Acara wisuda akhirnya selesai juga. Dengan agenda terakhir adalah ramah tamah sambil makan siang.
Melihat suasana di dalam gedung cukup kondusif, Sabiru berniat melamar Aira disini.
"Sayang, aku ke toilet sebentar" pamit Sabiru pada Aira.
"Ok".
Sabiru kemudian keluar ruangan, namun yang ia tuju bukan toilet namun tempat parkir mobil. Sabiru ingin mengambil buket bunga yang ia pesan tempo hari. Sengaja ia sembunyikan di jok belakang mobil supaya tidak diketahui oleh Aira maupun ibunya.
Sabiru mengecek sekali lagi "cincin sudah, bunga sudah, penampilan gue ok. God help me please". Ia butuh dukungan spiritual saat ini.
Setelah menghela napas berkali kali Sabiru dengan langkah mantap kembali ke ruangan tempat acara wisuda digelar.
"Aira".
Sapa seseorang dari belakang Aira.
Refleks Aira menoleh ke arah orang yang memanggilnya.
"Surprise" teriak orang itu.
Deg!
Dia kembali!.
Piring desert ditangan Aira bergetar, ibu Aira yang menyadari itu segera mengambil piring kecil itu dari tangan Aira.
Jantung Aira berdegup kencang. Sudah bertahun-tahun Aira tidak bertemu tapi tidak membuat Aira lupa wajah orang ini, bahkan dalam sekali lihat Aira bisa mengenalinya, dia adalah sahabat baik Aira ketika SMA "Marcela".
Marcela berlari kecil lalu memeluk Aira erat, Marcela sungguh bahagia bisa bertemu Aira saat ini. Marcela sungguh rindu sekali dengan Aira.
Aira juga memeluk Marcela erat, bertahun-tahun lamanya akhirnya mereka berdua bertemu lagi. Aira juga rindu sekali dengan Marcela.
"Akhirnya aku menemukanmu". Gumam Marcela riang.
"Marcela Kamu pulang ke Indonesia". Tanya Aira.
Marcela melepaskan pelukannya, "Aku barusan pulang dari Australia, aku langsung cari kamu, tadi aku kerumah kamu kata tetangga depan rumah kamu hari ini wisuda di sini. Jadi aku langsung kesini. Beruntung sekali aku bisa mengenalimu". Katanya dengan senang.
"Kenapa bisa masuk?, Yang boleh masuk kan harus bawa undangan?". Tanya Aira tak mengerti.
"Kamu tahu gak?. Aku juga akan bekerja jadi koki di hotel ini mulai minggu depan. Jadi aku bisa masuk gedung ini karena aku kenal para staf hotelnya. Kebetulan banget kan?".
"Iya". Aira senang sekali karena bisa bertemu Marcela, Aira memeluknya sekali lagi. "Oh ya Cela, ini ibu aku".
Aira mengenalkan ibu nya. Keduanya pasti pangling karena sudah lama tak bertemu.
"Halo tante, lama tidak berjumpa ya". Sapa Marcela sambil memeluk singkat ibu Aira.
"Halo Marcela, sudah lama ya kamu gak kerumah, makin cantik aja, ibu pangling". Sapa ibu balik.
"Ahhh ibu bisa aja, Aira nih yang makin cantik. Gak nyangka bisa lihat Aira pakai high heels ha ha ha. Tau sendiri penampilan Aira waktu SMA tomboi seperti apa, udah mirip anak laki kan tante".
Ibu Aira juga ikut tertawa mengingat penampilannya dulu "Iya, untung deh sekarang jadi normal. Ibu lega".
"Eh mana pacar kamu? Cantik gini gak mungkin gak punya pacar kan?" Tanya Marcela tiba-tiba.
Hah! Pacar?.
Oh My God... Sabiru.
Aira mendadak jadi kikuk dan salah tingkah. Tahukah kamu Marcela. Pacarku sekarang adalah mantan pacar kamu.
"Ohhh aku berdua dengan ibu" jawab Aira buru-buru. Ia tidak ingin Marcela tahu jika dirinya berpacaran dengan Sabiru. Dia belum siap. Dia takut Marcela kecewa padanya dan tidak mau berteman lagi dengannya.
"Ohhh... Sayang sekali". Respon Marcela sedih.
Ibu hanya menatap Aira heran, kenapa Aira harus berbohong. Tapi ibu hanya diam. Sebaiknya ibu tidak ikut campur, mungkin Aira punya pertimbangan sendiri.
Aira menatap setiap orang di sekelilingnya. Sabiru tadi berkata pergi ke toilet. Namun sampai sekarang belum kembali. Apakah Sabiru melihat Marcela disini sehingga ia bersembunyi?. Aira jadi bingung harus berbuat apa. Tidak mungkin ia mengusir Marcela dari sini. Tapi bagaimana dengan Sabiru?.
"Oh ya besok kamu ada waktu kosong gak?". Tanya Marcela.
"Besok?".
"Iya kita jalan-jalan yuk, udah lama kita nggak ngobrol bareng, aku mau cerita banyak ke kamu. Mau ya.. besok kan hari minggu". Rengek Marcela.
Ya benar, ia dan Marcela perlu bicara banyak, tapi besok apa tidak terlalu cepat?.
"Ohh... Ok... Lihat besok ya". Aira tidak mampu berjanji.
"Pokoknya besok pagi aku jemput kerumah kamu titik".
Beginilah Marcela, kalau sudah memutuskan. Tidak bisa dibantah. Rupanya sifatnya yang satu ini tidak bisa diubah.
000
Sabiru Pov
Setelah menghela napas berkali kali Sabiru dengan langkah mantap kembali ke ruangan tempat acara wisuda digelar.
Dia menyembunyikan buket mawar merah di balik punggungnya, meskipun itu tidak menjamin akan tertutupi karena buket bunga cukup besar.
Sepanjang jalan Sabiru tersenyum, ia sudah menyiapkan kata-kata romantis untuk Aira.
Dengan gugup Sabiru memasuki gedung mendekati posisi Aira.
"Aira".
Panggil salah satu wanita.
Aira berbalik menoleh ke wanita itu. "Marcela".
Deg!.
Sabiru langsung menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke arah wanita tadi.
Itu adalah wanita dengan pakaian modis, dan terlihat semua barang yang ada di tubuhnya adalah barang branded. Sabiru mengamati wajah wanita itu dengan seksama. Pikirannya sibuk memastikan bahwa wanita itu adalah Marcela, mantan pacarnya. Pikirannya jadi rumit sekarang.
Setelah bertahun-tahun lamanya, akhirnya Marcela muncul. Untuk apa?. Oh ya dia lupa Aira dan Marcela adalah sahabat baik waktu SMA.
Sabiru mengamati ekspresi Aira yang bahagia bertemu dengan Marcela. Mungkin dia akan mengganggu keduanya yang sedang bernostalgia.
"Sebaiknya aku pergi, untuk apa aku ada disini. Biarkan Aira melepaskan kerinduannya pada Marcela. Aku tidak mau mengganggu keduanya. Lagi pula ia tidak ingin merusak suasana hati Aira, sebab Marcela pasti bertanya untuk apa ia kemari. Marcela pasti belum tahu jika saat ini ia menjalin hubungan dengan Aira" batin Sabiru.
Dengan lunglai Sabiru berbalik menuju pintu keluar. Dia sudah tidak ingin bertemu Marcela lagi. Baginya cerita cinta antara dirinya dan Marcela sudah lama selesai.
Sabiru memasukkan buket mawar merah ke dalam jok belakang mobilnya lagi. Kemudian ia berputar menuju kursi kemudi. Ia menatap cincin yang ada di dalam kotak kecil warna merah. Sepertinya hari ini ia belum bisa melamar Aira. Sungguh menyedihkan.
Sabiru mengambil handphone yang ada di saku celananya, mengirim pesan singkat pada Aira jika dirinya pulang duluan dengan alasan ada panggilan mendadak dari rumah sakit sehingga ia harus buru-buru pergi.
"Maaf Aira". Ucap Sabiru pelan.
Ia akhirnya membawa mobilnya pergi dari hotel.