"Aku mau ajak Sabiru balikan. Aku mau pacaran lagi sama dia". Kata Marcela bersemangat.
Deg!.
Jantung Aira rasanya jatuh ke jurang. Oh astaga... Apakah Marcela sungguh-sungguh dengan ucapannya. Bukankah dia dulu yang memutuskan hubungan tersebut dengan Sabiru sehingga membuat Sabiru patah hati dan stress.
Mengapa tiba-tiba Marcela kembali?
Mengapa ia ingin berpacaran lagi dengan Sabiru?
Lalu bagaimana dengan dirinya?.
Aira kemudian berdiri "Aku ke toilet sebentar". Tanpa menunggu respon Marcela Aira segera berlari ke arah toilet. Ia masuk ke sebuah ruangan dan duduk diatas kloset. Air matanya mengalir deras bagai kalung mutiara yang terputus.
Sebenarnya tak sulit untuk mencari nomor telpon Sabiru karena orang yang dicari baru saja meneleponnya. Aira akan berbesar hati jika suatu saat Marcela bertemu dengan Sabiru karena bagaimanapun dia adalah mantan pacar Sabiru dan Marcela adalah sahabatnya. Kemungkinan keduanya bertemu akan sangat besar mengingat ada Aira ditengah tengah mereka berdua.
Tapi sekarang situasinya berbeda. Aira menjalin hubungan dengan Sabiru. Dan
Marcela berkata jika ia ingin berpacaran kembali dengan Sabiru. Itu artinya Marcela masih mencintai Sabiru.
Jika Marcela tahu Aira berpacaran dengan Sabiru bagaimana perasaan Marcela? Apakah Marcela akan menyalakannya?
Bukannya ia tidak percaya Sabiru tidak mencintainya, dengan melihat sikap Sabiru selama ini, ia tahu Sabiru mencintainya. Namun mengingat Sabiru hancur karena di tinggal Marcela dulu. Aira tahu Sabiru saat itu sangat mencintai Marcela. Jadi tidak menutup kemungkinan jika Sabiru lebih mencintai Marcela daripada dirinya.
Lalu bukankah dia yang akan ditinggalkan?.
Marcela mencintai Sabiru.
Sabiru mencintai Marcela.
Lalu bagaimana dengan cinta Aira?. Hampir 7 tahun dia menemani Sabiru. Cinta Aira pada Sabiru semakin dalam. Jika Aira diminta kembali ke dataran. Aira tidak sanggup karena sudah terlalu dalam jatuh kedalam lautan.
Lalu harus bagaimana?.
Aira sungguh tidak percaya diri saat ini. Yang ada di dalam pikirannya adalah hal yang sangat ditakuti yaitu kehilangan Sabiru.
Tok tok tok
Suara pintu diketuk oleh seseorang. "Aira".
Aira mengatur napas dan menghapus air matanya. Rupanya Marcela datang untuk melihatnya. "Sebentar, sakit perut". Kata Aira berbohong. Baru dua hari bersama Marcela ia sudah berulang kali berbohong.
"Ok aku tunggu di meja" sahut Marcela.
Terdengar suara kaki pergi menjauh dari bilik toilet. Aira meneruskan kembali tangisnya. Ia masih merasa sedih dengan nasip yang akan menimpanya.
Setelah makan siang, mereka berdua menuju mall karena Marcela akan membeli beberapa pakaian untuk bekerja besok setelah itu Aira meminta Marcela mengantarkannya pulang, awalnya Marcela tidak mau tapi melihat Aira yang terlihat lelah akhirnya Marcela menyetujuinya.
Sepanjang perjalanan di dalam mobil Marcela membicarakan Sabiru. Bagaimana sikapnya waktu dulu, kebiasaannya, kelakuan lucunya. Setiap menit dan setiap detik Marcela mengenang kebersamaannya dengan Sabiru ketika dulu masih berpacaran.
Aira sudah tahu semua itu, karena dia juga ada dalam masa itu. Ia melihat jelas bagaimana Marcela dan Sabiru melewati masa pacaran mereka.
Aira menebalkan telinganya, setiap kata yang keluar dari mulut Marcela sangat menyayat hatinya. Ia ingin segera sampai dirumah. Aira sungguh tidak sanggup mendengar betapa Sabiru mencintai Marcela dulu.
"Ra,.. dengar aku ngomong gak sih?". Seru Marcela pada Aira.
"Dengar kok Cel..".
"Kok diam aja dari tadi?".
"Ya aku gak mau aja nyela kamu lagi nostalgia mikirin dia".
Marcela tertawa ringan, ia melanjutkan cerita kisahnya bersama Sabiru lagi.
"Oh ya Ai, kamu janji lho ya bantuin aku".
"Apa?".
"Bantu aku cari Sabiru, aku mau PDKT sama dia lagi. Tolong ya bantu aku dapatkan Sabiru lagi, please...". Kata Marcela memelas.
Aira menatap Marcela, melihat tatapan Marcela penuh dengan harapan membuat Aira tak tega.
"Baiklah". Aira menyetujui dengan hati pedih.
"Yeay... Makasih sahabat ku, kamu memang tidak ada duanya". Ucap Marcela senang.
Aira menunduk menyembunyikan wajahnya yang ingin meneteskan air mata. "Asal kamu senang Cel". Ucap Aira dalam hati.
Sampai di depan rumah Aira, Marcela tidak turun ia langsung pulang kerumahnya.
"Tin". Klakson mobil Marcela berpamitan.
"Bye" Aira melambaikan tangannya dan akan masuk ke dalam rumah. Aira membuang napas lega. Akhirnya...
"Sayang".
Panggil seseorang dari belakang Aira.
Aira segera berbalik dan mendapati Sabiru sudah berdiri di belakangnya.
Aira terpaku di tempatnya. Apakah tadi Sabiru melihat Marcela?.
Sabiru menghampiri Aira yang terdiam dan kemudian memeluknya. Merasakan tubuh Aira sedikit bergetar. Sabiru semakin mengeratkan pelukannya.
"Kamu...".
Dengan hati-hati Aira memberanikan diri untuk bertanya.
"Hemm".
"Melihat Marcela?".
Akhirnya ia mengatakannya juga.
Sabiru pasti sudah datang lebih dahulu sebelum Aira sampai dirumah. Kalau tidak bagaimana mungkin Sabiru ada di belakangnya dengan cepat. Sabiru pasti melihat dirinya turun dari mobil Marcela jadi tidak mungkin Sabiru tidak melihat Marcela di mobil.
Sabiru melepaskan pelukannya dan mencium kening Aira.
"Cari makan dulu yuk, lapar nih?".
"Aku sudah makan".
"Kalau gitu temenin aku makan, boleh?".
Sabiru langsung menggenggam tangan Aira dan menariknya berjalan kaki keluar dari halaman rumah Aira.
Sabiru terus mengandeng Aira berjalan kaki menuju arah keluar komplek perumahan.
"Mobil kamu kemana?" Tanya Aira yang memang tidak melihat mobil Sabiru.
"Di pinjam Novan". Jawab Sabiru, sebenarnya mobilnya masih di parkiran club malam. Ia kemarin dibawa pulang oleh Novan pakai mobil Novan sendiri. Dan mobil Sabiru sendiri masih ditinggal di club sampai sekarang. Ia buru-buru ke rumah Aira sampai belum sempat ambil mobil.
"Terus kamu kesini naik apa?". Tanya Aira lagi.
"Naik ojek online".
Sabiru melirik Aira yang ada di sampingnya. Muka Aira masih tersenyum meski saat ini ia berjalan kaki cukup jauh hanya untuk menemani dirinya mencari makan. Sikap Aira memang begitu, tidak pernah mengeluh. Dan Sabiru sangat menyukai sifat Aira yang satu ini.
Sabiru dan Aira menyebrang komplek perumahan, disana sudah banyak warung kaki lima berjejer dengan berbagai macam masakan yang menggugah selera.
Sabiru memilih warung nasi lalapan, nasi uduk ditemani ayam bakar dan sambel terasi. Ia seharian ini belum makan, di rumah Novan tadi hanya makan roti. Sabiru masih belum kenyang.
"Kamu gak pesan makan juga?".
"Enggak masih kenyang". Tolak Aira.
Sabiru kemudian membukakan Aira kerupuk yang ada di atas meja buat cemilan. "Kamu nyemil ini aja kalau gitu".
Begitu makanan datang, Sabiru makan begitu lahap seperti orang yang tidak makan tiga hari. Aira sebenarnya ingin memberitahukan mengenai Marcela, tapi ia tunda hingga Sabiru selesai makan, takut ia tersedak.
Setelah makanan Sabiru habis, Aira memberanikan diri untuk berbicara pada Sabiru.
"Biru".
"Hemm".
"Marcela sudah pulang". Kata Aira pelan namun jelas.
Sabiru sudah tahu hal itu tapi ia menghargai Aira yang jujur padanya. Bagaimanapun juga Marcela pasti menemui Aira terlebih dahulu karena Aira adalah sahabat dekatnya.
"Sudah selesai studinya di Aussie?".
"Sudah, ia juga akan kerja sebagai koki di hotel Milton tempat aku wisuda kemarin".
"Oh ya".
"Iya dan juga...". Aira ragu untuk meneruskan perkataannya.
"Apa lagi?".
"Marcela ingin ketemu sama kamu".
Aira menatap wajah Sabiru, ingin melihat ekspresi apa yang akan di tampilkannya begitu ia membicarakan soal ini.
"Jangan bicara disini ya, gak enak" kata Sabiru memotong pembicaraan kemudian berdiri menuju pemilik warung untuk membayar makanannya.
Aira dan Sabiru kembali berjalan kaki ke rumah Aira, Sabiru masih menggandeng Aira dan bercerita tentang pekerjaannya. Aira sedikit heran mengapa Sabiru begitu tenang, ia tidak mengungkit nama Marcela setelah Aira memberitahukan tentang hal tadi. Apakah Sabiru sudah tidak ada rasa pada Marcela? Ataukah dia hanya mengalihkan perhatian saja.
Hingga sampai dirumah Aira sudah tidak tahan ingin menanyakan hal itu lagi pada Sabiru.
"Biru".
"Hemm".
"Marcela ingin ketemu sama kamu". Kata Aira dengan nada sedikit tinggi.
"Memang boleh aku ketemu sama dia?".
"Emmm". Aira ingin sekali melarangnya, tapi bagaimanapun juga itu tidak mungkin. Ia sudah janji pada Marcela untuk mencari kontak Sabiru dan untuk permintaan yang satu lagi dalam hati Aira menolaknya.
Sabiru mengangkat dagu Aira yang sedang menunduk "Aku dan dia sudah berakhir Aira".
Ucap Sabiru tegas.
"Hanya sekali saja boleh? Aku sudah menyanggupi Marcela untuk membantunya bertemu dengan kamu".
Sabiru diam menatap Aira. Jadi memang benar yang dilihatnya kemarin di acara wisuda Aira dan mobil yang mengantar Aira pulang tadi adalah Marcela. Dia benar-benar sudah kembali. Bukan seseorang yang mirip atau menyerupai.
"Jadi kamu ingin aku bertemu dengannya?".
Aira mengangguk cepat meski hatinya berat.
Sabiru selalu tak tega menolak permintaan Aira. Sehingga Sabiru menyetujuinya.
"Ok, tapi ini semua demi kamu, ingat itu".
Aira tersenyum kecut. Meski permintaannya dikabulkan oleh Sabiru, hati Aira merasa tidak senang. Ia jelas tahu tujuan Marcela mencari Sabiru. Tapi ia tidak bisa mencegah Marcela dan Sabiru bertemu.
Satu Minggu pun berjalan begitu cepat,
Kehidupan Aira berjalan seperti biasanya. Sepulang mengajar Aira masih sering berkunjung ke rumah sakit untuk makan siang bersama Sabiru. Seperti hari ini.
"Biru, besok kan weakand". Aira memulai percakapan dengan ringan.
"Iya, kamu mau kemana? Aku besok praktek cuma sampai siang, sorenya aku bisa temenin kamu sampai malam". Kata Sabiru dengan senang.
Aira mulai berpikir "Emmm".
"Gimana kalau kita nonton?". Usul Sabiru. "Kayaknya ada film baru yang bagus, gimana?".
Aira buru-buru menggenggam tangan Sabiru, "Biru.. boleh aku minta sesuatu?".
Tidak biasanya Aira bersikap seperti ini, karena memang Aira jarang sekali meminta ini itu padanya.
"Apaan sih Ai... Serius gitu".
"Gimana kalau besok aku atur pertemuan kamu dengan Marcela". Oh astaga... Bagaimana bisa aku berkata seperti itu dengan lancar padahal jantung ini sudah mau copot rasanya. Kata Aira dalam hati.
"Secepat ini?".
"Apakah cepat? Sudah satu Minggu aku ngomong saal ini". Dan Marcela setiap hari mendesakku untuk segera bertemu denganmu Biru. Aku sudah tidak punya alasan lagi untuk mengulur waktu. Asal kamu tahu saja.
"Terserah kamu Aja". Jawab Sabiru santai. Ia tahu pasti Aira sekarang sedang galau harus memilih antara menuruti Marcela yang masih sahabat lama, atau menjaga perasaannya. Sabiru tahu betul karakter Aira yang suka memikirkan orang lain daripada memikirkan dirinya sendiri. Sehingga Sabiru tidak mau Aira terlalu kepikiran lalu jatuh sakit karena stress sendiri. Lebih baik menuruti apa mau Aira supaya ia bisa tenang. Lagipula ia yakin jika perasaannya pada Marcela telah mati, jadi apa yang harus ia takuti? Anggap saja bertemu teman SMA yang sudah lama tidak berhubungan.
"Tapi kamu jangan bilang kalau kita pacaran ya". Pinta Aira tiba-tiba.
Sabiru sedikit kaget, Sabiru melepaskan tangan Aira. Apa maksud Aira?. Justru besok adalah waktu yang tepat untuk memberitahukan pada Marcela bahwa saat ini ia dan Aira bersama. Sehingga di kemudian hari ia bisa bebas berkencan dengan Aira.
"Maksud kamu?".
Aira menggigit bibirnya, ia takut Sabiru marah "Yaaa... Bilang aja kita gak pernah ketemu, karena kesibukan masing-masing jadi kita lost contact".
"Jadi maksud kamu, aku harus tutupi hubungan kita dari Marcela? Begitu?". Tanya Sabiru dengan nada agak tinggi.
Aira mengiyakan dengan mengangguk.