Reiner kemudian beranjak dari duduknya dan mengusap pucuk kepala perempuan itu. “Aku harus kerja. Jangan lupa makan dan minum obatnya.” Yara hanya diam. Membiarkan Reiner pergi dari rumahnya. Setelah lelaki itu keluar dari pekarangan rumahnya, Yara kembali masuk ke dalam kamarnya. “Yara?” Baru saja Yara duduk di gazebo samping rumahnya, Tristan kembali datang dengan senyum menyebalkan yang ingin sekali ia memotong bibir itu dengan gergaji. “Apaan lagi sih!” ucap Yara ketus. Tristan menyunggingkan senyumnya. “Nggak. Cuma mau dengar keputusan kamu aja. Udah dipikir-pikir dengan matang atau belum?” Yara tersenyum miring. “Apa yang dikatakan oleh Jihan emang bener. Kamu nggak mau pisah karena nggak mau aku nikah sama Reiner.” “Memang. Karena aku nggak mau kamu sakit hati, Yara.” Yara

