Mandul

702 Words
Sedikit berbeda dengan mereka, kisah pernikahan yang hambar dan menyedihkan. Suami yang tak pernah mengerti apa mau istri dan terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Belum lagi, nelangsanya yang harus satu atap dengan mertua. Semua kupertahankan demi keutuhan rumah tangga. Kejenuhan yang hampir membabi buta setiap harinya. Menanti esok hari rasanya seperti akan kiamat besok. Lagi-lagi aku hanya bisa menghela napas berat, sembari membuatkan teh hangat untuk Mas Satria. Suami sekaligus pemimpin dalam kehidupanku. Rutinitas yang hampir tak pernah ku lupakan. Ya, meski Mas Satria terkadang acuh tak acuh. Sebagai istri aku hanya ingin berbakti. "Dek, sini dulu." Mas Satria yang sedang duduk di ruang makan, memanggilku. Tanpa menjawab, aku langsung menghampirinya yang ternyata sedang bersama ibu mertua. Jujur saja, aku kadang merasa tak nyaman jika harus mengobrol dengan Mas Satria dan ibunya ada di sana. "Ada apa Mas?" Tanyaku, setelah meletakan segelas teh hangat. "Duduk sini." Aku menurut dan mengambil posisi di sampingnya. Meski mertuaku seolah tak peduli dengan apa yang kami lakukan, sudah kupastikan perempuan paruh baya itu menguping pembicaraan. "Uangnya masih adakan?" "Masih Mas, memangnya mau beli apa?" "Uangnya ibu kurang untuk membayar arisan. Ambilkan dua ratus ribu gih." Sebisa mungkin aku menetralkan gemuruh di d**a. Melihat suami yang begitu perhatian dengan ibunya tentu membakar cemburu. Bukannya aku pelit, namun Mas Satria bahkan tak pernah telat untuk memberikan ibu uang setiap minggunya. Yang kupertanyakan kemana uang itu? Aku bahkan rela tak membeli keperluan wajahku. Namun, dengan mencoba sabar aku ahkirnya mengambil uang itu di dompet. Hanya sisa beberapa lembar uang merah. Aku menghela napas, kebutuhan di dapur sudah mulai menipis. Haruskah aku menjerit dan mengatakan kepada mereka bahwa ini terlalu sulit. "Ini mas." Aku menyerahkan uang itu. Mas Satria langsung memberikannya pada ibu. "Nanti saya ganti ya Widya. Kamu tenang saja." "Tidak perlu Bu. Itu sudah tugas kami." Jawabku. Aku tidak mengerti lagi, mengapa ibu justru berbicara seperti itu. Seolah-olah aku takut jika ibu mertuaku tak mengembalikannya. "Kamu yang sabar ya." Kata Mas Satria, setelah ibu berlenggang ke kamarnya. "Tidak apa-apa Mas, In sha Allah, ada gantinya." "Terima kasih istriku." Aku hanya tersenyum menanggapi. Mencoba menyembunyikan semuanya. Kesedihan dan tangisan yang ku redam sedalam-dalamnya. Hanya tak ingin terlihat cengeng di hadapan mereka. Sulitnya aku yang harus tinggal dengan mertua, membuatku tak bisa leluasa bergerak. Belum lagi, mertuaku itu sangat suka membeberkan hal kecil apapun ke para tetangga. Yang kulakukan hanya mengelus d**a, berharap Allah menggantikan semuanya dengan surga. Meski kadang aku tak terima, aibku di umbar kemana-mana ___________________________________________________________ Sebelum Mas Satria berangkat bekerja, aku sudah menyiapkan diri untuk membeli sayuran. Duduk di teras rumah dengan ibu mertua. Ahkirnya tak selang beberapa lama. Kang Jasman si penjual sayur keliling berhenti tepat di depan rumah. "Sayur apa Neng?" Tanya Kang Jasman. "Seperti biasa aja Kang. Lagi bokek." Kataku "Ini, sayur Bayam, Tempe sama Togenya." "Beli apa Wid?" Tanya tetangga yang juga ikut berbelanja "Sayur Toge Mbak." Kataku menunjukan kantong kresek. Tentang ga hanya tersenyum, sembari memilah-milah sayuran "Buat Satria supaya subur ya?" Deg.. Rasanya sakit, tapi tetap kubalas dengan senyuman. "Lagi pengen aja Mbak. Kalau begitu saya pamit dulu." Kataku setelah membayar. Pulang sembari menenteng sayuran dan luka di hati. Ya Tuhan, sampai kapan begini? Aku sedih, suamiku di tuduh mandul tapi semuanya belum jelas adanya. Berita itu sudah meruak hampir ke komplek lain. Kalau bukan karena ibu mertuaku yang menceritakan aib kami, kemungkinan besar masalah ini tak sampai kemana-mana. Meskipun kami belum mengetahui kebenarannya siapa di antara kami yang tidak subur, kami hanya tidak ingin mengetahui lebih dalam karena saling menjaga perasaan. Biar Allah memberikan waktu yang tepat. Mungkin belum di pernikahan yang sudah menginjak tiga tahun ini, tapi tidak ada yang tahu jika Allah sudah menyiapkan semuanya. Sebagai hamba-Nya aku hanya bisa teru berdoa dan berusaha. Berharap esok atau hari-hari yang akan datang apa yang ku impikan menjadi kenyataan. Linknya disini kak MANDUL — AkirrunKiyyun Menjadi wanita yang berbeda adalah takdir. Memainkan kesabaran yang hampir setiap hari terkuras. Beda dari wanita lain, harusnya menjadi spesial. Namun, mereka justru menghujat, menghina dan menuduh sembarangan. Aku, yang hanya manusia biasa hanya bisa menunggu hadiah dari sang pencipta. Ketidak suburan ini, menjadi titik balik pernikahan dan kehidupan ku. Banyak hikmah dan pelajaran yang membuatku mengerti bahwa sebenarnya hidup bukanlah mendengarkan kata mereka. Aku dan kemandulan ku Baca selengkapnya di aplikasi KBM App.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD