudah sangat lemah dan ia mendekatkan telinganya agar bisa mendengar dengan jelas. “Adrian ... " "Ya, Kek. Disini Adrian, Kek," Kakek Ibrahim tampak tersengal dan semakin lemah, nada bicaranya mulai susah. "Adrian, cucuku ... sebenarnya kamu ...” ~~~ “Erina ... siapa yang sedang berdiri di depan pintu gerbang dengan baju merah itu?” tanya Adrian. Pagi itu semua sibuk mengurus banyak hal, termasuk dengan Erina dan juga orang tua Adrian. Erina tak mendengar Adrian memanggil, gadis itu tengah mengecek urusan dapur karena ia tadi pergi ke belakang dan disuruh menghitung berapa jumlah tamu yang datang pagi ini. “Erina!!!” bentaknya. Erina langsung menoleh bersamaan dengan banyaknya pelayan yang tengah mengurusi urusan dapur bersama dengan Mamahnya. Hal itu membuat seorang Nelsi menjadi heran, putranya begitu arogan terhadap sang pelayan yang merawatnya. “Adrian, ada apa kamu Nak? Erina sedang membantuku mengerjakan ini semuanya,” keluh Mamahnya. Adrian dengan cepat menarik tangan Erina dan menyuruhnya untuk duduk di dekatnya. “Aku sedang tanya sama dia, Mah!” sergah Adrian. Ia tampak marah karena Erina tak mendengarnya bicara tadi. “Erina ... coba kamu tanya Adrian apa yang ia inginkan!” "Baik, Nyonya," Erina menatap Adrian yang langsung memalingkan wajahnya. Hatinya musti sabar menghadapi pria yang tampak kolokan bahkan arogan ini. Pria itu seperti anak kecil yang benar-benar butuh perhatiannya. “Tuan, ada apa? “ tanya Erina dengan lembut. Pria itu memicingkan matanya dan akhirnya menunjuk ke arah depan. Erina mengikuti arah jari Adrian yang tengah menunjuk. "Ada apa, Tuan?" “Kamu kenal pria yang sedang berdiri di depan pintu gerbang itu!” Seseorang memang terlihat berdiri di depan pintu gerbang rumah ini, Erina langsung menutup mulutnya dan hampir menjerit. Nelsy bertanya padanya, "Siapa itu, Erin?" Erina masih diam saja dan tak bisa menjawab, tapi Adrian menatapnya dengan tajam. "Erina, kamu tahu dia?" tanya Nelsy lagi. Adrian melirik ke arah Erina yang sedang bingung. "Itu yang kamu sebut sebagai Ayahmu?" tanya Adrian. "Bu-bukan," "Lantas kamu kenapa gugup?" "Itu ehm ..." Seorang pelayan datang dan memberitahu kalau ada pengantar bahan makanan yang tak mau masuk dan hanya ingin bayarannya saja. "Itulah orangnya?" tanya Nelsy. "Bukan itu, Nyonya. Orangnya sudah saya ajak masuk dan orang yang berdiri di depan gerbang seperti mencari orang disini," kata pelayan. "Suruh sekuriti untuk menyuruhnya pergi, jangan sampai rumah ini menjadi incaran para maling!" Seorang pelayan datang dan memberitahu kalau seorang pria mencari gadis remaja yang baru bekerja disini. Erina langsung duduk dengan lemas, sementara Adrian menatapnya tajam dan menarik tangannya. "Kamu pasti kenal, kan?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD