Gelap malam telah digantikan oleh cerahnya matahari terbit, satu Minggu telah berlalu. Hari ini tepat hari Jum'at, selama tiga hari ke depan. Aira, Sabiru dan Novan akan pergi berlibur ke Karimun Jawa sesuai permintaan Marcela.
Semua akomodasi seperti tiket pesawat, hotel, dan juga tour guide Marcela yang memesan. Semuanya juga sudah dibayar oleh Marcela. Katanya, liburan ini bisa dianggap sebagai pesta perayaan kedatangannya di Indonesia.
Marcela sudah terlebih dahulu tiba di bandara, ia harus mengurus ini itu untuk liburan kali ini, setengah jam kemudian Sabiru, Novan dan Aira sampai di bandara. Mereka bertiga berangkat menggunakan satu mobil.
Marcela menyapa ketiganya dan memberikan tiket pesawat pada masing-masing orang.
"Jangan cemberut Ai.. kita ini mau liburan bukan mau ke medan perang". Ucap Marcela saat mendekati Aira yang masih ogah diajak liburan.
"Kenapa gak cari tempat yang dekat aja sih Cel, jadikan gak perlu nginap".
"Enak aja, justru momentum ini aku punya misi khusus. Aku yakin bisa mendapatkan Sabiru kali ini". Kata Marcela dengan percaya diri.
Misi khusus?? Hati Aira tambah remuk mendengarnya. Aira menatap Sabiru yang sedang berbincang dengan Novan. Lelaki yang tampan, tak heran banyak yang menyukainya. Menjadi pendamping orang yang seperti Sabiru harus punya otot kawat tulang besi untuk menangkis banyaknya para gadis yang ingin mendekat, apa daya Aira bukan Gatotkaca, bahkan keberaniannya juga gak ada 1 persen yang diturunkan. Aira hanya bisa mengeraskan hati untuk bertahan.
Waktu keberangkatan pesawat telah tiba, mereka berempat segera check in dan masuk ke pesawat.
"Biru, sini". Marcela mengajak Sabiru untuk duduk di sebelahnya.
Ternyata tempat duduk yang dipesan adalah tatanan untuk 2 orang. Marcela dan Sabiru, Aira dan Novan. Begitu pembagian kursinya.
"Aku duduk sama Novan aja Cel". Sabiru menolak meskipun nomor tempat duduk yang ia dapat memang di sebelah Marcela.
"Udah gak papa Biru, Aku juga ingin duduk di dekat jendela, nanti aku bisa rebutan sama Marcela". Aira mengerti situasi ini, pasti Marcela ingin duduk disamping Sabiru bukan, hanya masalah tempat duduk, tidaklah berarti bagi Aira. Biarlah Sabiru dan Marcela duduk bersama.
Novan dengan sigap mendorong Sabiru untuk duduk di kursinya "Duduk bro".
Akhirnya Sabiru terpaksa duduk di samping Marcela.
Sepanjang perjalanan, Sabiru memejamkan mata, pura-pura tidur supaya tidak ada yang mengajaknya bicara. Tapi telinganya gatal mendengar Aira dan Novan heboh bercanda gurau di kursi belakang. Kelihatannya mereka begitu akrab dan senang. Sabiru sedikit cemburu, bukankah harusnya Aira merasa tidak sedang saat mengetahui pacarnya duduk dengan wanita lain, tapi mengapa rasanya Aira biasa saja, bahkan masih bisa bergurau dengan laki-laki lain. 'Awas lu Van, kalau sampai ngapa ngapain cewek gue'.
Disisi lain Marcela juga kecewa karena setelah take off, Sabiru tidur. Marcela juga ingin bergurau dengan Sabiru, sengaja ia pilih kursi bersebelahan supaya ada kesempatan baginya untuk lebih dekat dengan Sabiru, tapi ternyata... Marcela memendam rasa kesalnya, ia tidak bisa marah sekarang. Ia tidak ingin dicap sebagai cewek kegatelan. Marcela berjanji pada dirinya sendiri bahwa kali ini Sabiru harus jadi miliknya.
Sampai di bandara Semarang, mereka menyebrang ke pulau Karimun Jawa, seorang tour guide laki-laki menjemput ke pelabuhan dengan membawa sebuah mobil. Namanya Pak Hadi. Beliau yang akan mengajak berkeliling ke tempat menarik yang ada di pulau Karimun Jawa mulai besok, karena hari ini agendanya istirahat di hotel saja.
Hotel yang dipesan Marcela sungguh bagus pemandangannya. Kamar tidur model pondok dengan view menghadap laut. Dari balkon kamar bisa melihat matahari tenggelam. Jika ingin ke pantai, hanya perlu berjalan kaki beberapa meter.
Sampai disana mood Aira berubah senang, rasa rasanya dia juga sudah lama tidak liburan.
"Wah... lautnya sangat biru he he he".
Sabiru melihat Aira senang ia juga ikut senang, beberapa hari ini Aira pasti tertekan, melihat Aira tersenyum membuat telapak tangan Sabiru tidak tahan untuk mengelus kepala Aira dengan lembut.
Marcela yang datang dari samping setelah mengurus administrasi check-in hotel, merasa heran dengan sikap Sabiru. Rasanya Sabiru cukup hangat memperlakukan Aira. Tidak seperti saat bersamanya, masih dingin.
Marcela berpikir positif, mungkin karena dirinya pernah menyakiti Sabiru sehingga Sabiru belum bisa memaafkannya, mangkanya Sabiru bersikap dingin padanya dan dengan Aira lebih hangat karena mereka adalah teman dan tidak pernah punya masalah apapun.
"Aira, ini kunci kamar kamu". Marcela berjalan mendekat sambil berbicara.
Sabiru segera melepaskan tangannya dari kepala Aira dan berubah menjadi sok cuek.
Aira menoleh dan mengambil kunci dari tangan Marcela "Ya udah kita langsung ke kamar yuk Cel". Ajak Aira yang tidak sabar melihat kamar hotel.
"Emmm Ai... Kamu satu kamar sama Novan ya". Kata Marcela.
Hah!.
Semua melotot ke arah Marcela.
"Aku pesannya 2 kamar. Aira sekamar dengan Novan, dan aku sekamar dengan Sabiru". Marcela menjelaskan.
"Gak bisa!". Sabiru langsung menolak dengan tegas. It's impossible man. Dia tidak mungkin membiarkan kekasihnya satu kamar dengan playboy seperti Novan. Benar dia seorang pahlawan jika memakai baju putih, tapi dia bisa berubah menjadi serigala jika sudah diluar rumah sakit. Apalagi berhadapan dengan wanita cantik. Dan Aira jelas adalah wanita cantik.
"Benar, itu gak mungkin" sahut Novan yang juga tidak terima.
"Cel, jangan aneh-aneh deh". Aira menolak juga.
"Ini weakand, semua kamar di hotel ini penuh. Jika kalian tidak bersedia boleh cari hotel lain, tapi tidak aku jamin kalian bisa mendapatkan kamar sebab sekarang ini high season" ucap Marcela dengan tenang, ia kemudian mengambil koper dan berjalan menuju kamarnya.
Segera Sabiru menuju resepsionis hotel, bertanya apakah ada kamar kosong, dan ternyata benar semua full.
Novan juga mencari di aplikasi hotel online. Semuanya juga penuh.
Hari sudah semakin sore, sebentar lagi matahari akan tenggelam. Sedangkan Sabiru dan Novan masih belum mendapatkan hotel.
"Biru, apa kita turuti saja kata Marcela?". Tanya Aira pelan. Rasanya sudah hampir putus asa.
"Enggak Ai!" Tegas Sabiru.
"Gue janji gak bakal ngapa ngapain Aira kok bro". Ucap Novan.
"Bulshit, gue tau elu ya Van" dengan nada sedikit tinggi Sabiru memperingatkan Novan.
"Gak percaya amat sih". Bela Novan.
"Udah dong jangan bertengkar, kita harus gimana ini. Atau gini aja. Kunci kamar kan ada di aku, jadi kita sekamar bertiga. Gimana?". Aira mencoba memberi ide.
Sabiru dan Novan tampak berpikir kemudian keduanya menuruti Aira. Ya ini mungkin lebih baik dari pada tidur di jalan.
Masuk kedalam kamar Sabiru langsung menyuruh Novan untuk tidur di lantai.
"Enak aja, gak mau gue". Tolak Novan.
"Terus... Elo seranjang gitu sama Aira?"
"Kalau gue tidur di lantai, terus elu?".
"Ya di ranjang lah sama Aira, dia kan cewek gue".
"Ogah... Enak aja gue dijadiin obat nyamuk, ngiliat kalian tidur enak di kasur. Inget bro. Ini semua gara-gara elo, elo yang ngejebak gue dalam permainan cinta kadal kayak gini".
"Ohh.. jadi semua salah gue, elu nyalahin gue, gitu?". Sabiru tak mau kalah.
"Emang salah elu kok, elo yang harus tanggung jawab".
"Sudahhhhhhhhh" teriak Aira.
Sabiru dan Novan akhirnya diam namun mata mereka masih beradu.
"Siapa yang mau mandi duluan?". Tanya Aira.
"Dia aja". Kata Sabiru. "Kita pergi aja yuk sekarang" Ajak Sabiru langsung menyeret Aira keluar kamar.
Novan : " ... ".
000
Aira ditarik Sabiru menuju pantai, pas sekali dengan waktu matahari tenggelam. Langit berwarna jingga terbentang sepanjang garis lautan lepas.
Aira yang mau marah pada Sabiru mendadak lupa ingatan, semuanya teralihkan ke indahnya panorama laut.
"Wah... Sunset...". Teriak Aira kegirangan.
Sabiru mengajak Aira untuk duduk di pasir. Duduk berdampingan melihat lautan.
"Ai...".
"Hemmm".
"Aku kayaknya harus ngomong tentang hubungan kita ke Marcela".
"Jangan". Tolak Aira.
"Aku sudah gak tahan sayang". Ucap Sabiru sungguh sungguh.
"Jangan Biru, biar aku aja yang ngomong. Tapi gak sekarang".
"Terus kapan?".
"Ya... Sekarang kan masih liburan, kita senang senang aja dulu, setelah itu baru aku cari waktu yang pas buat ngomong ke Marcela, boleh ya please".
Aira memasang ekspresi penuh harap, Dimata Sabiru, itu sangat imut sekali. Bagaimanapun juga Aira memang jarang meminta sesuatu padanya.
"Baiklah". Sabiru benar-benar tak sanggup melihat muka Aira saat memelas.
Tak jauh dari sana, Marcela sedang mengawasi Sabiru dan Aira dari kejauhan. Marcela merasa Sabiru dan Aira memang akrab, bukan seperti orang yang baru bertemu tapi seperti saat mereka sekolah dulu. Marcela sungguh iri. Seharusnya dia yang sibuk main pasir dengan Sabiru, menikmati indahnya sunset Karimun Jawa bersama. Tapi apa... Justru Aira yang menemani Sabiru saat ini. Ia sudah sedemikian rupa mengatur acara ini hanya supaya lebih dekat dengan Sabiru.
Tangan Marcela mengepal, hingga merusak kuku indahnya. Dia sudah tak tahan lagi untuk mendapatkan Sabiru. Ia takut Sabiru justru tertarik pada Aira karena sekarang Aira berubah menjadi wanita yang cantik dan feminim. Bukankah itu tipe Sabiru?. Marcela sungguh tidak bisa membiarkan itu terjadi.
Saat Novan selesai mandi, dia juga ingin melihat suasana hotel. Saat berjalan menuju pantai, tak sengaja ia mendapati Marcela didekat sana. Matanya tak lepas dari dua sosok manusia di pantai. Itu pasti Sabiru dan Aira.
Novan tersenyum sinis. Cinta segitiga. Sungguh memusingkan. Mangkanya selama ini dia tidak pernah serius dalam berpacaran. Saat telah menemukan gadis impiannya, sayangnya gadis itu adalah pacar sahabatnya.
Novan mencabut setangkai bunga mawar merah yang ditanam di halaman hotel. Lalu bunga itu di letakkan di depan wajah Marcela.
Sontak Marcela kaget "Hah".
"Bunga mawar ini cantik cocok untuk wanita yang juga cantik. For you".
"Ha ha ha kalau pagi jadi dokter kalau malam jadi tukang gombal?". Goda Marcela.
"Bunga ini aku petik dari taman hotel, mungkin ada biaya tambahan saat check out nanti, saya minta maaf sebelumnya".
"It's ok, gak masalah. Tapi... Bukankah bunga ini untuk Aira? Bukannya kamu menyukai Aira?". Marcela tak asal menebak, sebab terlihat jelas di mata Novan.
"Dokter tidak akan memaksa seorang pasien untuk operasi jika dia tak bersedia. Begitu juga dengan hati".
~gombal banget pak dokter~
"So?".
"Aku tidak akan memaksa jika Aira tidak mau, tapi jujur aku lebih suka main halus, minim resiko".
"Tapi itu membutuhkan waktu yang lama".
"Selama itu berhasil, gak masalah".
"Bagaimana jika diambil orang lain".
"Berarti dia bukan untukku".
"Kamu tidak ingin memperjuangkannya?".
"Mencintai bukan harus memiliki Marcela!".
"Bulshits... Itu omongan pecundang".
"Jadi kamu akan terus melakukannya?".
"Tentu saja".
"Kamu akan kalah Marcela". Ucapan Novan benar benar ingin merubah pikiran Marcela.
Marcela meremehkan, "hah, gak mungkin. Sabiru pasti masih cinta sama aku".
"Kamu tidak bisa membaca isi hati orang lain".
"Tapi aku bisa membuat orang lain membaca isi hati aku dengan jelas".
Novan kemudian memutar badan Marcela untuk berhadapan dengannya, mencondongkan kepala dan berbisik " Or you try some adventure with me tonight?".