“Aku sudah capek, Yara. Capek!” Tristan mengatur napasnya kemudian masuk kembali ke dalam mobil. Kini, ia menundukan kepalanya di atas setir mobilnya. Menelan saliva dengan pelan lalu menoleh pada ponsel yang berdering sejak tadi. Ia hanya melihat nama kontak yang tertera di sana. Bila bukan Yara yang menghubunginya, tidak akan pernah ia terima dari siapa pun. “Seharusnya kamu bisa menerima dulu, Yara. Kita bicarakan ini baik-baik. Hubungan kita tidak akan seperti ini bila kamu dapat memahami kondisi kita.” Tristan seolah menyalahkan Yara yang terlalu menurutkan egonya. Pergi dari hidupnya, berteman dekat dengan Reiner dan semua yang dapat membuat mereka berpisah Yara lakukan. Dan itu semua salah di mata Tristan. Tristan kembali mencoba menghubungi Yara lagi. Namun, jawabannya masih te

