"Jadi maksud kamu, aku harus tutupi hubungan kita dari Marcela?".
Aira mengiyakan dengan mengangguk.
"Gak bisa Aira, Marcela harus tahu hubungan kita. Aku gak mau sembunyi-sembunyi". Tolak Sabiru.
"Tolong dong sayang...". Rengek Aira. Ia segera pindah ke samping tempat duduk Sabiru. "Aku belum siap kalau Marcela tahu hubungan kita, Marcela sahabat aku, dia pasti kecewa dengan aku jika tahu sahabatnya kini berpacaran dengan mantan kekasih nya".
'Dan juga Marcela ternyata masih mencintai kamu Biru', ucapan yang tidak dikeluarkan Aira.
"Justru itu Ai.. dia harus tahu, bagaimana jika dia tahu dari orang lain. Dia pasti lebih kecewa".
"Tapi dia baru pulang dari Aussie. Dia juga baru dapat kerja di Indonesia. Aku gak mau ganggu konsentrasi dia".
"Dengan kamu menutupi ini semua?".
"Hanya sementara Biru bukan selamanya, kita cari waktu yang pas untuk memberitahukan ini semua ke Marcela".
"Kapan Ai?".
"Ya gak tau, kita lihat dulu gimana situasinya".
"Beri satu alasan supaya aku mau melakukannya". Ucap Sabiru sambil mengangkat telunjuknya.
Aira terdiam dan matanya mulai berkaca-kaca.
"Aku gak mau kehilangan kalian berdua!". Kata Aira tanpa ragu.
Ada kekawatiran di mata bening Aira yang ditangkap Sabiru.
"Kamu gak akan kehilangan siapapun sayang.. apa yang sebenarnya kamu takutkan?". Sabiru mulai melembutkan bicaranya.
Aira menundukkan kepalanya, hal ini membuat Sabiru jadi curiga dengan sikap Aira yang aneh.
"Ada sesuatu yang kamu sembunyikan?".
"Gak ada". Aira buru-buru menjawab pertanyaan Sabiru.
Sabiru memeluk Aira, "Aku dan dia sudah berakhir Aira. Aku cintanya sama kamu".
Dengan cepat Sabiru menyambar bibir Aira, merasakan manis yang sudah dicandunya.
Rasanya ada batu besar yang mengganjal hati Aira dan kini telah terlepas. Mendengar Sabiru mengatakan bahwa ia mencintai Aira. Benar-benar membuat hati Aira bahagia. Pelan-pelan Aira merilekskan pikiran, melupakan masalah yang ada. Dan membalas ciuman Sabiru yang semakin kuat.
Sedangkan tangan Sabiru lebih suka berkelana di tubuh Aira. Telapak tangan Sabiru sudah menyusup ke balik kemeja. Aira merasakan sentuhan panas dari telapak tangan Sabiru di kulit punggungnya, hal ini membuat Aira tersadar dari buaian cumbuan Sabiru.
"Biru".
Panggil Aira disela ciumannya.
"Hemm".
"Ini di rumah sakit". Ucapnya malu-malu.
Sabiru langsung kaku terdiam. Secara pelan ia meninggalkan bibir Aira dengan terpaksa.
"Kamu benar-benar bikin aku lupa diri Aira".
Aira : "...".
000
Aira memberitahukan pada Marcela jika ia sudah mendapatkan kontak Sabiru kemarin dari salah satu teman SMA yang Aira tidak sebutkan namanya, karena teman tersebut adalah Aira sendiri.
"Benarkah?!". Marcela sungguh tidak percaya Aira bisa mendapatkannya juga.
"Iya, ini aku w******p ke kamu".
"Thank you Aira, you save my life. You are my best friend ever!". Puji Marcela.
"Dan juga..".
"Ada apa?". Marcela sedikit takut mendengar.
"Aku sudah minta janjian untuk bertemu dengannya besok, kamu bisa?".
"Ohh really? Meet with him? Oh Aira ini yang aku tunggu.. bagaimana bisa kamu melakukannya? Apakah dia mau? Apakah dia sulit diajak bertemu? Dia mau bertemu dimana? Jam berapa?". Tanya Marcela bertubi-tubi dengan semangat.
"Ha ha ha" Aira tertawa sambil membayangkan ekspresi senangnya Marcela. "Nanti aku kirim pesan lagi untuk tempat dan waktunya, jadi kamu tenang dulu ya".
"Gimana bisa tenang Aira, aku akan bertemu dengan Sabiru! Setelah bertahun tahun aku ingin tahu kabarnya. Aku harus ke salon dan beli baju baru untuk besok, karena dia pasti lebih ganteng sekarang".
Ya lebih ganteng dan tubuhnya lebih atletis, jawaban Aira yang hanya sampai di tenggorokan.
"Ok.. sekarang aku sibuk. Aku tutup ya telponnya". Pinta Aira tiba-tiba. Ia sudah tidak kuat mendengar kesenangan Marcela.
"Oh baiklah, maaf mengganggu kamu Aira, sekali lagi terima kasih kamu sudah membantu aku menemukan Sabiru. Kamu benar-benar teman yang baik Aira, aku beruntung punya sahabat seperti kamu". Ucap Marcela tulus.
"Sama-sama Cel, hanya ini yang bisa aku bantu untuk kamu, kedepannya sepertinya kamu harus berjuang sendiri". 'Untuk mendapatkan Sabiru', lagi-lagi kata-katanya ia teruskan di dalam hati Aira.
"Oh tidak... Aku tidak bisa apa-apa tanpa kamu Aira, berjanjilah untuk selalu membantuku Aira". Pinta Marcela.
"Sudah ya Cel, aku sibuk, bye". Kata Aira mengakhiri pembicaraan.
"Bye Aira".
Telpon tersebut akhirnya terputus, permintaan Marcela masih terngiang di otak Aira. Membantu Marcela? Ia hanya sanggup membantu sampai disini. Maaf Marcela.
Berbicara seperti ini tentang Sabiru pada Marcela sudah membuatnya tidak nyaman, apa lagi besok saat melihat Sabiru dan Marcela bertemu. Keduanya bernostalgia ria mengingat kemesraan mereka waktu masih pacaran dulu, apakah aku kuat?.
Aira menatap penampilannya di cermin, untuk tubuh dan wajah sekarang ia tidak kalah cantik dari Marcela. Dulu memang ia tomboi, suka pakai celana jeans plus kaos oblong. Sepatu sneakers dan berambut pendek mirip artis Yuni Shara.
Jangankan skincare, bedak saja Aira tidak punya. Produk kecantikan yang ia punya hanya handbody lotion supaya kulitnya tidak kering dan itu kadang dipakai di wajah. Oh my God Aira...
Kini setelah ia berpacaran dengan Sabiru ia mulai care terhadap penampilan, rambutnya ia panjangkan, dan menyisihkan sebagian uangnya untuk pergi ke klinik kecantikan. Setiap Minggu ia juga pergi ke gym untuk membentuk tubuhnya, dan hasilnya ia bagaikan para kontestan Miss Universe.
Apalagi sejak menjadi guru, sifatnya juga berubah, lebih lembut dan keibuan. Tidak meledak-ledak seperti waktu SMA. Sabiru sepertinya juga lebih suka dengan perubahan Aira saat ini, Sabiru selalu mendukung Aira baik materi maupun psikis.
Namun kini Marcela kembali, mungkinkah Sabiru masih menatap Aira, ataukah berpaling ke Marcela?.
Aira sungguh tidak percaya diri.
Aira memilih dress selutut berwarna hitam dan bagian lengannya transparan berbahan tile. Rambutnya ia catok dan dikeriting di bagian ujung. Latihannya bertahun-tahun menggunakan make up ia curahkan semua ke dandanannya. Malam ini ia dan Sabiru akan makan malam. Aira ingin berpenampilan cantik hari ini, ia ingin meninggalkan kesan yang istimewa untuk Sabiru, entah mengapa ia merasa ini adalah makan malam untuk terakhir kalinya bersama Sabiru.
Tepat pukul 6.30 malam Sabiru datang ke rumah Aira untuk menjemputnya. Sebelum keluar kamar Aira menyemprotkan parfum impor hadiah dari Sabiru ke seluruh tubuhnya karena Sabiru sangat menyukai aroma ini di tubuh Aira.
Sabiru menatap Aira yang keluar dari dalam rumah dengan anggun. Gaun hitam yang melekat ditubuh membentuk setiap lekukan tubuh indah Aira, Sabiru mengamati dari ujung rambut hingga ujung kaki semuanya menawan. Dialah bidadari bumi yang sangat dicintainya. Tak mampu rasanya Sabiru bisa berpaling ke wanita lain karena wanita di depannya sungguh sempurna.
"You're so beautiful". Bisik Sabiru di telinga Aira.
Blush!.
Muka Aira seketika memerah.
"Kita berangkat sekarang?".
"Oke".
Sabiru kemudian merangkul pinggang Aira. Ia ingin mendekapnya seandainya tidak ada ibu Aira dirumah. Mereka berpamitan sebentar lalu keluar rumah menuju mobil.
"Could I kiss you". Tanya Sabiru saat baru saja masuk mobil.
"No! Lipstik ku bisa belepotan". Tolak Aira tegas.
"Cuma dipipi Aira".
Aira kemudian melirik karena tidak percaya ucapakan Sabiru, akhirnya Sabiru hanya diam menahan diri.
"Besok aku mau beli lipstik yang gak mudah luntur dan tahan air". Kata Sabiru.
Aira : " ??? ".
Tak lama mereka berkendara, sampailah ke pinggir kota tempat makan malam yang sudah Sabiru booking kemarin.
Sebuah restoran western yang cukup high class di kota Surabaya. Tepatnya ada di sebuah kapal pesiar kecil yang bersandar di pelabuhan. Kapal ini menyediakan tempat makan di deck kapal dan hanya menyediakan 5 meja saja. Untuk dapat makan disini harus pesan lewat website mereka jauh-jauh hari.
Kebetulan Sabiru kenal dengan manager kapal pesiar tersebut, saat akan memesan ternyata hari ini ada yang kosong 1 meja, pemesan sebelumnya tiba-tiba mencancel. Ini merupakan keberuntungan. Sebab Aira menolak ajakan nonton bioskop kemarin dan malah ingin makan malam romantis. Oleh karena itu Sabiru memesan tempat ini.
Sabiru dan Aira duduk di sebuah meja dekat pagar.
Dari atas kapal pemandangannya sungguh indah. Bisa melihat laut dan juga lampu kota.
"Ternyata ada ya tempat seperti ini, berasa lagi di Inggris ya". Celetuk Aira.
Sabiru sadar, seandainya bukan karena dirinya mungkin Aira ada di Inggris sekarang. Menelusuri sungai Seine sambil menikmati pemandangan Inggris yang indah. Bukan pemandangan kota Surabaya dan laut Jawa Utara.
Sabiru menarik tangan Aira ke genggamannya, "suatu hari aku akan ajak kamu kesana, kita lewati malam dengan mengarungi sungai Seine dan melihat gemerlap lampu kota Inggris". Janji Sabiru.
"Dimana pun kamu berada, asal ada kamu itu sudah cukup buatku".
Yaa Aira tidak mau muluk-muluk. Lebih baik menghadapi apa yang ada di depan saat ini daripada berangan-angan.
Sabiru kemudian merogoh saku jaketnya dan mengambil sebuah kotak.
"Ini buat kamu" sambil menyerahkan kotak tersebut pada Aira.
Aira menerima dan langsung membukanya, tak sabar melihat kejutan apalagi yang Sabiru berikan untuknya.
"1 2 3". Sebuah gelang rantai emas berhias kepala rusa yang dimatanya ada permata putih.
"Untukku?".
Sabiru mengambil gelang itu dan memakaikannya ke pergelangan tangan Aira.
"Suka?" Tanya Sabiru.
Aira menyentuh gelang yang ada di tangannya dan juga menatap gelang itu dengan haru, gelang ini begitu indah. Tak sadar Aira malah ingin menangis.
"Kenapa ekspresi mu begitu?".
"Terima kasih, pemberianmu ini sangat spesial".
"Apapun untuk mu Aira, Bukannya lain kali tidak ada hadiah lagi".
Lain kali...
Masih adakah lain kali?
Mengapa aku merasa ini adalah hadiah perpisahan untukku. Bukannya aku pesimis namun aku sungguh tidak bisa berharap lebih.
Tak sadar air mata Aira semakin deras. Sabiru sedikit panik, ia berjalan ke kursi Aira dan memeluknya dari belakang "Aku tau kamu terharu tapi tidak perlu membuat riasannya sampai luntur".
Persetan dengan make up, hatinya kacau sekarang, meskipun begitu Aira akhirnya menghentikan tangisnya.
Tuittttt
Suara peluit terdengar nyaring. Kapal pesiar yang mereka tumpangi perlahan berlayar menjauhi dermaga.
"Biru apakah kapal ini akan berlayar?".
"Sepertinya begitu. Coba lihat disudut sana juga ada pertunjukan live musik".
"Benar-benar romantis".
"Tapi aku lebih suka jika mengajakmu ke hotel" ucap Sabiru lirih.
"Apa?".
"Tidak papa, sebentar lagi makanannya di hidangkan".
"Owh".
Aira dan Sabiru menyantap tenderloin steak ditemani segelas anggur merah. Sungguh pasangan hidangan yang sangat cocok, benar-benar terasa sekali westernnya.
Aira mengungkit masa masa indah mereka bersama selama ini, mengenang kejadian lucu maupun menegangkan. Ia ingin mengenang masa-masa kebersamaannya dengan Sabiru selagi bisa.
"Inget gak, waktu aku pertama kali mengajar, kamu nungguin aku seharian dari jam 7 pagi sampai pulang sekolah dan akhirnya kamu ditegur satpam, dia kira kamu mata-mata mau nyulik siswa". Ucap Aira.
"Gak tau tuh pak satpam, masa ganteng gini dikira penculik, lagian ya masa aku culik anak SMA, kalau anak TK itu baru wajar, aneh-aneh aja".
"Ha ha kamu sih ngotot nungguin aku dari jam 7 sampai jam 1 siang ya pasti curiga lah pak satpamnya".
"Ya aku takut kamu kenapa napa di sekolah, lagian aku udah ambil cuti, terus ngapain coba dirumah? Bosen Ai...".
"Ok ok".
"Aku gak mau aja kamu jadi rebutan di sekolah kayak waktu aku koas dulu, hampir semua temen aku di rumah sakit minta dikenalin sama kamu, mereka kira kamu adik aku soalnya kirimin makan malam pakai rantang gede".
"Itu ibu yang suruh, katanya biar kamu lebih semangat, karena masaknya banyak jadi sekalian di bagikan ke temen-temen kamu".
"Ha ha ha waktu itu kan aku masih junior. Disitu aku kenalan tuh sama Novan, Gila.. masa ayam betutu satu rantang ia habiskan sendiri, bilangin ibu dong Ai kapan-kapan masakin ayam betutu lagi, udah lama lho ibu gak masakin aku".
Kapan? Apakah masih ada kapan?.
Aira kembali termenung, ia sungguh sensitif sekarang.
"Ai...".
"Iya nanti aku bilangin ke ibu".
Sepanjang makan malam Aira berusaha melupakan sejenak ketakutannya. Ia ingin merasakan kebahagiaan berdua dengan Sabiru, tertawa, bercanda, saling menggoda dan mengejek. Sungguh waktu yang singkat hingga tak terasa kapal pesiar sudah kembali ke dermaga.
"Makasih ya sayang sudah ajak aku makan malam disana".
"Aku seneng kalau kamu seneng".
Aira memeluk Sabiru dan berjinjit, ia berinisiatif dulu untuk mencium bibir Sabiru.
Mendapati Aira yang pro aktif Sabiru tentunya semakin bersemangat, satu tangan memeluk pinggang ramping Aira dan satu lagi menekan belakang kepala Aira, ciuman yang menggairahkan tak bisa terelakkan.