11

1676 Words
Tok tok tok "Silahkan masuk". Aira perlahan membuka pintu dan sedikit mengintip. Sabiru tampak bersender lelah di kursinya. "Aku ganggu?". Tanya Aira. Sabiru kemudian berdiri dan menjemput Aira di pintu. Setelah menutup pintu, dipeluknya Aira dengan sangat erat. "Auchhh Biru.. sakit". Protes Aira. Sabiru tak melonggarkan pelukannya meskipun Aira memintanya, "Aku kangen". Kata Sabiru. "Aku bawakan makan, mau makan sekarang?". Tanya Aira. "Iya boleh". Lagi pula, ia juga masih lapar, tadi makanan yang dibawakan Marcela hanya di cicipi sedikit biar Marcela tidak kecewa. Belum juga makan separuh, Novan keburu telpon. Dengan alasan ada panggilan mendadak ke UGD, Sabiru langsung berlari keluar meninggalkan Marcela di ruangannya. Untunglah ada suster yang kooperatif meminta Marcela untuk meninggalkan ruangan dokter karena alasan banyak rahasia medis didalam sana. Dan akhirnya Marcela pulang sebelum Aira datang. Aira lalu mengambil piring dari laci bawah meja kerja Sabiru, sengaja Aira menempatkan beberapa peralatan makan dari rumah untuk digunakan Sabiru di tempat kerja. Biar lebih gampang makannya. "Ai... Nanti malam kita dinner yuk". Ajak Sabiru. "Kemarin lusa kan kita sudah dinner bareng". Tangan Aira masih sibuk memindahkan makanan ke piring. "Emangnya kenapa kalau dinner lagi" Sabiru memeluk pinggang Aira dari belakang, "Mau ya, please". Berhubung nanti malam Aira gak ada acara, jadi ia mengiyakannya. "Iya iya.. udah makan dulu nih". "Suapin". "Manja banget sih". 000 Aira memadu padankan rok plisket warna navy dengan T-shirt putih berlengan pendek. Simple namun nyaman. Malam ini ia dan Sabiru hanya makan malam di salah satu cafe, sehingga pakaiannya tidak formal seperti makan malam spesial di kapal pesiar kemarin. Sabiru kata ia akan menjemput Aira pukul tujuh malam. Kurang lima belas menit waktu menuju pukul tujuh malam, Aira sudah siap berdandan dan menunggu dengan tenang di ruang TV. Ting tong Suara bel berbunyi, Aira mengambil tas dan menuju ruang tamu untuk membukakan pintu Sabiru. "Tadaaaa... Good Night". "Marcela!". Oh My God... Mengapa Marcela kemari?. Kenapa harus sekarang sih?. Kacau... "Ai... Aku pulang kerja tadi mampir ke Roti John yang dulu viral itu, ternyata sampai sekarang masih ramai ya, ini aku beli macem-macem rasa, ada yang double keju, Anton pasti suka, dia kan penggemar keju. Oh ya ini aku juga pesan yang gak pedes, katanya ibu kemarin ada gangguan lambung, jadi masih bisa makan deh. Aku juga pesan ekstra mayo kesukaan kamu". Sumpah.. ucapan Marcela hanya masuk dari telinga kanan dan langsung keluar ke telinga kiri. Gak ada satupun kata yang masuk di dalam otak Aira. "Aira... Woi... Kok diem aja sih. Aku dari tadi gak di dengerin nih". Protes Marcela yang merasa di cuekin. "Hah... Emmm... Gak kok gak papa.. oh ya ada apa Cel kamu kemari?". "Lho gimana sih Ai.. kamu gak dengerin aku ngomong dari tadi ya? Ini aku bawain roti buat kamu, ibu sama adik kamu". "Ohhh gitu ya". Aira salah tingkah karena ketahuan. "Ibu.. Anton... ". Marcela langsung main masuk ke rumah Aira tanpa dipersilahkan dulu, sebab Marcela juga biasanya begitu dulu, rumah Aira sudah dianggap rumah keduanya. Aira menuju teras dan celingak-celinguk mencari keberadaan Sabiru, jangan sampai Sabiru tiba-tiba ada kerumah sedangkan masih ada Marcela di dalam. Mobil Sabiru belum muncul, tapi Aira yakin sebentar lagi sampai. Aira membuka tasnya dan mengambil ponsel untuk menelpon Sabiru. "Halo". "Halo, Biru kamu dimana?". "Sebentar lagi sampai sayang, kenapa? Sudah gak sabar ya?". Goda Sabiru. "Jangan kesini, dirumah ada Marcela sekarang". Sabiru langsung menepikan mobilnya, "Terus kita gak jadi pergi?". "Gak tau". Aira juga panik, ia tidak bisa berpikir. "Ya udah kamu temenin Marcela dulu ya". "Dinner kita batal aja ya?". "Udah kamu temenin Marcela dulu, bye". Setelah panggilan terputus, Aira kemudian masuk ke dalam rumah. Ia memaksakan diri untuk menampilkan raut wajah yang bahagia walaupun sebenarnya hatinya was was. Setelah setengah jam. Bel rumah Aira berbunyi lagi. Ibu Aira membukakan pintu, ternyata Sabiru datang bersama Novan. Ibu Aira menyambut keduanya dengan suka cita. "Lho kok kalian kesini?". Tanya Marcela heran. "Novan tadi siang sukses menyelesaikan operasi yang sangat sulit, untuk merayakannya, dia berniat mengajak makan malam bersama kalian. Dia yang taktir. Berhubung aku cuma tau rumah Aira, jadi aku kesini". Kata Sabiru menjelaskan. "Iya betul" ucap Novan mendukung Sabiru, namun diam-diam telapak tangannya mengepal, lagi lagi dia yang di tumbalkan oleh Sabiru. Dasar Sabiru sia*an. Baru tadi pagi ia protes karena dilibatkan dalam cinta segitiga Sabiru malah malam ini dia di ceburkan lagi ke dalam laut kebohongan yang dibungkus dengan indah. Ibu Aira menatap Sabiru, Aira dan Marcela bergantian, Ibu heran dengan sikap mereka yang sepertinya aneh, ibu jadi bingung. Dengan polosnya Marcela menggandeng tangan Sabiru dan menyuruhnya duduk ke meja makan, tangannya dengan cekatan membukakan roti yang tadi dibelinya. "Ayo cicipi". Ibu Aira menjadi tambah curiga, sikap Marcela pada Sabiru terlalu dekat, dan anaknya Aira hanya diam saja, apakah Aira tidak cemburu?. Ibu mempunyai firasat yang tidak baik. Ibu memutuskan untuk berbicara dengan Aira nanti. Novan yang ditinggal di ruang tamu merasa kesal, bukan karena ia iri tidak diajak makan oleh Marcela, namun ia kesal karena melihat Aira sedang cemburu. Novan tidak ingin melihat Aira sedih, tapi jika boleh dia minta ia juga ingin Sabiru berpacaran dengan Marcela sehingga Aira bisa bersamanya. Di saat bersamaan Novan juga kesal dengan Sabiru, katanya sayang dengan Aira, cinta mati dengan Aira tapi mengapa dia menurut saja kemauan Marcela dan tidak memperhatikan perasaan Aira. "Ayo kita makan diluar". Kata Novan. Sabiru yang duduk dan akan mencicipi roti, ditaruhnya kembali roti itu ke piring. "Ayo, keburu malam nih". Marcela merasa sedikit kecewa karena Sabiru belum sempat makan, tapi karena mereka akan makan diluar jadi Marcela tak ambil pusing. Sabiru, Aira, Marcela dan Novan masuk ke salah satu cafe di Surabaya. Cafe ini juga salah satu tempat favorit Sabiru dan Aira. Setelah memesan makanan mereka pun berbincang. "Biru, kamu gak buka jaket, disinikan gak dingin". Tanya Marcela. Karena memang udara di Surabaya sedikit panas, apalagi ini cafe indoor, meskipun ada AC tapi kurang terasa karena banyaknya pengunjung. Marcela saja masih penyesuaian dengan udara disini, sebab di Australia bersuhu dingin. Sabiru menuruti permintaan Marcela untuk melepas jaketnya, betapa herannya Marcela ternyata baju yang dipakai Sabiru adalah T-shirt putih sama dengan yang dipakai Aira. "Wah ternyata selera kamu dan Aira kebutulan malam ini sama ya". Ucap Marcela menyindir dengan sedikit sarkasme. Aira juga terkejut, kenapa bisa baju yang dipakainya sama seperti Sabiru pakai, padahal mereka gak janjian lho. Sabiru tersenyum dan ikut menyindir "Wah Ai... Kebetulan banget, jangan-jangan kita sehati lagi". Katanya santai. Wajah Aira langsung merah, 'apa apaan sih Sabiru, gak tau situasi banget sih ini orang'. Ucapnya dalam hati. Raut wajah Marcela sedikit berubah menjadi tidak enak, ia tahu Sabiru dalam katagori bercanda namun tetap saja menjengkelkan. Kenapa bukan dia yang pakai baju T-shirt putih, justru Sabiru dan Aira terlihat seperti pasangan. "Oh ya Van, tadi siang kamu operasi apa?" Marcela mengalihkan topik pembicaraan. "Hati". Jawab Novan asal. Semua orang menoleh ke arah Novan. Novan kemudian melanjutkan bicaranya "Maksudku kanker hati". "Wah kasihan ya dia". Ucap Marcela dengan nada penuh simpati. "Ya salah sendiri gak menjaga hatinya. Seandainya dia bisa merawat hatinya agar bisa bahagia mungkin dia tidak akan sakit". Sabiru, Aira, dan Marcela sedikit terbengong, yang diomongin Novan hati yang mana sih?. Yang pasti Sabiru dan Aira merasa tersindir dengan ucapan Novan. "Permisi, makannya sudah datang". Sela pramusaji. "Ya udah makan dulu yuk". Ajak Novan memecah ketegangan. Malam ini mereka berempat sudah tidak kikuk lagi seperti makan malam sebelumnya, kali ini lebih akrab. Hanya Aira saja yang masih tidak bisa hanyut dalam suasana. Kebanyakan diam jika tidak diajak ngobrol. Saat pulang, rencananya akan mengantarkan Marcela pulang duluan sebab keempatnya berangkat dengan satu mobil yaitu punya Sabiru. Namun Marcela menolak dan meminta Aira dipulangkan lebih dahulu. Dengan alasan ada sebuah barang yang akan diberikan oleh Marcela pada Sabiru, jadi Marcela meminta Sabiru untuk mampir ke rumahnya malam ini. Karena Marcela bersikeras sehingga semuanya mengikuti pengaturan Marcela itu. "Ayo masuk dulu Biru". Ajak Marcela saat tiba di rumahnya, sedangkan Novan dan Aira sudah diantar ke rumah masing-masing. "Sebentar aja ya, soalnya besok aku praktek pagi". Sabiru mengingatkan. "Iya cuma sebentar kok Biru". Marcela menggandeng Sabiru saat memasuki rumahnya. Ini rumah lamanya waktu ia tinggal di Surabaya dulu, sedangkan orang tuanya ada di Australia menemani adik Marcela yang sedang kuliah juga di Australia. Jadi saat ini Marcela tinggal sendiri. Sabiru duduk di ruang tamu, sedangkan Marcela masuk ke kamarnya untuk mengambil sesuatu. "Ini buat kamu". Marcela memberikan sebuah kotak kecil berwarna biru tua. "Ini apa?". "Oleh-oleh buat kamu". "Ok thanks". "Buka dong". Pinta Marcela manja. Sabiru membukanya dan isinya adalah sebuah parfum dengan merek yang sangat terkenal, ini harganya pasti mahal. "Makasih Cel". Marcela mendekati Sabiru lebih dekat lagi. "Nah sebagai gantinya, kamu harus mau aku ajak liburan". "Ajak Aira dan Novan juga ya?". Dalam hati Marcela ingin berdua saja, tapi takut Sabiru menolak sehingga dengan terpaksa dia menyetujuinya "ok gak masalah". "Mau liburan kemana?". "Ke Karimun Jawa mau gak? Soalnya aku sudah lama ingin kesana". Sabiru sedikit menimbang-nimbang "Boleh, tapi lihat jadwal dulu ya kosongnya kapan, karena sepertinya aku harus ijin lebih dari satu hari jadi gak bisa mendadak". "Ok, gak masalah". Sabiru buru-buru pamit sebelum di cegah lagi oleh Marcela. "Aku pamit ya". Tangan Marcela menahan lengan Sabiru "Tunggu". "Ada apa lagi?". Sabiru benar-benar ingin pulang. "Kamu beneran belum pernah ketemu sama Aira? Maksudku, setelah lulus SMA apa kalian tidak pernah bertemu seperti hangout bareng, menanyakan kabar atau reuni kecil-kecilan gitu?". Apakah Marcela curiga? Pikir Sabiru. "Kenapa?". "Oh enggak, cuma aku rasa.. kamu dan Aira cukup dekat bukan seperti orang yang sudah lama tidak bertemu". "Ohhh kita hanya pernah bertemu di jalan saja beberapa kali, tapi belum sempat ngobrol". Padahal sebenarnya aku dan Aira adalah sepasang kekasih. Gara-gara kamu, Aira minta hubungan ini backstreet. "Ohh ya". "Kamu gak percaya?". Nada Sabiru sedikit menguji. Marcela sedikit tidak percaya namun ia berusaha menyangkalnya. "Ohh bukan itu maksudku. Emmm... Hanya saja kita dulu adalah sahabat, aku kira kalian masih berkomunikasi". "Pacaran saja bisa lost contact apalagi cuma sahabat". Sindir Sabiru. "Kamu masih marah sama aku?". Marcela jadi panik sekarang. "Udah malam, aku pulang dulu ya, bye". Pamitnya tanpa menoleh lagi ke belakang. "Sabiru tunggu". Marcela mencoba menahan lagi namun Sabiru tetap berjalan masuk ke mobil.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD