“Mama duluan aja. Nanti aku naik taksi kalau nggak telepon Vita untuk jemput aku.” “Beneran? Nggak mau Mama tunggu aja? Nanti kamu kenapa-napa gimana?” “Ma. Baru satu bulan. Masih oke. Aku nggak akan lama kok.” Rini menghela napasnya dengan pelan. “Ya sudah kalau kamu maksa. Langsung pulang kalau urusannya sudah selesai.” Yara menganggukkan kepalanya sembari mengulas senyum kepada sang mama. Setelahnya, ia menghampiri lelaki yang tadi memanggilnya. “Apa kabar? Udah lama banget nggak ketemu.” Sagara Biru—lelaki yang sempat dekat dengan Yara sebelum akhirnya Tristan lebih dulu mengungkapkan perasaannya kepada Yara. “Baik. Udah kelar, sekolahnya? Tahu-tahu udah pake jas dokter aja.” Biru—sapaan lelaki itu kemudian menarik tangan perempuan itu dan membawanya ke kantin yang ada di sana.

